
"A..a..ada apa Pak? Apa aku berbuat kesalahan?" tanya Susan gugup karena wajahnya sangat dekat dengan Indra
"Apa memang kebiasaan kamu memegang tangan pria?" tanya Indra dengan posisi mereka yang sangat dekat
"A..a..apa maksudnya Pak?" tanya Susan
"Apa kamu lupa di pertemuan tadi saat kamu berkenalan dengan si Reza brengsek itu?" tanya Indra dengan menatap tajam Susan
"A...a..aku berusaha melepaskannya tapi...." Jawab Susan
"Tapi kamu sangat menikmatinya? Iya? Itu yang kamu maksud?" potong Indra
Susan yang merasa direndahkan Indra dan langsung mendorong Indra
"Apa kamu pikir aku serendah itu sebagai wanita? Aku........" ucapan Susan terpotong lagi
CUP....
Indra mencium Susan yang membuat Susan tidak bisa melanjutkan ucapannya
"A...a...apa yang kamu lakukan?" tanya Susan
"Menciummu." jawab Indra santai
"Kenapa kamu menciumku? Apa kamu pikir aku wanita mura......." lagi-lagi ucapan Susan terpotong
CUP...
Indra mencium lagi Susan. Kini Indra mendorong Susan hingga Susan tersandar di dinding..
"Kamu kenapa melakukan itu? Ha?" tanya Susan
__ADS_1
Kini Susan sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia merasa diperlakukan Indra seperti wanita murahan. Susan mencoba melepaskan tangan Indra
"Mulai sekarang kita pacaran" ucap Indra membuat Susan berhenti untuk melepaskan tangan indra
"Apa maksud kamu? Kamu pikir kamu bisa memutuskannya sepihak?" tanya Susan
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Indra
Susan tidak menjawab pertanyaan Indra....
"Aku rasa kamu masih mencintaiku. Jadi sekarang kita resmi pacaran. Dan ingat aku tidak mau kamu berjabat tangan dengan pria manapun. Kamu hanya bisa memegang tanganku, tersenyum padaku dan....dan menciumku." ucap Indra
"Aku....."
"Aku mencintaimu Susan. Aku mencintaimu Susan Andriani. Maafkan aku, aku baru menyadarinya sekarang. Aku cemburu jika kamu dekat dengan pria lain." ucap Indra menatap dalam Susan
"Aku juga mencintaimu Indra" balas Susan
Tok..tok..tok...
Mereka melepaskan pelukan mesra itu. Susan segera duduk kembali di meja kerjanya sebelum ada yang melihat mereka berdua.
Ganggu saja. Gumam Indra
"Masuk" ucap Indra dan ia pun duduk di meja kerjanya
"Maaf menggangu Pak. Saya hanya ingin mengantar paket. Ada tadi kurir yang mengantar ini. Katanya buat anda." ucap Karyawan itu dan menatap Susan
"Untuk saya? Siapa pengirimnya?" tanya Susan
"Iya untuk anda. Saya tidak tahu. Kata kurir dia hanya mengantar paket sesuai alamat yang dikirim dan untuk ongkos kirimnya di transfer" jawabnya
__ADS_1
"Baiklah. Kamu bisa letakkan paket itu di meja. Kamu bisa pergi sekarang" ucap Indra menunjuk meja yang ada dalam ruangan tersebut
Setelah karyawan itu pergi dan menutup pintu Indra dan Susan duduk di sofa tempat paket itu diletakkan.
"Dari siapa yah?" tanya Susan
"Mana aku tahu. Mungkin dari pacarmu, atau mantanmu, atau penggemar mu." jawab Indra cemberut
"Aku kan hanya nanya, kok kamu marah sih" ucap Susan
"Cepat dibuka. Aku juga penasaran apa isinya" ucap Indra
Susan membuka paket itu dan isinya adalah kalung mewah dan cantik. Di dalamnya ada kertas yang bertuliskan "Kamu akan tambah cantik jika memakai kalung itu", tidak ada nama pengirimnya
"Buang kalung itu ditempat sampah" perintah Indra yang melihat isi paket itu dan isi surat yang tertulis.
"Loh. Kok dibuang?" tanya Susan keberatan
"Aku bisa membelikan mu yang lebih bagus dan mahal. Tapi kamu jangan memakai kalung itu." jawab Indra
"Tapi kan....."
"Apa kamu tidak mendengar ucapanku? Kamu mau memakai kalung itu tanpa mengetahui siapa pengirimya? Kalau kamu sangat menyukai kalung, sekarang kita pergi ke toko perhiasan. Kamu bisa memilih kalung mana saja yang kamu suka" potong Indra dan menarik tangan Susan untuk keluar menuju toko perhiasan.
"Eh tidak-tidak. Bukan itu maksudku. Dengar dulu. Aku tidak mau memakai kalung ini. Tapi kalau dibuang sayang. Lebih baik kita kasih sama salah satu karyawan di sini. Itu lebih baik dari pada dibuang" ucap Susan
Hmm dia baik juga. Gumam Indra
"Baiklah. Kamu bisa kasih kalung itu sekarang. Aku nggak mau melihat kalung ini berada di ranganku." ucap Indra
" baiklah" jawab Susan
__ADS_1