Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Epping Forest


__ADS_3


Sudah hampir setengah hari Nachya menjelajah di Epping Forest bersama dengan teman-temannya satu tim. Sayangnya mereka juga belum menemukan Pondok Perburuan Ratu Elizabeth. Padahal menurut perhitungan seharusnya mereka sudah tiba di tempat.


“Sepertinya kita sudah tersesat masuk ke dalam hutan!” ucap salah satu anggota tim.


“Benar! Di sini juga mulai susah untuk menemukan jaringan!” timpal yang lainnya.


Louryn yang sedari tadi sengaja gabung dalam tim mereka dengan penyamarannya mulai buka sura dan memberikan perintah untuk berpencar mencari bantuan. Semua di arahkan menuju ke arah keluar dari Epping Forest kecuali Nachya.


“Kalian bertiga menuju ke arah timur dan tiga orang lainnya menuju ke selatan. Sedangkan aku akan membawa salah satu dari kalian untuk mencari bantuan juga!” tutur Louryn sambil menunjuk ke arah Nachya.


“Me?!” tanya Nachya sambil menunjuk ke arahnya sendiri.


“Yes You’re!” jawab Louryn membuat Nachya sangat terkejut saat mendengar kakak tingkatnya yang satu ini.


‘Wait, kenapa aku sangat kenal dengan suaranya ya?’ gumam Nachya dalam hati sambil mengamati kakak tingkat yang ada di hadapannya dengan seksama.


Jika dilihat dari wajahnya, Nachya sama sekali tidak pernah mengenalnya. Namun suaranya begitu melekat di telinga Nachya.


‘Kenapa dia memilihku untuk menemaninya? Kenapa hanya aku sendiri?’


‘Perasaanku benar-benar tidak enak. Pasti ada yang tidak beres di sini!’


Nachya mulai waspada saat semua teman-temannya mulai berpencar meninggalkannya.


“Siapa namamu?”


Pertanyaan dari kakak tingkatnya membuat Nachya mulai sadar siapa yang kini sedang bersamanya. Ia pun sengaja menyebutkan nama panggilannya yang lain untuk menjawab pertanyaan dari Louryn.


“Yonna!” jawab Nachya singkat membuat Louryn terkejut.


Louryn langsung berbalik dan mengamati wajah Nachya secara intens. Sikap Louryn barusan semakin menguatkan Nachya jika kini ia pasti dalam bahaya.


“Yonna?!” Louryn menyebutkan nama Nachya untuk memastikan.


“Yes, I am!” jawab Nachya dengan mantap.

__ADS_1


‘Jadi Nachya dipanggil Yonna saat di kampus?’ gumam Louryn dalam hati.


‘Hemm, sepertinya aku punya rencana baru lagi sekarang!’


“Ayo kita jalan ke arah sana!” ajak Louryn menunjuk ke arah tengah hutan.


Nachya sendiri sadar betul jika ia akan semakin disesatkan jauh ke dalam hutan oleh Louryn. Kini ia mulai berpikir keras bagaimana caranya agar dia tidak terperangkap dalam rencana busuk Louryn.


Tiba-tiba Nachya memekik kesakitan sambil memegang kepalanya. “Aduh!” Nachya langsung terduduk dan bersandar di pohon besar di dekatnya.


“Ada apa denganmu, Nachya?” tanya Louryn berbalik dan justru menyebut nama Nachya, bukan Yonna.


Sedangkan Nachya kini langsung memejamkan matanya dan pura-pura pingsan. Namun tak lupa ia mengaktifkan rekaman di ponselnya yang kemudian ia simpan di dalam jaket tebalnya.


“Sial! Dia malah pingsan!” umpat Louryn sambil menendang pelan kaki Nachya.


“Buyar semua rencanaku kali ini untuk melenyapkannya!” lanjutnya lagi membuat Nachya terhenyak mendengarnya.


Louryn pun duduk sambil memandangi wajah Nachya yang tidak sadarkan diri. Kemudian ia mencari sesuatu di dalam tasnya.


“Jadi mau tidak mau, kau akan aku ikat di sini dan aku pastikan Dean tidak akan menemukanmu untuk menyelamatkanmu di sini karena aku akan mengatakan padanya jika mahasiswa yang aku temui adalah Yonna, bukan Nachya.”


Louryn mengeluarkan tali panjang di dalam tas nya dan langsung mengikat tubuh Nachya di pohon tersebut. Setelah dirasa ikatannya cukup kuat, Louryn pun bergegas meninggalkan Nachya sendirian di tengah hutan.


Sedangkan di sisi yang lain, Boy kini sudah menemukan mobil Dean. Ia pun langsung menarik Dean dari dalam mobil dan langsung menghabisinya.


Dean yang tiba-tiba mendapat serangan bertubi-tubi dari orang asing yang tidak ia kenal pun tidak bisa membalas apa-apa karena hantaman dari Boy sama sekali tidak bisa ia elakkan.


“Katakan di mana Nachya!” gertak Boy sambil menarik kerah Dean tinggi-tinggi.


“Siapa kamu?” tanya Dean yang memang tidak mengenal Boy sama sekali.


Bugh!


Pertanyaan Dean langsung dijawab bogem Boy yang mendarat di rahang Dean.


“Katakan di mana Nachya!”

__ADS_1


“Aku tidak tahu!”


Lagi-lagi Boy mendaratkan pukulannya bertubi-tubi sampai Dean benar-benar terkapar. Awalanya Boy tidak ingin mendatangi Dean seperti ini. Tapi saat ponsel Nachya tidak ada jaringan, membuat Boy sangat sulit untuk menemukan titik posisi Nachya saat ini.


Rasa geram dan gusar yang bercampur aduk membuat Boy tidak sabar untuk meredam amarahnya terhadap Dean kali ini. Terlebih saat ia tidak memberitahukan di mana Nachya sekarang.


Dari kejauhan tampak Louryn berlari menuju ke mobil Dean. Melihat Dean dihabisi oleh seseorang yang tidak dikenal, membuat Louryn berteriak histeris.


“Stooop it!” pekik Louryn.


Boy langsung menghempaskan tubuh Dean ke arah Louryn begitu saja.


“Lou, di mana Nachya?” tanya Dean membuat Louryn yang awalnya simpatik dengannya menjadi kesal.


“Ck, kau sudah babak belur seperti ini masih saja memikirkan gadis murahan itu! Aku tidak bersama dengan Nachya ternyata, aku justru bersama dengan Yonna tadi!” jawab Louryn membuat Boy secepat kilat meninggalkan mereka berdua dan berlari ke dalam hutan di mana tadi Louryn keluar.


Salju kali mulai berjatuhan membuat Boy semakin khawatir dengan keadaan Nachya. Ia pun mulai meneriakkan Nachya untuk mencari keberadaannya.


Sedangkan Nachya yang sedari tadi berusaha melepaskan ikatan Louryn pun tenaganya sudah mulai terkuras. Ikatan Louryn pun tidak terbuka sedikit pun membuat Nachya hampir putus asa.


‘Aku sudah tidak kuat, salju juga sudah mulai turun! Aku yakin tidak akan ada yang bisa menolongku kali ini!’ batin Nachya lirih.


‘Tuhan, kali ini hanya Engkau lah yang bisa menolongku. Jika memang ini adalah hari terakhirku, ampunilah segala kesalahanku. Tapi, jika memang Engkau masih memberi izin untukku bernafas di hari esok, kirimkanlah lelaki yang terbaik untukku!’


Karena sudah tidak kuat lagi, Nachya pun kini sudah tidak sadarkan diri. Boy sendiri sudah hampir satu jam mencari keberadaan Nachya, masih belum menemukan titik posisi Nachya saat ini.


Untungnya Boy tidak putus asa begitu saja. Sampai menemukan pohon dengan tali yang melingkar mengikat batangnya. Boy pun langsung mendekat dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Nachya terikat di pohon dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri.


Tanpa menunggu lama lagi, Boy langsung membuka ikatan tersebut dan segera merengkuh tubuh Nachya ke dalam pelukannya. Jangan di tanya bagaimana paniknya Boy kali ini saat melihat tubuh kekasihnya hampir membeku dan bibirnya juga sudah mulai membiru.


Tangan Boy tergerak memeriksa denyut nadi Nachya yang sudah mulai melemah. Jaket tebal Nachya juga sudah mulai basah, secepat kilat Boy melepaskan jaket Nachya dan juga sepatunya.


Kemudian ia mulai membalurkan minyak hangat di punggung Nachya. Tidak hanya itu, Boy juga membalurkan di area perut, dada, tangan dan juga kaki Nachya. Untungnya Boy membawa jaket cadangan di tasnya dan langsung di pakaikan ke tubuh Nachya.


“Bertahanlah, Nachya! Aku mohon!” pinta Boy sambil memakaikan jaket ke tubuh Nachya.


Setelah itu Boy langsung mengangkat tubuh Nachya menuju ke mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2