
Hari hari terus berlalu menggugurkan kelopak bunga mawar dibawah jendela kamar Cherly.
Angin angin yang membawa harum itu seolah Hilang ditelan musim yang berganti.
Dua bulan berlalu dengan cepat membawa perasaan Chers yang kian hampa.
Dengan kecewa menutup teleponnya.
Lagi lagi Barra tak mengangkat telponnya. Selalu begitu.Sejak dulu hingga kini sangat susah untuk dihubungi. Cherly benar' benar benci begini.
Barra seolah melupakan dirinya dan bohong! Kalau Barra berkata akan menghubungi dirinya.
"Bar! Kamu kok tega sih! " Bisiknya lirih.
Chers mengusap matanya yang memanas. Dan berharap air matanya jangan tertumpah terlalu sering.
Dengan menangispun semua tak bertambah mudah. Chers merasa tak bersemangat kini. Dan perlahan dia mulai menghindar dari kerumunan para fansnya yang penuh selidik.Mengamati dan memantau ekspresi dan bahasa tubuhnya. Yang kian tak menentu.
" Cherly! kamu harus mengerti dengan kesibukaan Barra! Kamu jangan terlalu cengeng dan mengekang Barra dalam mengekspresikan segala kemampuannya secara totalitas.
Kan ada kami yang mengurusmu! Dan kau sama sekali tak kekurangan. Barra selalu menafkahi kamu walau dia jauh." Selalu itu yang dikatakan oleh Ayahnya.
Membuat Cherly jenuh dan bersikap masa bodoh didepan semua orang.
Bukanlah Uang Barra yang dikirim Dua Minggu yang lalu kerekeningnya membuatnya bahagia.
Bukan prestasi gemilang suaminya yang banyak dan segudang penghargaan itu yang menghapus segala gundah.
Namun satu ucapan saja dari Barra menjadi sangat berarti buatnya.Tapi mengapa Barra sama sekali tak mengerti segala keinginan Cherly?
Mengapa Barra jadi seperti melupakan dirinya yang sangat mengharapkan walau dengan sebuah kata sapaan "Hallo" atau menanyakan keadaannya.
Hari ini Chers melangkah dengan lemas.
Dan masuk kesebuah Cafe dengan langkah semakin gontai.Perutnya terasa sangat mual.
Mungkin Magh nya kambuh. Beberapa hari ini dia tak makan dengan teratur seperti pesan Barra sebelum berangkat.
" Jangan lupa! Makanlah dengan banyak, Dan jaga kesehatanmu Gadis kecil! " Katanya waktu itu.
Kini terdengar bagai gabungan sunyi yang menembus kedalam gelap malam .
Chers Menelepon seseorang dengan menekan keypadnya malas.Mulutnya terasa kering.
" Hai Grace! Cafetaria Strowberry, Datanglah kemari! Aku merasa tak enak badan Grace!"Kata Chers dengan suara lesu.
__ADS_1
"Ok Chers! Wait to minutes! "Balas Grace dengan sigap dan tangkas.
Dia sangat kuatir akhir akhir ini Cherly sering mengeluh pusing dan Mual. Wajah sahabatnya itu terlihat pucat dan sangat lemah. Berat badannya menurun .
Grace benar benar tak habis pikir kenapa suaminya tak membawa Cherly bersamanya ketempat tugasnya yang baru?Ada apa dengan Barra? Pikirnya sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dan berbelok membentuk 40 derajat kearah taman kota yang menunjukkan lokasi Cherly berada.
Dengan langkah tergesa gesa Grace menuju kedalam Cafe yang sepi pengunjung disa'at siang hari ini.
Dan matanya tertumbuk kesudut cafe dikursi nomor 24.
"Hai Chers! " Katanya duduk sambil meletakkan tas putihnya keatas meja berwarna hitam dan bundar itu.
Cherly menatapnya dengan tatapan sayu. Wajahnya tampak semakin pucat dan memutih seperti tak berdarah.
"Grace! Kepalaku pusing, Aku merasa tubuhku meringan!" Katanya hampir tak terdengar.
Grace tampak terkejut dan dengan cepat memanggil satpam yang berjaga duduk didepan kasir.
"Pak! Tolong papah teman saya kemobil,"Katanya panik.
"Gak usah Grace! Kau terlalu berlebihan , Aku masih sanggup berjalan ," Jawab Chers dengan pelan .
" Diamlah Chers! Apakah kau tahu? Wajahmu mirip zombi sekarang,"Ucapnya denan tegas.
Dan dengan cepat mereka masuk, Grace melarikan mobilnya menuju klinik terdekat.
...****************...
Suara mesin Ultrasonografi itu terlihat samar dan penuh bintik dan garis vertikal yang menyemut.
Dokter muda yang memeriksa Chers terlihat tersenyum.
Melihat kearah Chers yang terbaring lemah.
Grace menatap Chers dengan was was.
"Janin kamu berusia Delapan Minggu Cherly! Dan kamu juga terkena Anemia dan juga gerd," Katanya sang dokter dengan senyum menyejukkan.
Cherly sudah menduganya dan dia tidak terlalu terkejut.
Chers hanya memalingkan wajahnya kearah tembok denan mata berkaca kaca. Dia tak tahu dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini.
Apakah dia harus senang atau bersedih?
__ADS_1
Cherly hanya terharu, Mengapa Barra tak hadir disini Disa'at dokter muda itu mengatakan tentang kehamilannya ini.
Lain halnya dengan Grace yang terlonjak kaget dengan wajah memucat.
"Chers! "Bisiknya dengan suara yang semakin menyedihkan.
Cherly hanya diam saat Grace Menggenggam tangannya seolah hendak memberi sedikit kekuatan.
Dokter muda itu tampak tersenyum lagi dan memahami keadaan Cherly yang masih sangat muda. Tentunya dia belum siap dengan berita yang seharusnya membuat bahagia pada pasangan muda sepertinya.
"Suami kamu dimana Cherly?"Tanya sang dokter.
Cherly enggan menjawabnya dengan cepat. Hatinya terasa sakit."Suaminya seorang Guru profesional dengan segudang prestasi dan mendapatkan banyak penghargaan yang lebih berarti dari Istrinya dok! " Jawab Grace emosional.
Cherly menangis terisak Isak semakin pilu mendengar jawaban Grace.Dia merasa tak berharga kini.
Grace meradang!
"Nama Ayah janin itu Barra! Dan tak pernah memberikan Khabar sejak kepergiannya ketempat tugasnya! Sahabat saya sakit dan dalam keadaan lemah dokter! Apakah ini yang disebut dengan tanggung jawab?"Katanya dengsn kesal sambil menangis.
Dokter itu terdiam sejenak, Dia bukan ahli Psikologi dan kedua gadis ini tidak sedang diterapi.
Kedua gadis ini hanya perlu menyiapkan mental mereka menghadapi kehidupan baru yang sedang berkembang dirahim Cherly.
Dokter itu meraih jemari mungil Cherly dan berusaha memberikan sedikit dorongan moril kepada gadis yang terlihat sangat lemah ini.
"Jangan pernah berubah menjadi seorang yang lebih kuat dari yang kau bayangkan! Kau pasti bisa mempertahankan keadaan yang tidak normal ini.
Dengan kekuatan dan ketangguhan sebagai seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu," Dukungnya dengan tulus.
Cherly hanya menggigit bibirnya menahan tangisnya.
"Dan datanglah kemari,untuk mengecek kehamilan yang Bagai anugrah untuk kita semua, Kamu Gadis kecil yang Hebat Cherly!" Pujinya lagi mencoba membesarkan hati Cherly yang kini mengecil dan serasa hampir lenyap.
Cherly menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Mereka pulang saat hari mulai malam.
Melihat kesepanjang jalan dengan lampu yang bersinar temaram.
Menambah kesan dingin yang datang menyergap hati yang suram. Yang telah terjadi Dihari ini biarlah menjadi catatan manis berselimut mimpi yang banyak menyimpan harapan.Walau ada yang menjadi nyata ataupun tinggal kenangan.
Biarlah semuanya menjadi rahasia sang waktu yang terus berjalan mengikut semua arahan skenario yang telah tertulis disebuah buku catatan dari sang pencipta yang telah membuat cetak biru yang harus dijalankan oleh s pemeran utama pria atau wanita.
Tak perlu dsesali atau ditangisi lagi.
__ADS_1
Biarlah luka terbalut dengan sedikit ada yang tertinggal.
"Selamat malam Barra! Semoga ada mimpi kita yang sama," Bisik Cherly dari kaca mobil yang melaju pelan.