Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Pentas Budaya


__ADS_3


Sedangkan Bunga dengan kesal langsung bersiap untuk mengarahkan tangannya untuk mencekik Satria yang sudah membuka kartunya di depan Uti Aleya. Untung saja Uti Aleya dengan cepat menahan tangan Bunga. “Tidak perlu marah seperti itu Bunga! Uti Aleya juga tidak mempermasalahkan perasaan kamu terhadap Boy!”


“Tapi Satria sudah ember banget Uti. Aku kan jadi malu!” gerutu Bunga kesal.


“Gak usah malu, perasaan jatuh cinta terhadap seseorang itu adalah hal yang wajar. Mencintai juga kan tidak harus ...”


“MEMILIKI!” sambung teman teman Boy yang lain secara serempak.


Bunga pun menghela nafasnya panjang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Bunga, kamu itu sangat cantik. Jika hatimu juga secantik parasmu, Uti yakin kau akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Boy!” tutur Uti Aleya membuat mata Bunga berkaca-kaca.


Ia pun langsung memeluk Uti Aleya dengan sangat erat. “Terima kasih banyak Uti, Bunga akan mempercantik hati dan sifat Bunga. Ucapan Uti membuat Bunga sadar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi!”


“Nah, Satria cocok banget loh Bunga kalo dijodohin sama kamu!” celetuk Bara tiba-tiba yang langsung dalam cubitan dari Satria tepat di lengannya.


“Heh, kalo ngomong itu disaring!” protes Satria.


“Emangnya teh tubruk pakai disaring? Orang omongan aku juga gak ada ampasnya kok!”


Lagi-lagi keramaian memenuhi ruang tamu di rumah Boy. Mendengar celotehan di lantai bawah membuat Nachya paham kenapa Utinya tidak mau ikut dengannya ke Birmingham. Selain Uti Aleya tidak ingin mengganggu kebersamaan Nachya dengan Boy, Uti juga ingin cucunya menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan mandiri.


☘️☘️☘️


Empat bulan kemudian,


Proyek besar yang dirancang oleh teman-teman Boy dan juga Uti Aleya kini siap untuk dihelat di auditorium besar yang ada di Oxford University. Kebetulan kali ini Mr Kevin dan juga Mr Ozzie sebagai donatur terbesar dalam pentas parade budaya yang sudah dipersiapkan secara matang.


Ribuan tiket pun sudah habis terjual membuat mereka semakin bersemangat dalam menampilkan pentas. Sedangkan Boy dan Nachya juga akhirnya ikut tampil untuk memperkenalkan budaya Indonesia dalam segi busana dalam acara fashion show pakaian adat yang ada di Indonesia. Uti Aleya sendiri menyanyikan beberapa lagu daerah diiringi dengan aransemen musik khas dari Indonesia.


Suara Uti Aleya yang terdengar begitu merdu dan mendayu benar-benar membuat siapa pun yang mendengarkannya pasti akan jatuh cinta dengan alunan suara Uti. Setelah itu ditampilkan beberapa tarian dari Indonesia dalam durasi waktu yang tidak begitu panjang dan tentunya membuat siapa pun terkesima melihatnya.

__ADS_1


Pentas parade budaya pun ditutup dengan penampilan teater Sendratari Ramayana yang dikemas secara apik dan membuat semua penonton benar-benar merasakan kl!maks atas pentas parade budaya yang diadakan oleh pertukaran mahasiswa Indonesia-London.


Berbagai pujian pun terlontar untuk kerja keras mereka dan membuat pentas kali ini langsung booming di media sosial. Bukan kerugian yang mereka tuai, melainkan keuntungan besar mereka dapatkan dari acara ini.


Sayangnya saat acara berakhir dan para kru panitia yang membantu dalam proyek sedang membereskan tempat dan properti yang digunakan, Uti Aleya terjatuh di tepi panggung acara dan tidak sadarkan diri.


Untung saja saat itu Uti Aleya sedang berdiri tidak jauh dari Satria. Dengan sigap satria menopang tubuh Uti Aleya dan berteriak meminta bantuan. Boy yang sedang ikut berberes pun langsung berlari mendekat dan membawa Uti Aleya menuju ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Boy dan juga Nachya terus berusaha menyadarkan Uti Aleya dengan berbagai cara sampai mereka tiba di rumah sakit.


“Uti, Nachya mohon sadarlah Uti! Jangan membuat Nachya takut seperti ini!” pinta Nachya sambil terus memegang tangan Utinya yang kini dibawa oleh tim medis menuju ke ruangan untuk segera diberi tindakan.


Sesampainya di dalam ruangan, Dokter pun meminta Nachya dan juga Boy untuk menunggu di luar ruangan. Nachya terus saja mondar mandir di luar ruangan dengan perasaan yang tidak tenang.


Sedangkan di dalam ruangan, dokter dan juga tim medis lainnya pun terus memacu jantung Uti Aleya berkali-kali. Sayangnya sudah tidak respon dari tubuh Uti Aleya sedikit pun hingga akhirnya alat yang dikaitkan di tubuh Uti Aleya menunjukkan garis lurus yang menandakan nyawa Uti Aleya sudah tidak dapat tertolong lagi.


Nachya pun langsung terjatuh lemas saat mengetahui Utinya tiada. Sedangkan Boy yang turut merasakan kesedihan yang sama dengan Nachya hanya bisa memeluk istrinya dengan sangat erat.


“Uti Aleya sudah sangat merindukan Akung Mario sayang!” bisik Boy menguatkan istrinya.


Boy semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya turut teriris mendengar ucapan istrinya. Belum ada satu tahun di London, mereka harus kehilangan Akung dan juga Utinya.


“Kita tidak boleh melawan apa yang sudah ditakdirkan sayang! Tuhan tahu kita menyayangi Uti Aleya, tapi Tuhan lebih sayang dengan Uti dan memanggil milikNya untuk kembali kepadaNya!” ucap Boy membuat Nachya semakin terisak dalam tangisannya.


Boy terus saja menghibur kesedihan istrinya yang tampak belum rela kehilangan utinya. Namun setengah jam kemudian tangisan Nachya pun mulai mereda. “Uti meninggalkan kenangan yang sangat indah saat di sini. Bahkan di akhir hidupnya Uti masih sempat menghibur banyak orang!”


“Jika memang Tuhan memang lebih sayang sama Uti, aku ikhlas!” ucap Nachya kemudian.


Perlahan Boy mengusap air mata yang masih membasahi wajah istrinya. “Istriku adalah wanita yang sangat hebat. Kita akan terus bersama di sini sayang bersama Uti dan juga Akung!”


Ucapan Boy kali ini pun langsung diangguki oleh Nachya. Boy pun kembali memeluk istrinya yang masih sangat rapuh menghadapi kenyataan ini. Benar saja dugaan Boy, tak lama kemudian istrinya pun pingsan tak sadarkan diri.


Boy pun langsung mengangkat tubuh istrinya dan meminta bantuan perawat untuk memeriksa kondisi Nachya. Perawat yang tidak jauh dari Boy pun langsung mengarahkannya untuk membawa Nachya ke ruangan dan segera memanggil dokter.

__ADS_1


Kini Boy terus mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk tetap tegar dengan keadaan ini.


Sedangkan di sisi lain, hal yang sama juga terjadi dengan Mama Ecca yang langsung tidak sadarkan diri saat mendengar kabar jika maminya sudah meninggal dunia setelah pentas parade budaya. Bahkan kali ini Mama Ecca justru mendapat kabar dari Bunga, bukan dari Boy maupun Nachya.


Saat Mama Ecca tersadar pun ia meminta suaminya untuk segera memesan tiket penerbangan menuju ke London. Sayangnya kali ini permintaan Mama Ecca tidak disetujui oleh Papa Belva mengingat istrinya sedang hamil tua karena usia kandungannya sudah masuk 7 bulan.


Papa Belva tidak menginginkan sesuatu terjadi pada istrinya jika mereka harus menempuh penerbangan panjang yang hampir 17 jam lamanya. Papa Belva terus saja menghibur istrinya dengan berbagai cara agar tidak larut dalam kesedihan meski kenyataannya begitu sulit karena Mama Ecca terus saja menangis dan memintanya untuk tetap memesankan tiket penerbangan menuju ke London.


Hingga saat malam tiba, ponsel Papa Belva berdering dan tampak panggilan dari Nachya.


“Papaaa, Mamaaa!” panggil Nachya dengan sendu di ujung panggilan.


“Doain saja Uti dari sana, Papa sama Mama gak perlu memaksakan diri untuk terbang ke London!”


“Mama harus jaga kesehatan karena itu lebih penting, Maaa!” ucap Nachya yang berusaha sekuat tenaga agar ia tidak kembali menangis.


“Uti Aleya sudah bahagia dan tenang di alam sana. Mama jangan buat Uti Aleya tidak tenang karena mama belum mengikhlaskan kepergian Uti. Uti orang yang baik, Ma. Uti berhasil menghibur banyak orang dan mengharumkan nama negara kita di akhir hidupnya!”


Mama Ecca kembali meneteskan air matanya mendengar ucapan Nachya di ujung panggilan yang tampak lebih tegar dari pada dirinya.


“Maa, mama harus kuat yaaa. Doain Uti Aleya dari jauh, karena yang Uti butuhkan hanya doa dari mama sebagai anaknya. Nachya juga akan terus mendoakan Uti dan Akung!”


Mama Ecca menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Iya sayang, Mama mengikhlaskan kepergian Uti. Terima kasih banyak, Nachya sayang. Kamu benar-benar bidadari yang bisa membuat Mama merasa sedikit tenang!”


Kini Nachya menggigit bibir bawahnya dan kembali menahan tangisannya agar tidak terdengar oleh mamanya.


“Mama baik-baik ya di sana! Tunggu Nachya dan suami Nachya pulang ke Indonesia untuk menjenguk adik kembar Nachya jika sudah lahir nanti!”


“Iya sayang, Nachya juga baik-baik ya di sana. Mama dan Papa akan selalu merindukan kalian dan menunggu kedatangan kalian berdua!”


Panggilan antara Mama Ecca dan Nachya pun terputus. Boy langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.

__ADS_1


“Kau benar-benar istri yang sangat luar biasa sayang!” puji Boy sambil mengecup ubun-ubun kepala Nachya.


__ADS_2