Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Kabut Hati


__ADS_3

Dua Bulan telah berlalu.


Membawa waktu berlari dengan sangat cepat. Sejak pernikahan yang terjadi diantara Barra dan Maya.


Hari ini Barra tampak sangat kusut.


Dia pulang dengan cepat. Wajahnya tampak lebih seram dan mengerikan.Tangan kekarnya terlihat mengkilat gelap.


Bulu Bulu halus diwajahnya tumbuh dengan sangat subur, Bagai rumput ditengah Huma.Tak pernah dicukur dan dirapikan selama dua bulan kebelakang penuh. Membuatnya Terlihat bagai residivis yang melarikan diri hukuman mati.


Sore ini masih seperti sore sore yang telah lalu.


terasa lembab dan basah dengan sisa hujan yang menetes dari dedaunan samping jendela yang terbuka lebar.


Barra duduk dengan menekuk.


Mengusap wajah kasarnya dengan kedua tangan yang terasa dingin.


kemeja putihnya yang terlihat ganjil dipadukan dengan celana olahraga hitam dengan garis biru disisi samping memberikan kesan sejuk dan agak cerah dengan perpaduan yang tidak serasi itu. Namun tetap pas ditubuh Atletisnya.


"Makanlah Barra, Kau belum makan sejak siang tadi,"Ajak Maya lembut Sambil mengelus bahu Barra dengan kedua tangan halusnya dari belakang.


Barra hanya diam dengan wajah datarnya seperti biasanya."Bukankah seharusnya Bayi kami sudah berusia hampir dua bulan?"Tanyanya bagai suara yang datang dari sebuah dunia yang paling jauh.


Maya mengernyitkan keningnya dengan wajah yang memerah. Bahunya tergetar menahan tangisnya yang selalu datang tiba-tiba dari perkataan Barra, Seperti biasanya.


Elusan tangannya yang berada dibahu Barra jadi terhenti dengan tiba tiba.


"Mengapa selalu begini barra? Setiap kali aku berbicara denganmu tak ada sahutan yang berarti, Dan kau membalas dengan hal lain, Selalu berhubungan dengan bayi dan wanita itu, Apakan ini tetap lebih menarik dalam keluarga kita yang baru saja dimulai untuk lebih baik?"Tanya Maya dengan dada sesak. Dengan suara yang tertahan menahan emosinya yang kian membuncah dari hari ke hari oleh sikap Barra yang semakin paradoks.


Barra terdiam! Membuat Maya menjadi marah!


"Jawab Barra! Mengapa! Dan kau selalu menyebut nyebut nama Cherly didalam tidurmu dan Disa'at kita sedang bercinta seolah olah kau sedang berhubungan badan dengan Cherly! Aku tahu arti tatapan matamu bukanlah untukku.Dan kau selalu mengenakan pengaman karet sialan itu saat berhubungan badan denganku! Kau pikir Aku punya penyakit kelamin yang bisa menulari mu Hah! Kau pria yang berpendidikan Barra! Tapi perbuatanmu Persis remaja yang patah hati! Aku Benci sikapmu Barra! Kau bukan lagi Barra yang pernah kukenal! Kau pengecut! Dan Kau juga bodoh! Kau harusnya bersyukur dengan pernikahan kita, Banyak yang mendukung perkawinan ini. Ada banyak do'a dari mereka! Tapi Apa? Kau seperti pemain drama yang akan menutup babak dengan kegagalan,Apa kau sudah gila Barra?" Racau Maya tak tertahankan dengan kemarahan dengan suara meninggi.


Barra memiringkan wajahnya dengan mimik menjengkelkan Maya yang melihatnya dengan sangat murka ditengah aliran Airmatanya yang memenuhi wajahnya.


"Apa aku pernah mengucapkan kata-kata cinta?yang romantis untukmu? Aku tak pernah mengucapkan kata-kata Itu didalam hidupku,"Jawab Barra dengan ketus.


Maya mengusap matanya dengan ujung dress pendek yang berbahan lembut.


Wajah pucatnya terlihat pias. Bibirnya tergetar ingin memaki dengan sepuas hati. Namun Maya menggeleng gelengkan kepalanya dan berlari kedalam kamar.

__ADS_1


Dia lelah dan dia tak sanggup Menghadapi sikap Barra yang selalu bersembunyi dibalik sebuah kebohongan dan tidak disertai dengan ketulusan hati dalam rumah tangga mereka yang Bahkan belum seumur jagung.


Barra lebih sering terdiam dengan pikirannya sendiri. Seolah olah hidup didunia yang lain.


Tanpa bisa dimasuki oleh Maya. Walau telah berstatus istrinya.


Barr menekur dengan sinar matanya yang tajam. Banyak yang berkeliaran dipikirannya.


Tentang rutinitasnya yang mulai membosankan, Tentang Kakaknya Ali Ramadhan berserta Rosita.


Dan terutama keluarga Hermawan dengan kekecewaan mereka terhadap Barra.


Membuat Barra kian mual. Terlintas dalam pikirannya yang kian kelam, Tanah dan rumah peninggalan kedua orang tua mereka.


Yang kini hanya diurus Oleh Pak Jana, Bu Siti dan Bu Ani.


Tanpa pernah lagi mengharap kehadirannya ditengah mereka.


Dulu ketika permasalahan pelik ini belum muncul. Bertahun tahun Barra meninggalkan rumah kebun itu tak ada kesedihan. Dan ketika Barra pulang sambutan orang orang yang merindukan dirinya membuat hatinya menghangat.


Namun masih adakah yang masih mengharapkan kehadirannya disana?


Hidupnya terasa kian tak menentu.


Barra merebahkan tubuh besarnya dilantai yang dingin. Menatap flapon Asbes yang tebal.


Dia berharap flapon itu menimpa tubuhnya dan tak pernah bangkit dari tidurnya.


Namun fikirannya yang buruk itu menguap sa'at mengingat anaknya yang belum pernah dilihatnya.


Dia masih punya impian dan harapan dihari depan. Bertemu dengan Cherly dan anak mereka.


Barra memejamkan matanya dengan senja yang kian turun.


Dan harapan itu mulai hilang saat kesadaran yang pergi menguap dari Barra yang tertidur kelelahan.


...****************...


"Hei Cherly Anakmu menangis lagi! Mungkin Dia lapar! "Kata Rosita yang masih memangku Bayi yang mulaigempal itu. Mulut kecilnya merengek-rengek dengan jenari kecil gemuk mengepal bagai petinju itu.


Cherly tertawa melihat kearah Rosita, Sambil menggeleng gelengkan kepala dengan heran.

__ADS_1


Anaknya terus menyusu sepanjang hari hingga pipinya berbekas membentuk guratan bekas jejak baju Cherly yang terus memangkunya sa'at menyusu dari dada Cherly.


Atau Cherly berbaring sambil menyusui anaknya, Kerena punggungnya terasa mati rasa sebab menyusui dalam waktu yang sangat lama.


"Dia baru saja menyusu kak, Aku heran mengapa anak sekecil ini menyusu demikian kuat?"Jawab Cherly tersenyum.


"Hei kau Gadis anak satu! Susumu tak akan pernah bisa habis,Dengan dadamu yang berukuran Jumbo itu.


Air ASI mu sangat melimpah, Jangan pelit dengan anak sendiri," Kata Rosita yang baru tiba kembali kekampung ini seminggu yang lalu.


Rosita mengendalikan dan menghandle pekerjaannya dalam pengurusan gerai restorannya dari Kampung Pak Hermawan yang sangat Asri ini.


Dengan pelan pelan Cherly membuka kancing terusan itu Sambil menyodorkan dadanya yang berisi ASI kemulut anaknya. Dengan sekali Sambaran Bayi kecil itu melahapnya dengan penuh nikmat bagai belum minum satu harian penuh


"Bukankah dia seperti Barra? Kak Rosie! Barra selalu makan dengan sangat lahap. Aku heran melihatnya.Mungkin dia butuh pasokan yang sangat banyak untuk tubuhnya yang tak bisa diam itu.Dia makan dengan tangannya disertai suapan yang besar besar," Kata Cherly sambil tertawa merasa lucu.Wajah Rosita Tampak mengelam!


rautnya berubah menjadi kosong.


'Jangan pernah menyebut namanya lagi diantara kita Cherly! Hatiku sangat sakit.Barra pasti sama menderitanya dengan kita, Barra yang Sangat dekat dengan Kakak lelakinya dan keponakan keponakannya. Dan tiba tiba terasing seorang diri.Itu adalah hal sangat berat buat ditanggungnya seorang diri. Dan Anaknya, semua sangat menyayangi dirinya. Barra kecil yang hebat!" Kata Rosita mencium pipi yang mulai berisi itu dengan gemas.


"Bukankah dia punya dokter Maya, Yang selalu mendampinginya sebagai istri yang baik?" Kata Cherly pelan.Hatinya kembali teriris dengan perlahan dan tersa menyakitkan.


Namun Cherly tetap berusaha untuk tidak mengharapkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya lagi.


Dia pasti akan melupakan Barra seiring waktu, Hatinya sangat berbahagia melihat ketegaran Ayahnya, Pak Hermawan! Saat Ali Ramadhan mengutarakan semua kejadian yang telah menimpa keluarga Barra dan Cherly.


Pak Hermawan juga dengan lapang dada akan mengurus perceraian Putrinya dengan Barra.


Sa'at Ali Ramadhan memohon minta Ma'af kepada Ayah Cherly , Mewakili Sang Adik, Barra!


Pak Hermawan hanya tersenyum dengan tulus sambil memeluk Ali, Yang telah dianggapnya adiknya sendiri. seperti kedudukan Osmanta Adiknya yang tinggal jauh darinya.


"Janganlah merasa bersalah Ali, Kau tahu Aku cukup bahagia dengan pengaruh Barra yang sesingkat itu dapat mengubah kepribadian Cherly menjadi lebih baik! Dan memberi seorang cucu yang tak ternilai dengan apapun untukku! Kau tahu? Barra tetaplah pria yang hebat bagiku secara Pribadi, Semoga Tuhan mempertemukan kita disuatu hari nanti dengannya! Cobalah mengerti! Posisi Barra, Dan jangan memarahinya,"Kata Pak Hermawan dengan ikhlas dan tulus.


Membuat Yang mendengar kata kata itu jadi menangis terharu.


Semua tak menyalahkan satu dengan yang lain.


Karena mereka tahu! Sebuah takdir itu adalah muthlak pilihan Allah.


Dan semua yang terjadi adalah muthlak skenario dari sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2