Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Perpisahan (Go to London)


__ADS_3


Malam syukuran Nachya kali ini mendapatkan beberapa hadiah dari para tamu undangan yang hadir. Namun satu hadiah yang membuat Nachya penasaran adalah hadiah pemberian Boy yang terdapat pesan khusus di atas kotaknya.


BRING ME TO LONDON AND OPEN ME, THERE!


“Boy sebenernya ngasih apaan sih? Bikin penasaran saja!” gumam Nachya sambil membuka kotak hadiah dari yang lainnya.


Di saat Nachya sibuk dengan kotak hadiah yang hampir memenuhi kamarnya, Mama Ecca tiba-tiba masuk ke dalam kamar Nachya sambil membawa kotak hadiah juga di tangannya. Sayangnya kotak hadiah mama Ecca itu terlihat sangat kecil dibandingkan dengan kotak hadiah yang lainnya.


“Waaah, Nachya seperti ulang tahun lagi ya kalo kayak gini!” ucap Mama Ecca membuat Nachya tersenyum bahagia.


“Mama bawa apa buat Nachya? Kok kotaknya kecil banget sih?” tanya Nachya sambil berdiri dan mendekati mama Ecca.


“Tutup dulu dong mata Nachya!” pinta Mama Ecca dan Nachya pun langsung menutup matanya rapat-rapat.


Mama Ecca pun membuka kotak hadiahnya dan memakaikan kalung yang ia beli khusus untuk putri kesayangannya di leher Nachya.


“Open your eyes, Nach!”


Nachya langsung membuka matanya dan senyumnya langsung merekah lebar saat melihat kalung barunya dengan liontin huruf BQ.


“Ini indah banget Maaa!” ucap Nachya dengan mata yang berkaca-kaca.


Nachya langsung merentangkan tangannya dan memeluk mama Ecca dengan sangat erat.


“Thanks a lot, Mama! I like it very much!”


“You’re welcome, sayang!” balas Mama Ecca.


“Ini semua tidak sebanding dengan pencapaianmu yang membuat mama sangat bangga.”


Nachya kini memainkan liontinnya yang memperlihatkan inisial nama panjangnya. Senyumnya terus saja merekah di bibir Nachya membuat Mama Ecca sangat gembira mendapati putrinya menyukai barang pemberiannya.


“Ini tuh Inisial Boy Qu! Gituh kan Ma?” tanya Nachya yang mulai mengada-ada.


Papa Belva yang melewati pintu kamar Nachya dan mendengar ucapan putrinya barusan langsung masuk ke dalam kamar dan melayangkan protesnya.

__ADS_1


“Enak saja Boy Qu! Ini maksudnya Belva Quiero!” timpal papa Belva tidak mau kalah.


“Kalo begitu nanti yang pakai kalungnya mama dong! Kan Papa Bee cinta sehidup sematinya mama!”


“Loooh, memangnya Papa gak boleh jadi cintanya Nachya?” tanya Papa Belva sambil manyun.


“Yaa boleh dong papaa!” balas Nachya.


“Yaudah, sekarang Nachya bobok gih. Besok sudah harus ngecek barang-barang yang mau dibawa ke London!” titah Papa Belva sambil memberikan kode kepada istrinya untuk segera kembali ke kamar mereka.


“Oke Papa!” balas Nachya yang langsung bersiap untuk tidur.


***


Setelah berbagai persiapan dilakukan, hari ini tiba waktunya Nachya berangkat ke London bersama dengan Akung dan juga Utinya.


Sedari pagi Boy sudah berada di rumah dan membantu Nachya bersiap. Jangan ditanya betapa beratnya perasaan Boy kali ini untuk melepas Nachya pergi. Namun Boy tidak mau egois dan harus merelakan kepergian Nachya seberat apapun.


Tidak hanya Boy, Mama Ecca dan Papa Belva juga tampak sangat berat melepas putri kesayangan mereka. Meskipun nantinya Nachya tidak sendiri, tetap saja ada rasa khawatir yang mungkin sangat berlebihan dalam memprotect Nachya. Mengingat Nachya memang tidak pernah tinggal jauh dari mereka.


Sesampainya di bandara, Nachya, akung dan juga utinya langsung melakukan validasi tiket penerbangan mereka. Setelah itu, mereka pun bersiap untuk menuju ke pintu keberangkatan.


“Aku tunggu di London ya!” ucap Nachya yang langsung diangguki oleh Boy.


Nachya pun kemudian berpamitan kepada papa mamanya cukup lama karena Mama Ecca kini tidak bisa lagi membendung air matanya melepas kepergian Nachya. Setelah drama panjang, akhirnya Nachya pun melambaikan tangannya ke arah semua keluarganya dan juga Boy sampai tidak terlihat lagi.


Boy langsung terduduk lemas di kursi bandara saat Nachya sudah tidak terlihat lagi. Ingin rasanya ia berlari untuk mencegah Nachya pergi. Dada Boy juga mulai terasa sangat sesak menahan kepedihannya sejak semalam.


“Boy, kita pulang!” ajak Papa Belva sambil memeluk istrinya yang masih terisak.


“Papa duluan saja, Boy nanti langsung ke firma!” balas Boy yang entah kenapa kakinya terasa sangat berat untuk berdiri.


“Okey, papa pulang dulu ya. Tolong kamu handle firma dengan baik karena kemungkinan papa akan seharian penuh menghibur mama Ecca!” tukas Belva yang tidak tega melihat istrinya yang begitu sedih melepas kepergian Nachya.


“Siap pa!” jawab Boy.


Sepeninggalan Papa Belva, pandangan Boy tidak lepas memandang ke arah pintu di mana ia melihat sosok Nachya terakhir kalinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menginginkan Nachya kembali muncul dan berlari ke arahnya.

__ADS_1


Bayangan sikap manja Nachya dan segala tingkah konyolnya kini menari-nari di pelupuk mata Boy membuatnya semakin berat untuk melangkah pergi. Sayangnya sedari tadi orang berlalu lalang melewati pintu tersebut, tidak dilihatnya sosok Nachya kembali.


‘Aku menyerah, Nachya! Aku ternyata benar-benar tidak sanggup untuk jauh darimu!’ teriak Boy dalam hati sambil menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya.


‘Aku sangat merindukanmu, Nachya! Hari ini ternyata sangat menyakitkan bagiku dan jauh dari bayanganku sebelumnya.’


‘Aku pikir merelakanmu adalah hal yang terbaik. Namun justru membuatku sangat rapuh! Aku mohon kembalilah, Nachya. Aku tidak rela kau jauh dariku!’


Di saat Boy benar-benar terpuruk kehilangan Nachya yang lepas dari pandangannya, tiba-tiba saja bahunya ditepuk oleh seseorang. Boy pun langsung mengangkat kepalanya dan menoleh untuk melihat siapa yang sedang berada di dekatnya saat ini.


“Boy Marley Swan!” sebut pria yang kini berdiri di hadapannya. Jika ditaksir usia pria tersebut sedikit lebih tua dari Papa Belva.


Boy kini mengerutkan dahinya sambil mengingat-ingat siapa yang kini berdiri di hadapannya.


“Mr Kevin?” balas Boy menebak nama pria di hadapannya.


“Yap, benar sekali!” jawab Mr Kevin sambil mengulurkan tangannya ke arah Boy dan Boy pun langsung membalas uluran tangan pria yang pernah menjadi kliennya dulu.


“Apa kabar Mr?” tanya Boy dengan sangat ramah.


“Semenjak kau berhasil meleraikan berbagai permasalahanku, sampai detik ini aku merasa sangat bahagia. Bahkan lebih bahagia dari sebelumnya!” jawab Mr Kevin.


“Saya turut senang mendengarnya, Mr!” balas Boy


“Begini nak Boy, sebenarnya keluarga saya sangat ingin berterima kasih atas bantuanmu tempo hari. Namun karena padatnya pekerjaan, kami jadi tidak sempat untuk menemuimu di firma!”


“Dan kali ini kami sangat bersyukur bisa bertemu denganmu di sini!” ucap Mr Kevin.


“Tidak perlu merasa sungkan, Tuan. Kebetulan itu semua juga merupakan pekerjaan saya!” Timpal Boy.


“Kalau begitu, apa ada sesuatu yang sangat kau inginkan, Boy?! Katakan saja pada kami!” ucap Mr. Kevin yang sudah bertekad untuk membalas kebaikan Boy selama ini.


 “Maksudnya apa ya Mr?” tanya Boy yang belum begitu paham dengan ucapan Mr. Kevin barusan.


“Jika aku nilai, kau sangat berprestasi dalam bidang akademik. Maka dari itu kita menawarkanmu untuk melanjutkan kuliah di Universitas Harvard di Amerika.


“Fakultas hukum yang ada di sana sangat baik dan tentunya cocok jika kau mau melanjutkan kuliah di sana!”

__ADS_1


Tawaran Mr Kevin kali ini membuat Mata Boy berbinar. 


__ADS_2