Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Menikmati Sun Set


__ADS_3

Kencan pertama Boy dan Nachya kali ini diwarnai dengan keindahan langit saat matahari mulai terbenam. Keduanya sama-sama saling terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Boy tak lepas memandangi Nachya yang benar-benar sedang takjub dengan pemandangan alam yang ada di depannya.


Siluet senja yang perlahan-lahan berganti warna begitu memanjakan penglihatannya dan membuatnya terus berdecak kagum. Sampai gelap tiba, Nachya masih belum ingin untuk beranjak pergi.


“Nachya!” panggil Boy membuat Nachya mengalihkan pandangannya yang berganti memandang pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


“Bagaimana jika nanti aku merindukanmu?” tanya Boy yang masih sangat berat melepas Nachya pergi.


“Video Call!” jawab Nachya singkat seolah tanpa beban.


Berbeda dengan Boy yang terdengar menghela nafasnya kasar.


“Bagaimana jika nanti kau ternyata lebih unggul dariku? Apa kau masih akan tetap mencintaiku?” tanya Boy yang mulai mengeratkan genggamannya terhadap Nachya.


Nachya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Boy kali ini. Karena hal tersebut sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya meski hanya sedikit.


“Pertanyaanmu itu sungguh aneh, Boy!” balas Nachya membuat Boy mengernyitkan dahinya.


“Seharusnya bukan itu yang kau tanyakan denganku!” lanjut Nachya.


“Lalu, aku harus bertanya seperti apa?” tanya Boy membuat Nachya justru terkekeh pelan.


“Aku mencintaimu bukan karena kau lebih unggul dariku, Boy! Karena menurutku sejak dulu akulah yang lebih unggul darimu!” jawab Nachya yang masih terus saja terkekeh.


“Harusnya kamu tanya sama aku, apa yang bikin aku jatuh cinta sama kamu!” lanjutnya lagi.


Boy kini kembali sadar jika Nachya memang belum bisa diajak untuk berbicara dengan mode serius. Karena Nachya sama sekali tidak menanggapi keseriusan Boy yang sedang takut kehilangannya. Tapi justru menganggapnya sebagai hal yang biasa.


“Memangnya apa yang bikin kamu jatuh cinta sama aku?” tanya Boy kemudian.

__ADS_1


“Tentu saja karena kamu tampan!” jawab Nachya to the point. “Memangnya apa lagi?”


“Ck, berarti kalo ada yang lebih tampan dari aku, kamu bakal ninggalin aku dong!” tebak Boy yang mulai menekuk wajahnya sedikit kesal dengan jawaban Nachya kali ini.


“Tentu saja! Apalagi jika kau berubah menjadi jelek!” balas Nachya membuat Boy langsung memalingkan wajahnya dari Nachya.


Melihat Boy yang sudah dirundung rasa kesal pun membuat Nachya tiba-tiba langsung mengikis jarak antara mereka dan memeluk lengan Boy dengan sangat erat. Sikap Nachya barusan membuat Boy sangat terkejut, namun sayangnya ia sudah tak bisa mengelak lagi karena entah kenapa tangannya terasa kaku untuk digerakkan.


Cup!


Tiba-tiba Nachya mengecup pipi kiri Boy secepat kilat membuat Boy semakin tercengang. Aliran darahnya terasa mengalir begitu cepat, jantungnya berdegub tidak karuan dan nafasnya mulai terasa sesak. Tidak hanya itu, suara Boy seperti tercekat dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Aku hanya bergurau, Boy!” tukas Nachya sambil memperlihatkan puppy eyesnya.


“Karena aku mencintaimu tanpa alasan!” lanjut Nachya lagi membuat Boy bagaikan terbang melayang.


Boy kini hanya bisa mengepal kedua tangannya erat-erat tanpa berani melakukan hal yang lebih kepada Nachya. Sungguh dalam hatinya ia sangat ingin memeluk Nachya dengan sangat erat dan membalas kecupan singkatnya tadi. Namun, ia sudah berjanji kepada Papa Belva bahwa ia akan selalu mentaati peraturan yang sudah mereka sepakati.


“Queen Ca...” panggil Papa Belva. “Ternyata putri kita...”


“Tidak sepolos yang kita kira!” ucap Mama Ecca melanjutkan kalimat suaminya yang terpotong.


“Bukan seperti itu, sayang!” sanggah Papa Belva.


“Lalu?”


“Ternyata sikap agresifnya sama persis dengan kamu!” lanjut Papa Belva yang langsung mendapatkan cubitan dari mama Ecca di pinggangnya.


“Diiih, ngaco banget ya King Bee kalo ngomong! Sifat agresifnya itu turun dari kamu Bee!” sanggah Mama Ecca yang tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.

__ADS_1


“Mana ada seperti itu!” gerutu Mama Ecca sambil melipat kedua tangannya kesal.


Papa Belva hanya terkekeh melihat istrinya yang mulai ngembek. “Nah, ngambeknya persis juga sama Nachya!” ledek Papa Belva sambil melingkarkan tangannya di pinggang Mama Ecca dan memeluknya dengan sangat mesra.


“Ck, apaan sih. Jangan ngeselin deh!” tutur Mama Ecca sambil menepuk paha suaminya pelan.


Keduanya pun kembali mengamati kedua anak mereka yang kini sedang dimabuk asmara.


“Tapi kalo di lihat-lihat ini ya, Boy patuh banget ya sama peraturan yang kita buat!” tukas Mama Ecca yang mengamati Boy yang terus saja berusaha untuk menjaga jarak dengan Nachya.


“Iya, bener kata mama. Aku jadi gak tega nih sama dia!” timpal Papa Belva mengingat saat ia pacaran dulu masih bebas untuk saling berpegangan tangan, memeluk dan bahkan tidur di pangkuan Mama Ecca sambil bermanja-manjaan. Memang sejak dulu hanya satu yang mereka berdua tidak lakukan selama pacaran, yaitu berciuman bibir.


“Tapi bagus juga loh pertahanan Boy!” puji Mama Ecca. “Gak kayak King Bee yang baru deket saja sudah kayak angsa!” lanjut Mama Ecca yang sengaja memanas-manasi suaminya.


“Apa? Angsa?” tanya Papa Belva yang sudah siap untuk menggelitiki istrinya.


Melihat tangan King Bee yang sudah siap untuk menyerangnya, membuat Mama Ecca langsung bersiap-siap untuk melarikan diri dari suaminya.


Sedangkan di sisi lain, Nachya dan Boy sudah bersiap untuk mencari restoran seafood yang terdekat karena perut Nachya sudah terus berbunyi minta di isi.


“Boy, tarik dong tangan aku!” pinta Nachya manja saat Boy sudah berdiri dan ia masih sengaja duduk di atas pasir.


“Manja!” ucap Boy sambil menarik tangan Nachya.


Sayangnya tiba-tiba punggungnya terdorong dari belakang. Boy yang posisinya belum tegak sempurna pun mulai limbung dan tanpa sengaja ia pun langsung terjatuh tepat di atas Nachya dan m3nindih tubuh Nachya dengan sempurna.


Boy dan Nachya sama-sama saling melempar pandang dengan tatapan yang benar-benar sangat sulit diartikan. Kecelakaan yang menimpa mereka saat ini justru membuat mereka merasakan momen terindah mereka di awal kencan. Untung saja tangan Boy masih menahan tubuhnya di pasir, jika tidak sudah bisa dipastikan jika bibir mereka pasti akan saling bertemu.


‘Ya Ampun! Kenapa aku makin gak karuan sih ada diposisi kayak gini sama Boy?’ gumam Nachya dalam hati.

__ADS_1


‘Oh My God, jantung aku kek mau loncat! Apa yang kayak gini ya yang bikin Arini sampai hamil? Ya Ampun, aku bener-bener speechless. Bisa gak kalo waktunya diberhentiin?’ batin Nachya yang jantungnya sudah bertalu-talu tidak menentu.


__ADS_2