
Tak lama kemudian Nachya pun datang sambil menepuk bahu Boy dari belakang dan membuat Boy sampai melompat kaget.
“Woy, Bukannya siap-siap ke rumah Pak Adit, ini malah ketawa ketiwi di pantry kek orang gila!” tukas Nachya.
“Loh, Bunga udah pulang?” tanya Boy sambil celingukan melihat ke arah teras.
“Udah, Buruan dong Boy! Siap-siap gih!” balas Nachya yang kemudian berjalan ke arah kulkas dan mengambil air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Bukannya segera membersihkan diri dan bersiap-siap, Boy justru mendekati Nachya dan mengunci tubuh adiknya di pintu kulkas.
“Ngomongin apa aja tadi sama Bunga?” tanya Boy dengan jarak yang membuat Nachya harus menelan ludahnya kasar.
Boy yang kini sedang menunggu jawaban dari Nachya membuat hati Nachya terus saja berdebar-debar. Cepat-cepat Nachya mendorong tubuh Boy untuk menjauh darinya.
“Aduh Boy! Kamu nih bisa gak sih gak perlu kepo kayak gini!” gerutu Nachya sambil meredam perasaannya yang sedang meledak ledak tidak karuan.
“Udah kamu gak bilang sama aku, ondel-ondel itu chat apa aja!” lanjut Nachya lagi sambil duduk di kursi makan dan meneguk minumannya.
Protes dari Nachya kali ini membuat Boy sadar dan merasa bersalah. Boy pun kembali mendekat ke arah Nachya dan menarik kursi di samping Nachya.
“Aku minta maaf deh kali ini!” ucap Boy sambil duduk dan menangkupkan kedua tangannya di depan Nachya.
Deg!
Nachya kembali harus terhenyak dengan sikap Boy yang jauh diluar dugaannya. Nachya pikir Boy akan mengelak dan terus membuatnya kesal.
Namun ternyata abangnya ini justru meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan membuat Nachya jadi salah tingkah.
“Sekarang gini aja deh. Gimana kalo ponsel kamu aku atur biar semua chat yang masuk di ponsel aku bisa kamu baca?” tawar Boy membuat Nachya langsung membelalakkan matanya.
‘What?!! Bukannya itu privasinya Boy!’ pekik Nachya dalam hati.
‘Kemarin aja waktu aku pegang Hpnya, Boy langsung cepet-cepet rebut dari tangan aku. Tapi kenapa sekarang dia malah atur semua chat yang masuk di ponselnya biar bisa aku bawa sih?’ batin Nachya bertanya-tanya.
Nachya memandang heran ke arah Boy, “Kau serius, Boy?!” tanya Nachya dengan nada yang tidak percaya.
“Dua rius malah. Siniin ponsel kamu!” pinta Boy dan tanpa fikir panjang Nachya pun membuka kunci layar ponselnya dan menyerahkan kepada Boy.
Boy pun langsung mengutak atik ponsel Nachya dan menautkan pesannya agar bisa masuk di ponsel Nachya. Setelah penautan berhasil, Boy pun iseng melihat namanya yang disimpan di ponsel Nachya.
__ADS_1
‘Gorila Hutan?’ gumam Boy dalam hati sambil menahan kesal. Cepat-cepat Boy mengganti namanya di ponsel Nachya dengan sebutan lain dan setelah itu ia menyerahkan kembali ponselnya kepada Nachya.
“Udah selesai nih!” ucap Boy sambil menyodorkan ponsel Nachya. “Tunggu bentar yaa, Nach. Aku gak lama kok!” lanjut Boy yang langsung meninggalkan ruang makan dan menaiki anak tangga.
Nachya pun hanya berdehem sambil membaca pesan yang masuk di nomor ponsel Boy.
...💕💕💕...
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, Boy langsung turun dan mendekati Nachya yang masih duduk membaca isi pesan yang masuk ke dalam ponsel Boy.
“Ayo Nach!” ajak Boy. “Pake mobil kamu ya?!” lanjut Boy lagi dan Nachya hanya berdehem karena masih dalam mode serius menscroll ponselnya.
Nachya pun mengikuti langkah boy tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang. Boy yang melihat Nachya tidak memperhatikan jalan pun langsung merangkul adiknya yang hampir menabrak rak kaca di ruang tamu.
“Kalo jalan liat-liat dong, Nach! Hampir nabrak kan?” tegur Boy.
Nachya pun tersenyum mendapati sikap Boy yang semakin perhatian dengannya. “Kamu perhatian banget sih sama aku, Boy!” gumam Nachya berbunga-bunga.
Gumaman Nachya kali ini membuat Boy langsung menoel hidung adiknya.
“Aku kan emang abang yang perhatian dari dulu, Nach. Kamu aja yang lupa!” balas Boy.
Nachya pun menghela nafasnya panjang. “Jadi kamu masih anggap aku adik ya?” tanya Nachya yang masih dirangkul oleh Boy.
“Tunggu sini ya! Aku ambil mobil dulu!” lanjut Boy lagi yang bergegas menuju garasi.
Sedangkan Nachya pun langsung menyimpan ponselnya di dalam tas.
‘Boy ternyata bener-bener fokus meniti karir dan masa depannya. Bener-bener cowok idaman banget, deh!’ gumam Nachya dalam hati.
‘Kayaknya dalam hidup Boy itu penuh sama rumusan pasal hukum. Makanya dia gak ada ruang untuk memikirkan wanita! Pantes aja Papa Belva sayang banget sama Boy!’ batin Nachya lagi.
‘Kayaknya aku harus fokus juga deh kayak Boy, biar jadi anak kebanggaan papa sama mama!’
Dalam perjalanan menuju ke rumah Pak Adit, keduanya sama-sama sibuk dengan benak pikiran mereka masing-masing. Boy sendiri sibuk dengan perasaannya yang dag dig dug karena sebentar lagi akan bertemu dengan Ayah kandungnya.
Sedangkan Nachya terus saja memikirkan Boy yang semakin mengagumkan di matanya. Sampai tanpa Nachya sadari, mobil Boy sudah sampai di depan gerbang rumah Pak Adit.
“Udah sampai ya Boy?” tanya Nachya dan Boy hanya menganggukkan kepalanya. Namun Boy tampak sangat berat untuk keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Kali ini Nachya menyadari jika Boy pasti sangat canggung bertemu dengan ayah kandungnya. Perlahan Nachya memegang lengan Boy dan mengusapnya pelan.
“Jangan ragu, Boy. Kan ada aku di sini!” ucap Nachya membuat hati Boy sedikit merasa tenang.
“Aku hanya malu!” balas Boy sambil mengusap wajahnya kasar.
“Tidak perlu malu, Boy!” timpal Nachya. “Kau dan Pak Adit statusnya sama-sama anak kandung! Kalian bukan saudara tiri, kenapa harus malu?”
“Harusnya yang malu itu malah Om Hendy dong!” lanjut Nachya lagi yang langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
“Ups! Maaf Boy, aku kelepasan!” ucap Nachya yang belum bisa mengontrol ucapannya.
Boy pun langsung melepaskan seat beltnya dan mendekat ke arah Nachya. “Jangan sampai ngomong kayak gitu di depan Tuan Hendy, Bang Adit, atau pun Kak Adel!” tegur Boy sambil menatap tajam ke arah Nachya.
“Itu gak sopan Nachya!” lanjut Boy lagi dan Nachya langsung menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Maaf Boy. Lain kali gak diulangi lagi!” tukas Nachya sungguh-sungguh. “Aku kan cuma pingin kamu gak merasa malu Boy.”
“Karena menurut aku, kamu justru cowok yang hebat dan sangat keren! Udah ganteng, pinter, cekatan, berprestasi lagi!” timpal Nachya. “Jadi kamu gak perlu merasa malu lagi!”
Deg!
Kali ini muka Boy langsung memerah mendengar pujian yang keluar dari mulut Nachya untuk dirinya.
“Boy!” panggil Nachya sambil memegang pipi Boy yang memerah. “Kok pipi kamu jadi panas gini sih?” tanya Nachya lagi.
“Kamu sakit ya?”
Cepat-cepat Boy langsung memalingkan wajahnya dan bersiap untuk keluar dari mobil.
“Eh, gak papa Nach. Aku gak sakit kok!” timpal Boy.
“Ayo kita masuk!” ajak Boy yang sudah membuka pintu mobilnya.
‘Aduuh, Nachyaaa!’ gerutu Boy dalam hati. ‘Kenapa sih kamu selalu bikin aku kelimpungan!’
...💕💕💕...
__ADS_1