Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Tugas Nachya


__ADS_3


“Aku gak janji ya Boy, bisa bantu Kak Bunga sama yang lainnya. Tugas aku beneran numpuk banyak banget!” ucap Nachya saat Boy baru menceritakan rencana teman-temannya kepada Nachya.


“Aku juga gak maksa kok Nach! Nanti aku bantu ngerjain tugasnya yaa!” ucap Boy sambil mengusap kepala Nachya.


“Thanks Boy, mulai nanti malam aku harus lembur nih buat bikin desain bangunan yang nantinya akan dibuat maket!”


“Emang harus dikumpulin kapan, Nachya?” tanya Boy.


“Lebih cepat lebih baik, Boy. Kali ini desain bangunan yang aku buat plus maketnya akan dinilai sama arsitek London ternama!” jawab Nachya dengan mata yang berbinar.


“Jadi aku harus benar-benar fighting buat ini! Kamu tahu kan, aku bener-bener pingin banget jadi arsitek muda ternama, Boy!”


“Iya sayaang, aku bakal dukung kamu seratus persen buat jadi arsitek ternama!”


“Thanks a lot Boy! Kamu yang terbaik buat aku pokoknya!” puji Nachya.


Boy hanya tersenyum melihat kegembiraan istrinya kali ini. Keduanya pun kini saling berbagi cerita sampai mereka tiba di rumah.


“Kok tumben sepi amat, Boy?” tanya Nachya melihat rumah Boy seperti tidak berpenghuni.


“Siang tadi Papa Belva telfon dan kasih kabar kalau Papa, Mama, dan juga Uti sedang menghabiskan waktu mereka berkeliling London. Makanya aku tadi sebelum jemput kamu beli makanan dulu di kedai pinggir jalan Nach!” jawab Boy.


“Yuk masuk!” Ajak Boy.


Nachya pun membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Namun tangannya tiba-tiba ditarik oleh Boy saat ia hendak masuk ke dalam kamar yang ada di lantai bawah.


“Sayang, kamar kita ada di atas!” Boy langsung menggenggam tangan Nachya dan membawanya ke kamarnya yang ada di lantai 2.


Betapa terkejutnya Nachya saat melihat kamar Boy ternyata sangat besar dari dugaannya. Bahkan televisi yang ada di kamar Boy juga sangat besar seperti apa yang dikatakan oleh Boy tadi pagi. Tidak hanya itu, semua perlengkapan Nachya juga sudah tersedia di kamar Boy.


“Mandi dulu gih, aku mau angetin makanan buat kita makan!” titah Boy.


“Loh, jangan Boy! Nanti biar aku aja yang angetin makanan buat kamu!” balas Nachya. “Aku kan istri kamu!”


“Gak usah sayang, ini jadi tugas aku sebagai suami kamu! Kan aku udah janji bakal manjain kamu sebagai istri aku!” balas Boy membuat senyum Nachya merekah sempurna.


“Oke deh, aku mandi dulu ya Boy!”


Nachya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Boy kini turun ke bawah menuju ke pantry untuk menghangatkan makanan mereka berdua.


Setelah Nachya selesai mandi dan mengganti pakaiannya, ia pun menyiapkan air mandi untuk Boy dan juga pakaian gantinya. Boy yang baru selesai menghangatkan makanan mereka di pantry merasa takjub saat Nachya menyiapkan air hangat dan juga pakaian miliknya.


“Istri aku repot banget sih sayang?” Boy memeluk Nachya dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Nachya.


“Gak repot dong, Boy. Kan aku mau jadi istri yang baik buat kamu!”

__ADS_1


Boy pun langsung mendekatkan bibirnya untuk mengabsen bibir istrinya. Kecupan sekilas dari Boy namun sedikit lebih lama membuat Nachya langsung mendorong tubuh suaminya ke arah kamar mandi.


“Buruan mandi, sayang. aku udah laper nih!”


“Siap istriku sayang!” jawab Boy yang kini sudah berada di dalam kamar mandi. “Tunggu 5 menit yaa!” Boy langsung menutup pintu kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya dengan kilat.


Nachya hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Boy yang semakin lama semakin romantis memperlakukannya.


‘Ternyata menikah membuat hidupku semakin berwarna. Boy benar-benar sangat dewasa di usianya yang baru menginjak 20 tahun. Pantas saja Papa Belva sangat mantap untuk menikahkan aku dengan Boy di usia yang sangat muda.’


Baru saja Nachya memikirkan tentang Boy, Boy sudah berdiri di depannya dengan mengenakan bathrobenya.


“Boy, kamu mandinya cepet banget!” protes Nachya. Baru saja masuk ke dalam kamar mandi, Boy kini sudah keluar dan berdiri di hadapan Nachya.


“Kan aku gak mau kalo istriku nunggu lama dan kelaparan. Yuk, kita makan ke bawah!” ajak Boy tanpa mengganti pakaiannya.


“Boy, masa makan pake bathrobe gitu sih?” protes Nachya yang langsung mengambilkan baju ganti untuk Boy.


“Pakai baju yang bener dulu baru makan, aku tunggu di bawah ya!”


Nachya pun langsung keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Sedangkan Boy hanya bisa membuang nafasnya kasar.


“Padahal kan aku pingin habis makan terus olahraga di atas ranjang bareng sama kamu, Nach sebelum bantuin kamu ngerjain tugas!” gerutu Boy sambil mengenakan piyama yang sudah disiapkan oleh Nachya.


Sedangkan Nachya yang kini sudah berada di ruang makan pun langsung menata makanan untuk mereka berdua.


“Ck, Boy ini kenapa kelihatan makin cool aja sih! Padahal mandinya kayak bebek gak ada 5 menit udah selesai!” gerutu Nachya sambil menata piring di atas meja makan.


“Sabar Nachya! Sabar yaaa!”


Nachya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki Boy menuruni anak tangga.


“Nachya sayang!” panggil Boy sambil memandangi istrinya.


“Hemm!”


“Tugas kamu banyak banget ya?” tanya Boy.


“Iya sayaaaang. Kamu udah janji kan mau bantuin aku?”


“Inget yaa, Boy. Gak ada tangan nakal selama kita ngerjain tugas!” Nachya langsung memberi ultimatum seolah sudah sangat paham apa yang Boy inginkan.


“Tapi kalau udah selesai boleh nakal kan?”


Pertanyaan Boy kali ini membuat Nachya berpikir keras. “Setelah maketnya selesai, baru boleh nakal. Ini kan ngerjainnya harus mode serius, Boy!”


“Iyaa sayaaaang. Aku bakal serius kok bantuin kamu demi bisa nakal lagi sama istriku yang 5ek5i!”  balas Boy yang mulai menikmati makan malam mereka.

__ADS_1


Setelah makan malam, keduanya pun langsung fokus ke tugas Nachya untuk membuat desain bangunan. Kali ini Nachya meminta Boy untuk membantunya mengecek hitungan yang baru saja ia buat.


“Nachya, ternyata tugasmu benar-benar sangat memusingkan dari pada menghafalkan pasal-pasal dan menyelesaikan masalah Klien ya!” gumam Boy yang mengecek hasil hitungan Nachya yang sangat rapi dan teliti.


“Hemm!” jawab Nachya dengan berdehem pelan karena kini ia sedang membuat gambarnya.


Boy yang sudah selesai mengecek hitungan Nachya yang tidak ada salahnya satu pun kini bergerak menuju ke pantry untuk membuatkan minuman hangat untuk Nachya. Ia tidak mau mengganggu Nachya yang sedang membutuhkan konsentrasi yang ekstra.


“Belum tidur, Boy?” tanya Papa Belva yang baru saja pulang dengan Mama Ecca dan Uti Aleya.


“Belum, Pa. Barusan lagi nemenin Nachya bikin tugas!” jawab Boy.


“Yaudah, mama ke atas dulu ya. Mau ngeliat anak kesayangan mama dulu!” ucap Mama Ecca yang bergegas menemui Nachya.


Mama Ecca pun kini berdiri di pintu kamar dan memandangi putrinya yang masih fokus mengerjakan tugasnya. Saking fokusnya, Nachya sampai tidak sadar jika mamanya sudah berdiri dan memandang ke arahnya.


‘Ternyata Nachya benar-benar sangat menginginkan untuk menjadi arsitek muda ternama. Great Job My Baby Girl! Apa pun cita-cita Nachya, mama akan selalu dukung!’ gumam Mama Ecca dalam hati.


“Mama gak masuk ke dalam?” tanya Boy membuat Nachya langsung mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Mama Ecca yang sedari tadi memandangi putrinya.


“Hai Mama, masuk sini!” ajak Nachya dan Mama Ecca langsung menggelengkan kepalanya.


“No sayang, Mama tidak ingin mengganggumu mengerjakan tugas. Good Luck ya cantik, Mama istirahat dulu!” ucap Mama Ecca melambaikan tangannya ke arah Nachya.


“Thanks Ma, Good Night!”


“Good Night, Nachya. Boy, jangan ganggu Nachya dulu ya sebelum tugasnya selesai!” pesan Mama Ecca sambil menutup pintu kamar Boy.


“Siap Mama!” jawab Boy sambil memandangi wajah istrinya yang mode serius.


‘Kenapa kalo lagi serius gitu makin kelihatan cantik banget ya istri aku?’ gumam Boy dalam hati.


Waktu terus saja bergerak hingga kini menunjukkan jam 12 malam. Namun Nachya masih berkutat dengan tugasnya padahal Boy sudah menguap berkali-kali.


“Boy, kalo ngantuk istirahat duluan aja!” ucap Nachya yang masih berkutat dengan tugasnya.


“Gak sayang, aku belum ngantuk kok!” jawab Boy yang mempertahankan dirinya untuk tidak memejamkan lebih dulu dari Nachya.


Nachya pun akhirnya merapikan meja gambarnya dan menyusul naik ke atas tempat tidur.


“Maaf yaa, ternyata aku gak bisa bantu banyak!” ucap Boy yang merasa tidak enak dengan Nachya.


“Gak masalah Boy! Tidur yuuk. Aku tau kalo kamu udah ngantuk!”


Boy langsung tersenyum sambil mendekap tubuh istrinya. “I love you, cantik! Malam ini aku gak akan nakalin kamu!” ucap Boy sambil mengecup kening istrinya.


“I Love you too, Boy!” balas Nachya.

__ADS_1


“Tapi aku kangen dinakalin sama tangan kamu!” bisik Nachya membuat Boy langsung membelalakkan matanya.


 


__ADS_2