Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Tersulut Emosi


__ADS_3


“Nachya!” panggil Dean yang kini berlari ke arahnya.


“Tunggu di sini! Aku akan mengantarkanmu pulang!” titah Dean yang bergegas menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


Nachya pun diam dan menurut untuk menunggu Dean. Siang ini terasa begitu panas. Jadi tidak ada salahnya jika Nachya menerima tawaran dari Dean untuk pulang bersamanya.


Tak perlu menunggu lama lagi, mobil Dean kini telah berhenti tepat di depan Nachya. Setelah Nachya masuk ke dalam mobil, Dean pun segera mengemudikan mobilnya meninggalkan kampus.


Namun saat ini arahnya bukan menuju pulang, melainkan bertolak belakang dari arah pulang.


“Kita mau ke mana?” tanya Nachya.


“Emm, ada satu hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Nachya! Jadi kali ini aku ingin mengajakmu pergi ke resto yang tidak jauh dari sini dan kita akan makan siang di sana!” jelas Dean membuat Nachya menelan ludahnya kasar.


‘Makan siang?’ gumam Nachya dalam hati.


‘Aduuh, aku kok jadi ngeri ya mau lunch bareng Dean. Takut kalo nanti minuman aku dikasih sesuatu sama dia!’


‘Habis itu aku gak sadar dan di apa-apain lagi sama dia! Yaa, meskipun keliatannya enggak sih. Tapi kan kemarin Boy udah berulang kali bilang sama aku untuk tidak menerima tawaran makan atau minum dari siapa pun!’ batin Nachya yang mengingat pesan Boy saat ia menceritakan perihal Dean kepadanya.


Terlebih Nachya memang sudah ilfeel dengan Dean saat melihatnya tadi berciuman dengan Louryn.


“Tapi Dean, aku ingin menikmati masakan uti siang ini! Bagaimana jika kita makan siang di rumah ajaa?” tawar Nachya. Ia tidak ingin hal yang sama sekali tidak ia inginkan terjadi padanya.


“Tapi aku tidak bisa berbicara denganmu saat di rumah nanti!” balas Dean.


“Kalau begitu bicarakan saja di sini! Setelah itu kita pulang dan menikmati masakan uti!” timpal Nachya yang mau tidak mau disetujui oleh Dean.


Akhirnya Dean mengarahkan mobilnya menuju ke taman di tengah kota dan menepikannya.


“Kita ngobrol di taman yuk!” ajak Dean sambil mematikan mesin mobilnya.


Nachya pun diam sejenak sambil mengamati suasana taman di tengah kota. Meski suasana sedang terik, di tengah taman tampak begitu sejuk karena dikelilingi pepohonan rindang di sekelilingnya.


“Boleh deh!” jawab Nachya melepaskan seat belt dan membuka handle pintu mobil Dean.


Dean langsung menggenggam tangan Nachya saat Nachya sudah keluar dari mobilnya. Namun, cepat-cepat Nachya melepaskan genggaman tangan Dean dan menatap tajam ke arahnya.


“Aku tidak suka seperti ini, Dean!” tegas Nachya.

__ADS_1


“Ups! Maaf, aku hanya refleks tadi!” balas Dean sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


Nachya pun langsung melangkahkan kakinya ke dalam taman dengan perasaan was-was karena Dean sudah berani menggenggam tangannya erat tadi.


Jika genggaman Boy membuatnya berdesir tidak karuan, kali ini genggaman Dean begitu membuatnya sedikit ketakutan.


Sembari melangkahkan kakinya, Nachya terus saja berpikir bagaimana meminta pertolongan jika nanti dia berada dalam bahaya.


“Kita duduk di sebelah sana yuk!” ajak Dean membuyarkan konsentrasi Nachya yang sedang berpikir untuk melepaskan diri.


“Okey!” jawab Nachya mengikuti langkah Dean.


Hampir semua pengunjung taman adalah sepasang kekasih yang menghabiskan waktu mereka untuk saling bercumbu seperti halnya yang ia lihat tadi pada Dean dengan Louryn. Ngeri bagi Nachya, namun ia tetap berusaha untuk biasa saja melihat pemandangan aneh seperti itu.


Sedangkan Dean justru tersenyum smirk melihat Nachya yang tampak sedikit gelisah dan tidak suka dengan pemandangan sekeliling yang ia lihat.


‘Aku memang sengaja mengajakmu kemari, agar kau bisa belajar bagaimana berpacaran dengan benar, Nachya!’ gumam Dean dalam hati.


Kini mereka berdua sudah duduk dengan saling berhadapan karena Nachya memilih untuk tidak melihat orang pacaran.


“Nachya, sebenarnya aku ingin membicarakan tentang kita!” ucap Dean yang mulai buka suara.


“Opa Krish menginginkan aku dan kamu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang nantinya akan  mengembangkan bisnis bersama-sama.”


“Awalnya aku memang menolak keinginan Opa karena saat itu aku memiliki hubungan dengan Louryn. Tapi kini aku sadar jika Louryn hanya memanfaatkan aku untuk mengeruk harta Opa Krish!”


“Dia tidak pernah absen meminta pakaian, sepatu dan tas baru dengan merek ternama setiap minggunya. Maka dari itu, aku mengakhiri hubunganku dengan Louryn.”


“Dua minggu mengenalmu, membuat aku semakin mantap jika pilihan Opa memang yang terbaik untukku, Nachya. Aku melihatmu sangat berbeda dengan wanita yang lainnya!”


“Kau sangat cantik, mandiri, cerdas, dan tampak seperti bidadari. Aku mencintaimu, Nachya! Dan aku ingin serius menjalin hubungan denganmu sampai nanti kita menikah dan memiliki anak-anak yang lucu!” ucap Dean menyampaikan perasaannya kepada Nachya.


Nachya yang sedang berbalas pesan dengan Boy tanpa sengaja memencet tombol telefon sehingga Boy mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Dean barusan.


Boy seketika mengepalkan tangannya dengan geram dan meninjukan kepalan tangannya ke dinding tembok firma.


“Aaarrggghhh!” umpat Boy geram sambil terus menajamkan pendengarannya.


Nachya terdengar menarik nafasnya dalam-dalam dan Boy di ujung panggilan menantikan kalimat apa yang akan diucapkan Nachya untuk membalas ucapan Dean.


“Jika hubungan mu dengan Louryn bermasalah, seharusnya kau tidak menjadikan aku sebagai pelarian atau pelampiasanmu, Dean!”

__ADS_1


“Bukankah sudah aku katakan, aku juga memiliki kekasih. Hubungan kami juga tidak ada masalah sama sekali dan tentunya kami juga memiliki mimpi untuk menikah!” tegas Nachya.


“Aku sangat mengenal kekasihmu, Nachya! Namanya Boy, bukan?” tanya Dean membuat Nachya mengerutkan dahinya.


“Kekasihmu juga tidak jauh beda dengan Louryn yang hanya memanfaatkan keluargamu demi hidupnya sendiri. Bahkan dia lebih parah karena seumur hidupnya hanya terus menjadi benalu yang menumpang di tanaman induknya!”


Kini Boy sangat terkejut mendengar ucapan Dean barusan. Dadanya bergemuruh dan mulai mengobarkan api permusuhan dengan Dean.


Sedangkan Nachya langsung melayangkan tamparannya dengan keras di wajah Dean.


Plak!


Tamparan keras dari Nachya mendarat tepat di pipi kiri Dean dan meninggalkan bekas kemerahan di sana.


“Jika kau menghina Boy, maka kau juga menghina seluruh keluargaku terutama aku, Dean!” ucap Nachya dengan sorot mata tajamnya.


Kemarahan Nachya kali ini membuat Dean sedikit bergidik ngeri. Ia tidak menyangka gadis selembut Nachya bisa berubah menakutkan saat marah seperti ini. Bahkan tamparan Nachya juga terasa begitu panas di pipinya.


“Kau tahu, Boy jauh lebih baik dari pada dirimu, Dean!”


“Dia selalu menghargai orang lain dan tidak pernah membuat orang kecewa sedikit pun. Namanya selalu dibanggakan dan di elu-elukan dalam setiap prestasi yang ia raih.”


“Dan aku, selalu dijadikannya ratu. Tidak pernah sedikit pun ia melukai atau menggores perasaanku meski hanya sedikit. Jauh berbeda denganmu yang sudah membuat luka di hatiku karena penghinaanmu atas keluargaku!” sarkas Nachya tidak terima.


“Bohong jika Boy tidak pernah membuat orang lain kecewa, Nachya. Buktinya sudah jelas karena akung dan juga utimu sudah sangat kecewa dengan kehadiran Boy sejak awal!"


"Bahkan mereka berdua juga sudah setuju dengan pertunangan kita beberapa bulan ke depan!” timpal Dean membuat kemarahan Nachya semakin menjadi-jadi.


“Aku akan pegang ucapanmu kali ini, Dean! Aku akan membuat perhitungan dengan Akung dan juga Uti jika memang mereka menyetujui hal gila ini."


"Dan jika semua itu benar adanya, maka aku dengan senang hati akan keluar dari flat house dan memilih untuk tinggal di asrama kampus!” balas Nachya yang langsung berdiri meninggalkan Dean.


“Tunggu Nachya!” cegah Dean yang langsung mengejar langkah Nachya yang beranjak meninggalkannya.


“Tetap di situ atau aku akan semakin membencimu!”


Langkah Dean seketika terhenti dan membiarkan Nachya pergi meninggalkannya. Jauh di dalam lubuk hati Dean ia sangat menyesali apa yang ia katakan barusan.


Dua minggu gagal menaklukkan hati Nachya dengan berbagai perhatiannya membuatnya tidak sabar untuk menyatakan perasaannya secara langsung kepada Nachya.


Ia pikir Nachya juga akan berbalik membalas perasaannya, namun ternyata dugaannya justru berbalik 180 derajat.

__ADS_1


__ADS_2