
Mobil Van itu datang tatkala Matahari mulai turun kebawah.
Meninggalkan jejak siang yang kian memudar. Dua orang perempuan turun dari mobil agak jauh dari rumah besar.
Gaun merah yang berpotongan minim dicuaca yang menyisakan kehangatan terasa sejuk menimpa kulitnya yang indah. Dengan Ray-Ban hitam yang menutupi matanya wanita itu mengusap usap lengannya yang terkena debu beterbangan diantara cahaya mentari yang meredup.
Daun daun kering yang bertebaran terserak disepanjang jalan. Bagai cabikan kain yang berserak tak beraturan.
Wanita satunya memakai pakaian yang sangat formal.
Dengan Blazer biru gelap dengan skirt hitam gelap yang menutupi hingga melewati betisnya .Rambut pendeknya berkibar tertiup angin sore.
Dengan tangan yang sibuk merapikan rambutnya, Wanita itu melihat sekeliling Savana luas yang tertutup dengan hijaunya pepohonan yang berbaris rapi sejauh mata memandang, Hingga kekaki bukit yang landai dengan jalan selebar lima meter yang berdebu.
Tak jauh dari jalan itu terhampar lahan yang cukup luas dengan rumah kayu besar bercat coklat tua dengan seng tebal coklat bubung lima yang cantik dan asri.
"Barra! Aku Datang menyambung hubungan kita yang telah lama terputus," Bisiknya dengan penuh harap diantara rasa ragu yang tiba-tiba muncul dari balik hatinya.
Sementara didalam mobil itu ditunggu oleh dua orang pria yang mengenakan pakaian resmi dan tak hentinya menelpon dengan rekannya.
Sambil menatap dari balik mobil berkaca gelap kearah dua wanita yang kini melangkah menuju rumah besar kayu itu.
...****************...
Cahaya pendar mentari kian melemah saat Cherly mencoba menahan dinginnya air pancuran Bambu dari belakang rumah.Pancuran.besar dari bambu Betung yang berukuran Lima inchi itu mengalir sangat deras.
Pancuran yang terletak sejauh lima meter dari pintu belakang rumah itu. Dikelilingi terpal berwarna biru terbuat dari plastik seadanya.
Bu Ani akan mencuci piring dan mencuci pakaian dipancuran itu.
Yang dibuat Barra khusus buat Cherly dan Bu Ani.
Sedangkan tempat pemandian para pekerja terletak disebelah timur rumah yang jauh dari letak pancuran khusus Keluarganya. Walau dikamar Barra memiliki Bsk mandi. Namun Cherly lebih suka mandi diluar dengan pancuran besar berbuih dan tempat yang luas. Sehingga Anaknya merasa bebas menepuk nepuk air yang di tampung didalam Tong besar dan lebar itu.
Dilengkapi dengan tempat buang air yang luas. Dengan WC kuno dari semen.
Yang dekorasi langsung oleh Barra.
Sam dan para pekerja melakukan kegiatannya dipemandian yang lumayan jauh itu.
Dengan lima batang bambu yang dipasang terpisah didalam bilik bilik kecil.
Sam memiliki ruang mandi tersendiri dan dari bilik yang berbeda dari para pekerja, Walau ditempat yang sama.
Sam tak suka peralatan mandi yang sama dengan yang lainnya.
Langsung menuju jatuh ke tong besar dengan debit yang sama dari waktu ke waktu.
__ADS_1
Cherly menyiduk air itu dan menyiram kebadannya.
Terasa sangat segar saat menembus kulitnya.
Mengoleskan sabun yang terasa wangi dan lembut saat menyentuh kulitnya.
Cherly mulai terbiasa dengan dinginnya air pegunungan ini.
Dan merasa mulai menyatu dengan dirinya.
Jika pagi hari Cherly tak dapat menahan dinginnya air yang sangat jernih ini. Dia akan menunggu matahari naik sepenggalahan baru akan membersihkan tubuhnya.
Lain halnya dengan Barra! Pria itu mandi kapan saja. Malah mandi diwaktu malam hari atau pukul empat dini hari.
Cherly heran dengan suaminya yang mungkin berkulit setebal kulit kerbau.
Sehingga tak merasakan dinginnya air yang bagai air es yang berada dalam kulkas itu.
Cherly membilas seluruh Tubuhnya dan menyelesaikan ritual mandi bersihnya.
Memakai handuk lebar berwarna kuning gading membelit tubuh indahnya yang mulai terlihat mengembang.
"Bu Ani! Si BarChek dimana ya!" Panggilnya. Karena tak terdengar ramai seperti biasanya.
Anaknya akan ngoceh dan memukul mainannya Dengan ribut. Atau suara Senda gurau dengan para pekerja yang tak jauh dari badan rumah besar.
Cherly Pergi keruang tamu dan seketika terhenyak dengan kaget melihat siapa yang duduk dikursi bambu berbusa tipis itu.
" Ka Kamu Zheba! Kapan kamu tiba kesini?" Tanyanya dengan suara tergetar. Perasaannya langsung menjadi tak enak. Dan suasana rumah yang mulai dingin terasa memanas.
Zheba melipat kakinya dengan santai. Dan tersenyum dengan manis kepada Cherly.
Lalu dengan gerakan anggun bak peragawati yang memamerkan keindahan gaunnya diatas latar sebuah gala yang mewah.Menuju kearah Cherly dan memeluknya dengan hangat. Cherly yang hanya mengenakan handuk hingga memperlihatkan beberapa bekas kissmark Barra tercetak dileher dan dadanya.
Yang belum sempat ditutupi olehnya.
Membuat Zheba menatapnya dengan kilatan aneh.
Namun wanita bergaun merah itu terlihat berusaha menahan dirinya dan menutupnya dengan senyum yang lebih mirip lengkungan yang patah.
"Hai Chers! Ada Suprise buatmu! " Katanya seolah merasa menang.
"Tadaaaa Guest mistery! Keluarlah!" Katanya dengan menepuk tangannya pelan.
Seorang wanita yang tak dikenal oleh Cherly melangkah dengan pelan. Cantik namun terlihat sendu.
Berambut pendek dalam balutan yang sopan dan anggun.
__ADS_1
Menuju kearah Cherly! Memeluk Cherly yang tampak gelisah. Perutnya terasa kram dan kepalanya pusing.
Menatap Cherly dengan mata berkaca kaca!
""Cherly! Maafkan Aku! Aku terpaksa datang kemari! Aku tak bermaksud untuk mengganggu ketenangan kalian! Hanya sekedar memastikan bahwa Suami "kita" Dalam baik baik saja," Bisiknya hampir tak terdengar.
Cherly menggigit bibirnya dengan kuat.
Airmatanya jatuh membasahi pipinya yang pucat.
Dia merasa akan terjatuh saat sebuah tangan dan tubuhnyang menghalang dari belakang!
Sam!
Cherly memegangi lengan Sam dengan erat ditengah jemarinya yang mendingin.
Sam menatap kedua wanita itu setajam pisau yang baru diasah.Dan seakan menelan dua makhluk yang tak pernah diharapkan oleh Barra.
"Pergi kalian! pengacau!"Desisnya geram.
Cherly mengangkat tangannya kearah Sam yang masih memapahnya.
"Biarkan mereka Sam! Tunggulah sampai Barra pulang! Aku harus meminta kejelasan darinya!" Bisiknya dengan lemah!
Sam menurut patuh. Membawa Cherly kedadanya.
"Diamlah Cherly! Aku akan mengusir mereka jika kau merasa tak nyaman," Katanya sambil melirik kembali kepada wanita wanita yang berdiri ditempatnya sambil memandang kearah Cherly yang tengah menangis.
Ingin rasanya Sam meremukkan leher wanita pengganggu itu. Jika Cherly tak menghalanginya.
Maya terlihat gelisah dan seolah Merasa sangat bersalah. Namun rasa rindunya kepada Barra membuatnya masih bertahan walau dengan tubuh tergetar.
Sedangkan Zheba melihat adegan didepannya dengan sangat antusias seolah yang terjadi didepannya ini adalah suatu lakon drama yang sangat menarik untuk disaksikan dengan rasa yang sangat puas.
Zheba mengharapkan sebentar lagi Cherly akan jatuh ambruk dan mengalami pendarahan hebat kemudian kehabisan darah dan kalau bisa meninggal seketika.
Agar jalan menuju Barra semakin terbentang lebar buatnya.
Dia akan menyingkirkan Maya dan merebut Barra dengan mudah.
Maya bukanlah saingan yang berarti buatnya.
Maya hanya dijadikan alat Untuk membuat kejatuhan mental buat Cherly agar tersiksa sebelum dieksekusi secara mental.
Cherly adalah gadis yang lemah dapat dihancurkan dari sebuah hantaman mental. Yang perlahan hancur menggerogoti bathinnya.
Maya yang polos dan tak mengerti atas rencana jahat Zheba hanya mengikuti segala instruksi yang diberikan oleh Zheba berdasarkan Naluri dan rasa cintanya kepada Barra.Dia datang karena benar benar sangat merindukan Barra yang dianggap masih berstatus sebagai suaminya.
__ADS_1