Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Seikat Bunga Gunung Buat Cherly


__ADS_3

Suara ribut dari luar rumah terdengar riuh. Sorak Sorai dan percakapan yang diselingi candaan itu berasal dari pekerja yang baru tiba dari gunung.


Mereka sekalian berburu dengan menggunakan perangkap yang telah dipasang dipintu masuk jalur Utara perkebunan yang sangat luas milik Barra.


Beberapa Babi hutan atau landak mungkin akan terperangkap didalamnya.


Sehingga suara mereka tersebar riuh karena mendapat pasokan daging yang banyak untuk persediaan beberapa hari kedepan.


Rudy! Sang koki pekerja yang datang membawa beberapa kantong plastik tebal berisi daging merah itu.


Berjalan kearah gudang penyimpan makanan dengan langkah riang. Digudang ada freezer yang dinyalakan secara berkala. Dengan bantuan mesin diesel Berkekuatan 6000 volt. Sebagai penyediaan fasilitas penerangan dan membantu menunjang dalam kegiatan rumah tangga.


Cherly dan Bu Ani paling akan menyalakan blender saja . Saat menghaluskan bumbu dapur mereka.


Sedangkan nasi dimasak dengan ditanak menggunakan kayu api. Sehingga nasi itu lebih pulen dan sangat wangi.


Air juga dimasak ditungku perapian. Dan Bu Ani lebih senang masak secara Tradisional seperti yang sering dilakunya dirumah perkebunan Barra yang lama bersama Ibu Siti dan Pak Jana.


Hari telah menunjukkan pukul 21 Malam lewat 12 menit.


Cherly meringkuk dibawah selimutnya.


Sedangkan kedua tamu itu masih berada dikamar tamu yang ada didekat pavilyun pekerja. Tak ada yang akan berani mengatakan perihal tentang kedua wanita tamu itu kepada Barra.


Barra akan berubah kasar dan sangat temperamen kalau menyinggung masalah pribadinya.


Apalagi saat ini Barra pulang dalam keadaan lelah setelah mengadakan patroli disekeliling hutan jalur timur.


Dengan langkah panjangnya langsung menuju kamar anaknya. Disana Barra melihat Sam sedang membaca buku dan Banta Malik telah tertidur di box balitanya dengan musik yang berdentang denting.


Dengan suhu ruangan yang sejuk membuai anak itu tertidur nyaman. Dan Sam mungkin akan menjaga anaknya sampai pagi dengan cara tidur yang aneh.


Dia bahkan bisa mengatupkan matanya dengan setengah terjaga sambil membaca buku.


Menurut dokter. Syaraf Sam bisa tertidur disaat dia masih setengah sadar. Karena telah terbiasa dalam keadaan yang tertidur sedemikian rupa.


Banta Malik tidur dengan sangat nyenyak dengan menelungkup. Salah satu ciri manusia keras kepala! Dan mirip seperti sifat Sang Ayah.


Barra mengeleng geleng-gelengkan kepalanya dengan pelan melihat kedua manusia yang berbeda generasi itu. Dalam pose yang berbeda. Barra menyanyangi mereka berdua Dengan caranya sendiri.Tanpa menunjukkan kemanjaan yang berlebihan. Mendidik mereka berdua dengan caranya.


Tadi siang Sam telah mengajak Anaknya bermain bola bersama Adrian sejak jeda siang hari dilereng berumput dikaki bukit hingga hampir menjelang gelap.


Banta Malik sangat senang dan terus bergerak lincah dan pulang dalam keadaan tertidur hingga malam. Didalam gendongan Sam. Sa'at melihat kedua tamu wanita itu tatkala Sam pulang , Memasukkannya Banta Malik kedalam box dan langsung menemui kedua wanita itu.


Yang datang sebagai tamu hingga membuat Cherly terluka.


Sam benci melihat kedua tamu itu. Hingga memilih berdiam dikamar menjaga Banta Malik yang tertidur.


Barra berjalan kearah kamarnya. Tanpa mengetahui siapa yang telah datang dan kini mungkin Zheba dan Maya sedang mengatur siasat untuk langkah selanjutnya. Didalam kamar tamu Barra.


Bu Ani dan Pak Joy telah mempersiapkan kamar buat Zheba dan Maya Atas perintah Cherly.


Menunggu Barra pulang . Dan esoknya akan mulai dengan pertemuan yang sebenarnya sangatlah tidak penting itu.


Barra mendorong pintu kamar itu.


Dan melihat kearah istrinya yang telah bergelung dengan ditutupi oleh selimutnya.


Cherly masih mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Dibawah selimut tebalnya.


Dia tak kuasa menggerakkan badannya yang terasa sangat lemah! "Mama! Cherly ingin pulang ,"Bisiknya diatas Bantalnya yang basah oleh airmata.


Dia rindu semua ketenangan dan keindahan sa'at bersama keluarga dan teman-temannya.

__ADS_1


"Trud! Grace! jemput Cherly! Udah nggak kuat lagi deh Trud! "Bisiknya dengan suara bergetar.


Mengusap matanya dengan ujung selimutnya.


Sa'at lengan besar itu menyentuh bahunya dengan lembut.


Aroma jantan itu menyeruak kehidungnya.


Bercampur dengan aroma maskulin keringat yang terasa akrab ditubuhnya.


"Chers! Kau sudah tidur!"Bisiknya dengan pelan. Barra merasa aneh! Biasanya istrinya jam segini masih menunggunya diruang tamu dan bercerita banyak saat bertanya, Apakah Menjangan dan Rusa adalah sama . atau apakah Tapir dan Tenuk juga adalah hewan yang sama.


Seperti saat Cherly bertanya lagi. Kalau Kancil dan Pelanduk juga sama!


Barra menyentuh kening istrinya. Yang terasa agak panas.


"Kau sakit?" Tanya Barra lagi . Cherly terdiam dan semakin merapatkan wajahnya kebantal.


Membuat Barra semakin khawatir.


Dengan pelan menyibak selimut Cherly. Membuat matanya mengelam, Saat melihat handuk kain yang membelit tubuh indah Cherly terlepas, Melukis satu bayangan yang nyata. Dan mudah teraba oleh tangan. Dan nikmat dicecap oleh lidah.Terhampar penuh dengan godaan.


Tangan Barra membelai kulit halus Cherly tanpa sadar. Dengan jakunnya yang bergerak naik.


Perlahan dia meraih tubuh Cherly agar melihat wajahnya yang selalu digilainya hampir disetiap waktu.


Dan Barra tersentak saat melihat wajah sembab Cherly dengan mata bengkak.


"Kenapa menangis hmm," Katanya dengan suara serak.


Menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya yang lebar dan berjari besar itu.


Menghapus Airmata Cherly yang bergulir bening.


" Kau merindukan Mama dan juga Truddie atau Grace?"Katanya lagi.


Cherly tak menjawab .


Kerongkongannya terasa kering dan lidahnya kelu.


Namun dengan suara tersendat sendat berusaha berkata kepada Barra.


"Barr! Maya dan Zheba datang! Sore tadi! wanita itu tampak sangat merindukanmu,"Katanya dengan suara sendu didada Barra. Mendengar degup jantung suaminya dibalik bajunya yang terasa lembab oleh keringat.


Barra terdiam, Mengatupkan kedua rahangnya yang tampak bergerak gerak. Menandakan kegeramannya.


Meregangkan pelukannya menatap wajah Cherly .


Dengan wajah memerah meremas jemari Cherly yang mungil. Seakan memberikan kekuatan kepada istrinya.


" Kau menangis karena hal yang tak berguna ini? Dengar Cherly! Kau tak perlu memikirkan hal yang yang bersangkutan dengan mereka! Telah berkali kali kukatakan padamu! Itu adalah bagian masa laluku yang telah kutinggalkan dan tak mungkin kembali lagi.Sekarang! Tatap Aku! Apakah kau melihat kejujuranku atau tidak! Kau lebih berarti bagiku Cher! Jangan menangis lagi Ok?" Kata Barra meyakinkan Cherly.


Cherly menatap suaminya dengan mata meredup.


Wajah Barra yang jantan dengan cerukan mata elangnya dibaris bulu alis tebalnya yang terlihat sangar namun sangat menyanyanginya.


Dengan bibir tipisnya yang menyimpan misteri kekuatan itu selalu membuai Cherly tanpa diiringi rayuan gombal.Barra berkata apa adanya. Tidak berbunga bunga dalam memperlakukan dirinya.


Barra menatap tajam mata Cherly yang lebar dan indah dibawah lentik bulu matanya yang panjang.


Dengan bibirnya yang mulai memerah. Tidak pucat seperti biasanya. Mual dan muntah muntah itu tidak mempengaruhi wajahnya yang sangat jelita.


Barra mengusap bahu istrinya yang terbuka.

__ADS_1


Merasa kehalusan kulit Cherly dibawah telapak tangannya yang besar dan kasar. Penuh kapalan yang sangat tebal, Karena sering bekerja keras dihutan dan diperkebunan miliknya yang sangat luas itu.


"Cherly, Aku selalu ingin menyentuhmu!" Bisiknya lagi.


Dengan gerakan seindah tarian ditengah salju yang dingin.


Menyergap bibir yang memerah itu dengan sangat lahap.


Menggumam dalam bahasa yang tak jelas. Menyapu sisa air mata istrinya dengan sapuan lidahnya yang kasar dan panas. Cherly memasrahkan dirinya yang melembut bagai kain sutra yang siap untuk disetrika. Halus lembut dan terkulai dipangkuan Barra yang penuh dengan gairah menggelora.


Membawanya kepuncak gunung yang tinggi. Menikmati hangatnya mentari yang membakar kulitnya yang panas.


tubuh Cherly melengkung bagai penari.


Bibirnya yang basah terlihat memerah terbuka dengan indah membakar asa didalam tubuh Barra yang kian mendamba.


Terus melesak bagai pencarian tanpa henti. Erangan Cherly terdengar lembut bagai suara lirih Puput dari tengah Padang mengalun ditelinga Barra. Yang terus melaju. Membawa kuda putihnya berlarian menuju Taman syurga yang tak terlihat. Namun sangat terasa oleh Indra perasa.


Membuat Geraman yang tenggelam dirambut Cherly yang bagai sutra.


Tubuh Cherly yang bagai sebuah kecapi malam mendengungkan lagu demi lagu. Mengikuti irama yang kian cepat. Dikendalikan oleh sang penyair hingga menggapai nirwana indah.


Mengeluarkan keajaiban yang tiada henti hentinya.


Dan sa'at Api memercik membakar kedua tubuh itu mulai mereda Barra menatap Cherly yang terkapar dengan lukisan tubuh pelanginya. Melengkung dalam pelukan suaminya.


Bermandikan keringat yang membasahi selimut malam mereka.


Barra mengecup kening Cherly yang kini menatapnya dengan Matanya yang kian memberat.


"Barra! Aku ngantuk," Bisiknya hampir tak terdengar saat matanya menutup usai badai yang penuh gelora itu tiba.


Barra mengangguk dan mengecup bibir Cherly lama sekali.


"Cherly! Tetaplah bersamaku! Aku akan selalu menjagamu," Janji Barra.


Sambil menatap bunga edelweis yang dibawanya dari tebing gunung yang curam. Yang kini berada dalam pot bunga berisi air. dan sebagian lagi akan dikeringkan dilipatan buku tebalnya.


Hingga selalu awet.


Khusus akan dipersembahkan buat sang istri.


Istri kecilnya yang hebat.


Istri kecilnya yang selalu siap kapanpun dia membutuhkan dirinya.


Cherly yang selalu menggoda dalam pikirannya.


Perasaan Barra tetap membara pada sa'at berdekatan atau berjauhan.


Cherly tetap sama mengisi hatinya.


Pernikahan yang tak diinginkan oleh keduanya. Kini berujung panas dan menggelora.


Barra menyelimuti tubuh Cherly yang terhampar indah.


Barra bahkan cemburu pada Plafond kamarnya yang melihat tubuh indah istrinya.


Barra tak kuasa bila suatu saat Cherly akan pergi darinya.


Barra harus mengambil sebuah keputusan penting untuk kedua wanita tamu itu.


Yakni Zheba dan Maya.

__ADS_1


__ADS_2