Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Sepasang Belibis Di Cakrawala.


__ADS_3

Cherly sedang rebahan didada Barra yang sedang telentang diranjangnya yang hanya mengenakan celana jeans panjangnya tanpa mengenakan baju ditubuhnya.


Dengan berbantalkan kedua tangannya, Sambil menatap plafon dikamar Cherly.


Sambil mengelus ngelus dada Barra yang penuh bulu yang lebat. Dua hari belakangan ini Mereka lebih sering berada didalam kamar. Namun Cherly tidak merasa bosan seperti biasanya dan selalu mencari jalan untuk keluar rumah,Clubbing atau sekedar nongkrong di Cafe bersama Truddie atau Grace.


"Bar! Ajak kek Cherly yang imut dan cantik ini keluar sekali kali, Shopping, nongkrong dicafe atau apalah, Kamu kok pelit sih Bar! " Katanya pelan sambil memilin milin bulu dada Suaminya dengan jemari tangannya yang mungil.


"Bukannya kamu malu jalan dengan lajang lapuk, Bangkotan tua!" Kata Barra dengan wajah tetap terarah keatas plafond.


"Isss, Barra gitu deh, Nyindir terus, Ngomongnya garing! satu satu, Lagi! Kok pendiam banget sih! Ketawa kek sesekali biar makin manis dan awet muda," Kata Cherly lagi.


"Maksudnya?" Tanya Barra pura pura tak.mengerti.


"Barr! Tau nggak kalau kamu suka tertawa, Suka ngoceh seperti aku! Kamu pasti deh makin tampan. Misalkan ya? Aku Jadi bunga kamu jadi kumbangnya! Kalau aku jadi Jane kamu Tarzannya! Kalau aku jadi kucing Kamu jadi Anjingnya!" Kata Cherly sambil cekikikan. Barra terpancing dengan guyon garing Cherly yang tak lucu namun mampu menggelitik hatinya.


" Kok anjing ! Sih," Protes Barr menatap Cherly dengan mata berbinar.


Cherly tampak sangat seksi dengan gaun tidur pendek berenda tipis dan Bara dapat memastikan Kalau Cherly tak mengenakan apa apa dibalik gaun itu.


Pahanya yang ramping dengan betis yang sangat mulus dan putih bersih itu membuat mata Barra menggelap sekilas. Bagi Barra, Cherly memang tiada duanya.


pinggang yang kecil ramping namun berisi dibagian dadanya yang besar dengan bokong yang padat membuatnya bagai boneka hidup yang membuat mata terpana. Barra tipe pria yang tidak suka banyak bicara.


Pendiam dan lebih banyak berpikir.


Lain halnya dengan sang istri yang cerewet dan banyak bertanya ini itu. Barra menjawab Dena singkat dan seadanya.


" Bar! Besok kita pulang ke rumah kita saja deh! Aku rindu Bik Ani dan Bu Siti."Kata Cherly lagi setelah terdiam sejenak. Barra menatap wajah Cherly tak percaya.


"Bukannya kau tak suka dengan rumah kecilku yang mirip kamp pengungsian dengan ****** Zaman penjajahan Belanda dulu," Balas Barra tak aneh mendengar kata dari istrinya yang seakan wind of change.


"Ihh, Aku nggak pernah kok bilang zaman Belanda! Zaman Jepang iya,"Kata Cherly sambil menggelitik pinggang dan ketiak Barra yang menggelinjang kegelian.


Dan Barra menangkap tangan kecil Chers yang jail.


Menatapnya lekat. Melihat wajah yang secantik bunga yang kembali mekar, Bibirnya yang memerah tipis dan penuh terisi padat, Wajah tirusnya yang lonjong dengan lekukan rahang yang halus, Dihiasi mata lebar berbulu lentik alami.


Hidungnya yang kecil mancung meliuk simetris.

__ADS_1


Rambutnya yang menjuntai lebat sehalus dan selembut juntaian bulu burung cendrawasih.


Perut Cherly mulai terlihat sedikit melembung. jika sedang tidak mengenakan pakaian.


Barra mengelus perut Cherly dengan lembut tanpa kata.


"Kamu makan ya? Tadi pagi kamu cuma makan sereal yang dibuat Mama! Nanti kamu bisa kekurangan darah saat melahirkan anak kita," Kata Barra melihat Cherly yang malas untuk makan.


"Bar! Kita makan ditempat Kak Rosita yuk! Cherly suka masakannya! enak enak, Sekalian belajar masak juga," Ajaknya pada Barra.


"Katanya nggak bisa jalan, Perutnya sakit," Protes Barra.


"Jadi apa gunanya badanmu yang besar bagai mammots kutub itu, Kalau tidak untuk menggendongku," Pancingnya Jail.


Membuat Barra langsung mengangkat tubuhnya dan menggendong Chers kekamar mandi.


"Otakmu harus dicuci dulu , Hingga tak ada ide bahasa buruk yang keluar," Kata Barra pelan ditelinganya.


" Lepaskan Bar! Aku tahu jalan pikiran kotormu! Aku capek Barr! Perut dan rahimku sakit!"Pekik Cherly sambil menggelinjang dengan kakinya yang kecil yang hanya mengundang Barra lebih terpancing dan pintu kamar mandi berdebam Dengan keras terkunci dari dalam.


Hanya suara gemercik dari shower yang terdengar beriak kedalam Bak mandi Cherly.


Sementara Rania yang sedang mengatur meja makan bersama Ratni sang pembantu rumah mereka.


menggeleng gelengkan kepala.


Kemarin Sofa mahal dan kukuh itu ambruk.


Dan sekarang mungkin pintu kamar mandi yang terbuat dari fiber tebal itu akan terlepas dari bautnya.


Rania tersenyum sendiri membayangkan Cherly kelak punya anak. Pasti Cherly dan anaknya sama sama menangis dan sama sama jajan Lollypop dan beli Es krim keperempatan jalan rumah mereka.


Atau parahnya sama sama rebutan susu, Yang dibuat Ibunya.


...****************...


Desa Makmur Jaya.


Maya mulai menghitung jumlah hari pada kalender didinding rumahnya.

__ADS_1


Mengapa Barra meninggalkannya begitu lama padahal Barra berjanji Hanya pergi dua hari saja. dan menghabiskan waktu Tiga hari bersama dalam perjalanan. Dan sekarang sudah hampir seminggu Barra tak kunjung datang kembali kedesa ini.


Padahal setahunya Barra tak mencintai Istrinya.


Mereka menikah melalui perjodohan dan paksaan oleh Kakak lelakinya yang bernama Ali Ramadhan itu.


Maya duduk dikursi kerjanya dan mengetuk-ngetuk kan jemari telunjuknya keatas meja tripleks tebal itu.


"Barra! Pulanglah! Aku merindukanmu!"Desisnya pelan.


Namun ucapanya hanya dibalas oleh angin siang yang bertiup lewat jendela kaca itu.


Maya Adalah gadis manis yang tidak mudah jatuh cinta.


Dan pemilih dalam menilai lelaki yang akan mendampinginya.


Namun ketika pertemuan dengan Barra tiba Semua berubah. Maya menjadi bukan seperti dirinya.


Maya yang pemalu dan menjaga harga dirinya dengan sangat baik sejak dari remaja hingga menamatkan gelar dokter dan menjadi salah satu pegawai pemerintahan yang cerdas dan kreatif serta sangat menjaga propesionalismenya sebagai wanita dan Abdi negara yang baik. Dia tak mengerti mengapa harus memberikan hatinya kepada seorang lelaki yang telah memiliki keluarga.


Apapun Alasannya, Barra telah menikah dan dia tetap berada diposisi yang salah.


Namun Maya hanyalah seorang Wanita yang biasa! Berfitrah sebagai manusia dengan Nalurinya yang kompleks dan unik.


Perasaan tidak bisa dibuat buat, Dan rasa Cinta tak bisa diciptakan oleh manusia.


Rasa cinta datang dari Tuhan dan menjadi Anugerah indah buat manusia.


Dan tidak ada yang salah dengan dirinya sendiri atau pada Barra. Atau Cinta yang telah datang itu.


Maya tak kuasa menahan diri sa'at tubuhnya jatuh ke pelukan Barra yang panas, Dan ciuman Barra yang mampu membangkitkan gairah didalam dirinya yang telah lama mati suri.


Dan kini percikan gairah bercampur dengan cinta yang salah itu benar benar menyiksanya.


" Pulanglah Barra! Aku selalu menantikan kepulanganmu disisiku kembali,"Bisiknya lirih.


Dengan Airmata yang melewati pipinya yang halus


Hatinya mulai tak tenang! Karena Dia tahu disana ada Istri kecilnya yang secantik bunga hutan yang liar.

__ADS_1


__ADS_2