
Dokter Martha mengangkat dress pendek Truddie yang menutupi perutnya. Dokter itu telah selesai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Truddie. Dokter itu tersenyum manis kearah Truddie yang tampak Cemas.
Perlahan sang Dokter menekan perut Truddie empat jari dari bawah pusarnya. Truddie meringis menahan ngilu. Apakah ada sesuatu disana? Fikir Truddie dengan cemas.
"Jangan Takut Truddie! Rileks saja! Izinkan saya melakukan pemeriksaan untuk lebih lanjut lagi!"Kata dokter yang berusia 40 tahunan itu dengan ramah.
Truddie mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum kepada sang dokter.
Sementara Cherly dan Grace menunggu diruang tunggu.
Dokter itu menghidupkan sebuah alat berbentuk monitor televisi 12 Inci .Dan mengoleskan cairan kental berbentuk gel keperut Truddie , Pas dipusat inti rahim dibagian bawah perut! Truddie mendesis karena Gel itu terasa dingin disuhu tubuhnya yang terasa dingin. Dalam AC yang dingin juga. Dokter itu menyambungkan beberapa alat scan seperti kabel halus kecil berujung tebal kearah rahim dikulit perutnya. Tempat yang telah Di oles dengan gel barusan. Dokter itu menatap layar dengan seksama. Monitor itu kini menampilkan layar hitam berkabut dan dipenuhi bintik bintik putih dan garis yang menyemut hitam tak dimengerti oleh Truddie. Dan perlahan bintik itu terlihat mengumpul disuatu arah didalam rahimnya yang terlihat dalam garis lingkaran yang lonjong. Kumpulan bintik bintik itu masih menyebar dan terlihat memutih didua tempat dalam rahimnya. Dokter itu mengeluarkan Lembaran scan itu berbentuk kertas yang keluar dari dalam sebuah mesin yang berada disisi ranjang ditempat Truddie kini terbaring.
Dokter itu menyuruh Truddie bangkit dan membereskan kembali letak pakaiannya.
Truddie lalu turun dan duduk setelah dipersilakan oleh Dokter Martha. Truddie duduk didepan dokter Martha sambil berusaha tetap tenang.
Asisten sang dokter memanggil Cherly dan Grace yang sedang berunding dengan suara pelan. diruang tunggu.
Mereka berdua tampak kaget saat asisten dokter itu memanggil mereka. Namun dengan Cepat Cherly dan Grace masuk keruangan sang dokter. Cherly memeluk Truddie yang tampak memucat.
"Trud! Jangan takut Ok? Kau pasti baik baik saja katanya mengelus Bahu Truddie dengan lembut.
Truddie menelusupkan kepalanya keleher Cherly. "Aku bahagia Chers! Tapi aku juga sangat takut."Katanya dengan pelan.
__ADS_1
Cherly mengelus elus rambut Truddie penuh kasih sayang. Bagai elusan lembut Ibunya kala Truddie sedang dalam masalah disekolah atau dikampusnya.
"Saya telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dengan Zoom mikro Ultrasonograph! Truddie saat ini tengah mengandung! Janinnya baru berusia lima minggu lebih dua hari! Dan satu lagi! Janin itu kembar!"Kata Dokter itu. Ketiga wanita yang berada didepannya itu serentak membekap mulut mereka sendiri dengan jemari mereka.
Kaget bercampur senang .
Cherly dan Grace memelukTruddie dengan serentak!
"Oh Truddie! Kau akan menjadi seorang Ibu sayang!"Bisik Grace dengan mata berkaca kaca. Truddie menangis bahagia. Namun terselip rasa takut yang tak terkira.
Orangtuanya akan mendapat malu dengan keadaannya saat ini
Mereka mohon diri pada dokter dan keluar ruangan sambil membawa resep obat yang merupakan multivitamin untuk dikonsumsi oleh Truddie nantinya.
Mereka melangkah keluar dari BKIA itu sambil bergandengan tangan. Seolah saling memberi kekuatan bagi jiwa Truddie yang gundah.
Saat mobil yang melaju dengan kecepatan sedang yang dikemudikan oleh Grace tak ada yang berbicara.
Masing masing terdiam dengan fikiran yang kian berkecamuk dikepala masing masing. Apa yang harus mereka lakukan? Hari pertunangan Truddie akan dilaksanakan besok siang. Cherly tak berhenti menggenggam kemari Truddie yang dingin. Truddie terlihat sangat shock setengah kebahagiaannya.
"Untuk sementara waktu! Menunggu perutmu yang mulai akan membesar! Sedapat mungkin kita harus menutupi kehamilan Truddie hingga hari pernikahan itu tiba! Kita akan menyusun rencana kedepannya. Mungkin Masih ada harapan dan celah untuk membatalkan pernikahan Truddie dan Arie. "Kata Grace memberikan idenya, "Truddie dan Cherly hanya bisa mengangguk mengamini.
Untuk saat ini mereka bertiga tak bisa mengambil keputusan penting. Nantinya akan menyulitkan Truddie dan bisa jadi menjadi aib untuk keluarga Pak Paul dan Ibu Ning!
__ADS_1
...****************...
Dan hari yang dinanti oleh kedua keluarga besar Tuan soedono dan Tuan Paulinsky pun tiba. Pertunangan Truddie dan Arie Soedono akan dilaksanakan digedung Komersial yang megah. Telah didesain secara langsung oleh event organizer ternama. Bernuansa pesta kebun yang didominasi warna hijau. Mulai dari Kursi kebesaran calon pengantin berhias pita satin dan karangan bentuk bunga yang yang sedang menyemi mekar. Barisan bunga Nusa Indah berbaris rapi dengan bunga berwarna lila yang berbunga lebar. Beberapa tamu yang berjumlah puluhan bahkan ratusan datang dengan pasangannya masing masing.
Truddie tampil sangat anggun dengan gaun berlengan pendek berwarna hijau Olive berbahan satin dengan detail bunga kecil dirasanya yang berpotongan rendah. Rambutnya yang kecokelatan di kepang secara modern oleh seorang penata rambut yang trampil. Rambut Panjang Truddie yang ikal itu disimpul dengan sangat indah kebelakang. Wajah Truddie yang bujur sirih itu dihiasi make up yang sangat lembut. Menampilkan wajah remaja yang tampak memukau. Rangkaian bunga kecil berwarna lila menghias kepangan rambutnya dengan sederhana namun terlihat elegant. membuat Truddie bagai Putri didalam legenda dongeng yang sangat cantik.
Arie Soedono mengenakan Setelan jas hitam dengan kemeja putih berwarna hijau pupus yang terlihat tampan ditengah senyumnya yang memikat. Pasti banyak wanita yang patah hati diharinya yang penting ini.
Beberapa wartawan tampak sibuk meliput pertunangan Arie dan Truddie. Tuan Soedono adalah seorang bisnisman veteran yang sukses. Dimasa pensiunnya. Dan akan digantikan oleh putranya yang seorang Pengusaha yang menggantikan posisi Sang Ayah dan kini akan bersanding bersama putri tunggal seorang diplomat asing yang bertugas di Indonesia.
Kilatan lampu Blitz itu berkali kali menerpa wajah Truddie yang jelita. Sesekali Truddie tersenyum kearah kamera para wartawan dan berpose dengan manis. Truddie berusaha mengikuti arahan Grace dan Cherly yang belum juga tampak batang hidungnya. Sejak tadi Truddie gelisah mencari cari kedua sahabatnya diantara para tamu yang terus berdatangan memberi selamat sambil mencium pipinya yang halus.
Arie terlihat sangat bangga saat memeluk bahu Truddie dari belakang. Sesekali tangannya mengelus bahu Truddie yang halus dan lembut. Truddie hanya terdiam dan merasa tak nyaman dengan perlakuan calon suaminya. Karena Arie berkali kali bagai hendak menciumnya ditengah para tamu.
Keluarga kedua belah fihaktampak sangat berbahagia dengan pertunangan ini. Dan menurut mereka pernikahan Arie dan Truddie akan dilaksanakan secepatnya.
Truddie yang mendengar hal tersebut jadi semakin panik. Keringat mulai keluar dari keningnya. "Aduh! Cherly dan Grace! Datang dong! Aku benar benar kebingungan sendiri disini, "Bisiknya sambil menggigit bibirnya sendiri.
"Kamu terlihat gelisah sayang! Apa kita perlu beristirahat sejenak kedalaman kamar?"Bisik Arie dengan mesra.
"Oh! Aku cuma menunggu Cherly dan Grace! Kok mereka lama sekali tiba kemari! Aku sangat merindukan anaknya yang lucu lucu itu,"Jawab Truddie memberikan alasan kegelisahannya Kepada Arie yang sedang mengelus wajahnya. Pose mereka yang sangat romantis itu diabadikan kembali oleh seorang pers dan secepatnya disebar kelayar raksasa yang berdiri megah di luar ruangan.
Slide romantis antara Truddie dan Arie menghias layar depan monitor besar itu bergantian membuat para tamu tak henti hentinya memuji pasangan yang sangat serasi itu.
__ADS_1