
Bel sekolah sudah berbunyi berkali-kali. Pagi ini jadwal Pak Adit untuk mengajar di kelas Nachya dan mengumumkan siapa siswi yang beruntung bisa mengikuti kursus gratis dengannya.
Namun entah kenapa Pak Adit justru termenung mengingat kecelakaan yang dialami oleh tangannya yang salah mendarat saat bersama dengan Monica tadi.
“Haduh! Gimana ini ya?” gumam Adit sambil mengusap kedua telapak tangannya berkali-kali.
“Kenapa rasanya masih nempel aja sih di tangan!” gerutu Adit yang mencoba menepis bayangan Monica dari hadapannya.
Bahkan ucapan Monica masih terus saja terngiang di telinganya dan membuat gemuuruh di dadanya semakin tidak karuan.
‘Bapak ternyata mulai nakal ya?!’
‘Bapak ternyata mulai nakal ya?!’
Adit yang semakin gusar pun akhirnya segera menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya dan mencoba menenangkan hatinya. Ia menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah ia rasa cukup, Adit pun segera menuju ke kelas Nachya.
Kelas Nachya yang tadinya sedikit ramai pun seketika langsung tenang saat Pak Adit sudah masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi semuanya!” sapa Pak Adit mencoba setenang mungkin sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas.
“Pagi, paaak!” jawab murid-murid serentak.
“Kali ini saya mohon maaf karena harus meralat apa yang sudah saya janjikan dua hari yang lalu. Setelah saya fikir berulang kali, saya menyetujui saran dari Nachya, jika yang mengikuti kursus gratis secara privat adalah siswa yang benar-benar membutuhkan bimbingan!” jelas Pak Adit yang langsung menuai protes dari Monica.
“Saya tidak setuju, Pak!” sanggah Monica sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Kursus gratis akan tetap dilakukan seperti janji bapak!” lanjutnya.
Pak Adit membuang nafasnya kasar. Hari masih begitu pagi, bahkan pelajaran juga belum dimulai. Tapi peluhnya sudah mulai menetes padahal kelas Nachya lengkap dengan pendingin udara di dalamnya.
“Maaf Monica. Kali ini keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat!” tegas Pak Adit yang kembali mengingat kecelakaan panasnya dengan Monica tadi pagi.
“Kalau begitu umumkan siapa yang mendapat nilai paling tinggi di kelas ini pak!” pinta Monica yang sangat yakin jika dia lah yang mendapat nilai paling tinggi.
Lagi-lagi Pak Adit harus dirundung dilema mengingat nilai Monica dan juga Nachya sama sama tinggi. Namun, Monica selesai lebih dulu dari pada Nachya.
Jika ia mengumumkan nilai Monica lah yang paling tinggi, ia takut Monica justru akan mendesak untuk kursus dengannya. Sedangkan jika ia mengumumkan nilai Nachya yang tertinggi, sudah pasti Nachya akan curiga dan makin menjauh darinya.
Pandangan Pak Adit pun kini tertuju pada Ruby yang juga memperoleh nilai tertinggi kedua.
“Yang paling tinggi adalah, Ruby!” jelas Pak Adit membuat semua siswa kini memandang ke arah Ruby.
“Hah?! Saya Pak?” tanya Ruby memastikan dan Pak Adit pun menganggukkan kepalanya.
“Waaah, akhirnya saya bisa mengalahkan dua pesaing handal di kelas!” gumam Ruby bangga.
“Nachya, kini aku akan menjadi sainganmu!” lanjut Ruby lagi yang baru kali ini memperoleh nilai tertinggi di kelas.
Keputusan Pak Adit kali ini membungkam mulut Monica dan pelajaran pun dimulai seperti biasanya.
...💕💕💕...
__ADS_1
Sedangkan di kampus Boy, Bunga yang tadi hampir saja terlambat kini mendekati Boy yang tampak sudah berbaur dengan teman laki-lakinya yang baru.
“Boy, aku mau bicara sama kamu!” ucap Bunga berdiri di belakang Boy.
Boy langsung berbalik dan memandang ke arah Bunga datar. “Bicara aja di sini!” balas Boy.
“Pulang dari kampus, aku gak mau kamu tinggal lagi kayak tadi di depan gerbang!” jelas Bunga.
“Oke!” balas Boy singkat dan berbalik lagi mengacuhkan Bunga.
Bunga menghela nafasnya panjang melihat Boy yang sama sekali tidak menganggapnya ada. ‘Apa memang sesulit ini ya jatuh cinta dengan pria sedingin Boy?’ batin Bunga sambil berbalik meninggalkan Boy.
“Siapa tuh Boy?” tanya Ken menunjuk ke arah Bunga yang berjalan menjauh dari mereka.
“Tetangga aku!”
“Oooh, nebeng di mobil kamu ya?!” tanya Ken lagi yang langsung diangguki oleh Boy.
...💕💕💕...
Satu bulan kemudian,
Boy semakin disibukkan dengan berbagai tugas di kampusnya. Bahkan semenjak Boy mulai kuliah tidak pernah lagi sempat menjemput Nachya pulang sekolah.
Bunga juga tidak lagi berangkat dan pergi bersama Boy karena hari pertama kuliah bersama Boy sudah membuatnya kapok dan tidak mau mengulanginya lagi.
Sedangkan Pak Adit juga sudah bersikap biasa saja terhadap Nachya, layaknya guru dan murid sehingga Nachya kembali merasa nyaman di sekolahnya.
“Tumben Boy, gak lari pagi?” tanya Nachya yang masih mengenakan piyama pemberian Boy.
Boy yang sedang menikmati berita pagi di ruang keluarga pun langsung menoleh ke asal suara.
“Capek, Nach! Pingin santai dulu pagi ini soalnya nanti mau ngerjain tugas kampus!” jawam Boy sedikit menggeser duduknya agar Nachya duduk di sampingnya.
“Tugas mulu dah perasaan. Gak bosen apa?” tanya Nachya lagi yang langsung duduk di samping Boy sambil menikmati susu hangat yang kini di tangannya.
Papa Belva yang kini sedang duduk di ruang tamu pun langsung menimpali pertanyaan putrinya.
“Namanya juga semester satu, pasti begitu Nachya!” timpal Papa Belva.
“Terus Boy gak bantu papa di firma lagi dong?!”
“Untuk saat ini papa suruh fokus kuliah dulu. Nanti kalo udah santai baru bantu papa lagi di firma!” jawab Papa Belva
“Yah, pantes aja sekarang jarang traktir aku jajan. Ternyata duit kamu udah gak banyak ya Boy?” tanya Nachya pelan membuat Boy langsung mengerutkan dahinya.
“Enak aja kalo ngomong!” balas Boy yang kemudian merebut minuman Nachya dan langsung menyesapnya pelan.
Bukan hal aneh bagi mereka berdua berbagi minuman dalam satu cangkir karena Boy minum bukan di bekas bibir Nachya.
“Enak banget, Nach! Aku habisin ya?” tanya Boy meminta persetujuan Nachya.
__ADS_1
“Enak aja!” Nachya kembali merebut cangkirnya dari tangan Boy. “Mama udah bikin juga tuh buat kamu!” lanjutnya sambil menyesap habis minumannya.
“Ambilin dong!” pinta Boy manja.
“Tapi traktir nonton ya!” pinta Nachya sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Boy.
“Oooh, jadi ternyata dari tadi tuh kamu cuma pingin nonton?” tanya Boy yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Mending aku ambil sendiri deh ke sana!”
Melihat Boy yang berjalan menuju pantry, Nachya pun cepat-cepat berlari mendahului langkah Boy dan mengambilkan susu hangat untuk abangnya.
“Yes!” sorak Nachya sambil menyodorkan cangkir Boy. “Nih, udah aku ambilin ya!”
Boy menerima uluran tangan Nachya dan menarik kursi makan. “Tapi kan aku belum setuju untuk traktir kamu nonton!” balas Boy santai.
“Tugas aku banyak Nachya!”
Dengan langkah gontai Nachya pun langsung menemui Mama Ecca yang kini sedang membuat sarapan dengan bik Surti.
“Maa,..” panggil Nachya manja.
“Nachya minta duit dong, mau nonton sama Ruby!” rayu Nachya sambil memeluk Mama Ecca dari belakang.
“Nanti Ruby yang mau jemput Nachya dan anterin pulang ke rumah lagi!” lanjut Nachya.
“Mau nonton apa sih, sayang?” tanya Mama Ecca.
“Nanti sore kita keluar deh nobar sama papa juga kalo Boy memang sibuk, gimana?”tawar Mama Ecca yang langsung dijawab Nachya dengan gelengan kepala.
“Gak mau, maa... Mama tahu kan kalo pergi sama papa itu gak asyik!”
“Papa selalu ajak pulang cepet habis nonton dan makan di rumah. Nanti alasannya pasti gini!” Nachya bersiap-siap menirukan gaya papa Belva.
“Paling enak itu masakan mama loh Nach! Kamu gak inget tadi Mama udah masak udang saus padang, cah kangkung sama cumi goreng mentega di rumah? Kan sayang kalo gak dimakan, nanti mubadzir!” ucap Nachya mengulang kalimat papanya saat menolak ajakan Nachya makan di luar.
Mama Ecca pun langsung terkekeh mendengar putrinya kali ini.
“Ya udah, nanti mama izinin kamu main sama Ruby hari ini!” ucap Mama Ecca membuat mata Nachya berbinar.
“Tapi janji ya, pulangnya jangan malam-malam!”
“Siap Ma!” balas Nachya sambil memeluk mama Ecca.
“Thanks mamaa!” Nachya langsung berbalik dan melewati Boy yang masih duduk di ruang makan.
“Yeeeaaay, akhirnya aku dibolehin main sama Mama!” pamer Nachya yang langsung menuju ke arah kamarnya.
...💕💕💕...
__ADS_1