
"Hmmm.. Rumahnya lumayan juga!" Puji Cherly sa'at memasuki rumah kecil namun tampak asri itu.
Hanya berukuran 7x9 meter. Dengan dua bilik kecil. Dilengkapi satu ruangan mungil yang berfungsi sebagai ruang keluarga yang berukuran 4x4 meter.
Sementara ruang dapur yang hanya disekat dengan triplek kecil yang berukuran sempit. Sedangkan kamar mandi dan ****** untuk buang air terletak dibelakang rumah.Dengan ruangan yang terpisah berdinding kayu yang tebal. dengan pintu yang memiliki kunci dilengkapi dengan engsel besi.
Rumah permanen berjendela kayu yang dicat warna hijau terang dan kombinasi dasar putih.
Cherly mengontrak untuk 2 tahun.
Dengan sejumlah hasil tabungannya yang disimpannya sejak lama.
Cherly juga menjual sedikit perhiasannya untuk permulaan hidup terasingnya buat kali pertama.
Cherly menggendong putrinya dengan kain panjang batik tulis yang lebar.
Bayi berusia dua bulan itu tampak tertidur tanpa terganggu dengan suasana rumah baru Ibunya yang terlihat sempit.
Bu Ani dan Indra mulai mengangkat perlatan rumah tangga kedalam rumah dan menatanya dengan rapi.
Lemari Container berlaci empat sebagai tempat baju anak anaknya.Sehari hari sa'at berada didalam rumah
Satu unit lemari dua pintu yang akan diletak dikamar Cherly.
Dan dua Container lipat dua laci ,Sebagai tempat baju dan peralatan Bu Ani dan Lisa.
Lisa adalah saudara jauhnya dari desa.
Gadis berusia 21 Tahun yang diajak oleh orangtua Cherly agar membantu pekerjaan Bu Ani dalam mengerjakan urusan rumah tangga dirumah kontrakannya yang kecil itu.
Cherly telah menolak bantuan dari orang tuanya itu.
Namun Pak Hermawan bersikukuh agar Cherly membawa Lisa ikut serta.
Sebab Cherly akan mulai bekerja dikantornya yang baru.
Bu Ani membersihkan lantai yang memang terlihat bersih itu.
Lantai Semen kasar berlapis karpet plastik tebal berwarna biru.Tampak serasi dengan dinding berlapis wallpaper biru pudar dengan sedikit garis berwarna putih yang samar.
Sebagai bonus dari sang pemilik rumah.
Indra memasang Ayunan listrik Paquita yang masih terlelap digendongan Ibunya.
Perlahan Cherly memasukkan Putrinya kedalam buaian yang telah bergerak pelan itu.
Cherly memasang tirai tipis diseputar ayunan anaknya agar terhindar dari debu rumah yang terlihat halus.
__ADS_1
Indra mengajak Banta keluar rumah menuju halaman berumput liar yang mulai memanjang.
Mereka akan menangkap beberapa calung yang beterbangan disekitar bunga perdu yang menyemak tak terawat.
Banta tampak senang bermain dihalaman ini.
Indra memotong rerumputan dengan sabit kecil yang dibawanya dari rumah pak Hermawan. Dan mulai memperbaiki dan memasang bangku kayu dihalaman yang tampak telah rusak itu.Selagi Banta bermain main sendirian dengan aman.
"Bu! Apa Ibu dapat memasang Kompor gas kecil itu?" Katanya kepada Bu Ani yang telah selesai menata barang dan membersihkan rumah yang kini tampak mulai rapi.
Bu Ani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menuju dapur sempit itu.
Dan mulai memasang Gas 3 Kg itu dengan pipa cincin perak yang masih baru.
Mereka harus memasak air panas buat susu Banta dan Membuat Susu menyusui buat Cherly.
Cherly masih menyusui Putrinya dengan ASI.
Kalaupun nantinya dia bekerja, Dia akan memeras ASI nya untuk putrinya yang disimpan didalam kulkas kecil satu pintu yang sebatas pinggang itu.
Jadi Putrinya akan dapat menikmati ASI nya walau pulang pukul 17. 00 Wib. Sore Harinya.
Cherly melihat sekeliling rumah Dengan hati puas.
Lisa mulai mengambil tapis dari rak piring kecil yang baru selesai ditata olehnya.
Lisa mulai meracik beberapa bumbu dapur buat membuat sambal lele yang mereka bawa dari pasar. Dan telah siap disiangi dan dicuci hingga bersih.
Sementara Bu Ani menanak nasi didalam rice cooker kecil mereka. Desisan air yang direbus didalam panci itu terlihat mengeluarkan buih kecil . Pertanda sesaat lagi akan mendidih.
"Lis! Kita juga akan membuat perkedel kentang kan?" Tanya Cherly sa'at melihat kentang kupas yang telah selesai dipotong potong dadu menunggu untuk digoreng.
"Iya Kak! Banta sangat suka dengan perkedel kentang itu! Makannya selalu lahap kalau diberi lauk perkedel!" Sahut Lisa geli.
"Huh! Si BarChek itu seperti Ayahnya! Makannya selalu saja Lahap," Timpal Bu Ani Spontan.
Cherly menari nafas berat. Dia tak suka mendengar sesuatu tentang Barra. Suaminya!
Walau belum bercerai, Cherly menganggap Barra telah hilang dari hidupnya dan anak anaknya.
Hatinya mulai terbiasa menerima hari harinya tanpa Barra!
Bu Ani melirik Cherly dengan rasa bersalah! Dan menundukkan kepalanya mengangkat tapis berisi potongan kentang untuk digoreng bersama irisan bawang.
Yang nantinya akan diberi bumbu merica dan rempah rempah lainnya.
Indra melihat kegiatan mereka dari jendela samping rumah yang terbuka lebar.
__ADS_1
"Lis! Apa kamu bisa membuatkan aku minuman? Haus! "Katanya dengan logat lucu.
Lisa tertawa mendengarnya dan mulai menata dua gelas besar dimeja dengan satu termos plastik sedang sebagai wadah minum teh buat mereka.
Kegiatan mereka yang seru dan penuh obrolan ringan itu membuat hati Cherly menghangat.
Dia memulai langkah kecil yang berdampak positif didalam hidupnya.
Dan ini sangat bagus buatnya.
Dia telah banyak melalui masa masa sulit didalam hidupnya.
Dia harus bangkit dalam keterpurukan ini.
Dia harus mampu demi hidup anak anaknya dimasa depan.
Cherly merasa ringan saat mengembalikan uang dari Barra.
Yang ditransfer lewat rekening Rosita.
Dia merasa tak perlu menyulitkan siapapun dalam hidupnya dan anak anaknya.
Dia masih dapat meraih kebahagiaan itu dengan cara yang sederhana.
Cherly tersenyum saat Melihat Putranya makan dengan lahap. Menyantap menu sederhana yang disediakan dengan cara sederhana.
Cherly Memangku Paquita yang kini membuka matanya menatap sang Ibu yang tengah menatapnya dengan penuh kasi sayang.
Cherly menyodorkan ASI kemulut Putrinya yang menyambar dengan lahap sambil mempermainkan kancing daster dibagian atas dada Cherly.
Bagi Cherly hidup ini sudah cukup Bahagia dengan rak mengandalkan kekayaan orangtuanya yang telah dinikmati oleh dirinya sejak lahir.
"Bu! Alat pompa ASI buat Paquita apa ikut terbawa? Juga Outfit Putih hitam stelan kerja Cherly kayaknya tertinggal deh ! Dirumah Papa!"Katanya pada Bu Ani.
"Enggak lho Sherlly! Semuanya sudah Ibu lipat dilemari. Juga pompa ASI Paquita. Sudah Ibu rendam dengan air hangat. Dan sekarang berada dilemari pendingin!"Sahut Bu Ani sambil menata meja didekat Banta yang sedang makan bersama Indra.
Lele besar dengan daging tebal goreng gurih itu kini tinggal tulang yang berserak disisi piring diatas meja.
Banta sudah bisa makan sendiri.
Setelah nasi dan lauk pauknya dihidangkannya didepannya.
Anak kecil itu akan makan dengan khidmatnya. Tanpa bersuara! Menyikat habis makanan dengan oerkedelbyang lembut dan gurih ditambah kriuk kerak telor yang sangat nikmat itu.
Cherly mengelus kepala putrinya yang masih menyusui didadanya itu dengan penuh kasih sayang.
Melihat kedalam mata Anaknya yang tenga menatapnya.
__ADS_1
Cherly seolah sedang melihat nata Barra yang tengah menatapnya.
"Barr Please! Lupakan aku! Biarkan aku dan anak anakku menikmati hidup tanpa bayang bayangmu lagi," Bisiknya dalam hati.