
Sesampainya di kamar, pandangan Nachya tertuju pada kotak hadiah yang diberikan Boy yang ada di atas meja rias. Nachya yang tidak sabar untuk membuka hadiah pemberian Boy pun langsung duduk di depan meja rias dan siap untuk unboxing kotak hadiahnya.
Nachya tertegun saat melihat ternyata isi di dalam kotak tersebut adalah boneka sangat besar yang divakum dan dimasukkan ke dalam kotak.
“Pantas ajaa dia minta aku buka kotak hadiahnya kalo udah sampe di sini! Ternyata kalo dibuka dulu kemarin bonekanya jadi gak bisa di bawa kesini deh!” gumam Nachya sambil membuka secarik surat cinta dari Boy.
Dearest Nachya, perempuan yang berhasil memporak porandakan hatiku.
Selamat datang di Kota London, Kota yang pertama kalinya membuat hatiku terasa begitu pedih dan pilu. Kau tahu Nachya, saat kau membuka kotak hadiah ini, aku sedang sangat merindukanmu. Aku benar-benar sangat ingin berada di dekatmu dan memelukmu dengan sangat erat.
Sayangnya aku tak mampu untuk melakukan itu, karena yang aku mampu saat ini hanyalah memeluk bayanganmu yang terus menjauh pergi meninggalkanku.
Aku sakit melepasmu pergi, tapi aku menikmati rasa sakit ini demi melihatmu bahagia, Nachya.
Nafasku juga terasa begitu sesak, saat aku harus mendengarkan ucapan selamat tinggal darimu.
Tanganku pun terasa sangat berat untuk melambai ke arahmu dan mengantarkan kepergianmu, Nachya.
Aku mengaku kalah, ternyata aku tak sanggup untuk jauh darimu.
Kali ini aku lemah dan rapuh, bahkan tak berdaya menghadapi semua kenyataan yang ada di hadapanku.
Tak ada lagi yang bisa aku harapkan selain pertolongan Tuhan. Aku hanya bisa memohon dengannya agar secepatnya bisa bertemu denganmu.
Yang aku mampu hanya berdoa agar kau selalu baik-baik saja, Nachya.
Semoga Tuhan segera memberikan keajaiban agar aku bisa memeluk sosokmu, menjagamu, dan terus berada di dekatmu.
Yang akan terus selalu merindukanmu, Gorila Tampan.
Tak terasa air mata Nachya jatuh membasahi pipinya saat membaca surat dari Boy. Tangannya pun langsung melingkar memeluk boneka besar pemberian Boy dengan sangat erat.
“Aku juga sangat merindukanmu, Boy!” rintih Nachya pilu.
__ADS_1
Ia pun segera mencari ponselnya dan mendial nomor ponsel Boy. Nachya sadar jika saat ini di Indonesia pasti sudah tengah malam. Namun, ia tidak sanggup jika harus menunggu pagi untuk menghubungi Boy.
Sedangkan Boy yang mendengar dering nada khusus di ponselnya pun langsung membuka matanya dan menerima panggilan Nachya.
“Boooooy! Aku rinduuuuu!” teriak Nachya di ujung panggilan membuat senyum Boy merekah sempurna.
“Ternyata malam ini aku sedang bermimpi sangat indah! Suara kekasihku terdengar jelas di dekatku!” balas Boy dengan suara khas bangun tidurnya yang terdengar begitu 5ek5i di telinga Nachya.
“Iiiiih, Boy! Ini kamu gak mimpi tauk! Melek dong! Masa’ iya ditelfon pacarnya masih merem aja!” gerutu Nachya membuat Boy langsung mengalihkan panggilannya menjadi video call.
Mendapati Boy mengalihkan panggilannya menjadi video call membuat Nachya cepat-cepat merapikan rambut dan penampilannya, baru setelah itu ia menerima panggilan video Boy.
“Hai cantik, aku juga kangen banget loh!” ucap Boy.
“Makasih ya Boy hadiahnya, aku suka!” tutur Nachya sambil memperlihatkan boneka besar yang kini ia peluk.
“Tapi ada satu lagi yang lebih aku suka!”
Boy mengerutkan keningnya, “Memang apa yang lebih kamu suka?” tanya Boy.
“Surat cinta dari kamu, Boy! Bikin hati aku meleleh tauk! Gak nyangka deh aku bakal dapet surat cinta kek gini!”
“Kayak lagi pacaran di jaman Pitechantropus Erectus!” timpal Nachya membuat Boy terkekeh pelan.
“Emangnya di zaman purba udah pacaran kayak gini? Kertas saja belum ada! Gimanaa sih kamu niiih!” balas Boy.
“Kamu makin jauh makin gemesin deh, Nach! Aku cium sini!”
Ucapan Boy barusan membuat Nachya membeliakkan matanya. Jantungnya seketika berdebar tidak karuan, padahal Boy saat ini posisinya sangat jauh darinya dan mereka hanya berkomunikasi lewat telepon. Namun entah kenapa Nachya justru merasa jika Boy saat ini sangat begitu dekat dengannya.
“Memangnya kamu mau cium yang sebelah mana?” tanya Nachya dengan gayanya yang menantang Boy.
__ADS_1
“Terserah kamu, Mau di kening, di pipi, atau di bibir kamu?” balas Boy membuat hati Nachya semakin berdesir.
“Gimanaa kalo aku gak mau semuanya?” tanya Nachya menutupi rasa gugupnya.
Sedangkan Boy yang melihat rona merah di pipi Nachya semakin getol untuk menggodanya.
“Aku cium di leher kamu ya, Nach! EMUAH!” jawab Boy di ujung panggilan yang seketika membuat Nachya meremang.
“Boy!” panggil Nachya dengan suaranya yang tercekat.
“Kenapa sayaaaang?” tanya Boy.
“Ck, kamu ini nakal banget sih! Bikin aku susah napas tauk!” gerutu Nachya yang sebenarnya sudah kalang kabut karena sikap Boy barusan.
“Kata siapa aku nakal? Kan aku cuma kangen sama kamu!” balas Boy yang terus memandangi Nachya dari layar ponselnya.
“Awaaas yaa kamu! Beraninya cuma di telfon doang! Mentang-mentang sekarang udah jauh ya!”
“Emangnya kalo akunya sudah deket, kamu mau apa?” tanya Boy.
“Aku akan buat kamu sesak napas juga kek aku!” jawab Nachya membuat Boy menelan ludahnya kasar.
“Ooooh, kalo gitu aku tunggu deh kamu bikin aku sesak napas!” balas Boy yang mulai merem4ng dengan ucapannya sendiri.
Malam ini Nachya benar-benar meluahkan kerinduannya dengan Boy. Nachya pun juga menceritakan siapa yang tadi menjemput mereka di bandara sampai ia berkali-kali menguap karena menahan kantuk.
“Sudah malem, sayang. Bobok gih biar aku pelukin dari jauh!” ucap Boy yang tidak tega melihat Nachya menahan rasa kantuknya.
“Kalo kamu mau pelukin aku, jangan pernah dilepasin ya Boy!” pinta Nachya sambil memeluk boneka pemberian Boy.
“Gak akan pernah aku lepasin, Nach!” balas Boy.
Lama kelamaan Nachya pun tertidur tanpa mematikan panggilannya. Sedangkan Boy yang melihat Nachya sudah terlelap masih enggan memejamkan matanya dan mematikan panggilannya.
Setidaknya rasa rindunya sedikit terobati dengan memandangi Nachya yang tetap tampak cantik meski sedang tertidur nyenyak.
__ADS_1
“Aku akan segera menyusulmu, Nachya! Good Night dan Have a Nice Dream!” ucap Boy di akhir panggilannya.
Nachya yang sudah terlelap pun tidak lagi mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Boy. Yang ia tahu malam ini mimpinya sangat indah.