
Nachya dan Boy kini sudah tiba di puncak. Hembusan angin sore ini membuat Nachya mulai merasa kedinginan. Dengan sigap Boy melepaskan jaketnya dan memakaikan di tubuh Nachya.
“Thanks Boy!” ucap Nachya sambil memperlihatkan senyum terindahnya.
“Sama-sama, Nach!”
“Nanti kalau di London sudah mulai musim dingin, jangan lupa untuk memakai pakaian yang tebal setiap keluar rumah!” tutur Boy.
“Siap, bos!” jawab Nachya sambil memeluk lengan Boy dengan erat.
“Tetap waspada dan hati-hati di mana pun kamu berada. Aku bener-bener gak mau terjadi apa-apa denganmu!”
“Iya, Boy. Aku pasti bisa jaga diri aku dengan baik!”
“Tapi aku bener-bener gak tega liat kamu dari jauh, Nach. Yang aku mau, aku terus bisa jagain kamu tiap waktu!” timpal Boy yang semakin hari semakin berat untuk melepas Nachya pergi.
“Andai dari awal kamu bilang sama aku kalo kamu ikut tes beasiswa itu, aku juga pasti akan coba untuk ikutin kamu, Nach!”
“Ya udah, nanti kalo ada lagi kamu ikut daftar saja, Boy. Jadi kita bisa sama-sama di sana!” balas Nachya.
Boy mengajak Nachya ke sebuah saung dengan spot pemandangan yang indah dan duduk menatap lampu kota yang sudah mulai terlihat.
“Aku akan ambil kesempatan itu jika memang ada untukku menyusulmu ke London, Nach!” ucap Boy yang tidak lepas menggenggam tangan Nachya.
“Dan aku akan tunggu kamu di sana, Boy!” balas Nachya yang tampak sangat yakin jika Boy juga akan menyusulnya ke sana.
Boy tersenyum sambil menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Aku akan terus berjuang untuk bisa menemuimu di sana, sayang!”
Boy mulai mengusap lembut kepala Nachya dan memainkan helai rambutnya.
“Aku akan sangat merindukanmu, Nachya!”
Suara Boy yang terdengar berat membuat Nachya menyandarkan kepalanya di dada bidang Boy. Kali ini Boy tidak mengelak lagi dari sikap manja Nachya dan langsung melingkarkan tangannya memeluk Nachya dengan sangat mesra.
“Aku juga pasti akan sangat merindukanmu, Boy!” balas Nachya mendekap Boy dengan sangat manja. “Selepas aku lulus nanti, lamar aku ya Boy!” pinta Nachya.
“Aku akan lulus tepat di usiaku yang menginjak 21 tahun dan aku akan menikah denganmu saat usiaku sudah 22 tahun!”
__ADS_1
“Siap, Nach! Aku akan benar-benar mempersiapkan diriku sebaik mungkin agar bisa meminangmu nanti!” balas Boy.
“Kalo kita udah jauh nanti, kamu jangan lirik-lirik wanita lain ya Boy!”
“Jangan posting foto bareng cewek juga, nanti aku cemburu!” lanjut Nachya dengan nada manjanya yang sangat khas.
“Siap, cintaaa!” timpal Boy membuat Nachya semakin mengeratkan dekapannya.
“Kamu juga jangan terlalu deket sama Kak Bunga ya, Boy! Aku takut kalo nanti papa sama mamanya Kak Bunga minta kamu buat ngelamar dia!” rengek Nachya membuat Boy terkekeh pelan.
“Aku makin cinta deh kalo denger kamu posesifin aku kayak gini, Nach!” timpal Boy.
“Sebutin semuanya apa yang harus aku lakuin buat kamu, Nach! Aku akan penuhi semuanya semampu aku!” lanjut Boy.
“Emmm, udah aja deh. Aku takut nanti kamu malah anggep aku bawel!”
“Kalo aku cuma minta satu sama kamu, Nachya!” ucap Boy membuat Nachya mendongakkan kepalanya dan menatap netra Boy secara intens.
“Apa itu?” tanya Nachya
“Jangan pernah berhenti untuk mencintai aku, Nachya!” jawab Boy sambil mengusap pipi Nachya.
“Siap, Boy!” jawab Nachya yang berhasil membuat semburat merah di wajah Boy.
Tidak hanya itu, nafas Boy seperti berhenti seketika mendapati sikap Nachya yang semakin terang-terangan dengannya.
“Nachya!” pekik Boy pelan dengan suaranya yang tertahan.
“Kamu, tahu gak sih kalo sikap kamu yang kayak gini itu sangat berbahaya!”
Nachya tersenyum dan kembali mendaratkan kecupan singkatnya di pipi Boy yang sebelah kanan.
“Aku tahu, Boy! Yang penting kan aku gak cium bibir kamu!” balas Nachya membuat Boy semakin geregetan.
Kini Boy semakin berani menggerakkan jarinya mengusap bibir Nachya. “Tapi, kali ini kamu sudah membuatku sangat ingin melanggar peraturan dari papamu, Nachya!”
Deg!
Kali ini gantian Nachya yang mulai kalang kabut mendengar ucapan Boy barusan. Darahnya terasa mengalir cepat ke seluruh tubuhnya terlebih saat Boy tidak berhenti mengusap bibirnya.
Perlahan Boy mendekatkan wajahnya ke wajah Nachya membuat debaran di dada Nachya semakin bertalu-talu. Nachya pun memejamkan matanya dan menantikan bibir Boy mendarat di bibirnya.
__ADS_1
Boy semakin mengikis jarak mereka dan mendaratkan bibirnya tepat di atas ibu jarinya yang masih menempel di bibir Nachya. Boy kini menggigit ibu jarinya sendiri untuk menahan segala hasr4tnya yang membuncah akibat sikap Nachya.
Nachya yang mulai menyadari bagaimana perjuangan Boy yang sekuat tenaga menahan dirinya untuk tetap mentaati aturan papanya pun langsung membuka matanya dan tersenyum.
‘Bagaimana mungkin aku tidak semakin mencintaimu, melihatmu seperti ini Boy! Kamu benar-benar lelaki terbaikku!’ gumam Nachya dalam hati.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, tapi kencan romantis mereka kali ini pun terasa begitu singkat. Keduanya benar-benar belum merasa puas dengan obrolan mereka saat ini, terlebih dengan Nachya.
“Boy, jangan pulang dulu dong!” rengek Nachya.
“Tapi ini uudah malem, Nach! Bukannya besok jam 8 mau ke sekolah untuk pengumuman kelulusan?” balas Boy sambil mengacak rambut Nachya.
Dengan berat hati pun Nachya meninggalkan cafe sambil terus menggelendot manja di lengan Boy.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, Nachya siap untuk menuju ke sekolah untuk menerima hasil kelulusan dan nilai sementaranya. Kali ini Nachya memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri karena selepas dari sekolah, ia berencana untuk healing bersama dengan Ruby, Tristan dan temannya yang lain.
“Nachya sayang, pulangnya jangan terlalu sore yaa. Mama sama Papa juga mau adain syukuran kelulusan kamu di rumah loh malam ini!” ucap Mama Ecca.
“Iya, Ma. Nachya Cuma mau nongkrong sebentar saja kok sama teman-temen!” balas Nachya sambil menghabiskan sandwichnya.
Malam ini memang sudah diagendakan untuk acara syukuran kelulusan Nachya dan diterimanya Nachya di UCL. Sedangkan mulai besok Nachya sudah mulai disibukkan dengan persiapannya ke London bersama akung dan juga utinya.
Nachya pun langsung berpamitan menyalami tangan mamanya.
“Hati-hati ya sayang! Mama sih sudah yakin kalo nilai kamu pasti yang terbaik!” ucap Mama Ecca penuh percaya diri.
“Kan belum tentu, Ma!” balas Nachya. “Ada Monica sama Tristan juga yang kadang selalu unggul dari Nachya!”
“Tapi tetap saja anak mama yang terbaik. Buktinya kamu berhasil masuk di UCL dan gratis lagi! Apa gak hebat itu?” balas Mama Ecca yang tampak sangat membanggakan putrinya.
“Papa sama mama tadinya juga pingin anter Nachya loh ke sekolah. Tapi karena Nachya pingin jalan sama teman-teman, papa ngalah deh kali ini!” timpal Papa Belva yang kini menuruni anak tangga.
Nachya pun berpindah mendekati papanya dan menyalaminya.
“Nachya pamit ya pa!”
“Selamat ya sayaaaaang atas kelulusan kamu hari ini. Papa sangat bangga sama Nachya dan Papa pingin jadi orang pertama yang mengucapkan selamat buat putri kesayangan papa yang satu ini!” ucap Papa Belva.
“Thanks a lot, papaaaa!” ucap Nachya memeluk papanya.
__ADS_1