
“Kamu lupa ya kalo Papi sama Mami punya saham di perusahaan teman Papi yang ada di Birmingham?” tanya Papi Mario membahas bisnisnya yang masih berjalan sampai saat ini di Inggris.
“Tapi Papi, jaraknya kan sangat jauh dengan kampus Nachya nanti!” lanjut Nachya yang paham betul berapa jauhnya jarak dari Birmingham ke London.
Meski sekarang usianya hampir menginjak 60 tahun, Akung Mario dan Uti Aleya masih sangat lihat menjalankan perusahaannya yang bergerak dalam properti. Dan mereka memang memiliki kerja sama dengan sahabatnya yang ada di Birmingham.
Bahkan Akung Mario memiliki satu apartemen di sana. Saat mendengar Nachya sangat menginginkan menjadi seorang arsitek muda ternama, Akung Mario merasa sangat lega karena bisnisnya kali ini akan turun kepada cucu kesayangannya.
Dan sebenarnya, informasi beasiswa di The Bartlett School of Architecture University College London juga dari akung dan utinya yang diam-diam mensupport cucunya tanpa diketahui oleh Belva dan juga Ecca.
“Nachya sayang! Masuk yuk, Uti sudah buatkan kue kesukaan kamu loh!” ajak Uti Aleya.
“Waaah, terima kasih banyak Uti!” ucap Nachya sambil mencium pipi Utinya.
“Uti jadi bikinin Nachya sate ayam gak?” tanya Nachya yang mulai mengeluarkan mode manjanya dengan Uti Aleya.
“Tentu dong, sayang! Uti pasti sudah siapkan semua yang Nachya suka. Uti sangat bangga dengan Nachya!”
“Uti memang yang terbaik!”
Di saat Nachya dan utinya sudah masuk ke dalam, Papa Belva langsung mengajak Boy berbincang di taman. Sedangkan Mama Ecca masih menginterrogasi Papinya sambil duduk di teras Mansion.
Mama Ecca memandangi papinya lekat-lekat sambil mengerutkan dahinya.
“Jangan bilang papi sama mami ada andil dalam pencapaian Nachya kali ini!” tebak Ecca.
Senyum Papi Mario pun merekah lebar. Kali ini sudah tidak ada lagi yang harus di tutup-tutupi terlebih dengan putrinya sendiri.
“Papi dan mami hanya memberikan informasi kepada Nachya tentang beasiswa itu. Selebihnya memang usaha cucu kesayanganku ini sangat luar biasa!” ucap Papi Mario bangga.
“Akhirnya Papi menemukan pewaris papi yang sangat tepat. Dan kemungkinan Nachya nantinya akan melanjutkan bisnis papi yang ada di Birmingham!” lanjut Papi Mario yang entah kenapa justru membuat Ecca sedikit tidak terima.
“Apa papi lupa? Nachya anak Ecca pi. Dan Ecca sangaaat sulit untuk tinggal jauh dari Nachya!”
“Ecca gak bisa kalo gak liat Nachya tidur di kamarnya sendiri!”
“Ecca juga gak bisa kalo gak bangunin Nachya tiap pagi!”
“Ecca gak bisa tinggal jauh dari Nachya yang selalu manja, yang selalu minta dipeluk sebelum bangun, dan selalu bikin keramaian di rumah!”
__ADS_1
Mama Ecca menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar belum sanggup membayangkan Nachya harus tinggal jauh darinya.
Sedangkan Papi Mario hanya tersenyum sambil menepuk punggung putrinya.
“Ecca sayang, di rumah kan masih ada Boy. Jadi kamu gak akan kesepian lagi!” timpal Papi Mario.
“Boy anak laki-laki, pi. Bahkan dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan King Bee!” balas Ecca.
“Yaa, kalo begitu mending kamu program anak ketiga deh. Biar cucu papi makin banyak! Kan usia kamu hampir menginjak 40 tahun, Ecca!”
“Lagi pula, kamu masih pantes kok buat hamil lagi. Meski usia hampir menginjak kepala 4, tapi kamu masih kelihatan kayak 30 tahunan ke bawah lo!” timpal Papi Mario membuat Ecca sedikit kesal.
“Ck, papi nih asal aja kalo ngomong. Gak deh! Nachya saja deh udah cukup.”
“Yaudah, kalo begitu. Apa kamu mau jadi konsultan hukum di London biar bisa nemenin Nachya kuliah?” tawar Papi Mario.
“Belva juga kan bisa mengepakkan sayapnya di sana!”
Tawaran Papi Mario kali ini membuat Mama Ecca mulai tergiur. Menurutnya tidak ada salahnya mengepakkan sayapnya sampai di London meski semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Nanti aku coba ngobrol sama King Bee, deh!” balas Ecca.
Meski sebelumnya ia merasa begitu dekat dengan Papa Belva, entah kenapa saat ini benar-benar sangat berbeda. Ia justru merasa sangat canggung berhadapan dengan Papa Belva, terlebih kali ini statusnya hanyalah seorang bawahan.
“Boy!” panggil Papa Belva.
“Iya Pak!” jawab Boy yang terdengar begitu tegang.
Papa Belva pun terkekeh pelan melihat Boy yang benar-benar menanggapi serius ucapannya.
“Papa tahu dan sangat paham bagaimana perasaanmu saat ini, Boy! Terlebih saat menghadapi sikap Nachya yang semakin hari semakin tidak terduga.”
“Papa pun pernah muda dan pernah ada dalam posisi sepertimu saat ini. Papa hanya berpesan, jika kamu memang benar-benar mencintai Nachya, berusahalah semaksimal mungkin! Karena papa tidak akan menikahkan kalian di usia muda.”
“Yang papa inginkan saat ini adalah kau benar-benar bisa meyakinkan papa untuk menjadikanmu sebagai anak menantu! Papa tidak akan mengekangmu untuk meraih kesuksesan!”
“London, tidak seperti Indonesia. Bisa jadi Nachya justru menemukan pria yang lebih baik darimu di sana!”
“Jadi, pantaskan dirimu mulai dari sekarang, Boy! Dan tentunya dengan caramu sendiri!” jelas Papa Belva panjang lebar.
__ADS_1
Mata Boy langsung berkaca-kaca mendengar semua penjelasan Papa Belva. Ia pun langsung menghambur memeluk papanya.
“Terima kasih, papa. Kau benar-benar papa terbaik sepanjang hidupku!” ucap Boy sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.
“Sama-sama, Boy. Jangan pernah kecewakan papa!” pesan Papa Belva yang langsung terpatri dalam ingatan Boy.
***
Dua minggu belakangan ini, Nachya disibukkan dengan berbagai persiapannya untuk ke London sebulan yang akan datang. Karena ia sudah mengirimkan surat balasan ke University College London, Nachya tidak bisa mengikuti acara perpisahan sekolah.
Keputusan Nachya kali ini pun membuat sahabatnya merasakan sangat kehilangan, terutama Ruby.
“Nachya, kamu tega ninggalin aku di sini sendiri?” rengek Ruby yang sedari pagi sudah berada di rumah Nachya.
“Kamu kan ada Ken. Ada Tristan juga, by!” timpal Nachya sambil memeriksa berkas kelengkapannya.
“Mereka kan cowok, Nach! Aku kan maunya kamu!” rengek Ruby lagi membuat Nachya menghela nafasnya panjang.
“Ada Arini kan Ruby... Nanti kan aku juga pasti balik lagi ke sini!”
“Eh, iya. Kamu tahu gak gosip terbaru tentang Arini?” tanya Ruby dan Nachya langsung menggelengkan kepalanya karena memang setelah hari terakhir ujian, ia sama sekali tidak mengikuti perkembangan kabar di grup sekolahnya.
“Kata Monica, Arini kemarin dari rumah sakit bersalin tauk!” ucap Ruby menggebu-gebu.
“Periksa mungkin. Sekarang kan rumah sakit bersalin gak Cuma buat ibu hamil. Jangan negatif thinking deh!” timpal Nachya yang sudah paham dengan arah pembicaraan sahabatnya yang satu ini.
“Bisa jadi sih! Tapi kamu sadar gak sih kalo Arini sekarang berubah jadi pendiem banget!” lanjut Ruby lagi.
Nachya kali ini mengedikkan bahunya. “Aku gak merhatiin banget sih. Biarin ajaa... Toh yang penting dia gak ganggu hidup kita kan?” balas Nachya yang langsung diangguki oleh Ruby.
Namun, tiba-tiba pintu kamar Nachya dibuka oleh Mama Ecca.
“Nachya, ada Arini itu cariin kamu di bawah sama orang tuanya.”
“Kamu gak bikin masalah sama mereka kan?” tanya Mama Ecca.
Nachya pun langsung menggelengkan kepalanya, “ Nachya gak bikin masalah apa-apa kok Ma!”
“Yaudah, kita temuin dulu yuk! Soalnya ayah sama ibunya Arini kayak marah banget waktu nyariin kamu tadi!” ajak Mama Ecca yang langsung menggandeng tangan putrinya.
__ADS_1
🌹🌹🌹