
Satya menguraikan pelukannya.
Nanti aku menanyakan tentang siapa anak Intan itu. Aku tidak tega melihat mama sedih seperti ini. Gara-gara pertanyaanku membuat mama sedih. Gumam Satya
"Mah sekarang mama tenangin diri mama dulu. Satya harus kembali ke kantor." ucap Satya memapah mama ke tempat tidur lalu keluar menutup pintu kamar dari luar.
"Sayang, aku kembali ke kantor ya" ucap Satya menghampiri Seyla dan Susan di dapur
"Iya sayang. Oh iya mama mana?" tanya Seyla
"Mama di kamar sayang. Aku pergi ya" ucap Satya
"Hmm. Hati-hati" ucap Seyla
Setelah mama sudah merasa baikan, ia kembali ke dapur.
"Maaf yaa. Mama tadi istirahat sebentar." ucap Mama
"Iya mah, nggak apa-apa. Sebentar lagi juga ini sudah selesai" ucap Seyla
"Iya tan. Tante duduk saja. Biar aku dan Seyla yang nyelesaikannya" ucap Susan
__ADS_1
"Lebih baik kita duduk saja. Biar pelayan yang menyelesaikannya tidak baik kalau kalian kecapean" ucap Mama
"Nggak apa-apa mah" ucap Seyla
"Iya tan." tambah Susan
"Ya sudah" mama mengalah dengan dua wanita hamil tersebut
Mama duduk di meja makan menunggu makanan yang mereka masak selesai.
**********
Sementara Indra sudah bersama Intan di tempat kemarin.
"Baiklah aku akan menjawab semua pertanyaan mu"
"Pertama aku tidak punya uang untuk membiayai semua keperluan kamu. Baik makan, sekolah dan kebutuhan kamu lainnya. Makanya aku harus menitipkan kamu pada orang tua Satya"
"Kedua, kenapa aku baru datang sekarang?? Karena aku hanya kali ini aku bisa bertemu denganmu. Kamu tahu kan aku tinggal di Amerika, aku bekerja dan membantu suamiku. Makanya aku tidak bisa datang. Aku datang sekarang pun itu hanya punya waktu beberapa hari."
"Kamu harus percaya padaku Ndra. Aku ibumu. Setiap aku melihat Satria di Amerika pasti aku akan teringat padamu." Hiks.....hiks.....
__ADS_1
Jawab Intan mulai terisak menangis
"Kalau itu memang benar. Siapa ayahku??? Apakah ayahku Mr Albern?? Aku tidak yakin dia Ayahku karena dia tidak datang bersamamu untuk mengatakan yang sebenarnya." tanya Indra
"Untuk sekarang, aku belum bisa memberi tahukan siapa ayahmu. Aku....aku....." Intan tidak melanjutkan ucapannya
"Kenapa??? Apa aku anak haram??? Apa aku hasil dari perbuatan mu dan pacarmu?? Atau selingkuhanmu??" potong Indra mulai emosi
"Aku....aku...hiks....hiks...hiks..." Intan tidak bisa menjawab pertanyaan Indra tentang siapa ayah kandungnya. Intan takut jika dia tahu, justru Indra tidak akan menerimanya sebagai Ibu
"Aku benar. Ternyata aku anak yang tidak diharapkan. Lalu kenapa anda mengatakan ini padaku??? Ha??? Kenapa anda tidak merahasiakan semua ini saja???? Kenapa??? Apa anda belum puas meninggal kan ku dan dirawat oleh orang lain??? Bukankah anda akan menjawab semua pertanyaanku?? lalu kenapa anda tidak menjawabnya?? ha?? Yaa harusnya aku tidak pernah mau bertemu denganmu. Aku menyesal." ucap Indra dengan mengepalkan kedua tangan dan mata yang merah menahan amarah lalu keluar dan menutup pintu dengan kasar
Hiks....hiks....hiks...
"Maafkan aku. Aku justru membuatmu semakin membenci ku. Hiks...hiks..."
Intan menangis sejadi-jadinya dengan melempar semua peralatan yang ada di kamar itu
"Aku tidak mungkin mengatakan kalau kamu adalah anak dia...diaaaaa" teriak Intan histeris
"Aku sangat rindu padamu Indra. Kamu tahu aku bekerja di perusahaan Satria agar aku bisa dekat dengan nya dan menanyakan kabarmu melalui Satria. Aku merindukanmu."
__ADS_1
Hiks....hiks...hiks....