
Truddie sudah dua hari bolos kerja. Sejak kejadian malam panas antara dia dan Sam!Dia terserang demam panas! Mungkin infeksi dibagian vitalnya yang terasa sangat pedih.
Tiap kali buang air kecil terasa sangat sakit. Dan pagi hari tatkala bangun dari tidur dan buang air ada sedikit lendir putih bercampur bercak merah yang keluar.Terbayang lagi sebuah benda besar panjang berbentuk Lonjong itu memasukinya dengan mengerikan. Menghajar kelembutan sisi feminimnya yang sangat lembut itu bertubi tubi tanpa ampun. Dan Truddie tak heran jika dia harus terluka seperti ini.
Truddie takut untuk mengatakan hal tersebut kepada Ibunya.Kemarin Dia telah menelepon temannya yang seorang dokter Ginekologi.Temannya bilang itu biasa! Dan menghilang seiring waktu. Truddie hanya memerlukan sedikit antibiotik. Dan kemarin dia telah menyuruh Pak Jos satpam depan gerbang utama untuk membeli antibiotik tersebut ke apotik.
Dia merasa hampa sejak kepergian Sam yang telah membawa semua harapan kosong itu pergi.
Sam dengan segala kemelut hidupnya yang tak mudah! Membuat semua gerakannya menjadi sangat sulit. Sam tak dapat bergerak seperti merpati!
Dia bergerak bagai burung yang berjalan diatas tanah.Diburu dan Akan tertangkap oleh tangan manusia dengan mudah.
Sekarang Truddie tinggal sendirian menekuk kakinya diatasi ranjang. Selimutnya yang terhampar kusut dan piyama biru satin yang menemani pagi ketiga.
"Paulie sayang! Kau harus sarapan dulu ya! Panasmu sudah turun!"Kata sang Ibu sambil membawa nampak kecil berisi nasi lembek kepangkuannya.Dengan tahu isi daging rempah kesukaannya. ada sayuran dan kerupuk ikan yang biasanya disantap cepat walau dalam porsi yang sedikit.
Ibunya menyendok nasi tersebut dengan sedikit daging empuk kemulutnya.
"Aa! "Kata sang Ibu membuka mulutnya dan Truddie menurut patuh mengunyah makanannya yang terasa hambar dengan pelan. Ibunya terlihat senang. Memasukkan sendok demi sendok berisi makanan itu kemulut Truddie.
Truddie meminum air putih digelasnya dan bersendawa dengan pelan. Nyonya Ning! Ibunya tampak puas dan mencium pipi putri tunggalnya yang terlihat pendiam itu.
Biasanya Truddie akan berkicau bagai kucica hutan yang tanpa henti.
Dan ketika wanita setengah baya itu melangkah keluar!Truddie memanggilnya!
"Mama!... Terima kasih!"Ucapnya dengan mata berkaca kaca.
Ibunya mengangguk sambil tersenyum manis kepada Truddie.
Sedikit merasa heran. Mengapa anak kesayangan rumah ini menjadi dramatis begitu.
Truddie kemudian menunduk menahan tangisnya! Kerongkongannya terasa seret .
Sam! Mengapa kau harus melakukan ini padaku! Aku takut kalau nanti kau akan melupakanku, Keluhnya dalam hati.
Truddie turun dengan pelan menuju kekamar mandi. Mungkin dengan mandi fikirannya menjadi segar.
__ADS_1
...****************...
Telah tiga hari juga Cherly tak masuk untuk bekerja. Dikantor yang besar itu. Sambil menulis nulis buku dan pulpen yang dipegang olehnya Dia mereka reka,Menggigit ujung pulpennya.
Membuat permainan Tanya-Jawab dengan fikirannya yang kini bimbang antara lanjut bekerja atau tidak.
"Masuk kerja! Enggak! " Katanya membuat pilihan.
"Kerja! "
"Enggak! "
"Kerja aja deh!" Katanya kemudian pada diri sendiri. Cherly Harus mengenyampingkan ego demi anak anaknya.
Cherly tidak akan mundur hanya karena satu manusia yang bernama Lora! Toh dia juga hanya pekerja seperti dirinya.
Bukan Owner atau pemilik salah satu saham besar disana.Jadi apa yang harus ditakutkan?
Fikir Cherly.
...****************...
Pagi ini ada sedikit bahan makanan yang bisa diolah dilemari pendingin. Beberapa butir kentang, Brokoli dan sekotak plastik sawi manis. Sekerat besar daging di frezer ditambah beberapa jenis bumbu dapur yang telah mulai lebam membiru. Karena terpapar suhu yang dingin.
"Oh! Tuhan! Susu Paquita dan Hanya tinggal seperempat kaleng kecil. Mana uang mulai menipis lagi! Oh! apa aku harus meminjam uang mama? "Hujan Cherly sambil memeriksa situasi didalam lemari pendinginnya. Padahal Cherly telah bertekad untuk tidak meminta bantuan dari orang tuanya atau siapapun juga.
"Persediaan masakmu sudah habis! Kau harus pergi berbelanja! "Suara Bass yang berat itu mengejutkannya dan hampir menjatuhkan kaleng susu yang sedang dipegang olehnya.
Barra!
Cherly menggigit bibirnya yang terasa kaku. Dengan rahang mengeras.
Menoleh kearah Lelaki yang kini duduk dikira plastik readleaf hijaunya yang kecil. Kursi kecil itu terlihat terhuyung miring menahan beban berat tubuh yang mendudukinya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk kerumahku Barra! Aku tak sudi melihatnya wajahmu disini! Oh! kau akan merusak kursi Masak itu dengan tubuhmu yang besar! Turun dari kursiku! Brengsek, "Pekiknya tertahan saat melihat pria itu mendekat dan mencengkeram pipinya sehingga terasa sakit. Dikedua pipinya yang lembut itu.
"Jangan berteriak padaku! Cherly! Kau membuatku hampir gila! Dan mengusirku agar pergi dari hidupmu! Dan seperti orang bodoh aku menaruhnya! Aku sangat rindu dengan anakku! Aku ingin bertemu dengan mereka . Kau tak bisa menghalangiku," Katanya dengan pelan namun tegas.
__ADS_1
Cherly mencoba melepaskan tangan Bara dari pipinya namun tak bisa! dengan cengkeraman bagai piting baja.
Cherly mendongak menatap kearah Barra yang terlihat mengerikan. Seringainya terlihat menakutkan, Dengan bulu bulu wajah dan badannya yang bagai gendruwo yang tak pernah bercukur. Kilatan matanya yang aneh bercampur kilatan mata seperti orang gila.
nyalang dan liar.
Apa Bara sudah gila?
Perlahan Pria itu melepaskan cengkeramannya dari pipi Cherly dan membelakangi Cherly dengan punggungnya yang lebar dan kukuh. Kemeja hitam kotak kotak besarnya tampak berkeringat dengan Celana Jeans yang lusuh. Wajahnya tampak kelelahan .
"Aku tak tidur semalaman! Istriku tak mengharapkan kehadiranku! Anak anakku tak mengenali diriku lagi ! Teman baiknya yang kuanggap bagai adikku sendiri telah mati! "Katanya dengan terluka. Ada kesedihan yang mendalam lewat suaranya.
Cherly ternganga tanpa sadar!
"Sam? Apa yang telah terjadi padanya,"Kata Cherly dengan wajah khawatir. Sejenak melupakan kekesalannya kepada Barra!
"Sam! Ditembak didistrik wilayah Timur Singapura! Tak jauh dari Bandara Changi! Tubuhnya yang sedang tak berdaya didalam mobil dan dibakar oleh orang yang tak dikenal! Aku baru tahu tadi diberi tahu oleh Pinochito! Dan mengirimkan video dari tempat kejadian! Sam telah pergi Cherly! Banta telah kehilangan seseorang yang sangat menyanyanginya! " Desis Barra dengan suara kian pelan. Tangannya yang kini berada disisi tubuhnya terlihat tergetar jelas.
Cherly dapat merasakan kesedihan Barra yang sangat dalam. Seperti kesedihannya yang kini terasa menusuk kalinya.
Sam sangat menyayangi putranya dan juga sangat menghormati Cherly! Sebagai kakak Iparnya. Cherly mulai dapat melihat Sam tersenyum. Dan memakan Pai Pisang susu buatan Cherly untuk pertama kalinya dilidahnya yang hanya terbiasa dengan sereal gandum dan buah.
Dan juga sangat mendukung Cherly! Saat Zheba dan Maya berusaha hadir dalam rumah tangganya bersama Barra.
Perlahan Airmata Cherly jatuh satu satu menetes dipipinya! Mengapa Sam harus mati dengan cara yang mengenaskan? Bukankah Telah lama pria pendiam itu berteman dengan kepahitan hampir disepanjang hidupnya? Ini sangat tidak adil bagi Cherly.
Dan ditembak dan dibakar dalam sebuah mobil! Bagaimana dengan keadaan tubuh Sam?
Dan Truddie pasti sangat berduka!
Cherly Tahu Truddie sangat mencintai Sam!
Cherly juga tak tahu kalau antara Truddie dan Sam telah melakukan sesuatu hubungan terlarang dan mereka berdua melangkah terlalu jauh melewati batas hubungan yang biasa.
Cherly melangkah pelan mendekat kearah Bara yang kini menatap jauh keluar! Seolah melihat kembali napak tilas persahabatan yang telah terjadi terjalin penuh pengorbanan sejati bersama Sam!
Memeluk punggung Barra dari belakang dengan simpati atas penderitaan Bara saat ini! Dan Cherly ingin berbagi kesedihan Barra atas kematian Sam yang begitu tiba tiba.
__ADS_1