
Adit yang melihat mobil Nachya sudah tiba di depan rumahnya, langsung cepat-cepat berdiri untuk menyambut kedatangan Nachya. Padahal Papanya sedang berbicara dengan Adit tentang perkembangan hotelnya kali ini.
“Pa, lanjut nanti lagi bahasnya! Nachya udah dateng tuh!” ucap Adit yang langsung memotong pembicaraan papanya dan bergegas keluar dari rumahnya.
Papa Hendy langsung mengernyitkan dahinya saat melihat Adit yang begitu antusias menyambut kedatangan Nachya. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Adel yang senyam senyum melihat kelakuan absurd abangnya.
“Kenapa tuh anak?” tanya papa Hendy kepada Adel.
“Bang Adit naksir anaknya Om Belva yang sekarang duduk di kelas 12, pa!” jawab Adel membuat Papa Hendy menepuk jidatnya.
“Anak baru gede udah diembat aja sama Adit?” gumam Papa Hendy yang tidak habis pikir dengan pemikiran putra sulungnya kali ini.
“Nah, itu dia pa!” balas Adel yang tak lama kemudian Adit muncul bersama Boy dan juga Nachya.
Papa Hendy langsung terhenyak melihat paras Boy yang tampak persis dengan dirinya saat muda. Bahkan Boy lebih tampan darinya dan tentunya tidak ada wajah Nuna sedikitpun yang menempel di wajah Boy.
Boy yang tampak sangat canggung pun langsung dipeluk erat dengan Hendy. “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Boy!” ucap papa Hendy terharu.
Boy hanya terdiam sambil membalas pelukan papanya. Ia tidak tahu harus memanggil pria yang ada di hadapannya dengan sebutan apa.
“Aku papamu, Boy. Papa kandungmu!” ucap Hendy Carlson sambil memegang kedua bahu putranya.
“Call me, papa!” pinta Papa Hendy membuat lidah Boy yang tadinya kelu mulai ia coba gerakkan untuk memanggil Hendy dengan sebutan papa.
“Pa-pa!” ucap Boy terbata-bata membuat papa Hendy kembali memeluk Boy dengan sangat erat.
Melihat papanya sedang meluahkan kerinduannya dengan Boy, Adit pun mengajak Nachya ke taman untuk memberikan ruang kepada papanya dan juga Boy.
“Kita ngobrol di taman yuk, Nach!” ajak Pak Adit yang langsung menggandeng tangan Nachya dan mengajaknya ke taman.
Nachya pun menurut saja tanpa ba bi bu lagi. Sesampainya di taman, Nachya langsung tersenyum melihat waffle keju dan sandwich yang sudah tersedia diatas meja taman. Bukan hanya itu, minuman favorit Nachya juga sudah tersedia di sana.
“Waaah, Pak Adit gak lagi nyuruh saya ngerjain soal matematika kan?” tanya Nachya sambil menarik kursi dan duduk dengan manis.
__ADS_1
“Apa di mata kamu itu saya soal matematika berjalan ya, Nach?” tanya Adit gemas sambil duduk di samping Nachya.
“Saya ini bikin sendiri loh, Nach. Spesial buat kamu!” Adit memotong waffle buatannya dengan pisau dan menyuapi ke arah mulut Nachya dengan garpu.
Nachya pun langsung membuka mulutnya dan menikmati waffle keju buatan Pak Adit. Rasanya memang sedikit berbeda dari waffle biasa yang ia beli di kantin. Yang ini lebih lembut dan nikmat menurut Nachya.
“Waah, ini lezat sekali Pak Adit!” puji Nachya yang seketika membuat Pak Adit langsung berbunga-bunga.
“Bapak cocok juga jadi penjual waffle di kantin sekolah gantiin Bu Siti, penjaga kantin!”
“Jadi sekali dayung, dua pulau terlampaui pak. Jadi pemilik sekolah udah OK, jadi guru math juga OK. Naah, sekarang jadi penjual waffle juga di sekolah.”
“Dijamin laris deh pak! Soalnya waffle buatan Pak Adit lebih nikmat dibandingkan buatan Bu Siti di kantin!” timpal Nachya membuat Adit langsung shock.
Baru saja melambung tinggi di atas awan, kini ia harus dihempaskan begitu saja oleh Nachya yang mengatakan jika ia cocok menjadi penjual di kantin.
“Tapi Nach, saya maunya bikin waffle khusus buat kamu. Gak buat yang lain!” jelas Adit yang ingin Nachya tahu jika perhatiannya kali ini khusus ditujukan untuk Nachya.
“Yaah, kan sayang banget loh Pak Adit. Masa’ iya waffle senikmat ini cuma saya yang bisa merasakan.” Tanpa malu-malu, Nachya langsung mencomot sisa wafflenya dan menikmatinya langsung dengan tangan.
Deg!
Ucapan Pak Adit kali ini membuat Nachya tertegun.
‘Apa? Pak Adit barusan bilang sayang sama aku?’ tanya Nachya bermonolog dalam hati.
‘Jangan-jangan kali ini apa yang dikatakan sama Ruby bener lagi? Eh, tapi kan Ruby bilangnya -suka- bukan -sayang-.’
‘Duuh, bingung deh aku. Suka sama sayang itu beda kan?’
Nachya terus saja bergumam dalam hati. Melihat Nachya masih terdiam, membuat Adit semakin berani menggenggam tangan Nachya dan berniat untuk menyatakan perasaannya selama ini dengan Nachya.
“Nachya!” panggil Pak Adit membuyarkan lamunan Nachya.
__ADS_1
“Eh, iya pak!” balas Nachya.
“Saya suka sama kamu!” ucap Adit yang sudah mantap menyatakan perasaan yang beberapa hari ini terus mengganggunya.
“Bahkan perasaan ini muncul sejak pertama kali kita bertemu!” lanjutnya lagi.
Pyar!
Suara pecahan kaca langsung membuyarkan momen pernyataan Adit kepada Nachya kali ini. Adit dan Nachya sama sama langsung melihat ke arah sumber suara tadi.
Tampak Monica berdiri terpaku melihat kedekatan antara Pak Adit dan juga Nachya kali ini. Piring puding yang Monica bawa kini sudah berubah menjadi kepingan kaca.
“Pak Adit suka sama Nachya?” tanya Monica dengan mata yang berkaca-kaca.
Kali ini Monica datang bersama dengan papanya yang kini sedang berbincang-bincang dengan Miss Adel tentang perkembangan sekolah yang nantinya akan dipimpin oleh Miss Adel.
Karena Monica tidak mau menjadi obat nyamuk dalam perbincangan papa dan juga Miss Adel, Monica pun menanyakan keberadaan Pak Adit. Adel pun mengatakan jika abangnya kini sedang berada di taman bersama dengan Nachya.
Mendengar nama Nachya, Monica pun bergegas menuju ke taman dengan membawa piring yang berisikan puding yang ia buat khusus untuk Pak Adit.
Nachya yang paham jika Monica sangat mencintai Pak Adit pun langsung merasa tidak enak. Cepat-cepat Nachya berdalih untuk menyelamatkan dirinya.
“Ini semua gak seperti yang kamu kira Monica!” ucap Nachya. “Tadi Pak Adit cuma latihan buat mengutarakan perasaannya sama kamu!” jelas Nachya membuat Pak Adit dan Monica sama-sama tertegun.
“Iya kan Pak Adit?” tanya Nachya sambil mengedipkan matanya ke arah Pak Adit memberi kode agar Pak Adit meng-iya-kan ucapannya.
Sayangnya pak Adit langsung menggelengkan kepalanya dan tidak setuju dengan alasan Nachya kali ini. Melihat penolakan dari gurunya itu, Nachya pun langsung berbisik sambil memegang lengan Adit.
“Pak, tolong dong! Saya gak mau cari masalah sama Monica!” bisik Nachya mengiba. “Bisa-bisa nanti saya minta pindah sekolah lagi kalo punya masalah sama dia!” lanjut Nachya membuat Adit menghela nafasnya panjang.
Sedangkan Monica pun langsung mendekat ke arah Pak Adit untuk menanyakan kebenaran ucapan Nachya barusan.
“Apa benar sama yang diucapkan Nachya barusan, pak?” tanya Monica dengan wajahnya yang berbinar.
__ADS_1
💕💕💕