
Keesokan harinya, Nachya yang membuka matanya lebih awal pun merekahkan senyumannya saat melihat Boy yang masih memejamkan matanya.
Tangan Nachya pun langsung menyentuh wajah Boy yang tampak begitu tampan di matanya. Gerakan tangan Nachya di wajah Boy membuat Boy terbangun.
Cepat-cepat Nachya menjauhkan tangannya dan kembali memejamkan matanya.
"Jangan pura pura sayang!" tegur Boy yang langsung mencium bibir istrinya.
Sayangnya baru saja mereka hendak kembali memadu kasih, tiba-tiba ponsel Nachya berdering dan tampak panggilan dari Papa Belva masuk ke dalam ponselnya.
"Halo paa!"
"Maaf ya Nach. Papa harus ganggu kamu pagi buta begini! Kemarin Akung terjatuh di kamar mandi dan kini keadaannya kritis di rumah sakit."
"Dari semalem manggil manggil nama kamu terus, Nachya!" lanjut Papa Belva di ujung panggilan.
"Kamu bisa ke rumah sakit sekarang kan?"
"Bisa, pa. Nachya sama Boy nanti akan ke rumah sakit yaa!" jawab Nachya yang kemudian langsung mematikan panggilannya.
Boy yang kebetulan mendengarkan percakapan Nachya dan papa Belva pun segera menghubungi layanan kamar untuk mengirimkan pakaian mereka.
Sedangkan Nachya pun bersiap untuk turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Namun cepat-cepat Boy menahan tangan Nachya.
"Tunggu sayang!" cegah Boy membuat Nachya mengerutkan dahinya.
"Jangan macem macem dulu deh Boy! Papa udah minta kita segera ke rumah sakit loh ini!" balas Nachya yang mengira jika Boy kembali meminta haknya.
"Iyaa sayang. Aku gak mau macem macem kok. Cuma mau bantu kamu aja ke kamar mandi!" balas Boy yang sudah siap menggendong Nachya ala bridal style.
"Aku gak tega aja ngeliat kamu harus jalan sambil nahan sakit!" lanjut Boy lagi membuat Nachya tersenyum.
"Diiih Boy. Kamu so sweet banget sih!" puji Nachya dengan hati yang berbunga-bunga mendapat perhatian dari Boy.
__ADS_1
Boy hanya tersenyum mendengar pujian Nachya barusan. Ia kembali mendaratkan bibirnya untung mengecup kening Nachya dengan sangat hangat.
Sesampainya di kamar mandi, Boy langsung menyiapkan air hangat untuk Nachya mandi dan tidak lupa memberikan aromatherapy di dalamnya. “Berendamlah dan buat dirimu nyaman, istriku sayang! Aku akan menunggu pakaianmu di luar!”
“Thanks Boy! Suami tampan aku!” balas Nachya yang tanpa malu malu lagi menanggalkan pakaiannya di depan Boy.
Boy hanya menelan ludahnya kasar melihat tubuh polos istrinya dan bergegas keluar dari kamar mandi karena terdengar bel dari luar kamarnya.
“Ck, aku harus segera mengambil pakaian untuk Nachya dan segera menyusulnya berendam di dalam bathtub!” gumam Boy mempercepat langkahnya untuk membukakan pintu.
Setelah menerima pakaian untuk Nachya dan tentunya juga pakaian ganti milik Boy, tanpa membuang-buang waktu lagi Boy segera menyusul istrinya untuk ikut berendam di dalam bathtub.
Sayangnya saat Boy tiba di pintu kamar mandi, ia sama sekali tidak dapat masuk ke dalam karena ternyata Nachya sudah menguncinya dari dalam.
“Loh, Nachya. Kenapa pintunya dikunci?” tanya Boy dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi.
Nachya hanya terkekeh dari dalam kamar mandi sambil berteriak. “Kalo aku gak kunci, nanti mandinya malah jadi lama Booy!” balas Nachya yang paham betul apa yang diinginkan oleh Boy.
“Duuh, Nachya! Ini penyiksaan namanya!” gerutu Boy sambil terduduk lemas di depan pintu kamar mandi.
Tanpa menunggu lama, kini tubuh Nachya sudah terkunci oleh Boy di dinding kamar mandi membuat Nachya harus menelan ludahnya kasar saat melihat suaminya seperti singa yang kelaparan.
“B-Boy! Buruan gih mandi! A-aku udah siapin air hangat juga buat kamu!” tutur Nachya.
“Aku maunya mandi sama kamu, Nachya!” tegas Boy yang semakin mengikis jarak antara mereka berdua.
“Ayolah Boy, bukannya kita masih harus segera menuju ke rumah sakit?” balas Nachya.
Akhirnya mau tidak mau Boy pun langsung manyun sambil masuk ke dalam kamar mandi. Jika saat Nachya mandi ia mengunci pintu kamar mandinya rapat-rapat, berbeda dengan Boy yang justru membiarkan pintu kamar mandinya terbuka begitu saja.
Boy sengaja memperlihatkan tubuh atletisnya di depan Nachya. Kali ini cepat cepat Nachya menutup mukanya dengan kedua tangannya dan bergegas meninggalkan kamar mandi.
Namun jauh di dalam lubuk hati Nachya tidak ingin melewatkan iklan tubuh gagah Boy yang kini sedang berendam di dalam bathtub. Diam-diam Nachya pun tetap mencuri pandang ke arah kamar mandi sambil mulai mengenakan pakaiannya.
“Aduuuh, kenapa ngeliat Boy kayak gituh aja aku jadi salting gini sih!” rutuk Nachya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“Andai aja Akung Mario gak masuk rumah sakit, pasti aku sama Boy masih saling manja-manjaan di atas tempat tidur!”
“Ups!” Nachya langsung menutup mulutnya sendiri dan memukulnya berkali-kali.
“Ya Ampuun Nachya! Kamu nih ngomongin apa sih?!”
“Udah tau akungnya lagi sakit, ini malah ngebayangin yang enggak-enggak!”
Akhirnya Nachya pun segera mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Boy dan mematut dirinya di depan kaca. Tak lama kemudian Boy pun keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaiannya. Setelah keduanya sama-sama siap, mereka pun bergegas keluar dari kamar dan menuju ke rumah sakit, tempat di mana Akung Mario dirawat.
Lima belas menit kemudian, Boy dan Nachya sudah tiba di rumah sakit dan segera menuju ke ruang ICU. Tampak Uti Aleya, Papa Belva, Mama Ecca, dan juga Opa Krish menunggu kedatangan Nachya di luar ruang ICU.
Mama Ecca langsung menarik tangan Nachya untuk masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Boy yang tetap berdiri di luar ruangan bersama dengan yang lain.
Betapa terkejutnya Nachya saat mendapati Akung Mario yang terbujur kaku di atas tempat tidur dengan berbagai peralatan medis yang menempel di sekujur tubuhnya.
Perlahan Nachya mendekati Akungnya dan memegang tangannya yang sudah mulai terasa dingin. Tidak ada sedikitpun raut kesedihan di wajah Nachya saat melihat keadaan Akungnya kali ini.
“Akung, Nachya sudah tidak marah lagi sama Akung!” ucap Nachya pelan.
“Maafkan Nachya karena belum bisa menjadi cucu yang baik untuk Akung!”
“Maafkan Nachya juga yang sudah membuat hati Akung terluka karena sikap Nachya yang membangkang dan juga tidak menurut dengan Akung!”
Tiba-tiba air mata Akung Mario keluar dan mulai membasahi pipinya. Dengan lembut Nachya mengusap air mata akungnya dengan tisue.
“Ma-af!” satu kata mulai terucap di bibir Akung Mario dengan sangat lirih dan hampir tidak terdengar.
Setelah itu terdengar suara alat medis yang cukup panjang dan menandakan jika Akung Mario telah tiada. Mama Ecca langsung memeluk putrinya sambil menangis, sedangkan tim medis pun langsung masuk semua ke dalam ruangan untuk berusaha memacu jantung Akung Mario.
“Maafkan Akung ya Nachya!” pinta Mama Ecca yang tentunya sangat dirundung kesedihan yang begitu mendalam kehilangan Papinya.
Nachya sendiri hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap punggung mamanya. “Nachya menganggap semua hal menyakitkan itu tidak pernah terjadi Mama! Bagi Nachya, Akung adalah orang baik yang sudah merawat mamaku yang hebat ini!”
“Terima kasih Nachya sayang! Kau benar benar harta terbaik mama!” balas Mama Ecca yang begitu terharu dengan kebesaran hati Nachya memaafkan papinya.
__ADS_1
Keduanya pun langsung keluar dari ruangan ICU, sedangkan Papa Belva dan juga Boy langsung mengurus pemulasaran jenazah akung Mario.