
Nachya langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Boy yang tadi sempat ditunjukkan papanya. Sesampainya di ruangan Boy, Nachya langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tampak Boy sedang sangat sibuk di depan komputer sampai tidak menyadari kedatangan Nachya. Sampai Nachya pun mengambil kursi yang ada di depan meja Boy dan duduk di samping Boy yang mode serius.
“Serius amat, Boy!”
Boy sedikit tersentak kaget saat melihat Nachya tiba tiba duduk di sampingnya.
“Kamu tiba-tiba udah di sini ajah sih!” celetuk Boy sambil menarik tangan Nachya untuk lebih dekat dengannya.
“Sini Nach, duduk di pangkuan aku!” pinta Boy yang entah kenapa sangat ingin memanjakan Nachya.
Nachya pun berdiri dan langsung duduk dengan posisi menyamping di pangkuan Boy.
“Dulu waktu kamu masih bayi tuh aku sering loh pangkuin kamu kayak gini!” ucap Boy bernostalgia.
“Tapi dulu kan aku gak seberat ini, Boy!” timpal Nachya yang mulai berani melingkarkan tangannya di leher Boy.
“Sama aja, Nachya! Bagi aku, kamu gak pernah berubah!” ucap Boy sambil menyelipkan beberapa helai rambut Nachya di belakang telinganya.
“Selalu cantik, imut, dan menggemaskan!” ucap Boy membuat wajah Nachya merona.
“Apalagi kalo pipi kamu lagi memerah kayak gini!” lanjut Boy lagi sambil mengusap pipi Nachya.
“Ck, Boy mah gitu!” timpal Nachya malu sambil memalingkan wajahnya.
Boy langsung menarik dagu Nachya agar tetap memandang ke arahnya. Kini kedua netra mereka saling bertaut. Hati keduanya pun sama-sama berdebar debar merasakan gejolak asmara yang sedang membara.
Perlahan Boy mendekatkan bibirnya ke bibir Nachya dan membuat Nachya langsung memejamkan matanya. Sedikit lagi bibir keduanya saling bertemu. Namun tiba-tiba pintu ruangan Boy terbuka.
“Boy!” “Nachya!”
Teriak Papa Belva dan Mama Ecca bersamaan membuat Nachya cepat cepat berdiri dari pangkuan Boy dan Boy langsung berdiri sambil menundukkan kepalanya.
“Maaf Pa... Ini salah Boy!” ucap Boy yang langsung mengakui kesalahannya di depan papa Belva.
“Nachya, sekarang kamu pulang sama mama!” titah Mama Ecca.
__ADS_1
“Dan kamu, Boy! Mama tunggu di rumah untuk menjelaskan semua ini!” lanjut Mama Ecca yang langsung menarik tangan Nachya keluar dari ruang kerja Boy.
“Baik Ma!” jawab Boy yang sudah siap untuk mempertanggungjawabkan semuanya.
Mama Ecca dan juga Nachya meninggalkan ruangan Boy lebih dahulu, sedangkan kini tinggal Papa Belva yang memandang ke arah Boy dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
“Maaf Pa. Boy memang salah dan Boy siap untuk menerima hukuman dari papa!” ucap Boy dengan tegas dan mantap.
“Huh!” Papa Belva menghembuskan nafasnya kasar sambil duduk di kursi Belva memijat kepalanya.
“Masalah Nachya belum kelar, ini malah kamu bikin masalah lagi!” gerutu Papa Belva.
Boy yang merasa sangat bersalah pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Sedangkan Papa Belva hanya memandangi Boy tanpa ada niatan untuk menghakiminya.
Kasus Boy kali ini hampir sama dengan kasusnya saat mencintai Ecca dimana saat itu Ecca merupakan adik dari Nuna yang pernah menyandang status sebagai istrinya.
“Apa yang kamu sembunyikan dari papa?” tanya Papa Belva yang menuntut jawaban jujur dari Boy.
“Boy sudah lama mencintai Nachya pa. Bahkan mungkin sejak Nachya lahir !”
“Boy sadar, bahwa perasaan ini sama sekali tidak dibenarkan. Maka dari itu, selepas SMP Boy meminta untuk melanjutkan sekolah di Ausie. Tapi ternyata setelah kembali ke sini perasaan ini bukan hilang, namun justru semakin kuat.”
Kisahnya benar-benar hampir mirip dengannya yang juga mencintai Mama Ecca sejak Mama Ecca lahir karena kebetulan orang tua Papa Belva dan juga Mama Ecca bersahabat sejak dulu.
“Terus, Nachya juga suka sama kamu?” tanya Papa Belva.
Boy hanya mengangguk menjawab pertanyaan papanya kali ini.
Sedangkan di sisi lain, Nachya kini sedang diinterogasi oleh Mama Ecca di parkiran mobil.
“Nachya ngapain tadi sama Boy?” tanya Mama Ecca to the point.
“Emmh, pacaran Ma! Kan hari ini Nachya baru aja ditembak sama Boy!” jawab Nachya dengan gaya polosnya yang khas.
“Berarti tadi Nachya mau cium-ciuman dong sama Boy?” tembak Mama Ecca yang langsung diangguki oleh Nachya.
“Iya, tapi kan gak jadi Ma!” balas Nachya dengan santainya membuat Mama Ecca menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
“Mama kali ini gak tau harus komentar apa tentang hubungan kalian berdua. Yang jelas, mama larang kamu berciuman sama siapa pun itu!”
“Entah sama Boy atau yang lainnya! Kamu udah besar sayang, bukan anak kecil lagi.”
“Mama takut berawal dari pacaran yang sampai ciuman bibir, kamu nantinya bisa hamil! Nachya gak mau kan cita-cita Nachya hancur gituh aja karena hamil diluar nikah?”
Cepat-cepat Nachya menggelengkan kepalanya. “Ya gak mau dong maa!” balas Nachya.
“Yaudah, kalo memang Nachya gak mau tolong jauhin itu!” nasehat Mama Ecca dan Nachya pun langsung menganggukkan kepalanya.
“Iya ma, Nachya gak akan ulangi lagi!” ucap Nachya sambil mengacungkan dua jarinya di depan Mama Ecca.
“Berarti Nachya boleh dong pacaran sama Boy?” tanya Nachya yang tidak bisa langsung dijawab oleh mamanya.
“Kalo masalah ini, kita nanti bicarakan sama papa ya!” jawab Mama Ecca yang sudah melihat papa Belva berjalan menuju parkiran.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Papa Belva, Mama Ecca dan juga Nachya memilih untuk diam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepala mereka.
Sesampainya di rumah, Mama Ecca pun langsung membahas masalah yang hari ini mereka hadapi. Mulai dari berita mengejutkan dimana Nachya diterima di UCL sampai pernyataan antara Boy dan Nachya dimana mereka berdua sudah sama-sama mengakui jika hubungan mereka saat ini adalah berpacaran.
“Ini gimana coba King Bee? Masalah dateng langsung bertubi-tubi kayak gini!”
“Bikin pusing deh ngeliat tingkah anak-anak sekarang!” gerutu Mama Ecca sambil menyandarkan tubuhnya di sofa kamar.
“Setelah aku fikir-fikir sih sebenarnya ini bukan masalah yang pelik!” balas Papa Belva sambil duduk di samping istrinya.
“Bukankah kita pernah mengalami masalah ini juga?” tanya Papa Belva membuat Mama Ecca pun langsung flashback pada masa lalunya.
Papa Belva pun kemudian menceritakan apa yang tadi diceritakan oleh Boy kepadanya. Begitu juga sebaliknya, Mama Ecca juga menceritakan apa yang Nachya ceritakan kepada mamanya.
“Kamu sadar gak sih sayang, Nachya itu sama persis loh sama mamanya dulu! Cantiknya, polosnya, dan dia juga udah bilang semuanya dengan jujur sama kita.”
“Dan tanpa disadari, Boy juga tumbuh besar seperti aku! Bahkan cara dia mencintai Nachya juga hampir sama dengan caraku mencintaimu!” lanjut Papa Belva sambil membelai istrinya mesra.
“Jadi... Kita harus gimana?” tanya Mama Ecca.
“Yaah, daripada pusing, gimana kalo kita bikin adik aja buat Nachya?” tawar Papa Belva yang langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style ke atas ranjang.
__ADS_1
Akhirnya bukannya membicarakan penyelesaian masalah yang kini mereka hadapi, Papa Belva dan Mama Ecca justru melampiaskan permasalahan mereka dengan hal yang lebih indah.