Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Pindah Sekolah?


__ADS_3

Setelah makan siang, Nachya dan Boy pun langsung berpamitan pulang.


Nachya memasuki mobilnya dan menyandarkan kepalanya di headrest sambil memejamkan matanya. Kepalanya terasa sedikit pusing memikirkan ucapan gurunya tadi.


“Ada masalah, Nach?” tanya Boy sambil menyalakan mesin mobilnya.


“Hemm!” jawab Nachya pelan.


“Masalah apa?”


Pertanyaan Boy tidak langsung dijawab oleh Nachya sampai mobil mereka mulai keluar dari gang perumahan Adit.


Nachya membuka matanya sambil memandang ke arah Boy. “Duit kamu banyak gak Boy?” tanya Nachya membuat Boy mengerutkan dahinya.


“Duit? Memang mau buat apaan duitnya?” tanya Boy lagi.


"Kamu punya utang?"


Pertanyaan Boy langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Nachya.


"Trus?!"


“Aku pingin pindah sekolah!” jawab Nachya membuat Boy langsung menginjak remnya secara mendadak.


Untung saja Nachya sudah mengenakan seat beltnya dengan benar. Jika tidak, dia pasti sudah terantuk dashbor yang ada di depannya.


“Boy! Kamu mau bikin lecet mobil aku ya?!” pekik Nachya sambil menepuk lengan Boy.


Boy pun mengatur nafasnya dan kembali menjalankan mobilnya ke tepi jalan. Setelah mematikan mesin mobilnya, Boy pun memandang ke arah Nachya untuk mengorek masalah apa yang saai ini sedang dihadapi.


“Cerita sama aku, apa alasan kamu mau pindah sekolah? Tinggal beberapa bulan lagi loh Nach, kamu lulus.”


“Tapi aku sudah gak nyaman, Boy!” balas Nachya sambil memijat kepalanya pelan.


“Apa ini karena Bang Adit?”


Nachya hanya menghela nafasnya tanpa menjawab pertanyaan Boy kali ini.


“Uang di tabungan aku ada 5 juta, di tabungan kamu ada berapa Boy?” tanya Nachya lagi mengalihkan pertanyaan dari Boy.


“Ada kan sekolah yang uang masuknya cuma 10 juta? Gak perlu yang mahal kok, yang penting dapet ijazah!” lanjut Nachya lagi.


Boy makin gak habis fikir dengan Nachya kali ini.


“Terus kamu pikir papa sama mama setuju dengan keinginan kamu kali ini?" tanya Boy dengan geram.

__ADS_1


"Gak akan Nachya!” lanjutnya lagi.


“Ya gak perlu bilang dong! Cukup kamu sama aku saja yang tahu!” balas Nachya santai tanpa beban.


“Nach!”


“Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah! Cerita semuanya apa yang bikin kamu gak nyaman! Kita cari jalan keluarnya bersama-sama!”


“Kalo menyelesaikan masalah dengan pindah sekolah dan kamu berbohong dengan papa sama mama, apa kamu siap jika papa dan mama mengetahui semuanya dan kecewa sama kamu?” tanya Boy yang langsung dijawab dengan gelengan kepalanya.


“Ya gak mau, Boy! Kamu nih gimana sih!” balas Nachya.


“Jadi abang kamu tadi bilang kalo dia sayang sama aku. Eh, gak taunya si Monica denger. Padahal Monica kan naksir berat sama Pak Adit!”


“Dari pada Monica marah dan bikin berita yang enggak-enggak di sekolah, aku bilang aja sama Monica kalo Pak Adit sebenarnya mau nyatain perasaannya sama dia!”


“Monicanya percaya, eh Pak Adit malah marah. Udah gitu Pak Adit ulangi lagi ucapannya sama aku kalo dia itu suka, sayang, dan cinta sama aku!” jelas Nachya yang bercerita dengan Boy menggebu-gebu.


“Tapi aku gak mau...” rengeknya lagi yang entah kenapa membuat Boy bernafas lega kali ini.


“Alasannya apa?” tanya Boy.


Kali ini Nachya terdiam mencari jawaban untuk pertanyaan Boy. ‘Gak mungkin kan aku bilang kalo alasannya karena aku cintanya sama kamu, Boy!’ gumam Nachya dalam hati.


“Iya Boy!”


“Eh, bukan begitu maksudnya.” Cepat-cepat Nachya langsung memperbaiki jawabannya.


“Aku itu mau fokus belajar buat kelulusan dan masuk perguruan tinggi!” lanjut Nachya lagi.


“Kan aku mau jadi anak kebanggan papa sama mama!”


Boy kini terkekeh mendengar jawaban Nachya. Namun dalam hatinya terus bertanya-tanya siapa lelaki yang berhasil membuat Nachya jatuh cinta.


“Kalo gitu ceritanya, aku akan bilang sama Bang Adit untuk tetap menganggap kamu sebagai murid. Dan kamu tetap bisa sekolah dengan nyaman. Gimana?”


“Jadi gak perlu pindah sekolah kan? Lagi pula Bang Adit juga pasti akan berusaha untuk bikin kamu tetap nyaman di sekolah!” lanjut Boy lagi.


“Iya deh!” balas Nachya. “Makasih ya, Boy!”


“Sama-sama, Nach. Ya udah, kita sekarang mau kemana nih?” tawar Boy yang mulai menyalakan mesin mobilnya.


Tawaran Boy kali ini tidak disia-siakan oleh Nachya. Ia pun langsung menunjukkan tempat yang sangat ingin ia kunjungi.


“Taman Bunga yuk Boy. Spot fotonya bagus bagus banget!” jawab Nachya.

__ADS_1


“Oke!” jawab Boy membuat Nachya mulai melupakan hal yang tadi sempat membuatnya tidak nyaman.


***


Sesampainya di rumah, Boy langsung menghubungi abangnya dan menceritakan tentang apa yang kini dialami oleh Nachya.


“Jadi Nachya kayak ketakutan gitu ya Boy?” tanya Adit di ujung panggilan.


“Ya gitu deh, Bang. Dia sampai mau pindah sekolah karena merasa gak nyaman!” balas Boy secara to the point membuat Adit kini merasa sangat bersalah.


“Duuh, maaf banget Boy. Kali ini memang aku yang salah karena gak mau dengerin saran dari kamu!”


“Harusnya aku pendekatan dulu sama Nachya. Tapi aku malah gak sabar dan nyatain peasaan aku sama dia!”


“Aku pikir Nachya  gak masalah dengan semua ini. Ternyata dugaanku melenceng jauh!” balas Adit yang terdengar tampak menyesali tindakannya terhadap Nachya tadi.


“Biasanya kan anak seumuran Nachya lagi masa puber dan mulai merasakan jatuh cinta. Ternyata dia bener-bener mau fokus belajar!”


“Terus aku harus gimana dong?” tanya Adit yang meminta saran kepada Boy.


“Perlakukan Nachya seperti murid yang lainnya Bang. Kalau salah dihukum. Jangan terlalu diprioritaskan!” jawab Boy memberi saran.


“Oke deh. Kali ini aku akan ikuti saran dari kamu. By the way, thanks ya informasinya. Thanks juga udah mau bujuk Nachya untuk tidak pindah sekolah!” timpal Adit sebelum menutup panggilannya.


“Iya, Bang. Sama-sama.”


Boy pun langsung mengakhiri panggilannya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Besok, dia mulai masuk kuliah. Semua kebutuhan OSPEK hari pertama juga sudah ia siapkan. Tiba-tiba saja Boy teringat jika ia belum memberitahu Nachya jika besok mereka harus siap lebih pagi.


Boy pun langsung menuju ke kamar Nachya melewati pintu balkon kamarnya. Tampak Nachya yang sedang memainkan ponselnya sambil duduk di tepi ranjangnya.


Namun penampilan Nachya kali ini membuat Boy menelan ludahnya kasar. Bagaimana tidak? Nachya hanya memakai singlet dan celana yang super duper pendek. Akhirnya Boy pun berbalik ke kamarnya dan mengurungkan niatnya untuk memberi tahu langsung dengan Nachya.



Sedangkan Nachya yang sempat melihat kehadiran Boy dan berbalik pun langsung mengejar langkah Boy.


“Ada yang mau kamu omongin sama aku, Boy?” tanya Nachya yang kini sudah berdiri di belakang Boy.


“Emmh! Besok aku mulai berangkat kuliah. Kamu harus bangun lebih pagi kalo mau ke sekolah sama aku!” jawab Boy tanpa melihat ke arah Nachya.


“Kamu itu gak sopan deh, masa ngomongnya sambil membelakangi gituh!” protes Nachya yang langsung berpindah ke depan Boy.


Nafas Boy seketika tercekat melihat Nachya yang kini sudah berdiri di depannya.


💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2