Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Ditembak


__ADS_3

“Apa benar sama yang diucapkan Nachya barusan, Pak?” tanya Monica dengan wajahnya yang berbinar.


Suara Adit tercekat dipenuhi rasa bimbang yang menyelimuti hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika pernyataan perasaannya kepada Nachya justru berujung seperti ini. Terlebih Nachya juga memberi pilihan yang sangat berat untuknya.


Monica yang sudah tidak sabar mendengar jawaban dari guru barunya pun langsung memeluk Pak Adit dengan sangat erat.


“Saya juga mencintai bapak sejak awal saya melihat Pak Adit. Saya tidak menyangka jika perasaan saya akan terbalas secepat ini!” tukas Monica yang tampak sangat gembira.


“Tapi Monica, saya tidak mau mengganggu konsentrasi belajar kamu. Lagi pula kan kamu masih harus mempersiapkan kelulusan dan juga tes masuk perguruan tinggi!” balas Pak Adit sambil melepaskan pelukan Monica.


Monica justru semakin berbunga-bunga mendengar ucapan gurunya saat ini yang terdengar memberi perhatian khusus untuknya.


“Saya benar-benar tersanjung dengan perhatian Pak Adit!” balas Monica.


“Padahal saya jadi makin semangat loh Pak!” lanjutnya lagi.


Kini Pak Adit hanya memutar matanya malas sambil memandang ke arah Nachya.


‘Aduuh, kenapa malah jadi begini sih?!’ gerutu Pak Adit dalam hati.


“Bagaimana Pak? Kita jadian?” tanya Monica antusias membuat Pak Adit membuang nafasnya kasar.


“Maaf, Monica! Kita tidak bisa menjalin hubungan!” jawab Pak Adit tegas sambil terus menatap ke arah Nachya.


“Kenapa pak?” tanya Monica lagi.


“Karena sebenarnya saya ...” belum sempat Pak Adit melanjutkan kalimatnya, Nachya cepat-cepat memotong ucapan guru matematikanya kali ini.


“Sebenarnya Pak Adit udah janji sama almarhumah Bu Wita untuk tidak menjalin hubungan dengan muridnya. Gituh Mon!” timpal Nachya membuat Adit lagi-lagi harus menghela nafasnya panjang.


‘Ini anak ya, pinter banget sih cari alasannya!’


‘Ck, pantes deh. Papa mamanya semuanya jadi pengacara!’


“Oooh, begitu ya Pak. Saya siap menunggu sampai lulus sekolah deh kalo gituu,” balas Monica lagi.


“By the way, Nachya ngapain kemari?” tanya Monica sambil mengerutkan dahinya memandang ke arah Nachya.


“Nemenin abang aku!” balas Nachya singkat.


Nachya sendiri tidak mau banyak bercerita dengan Monica, terlebih mengingat Monica yang bermulut besar dan suka mengobral cerita.


Tak lama kemudian, tampak papanya Monica memanggil putrinya dan mengajaknya untuk segera pulang. Akhirnya dengan berat hati Monica pun memenuhi panggilan papanya dan berpamitan dengan Pak Adit dan juga Nachya.


“Nach, jangan godain calon pacar aku loh!” pesan Monica sebelum beranjak pergi.


“Iyaa, habis ini aku juga mau pulang kok!” balas Nachya.


Setelah kepergian Monica, Pak Adit langsung melayangkan protes ke arah Nachya dan meluahkan semua kekesalannya.

__ADS_1


“Kamu harusnya gak bilang kayak begitu ke Monica! Nanti dia justru menaruh harapan yang besar, sedangkan saya sama sekali tidak bisa mewujudkan harapannya!”


“Perasaan gak bisa dibuat untuk main-main, Nachya! Kamu harus tahu itu!”


“Yang aku cinta, aku suka, aku sayang itu KAMU, Nachya! Bukan Monica!” lanjut Adit lagi menekan kalimatnya sambil mengusap wajahnya kasar.


Kali ini Nachya mulai merasa bersalah sudah bertindak semaunya sendiri demi melepaskan dirinya dari masalah. Nachya juga hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah Pak Adit.


“Maaf!” satu kata yang keluar dari mulut Nachya seketika menggetarkan hati Adit.


Adit perlahan memegang tangan Nachya dengan sangat lembut dan mengangkat dagu Nachya. “Look at me, Nachya!” pinta Pak Adit dan Nachya pun menggerakkan bola matanya untuk menatap Adit.


“I do love you, Nachya!” Pak Adit mengungkapkan perasaannya kepada Nachya untuk yang ketiga kalinya.


“Aku benar-benar sangat mencintaimu, dan aku juga siap menunggu mu sampai kapan pun kau siap menikah denganku!”


Papa Hendy, Adel, dan juga Boy yang berdiri di pinggir taman tanpa sengaja mendengar pernyataan cinta Adit kepada Nachya. Papa Hendy langsung memberi kode kepada Adel dan juga Boy untuk tidak mengganggu abangnya dan segera meninggalkan taman.


Boy pun langsung mengikuti langkah papa dan juga kakak perempuannya untuk meninggalkan taman sambil mengepalkan kedua tangannya.


‘Aku sudah kalah kali ini! Bang Adit sudah menyatakan perasaannya kepada Nachya,’ gumam Boy dalam hati yang langsung terduduk lemas di sofa.


Sedangkan Nachya justru memalingkan wajahnya dari Pak Adit dan mencoba melepaskan tangan gurunya yang masih menggenggam tangannya.


“Sekali lagi saya minta maaf sudah membuat Pak Adit marah kali ini!” ucap Nachya sambil menangkupkan kedua tangannya.


“Saya gak marah, Nachya. Saya Cuma butuh jawaban dari kamu!” desak Pak Adit.


Skak Mat!


Pak Adit langsung diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak mau jika nantinya ia terus mendesak, Nachya justru semakin jauh darinya.


Tiba-tiba ponsel Boy bergetar dan tampak ada pesan singkat dari Nachya yang masuk ke ponselnya.


✉️ Nachya


Boy, ayo pulang!


Boy tidak langsung menjawab pesan dari Nachya dan justru memandang ke arah taman. Tampak Nachya diam-diam memegang ponselnya di bawah meja dan menunggu pesan balasan dari Boy.


✉️ Boy


Sekarang?


✉️ Nachya


 Iya!


✉️ Boy

__ADS_1


Ayo masuk dulu, pamitan sama Papa Hendy!


✉️ Nachya


OK


Setelah menjawab pesan dari Boy, Nachya pun langsung menyimpan ponselnya ke dalam tasnya.


“Pak Adit!” panggil Nachya membuyarkan lamunan gurunya.


“Kita masuk yuk!” ajak Nachya.


“Tunggu dulu, Nachya!” Adit memegang pergelangan tangan Nachya dan menahannya untuk tidak pergi.


“Saya mohon tetap bersikap seperti biasanya dan jangan berubah! Jangan pernah menjauh dan menjaga jarak dari saya!” pinta Adit.


Nachya pun tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya, “Okey Pak!” jawab Nachya yang berusaha untuk biasa saja.


Padahal di dalam hatinya sudah bingung tidak karuan. Entah kenapa setelah mendengar Pak Adit mengutarakan perasaannya, Nachya justru merasa ingin menjauh dan menjaga jarak dengan gurunya yang satu ini.


Keduanya pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Nachya pun langsung mendekati Boy dan mengamit lengannya untuk segera berpamitan pulang.


“Ayo Boy!” ajak Nachya.


“Loh mau ke mana, Nachya, Papa malah belum ketemu loh sama kamu?” tanya Papa Hendy menyapa Nachya.


Nachya pun langsung berbalik dan menyalami tangan Papa kandungnya Boy.


“Hai Om!” sapa Nachya.


“Jangan om! Panggil saja Papa,” balas Papa Hendy sambil mengusap kepala Nachya.


“Kamu cantik banget yaa sekarang!” puji papa Hendy. “Dulu waktu kamu masih kecil, Papa sering loh liat kamu main boneka.”


“Sampai papa beliin boneka panda yang besar sekali!” lanjut papa Hendy bernostalgia.


“Oooh, berarti boneka panda yang sebesar Papa Belva itu dari Om Hendy ya?” tanya Nachya mengingat ada satu boneka yang paling besar yang ia punya.


Papa Hendy pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Iya, Nachya. Itu dulu papa yang belikan. Kamu harus belajar panggil papa ya, jangan panggil Om!” pinta Papa Hendy lagi.


“Tapi Nachya lebih suka panggil Om Hendy! Gimana dong?!” balas Nachya.


“Oke deh, yang penting Nachya nyaman saja deh!”


“Ya sudah, kita makan siang dulu yuk! Kak Adel sudah siapin itu di meja makan!” ajak Papa Hendy.


Akhirnya mau tidak mau Nachya pun menunda kepulangannya dan mengikuti ajakan Papa Hendy untuk makan siang bersama.


💕💕💕

__ADS_1



__ADS_2