
Boy yang mendapatkan pesan dari Mama Ecca langsung merekahkan senyumannya dengan lebar.
'Mama Ecca memintaku untuk datang menjenguk Nachya?' tanya Boy salam hati sedikit tidak percaya.
'Berarti, aku gak perlu lagi dong kucing kucingan buat ketemu sama Nachya?'
'Oh My God, iki benar-benar berita terindah dalam hidupku.'
Boy yang masih berada di kampus pun langsung bersiap untuk bergegas menuju ke mobilnya. Sayangnya saat hendak beranjak pergi, lengannya ditarik oleh seseorang.
"Mau ke mana Boy?" tanya Bunga.
"Pulang!" jawab Boy singkat sambil melepaskan tangan bunga yang menggenggam lengannya.
"Anterin aku ke asrama yuk!" pinta Bunga.
"Maaf, aku gak bisa!"
Boy langsung meninggalkan Bunga begitu saja tanpa menghiraukan nya sedikit pun. Baginya kini menemui Nachya dialah hal yang paling penting.
"Tapi Boy, weekend ini kita jadi dinner kan?" tanya Bunga lagi yang terus saja mengejar langkah Boy.
"Gak bisa juga!" Boy langsung membuka pintu mobilnya dan bergegas meninggalkan Bunga yang masih berdiri di parkiran.
"Huft! Susah banget sih Boy ngedapetin kamu!" gerutu Bunga sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
☘️☘️☘️
Sesampainya di Rumah Sakit, Nachya pura-pura memejamkan mata saat Boy datang membuka pintu ruangannya.
Jika ditanya kenapa harus berpura-pura? Jawabannya karena Nachya sangat nervous bertemu dengan Boy meski ini sudah yang ketiga kalinya untuk Nachya.
Tidak hanya itu, Nachya juga sedikit salah tingkah setelah mendengarkan rekaman yang ada di ponselnya saat ia tidak sadarkan diri. Di mana saat di mobil, terdengar teman Boy mengusulkan untuk memberikan nafas buatan sepanjang jalan menuju ke rumah sakit.
Nachya paham betul tentang itu, sayangnya saat itu dia benar-benar tidak sadarkan diri. Ia tidak tahu apa jadinya jika Boy melakukan hal itu saat ia tersadar.
"Bagaimana keadaan Nachya?" tanya Boy sambil menyalami Uti Aleya.
"Sudah lebih baik, Boy. Duduklah di sampingnya!" pinta Uti Aleya sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di samping brankar Nachya.
__ADS_1
Papa Belva dan Mama Ecca tampak memejamkan matanya sambil bersandar di sofa. Mereka berdua tampak sangat kelelahan karena memang belum beristirahat setelah melakukan penerbangan panjang.
Boy pun langsung menggenggam tangan Nachya dengan sangat lembut membuat hati Nachya berdesir tidak karuan.
'Aduuuuh, kenapa jadi dag dig dug gak karuan gini sih?' batin Nachya.
Terlebih saat Boy memberanikan dirinya untuk mengecup punggung tangan Nachya di depan Utinya.
"Aku sangat sedih mendengar kabarmu dari Mama Ecca," tutur Boy yang memposisikan dirinya seolah-olah baru tahu jika Nachya sakit dari Mama Ecca.
Nachya pun langsung menarik tangannya dari genggaman Boy dan langsung menjewer telinga Boy tanpa ampun.
"Kamu mau pura-pura lagi ya sama aku, hah?!" tanya Nachya kesal.
"Mau berapa kali lagi berbohong?!"
"Siapa yang udah ngajarin kamu berbohong, Boy?!"
"Awh! Sakit Nachya!" pekik Boy sambil memegang telinganya yang mulai memerah karena Nachya benar-benar menarik telinga Boy sekuat tenaga.
"Ampun Nachya! Ampun!" teriak Boy yang tentunya membuat Papa Belva dan Mama Ecca terbangun dari istirahat mereka.
"Ya Ampun Nachya. Kamu ini kenapa sih?" tanya Mama Ecca tidak tega melihat Boy.
"Tanya aja nih sama Boy!" Nachya menunjuk ke arah Boy yang tampak seperti terdakwa di depan kekasihnya.
"Boy udah bohong apa aja sama Nachya!"
Papa Belva dan Mama Ecca pun langsung memandang ke arah Boy untuk meminta penjelasan.
"Memangnya kamu bohong apa lagi sama Nachya selain gak kasih tau sama dia jika kamu ada di London?" tanya Papa Belva dan Boy hanya menggelengkan kepalanya sambil mengedikkan bahunya.
"Boy juga gak tau, Pa!" balas Boy yang belum paham ke mana arah tuduhan Nachya.
"Yakin kamu gak tau setelah kamu kasih nafas buatan ke aku sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit?" tanya Nachya membuat semuanya sangat terkejut.
Terlebih dengan Boy yang sama sekali tidak menyangka jika Nachya mengetahui hal ini.
"Nach, bukankah waktu di mobil kau sama sekali tidak sadar? Bahkan tubuhmu juga sangat membeku!" tanya Boy membuat Papa Belva dan yang lainnya semakin terkejut saat mendengarkan cerita Boy barusan.
"Jadi kamu tahu kalo Nachya hampir saja kehilangan nyawanya?" tanya Papa Belva sambil menatap tajam ke arah Boy.
__ADS_1
"Tentu saja Boy tahu, Pa. Siapa lagi yang Tuhan kirim buat selametin Nachya kalo bukan Boy!" timpal Nachya.
"Cuma yang Nachya gak suka kenapa dia malah bohong seolah gak tau apa-apa!"
Kini gantian Mama Ecca yang langsung berdiri mendekat dan menarik telinga Boy yang satunya lagi.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal sama papa mama kalo Nachya kena musibah kayak gini, hah?!" tanya Mama Ecca geram.
Meski begitu, tarikan Mama Ecca di telinga Boy tidak sesakit tarikan Nachya tadi.
Kali ini Boy pun akhirnya mengakui jika ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Nachya. Bahkan Boy menceritakan semuanya secara detail.
Mulai saat Boy mengikuti Nachya di Westfield London dan mengetahui rencana jahat Dean. Kemudian menghajar Dean sampai babak belur dan akhirnya menemukan Nachya ynag sudah hampir membeku dengan keadaan terikat di sebuah pohon.
Mendengar cerita Boy barusan membuat Papa Belva dan Mama Ecca sangat bersyukur Nachya masih diberi kesempatan untuk hidup di tengah tengah mereka.
Jika tidak, sudah pasti kedatangan mereka di London merupakan hal yang paling menyakitkan.
"Jadi apa saja yang kau lakukan untuk membuat Nachya bertahan sampai di rumah sakit?" tanya Papa Belva untuk memastikan apa yang dituduhkan oleh Nachya tadi.
"Mengganti jaket Nachya... Lalu..."
"Membalurkan minyak ke sekujur tubuh Nachya..."
Mama Ecca langsung menutup mulutnya saat mendengar pengakuan Boy kali ini. Begitu juga dengan Nachya yang cepat-cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Dan juga memberikan nafas buatan untuk Nachya sampai di rumah sakit!"
"Tapi Boy tidak ada maksud macem-macem Pa selain berusaha untuk membuat Nachya tetap bertahan hidup!" jelas Boy mulai sedikit ketakutan mengingat apa yang menjadi larangan Papa Belva.
"Lalu dari mana Nachya tahu kalau Boy yang sudah menyelamatkan kamu?" tanya Mama Ecca mengingat semua orang menganggap Dean lah yang telah menyelamatkan Nachya.
Nachya pun memperlihatkan ponselnya yang sedari tadi ia gunakan untuk mendengarkan rekaman yang berhasil tersimpan sebelum daya ponselnya mati.
"Saat menjelajah di Epping Forest, Nachya sudah mencium gelagak aneh dari senior Nachya. Jadi, Nachya sudah siap merekam semuanya sebagai bukti jika suatu saat nyawa Nachya tidak tertolong!" jelas Nachya membuat semua yang mendengarnya sangat kagum dengan kecerdasan Nachya yang memang sudah tidak diragukan lagi.
"Kalau begitu serahkan rekamannya sama Papa, secepat mungkin Papa akan menangkap orang yang sudah mencelakai anak papa!"
"Dan untuk kamu Boy!" Papa Belva kini beralih menatap tajam ke arah Boy.
"Siapkan diri kamu sepenuhnya untuk menikahi Nachya!" titah Papa Belva.
__ADS_1
Kini gantian Nachya dan Boy yang sangat terkejut dengan perintah Papa Belva. Keduanya saling membeliakkan matanya dan melempar pandang dengan pandangan yang tidak percaya.