
Nachya langsung menuju ke tempat pemberhentian bus sambil mengecek ke arah layar ponselnya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui jika sedari tadi ia melakukan panggilan dengan Boy.
“Hah, panggilan selama 38 menit?” gumam Nachya yang segera mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Ha-halo!” ucap Nachya terbata-bata.
Boy yang mendengarkan suara Nachya pun langsung menyahut panggilannya.
“Hai, sayang!” balas Boy membuat Nachya langsung merasa tidak enak.
“Boy, apa aku menelfonmu tadi?” tanya Nachya yang sedari tadi tidak merasakan ponselnya bergetar dan menerima panggilan dari Boy.
“Iya, aku rasa layarnya tidak sengaja terpijit olehmu!” balas Boy dengan santai. Padahal saat ini amarahnya sedang meledak-ledak karena ucapan Dean yang terdengar sangat jelas di telinganya.
“Jadi kau tadi mendengar percakapanku dengan Dean?”
“Oh My God! Maafkan aku, Boy! Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu sakit hati atau tersinggung. Aku benar-benar...”
Belum selesai Nachya melanjutkan kalimatnya, Boy sudah memotong penjelasan Nachya yang terdengar begitu canggung dengannya.
“Sssttt! Jangan diteruskan lagi, sayang. Keadaan belum sepenuhnya aman. Fokuslah dulu untuk menunggu bus yang akan mengantarkanmu pulang!” tutur Boy membuat mata Nachya berkaca-kaca.
“Dari mana kau tahu jika aku sedang menunggu bus?” tanya Nachya yang kemudian memasang earphone dan menyimpan ponselnya ke dalam sakunya.
“Aku tidak tahu, tapi aku merasakan bagaimana hebatnya calon istriku yang kini sedang berjuang untuk kembali pulang!” jawab Boy membuat senyum Nachya langsung merekah sempurna.
“Bus nya udah datang Boy, aku akan menghubungimu nanti sesampainya di rumah.”
“Okey, aku akan menunggumu, sayang!” balas Boy dan panggilan mereka pun terputus.
Kini Boy mengusap wajahnya kasar sambil memandang ke arah kalender yang ada di meja kerjanya.
“Dua minggu lagi aku akan datang Nachya!” gumam Boy yang sudah tidak tahan dengan rasa rindunya yang begitu menggebu di dalam dada.
“Meski aku dilarang untuk bertemu denganmu, tetap saja aku masih bisa melihatmu dari dekat dan menjagamu tanpa kau tahu, Nachya!”
☘️☘️☘️
Sedangkan di sisi yang lain, Akung Mario kini sedang mengecek bisnis mereka yang ada di Birmingham bersama dengan Opa Krish. Kemungkinan mereka akan berada di sana selama beberapa hari ke depan.
“Mario, jika nanti Dean berhasil menaklukkan hati Nachya, aku yakin bisnis property kita akan semakin berkembang dengan pesat!” ucap Opa Krish yang tentunya langsung diangguki oleh Akung Mario.
__ADS_1
“Benar katamu, Krish. Bahkan aku sendiri sudah tidak sabar menantikan mereka berdua bersanding. Sayangnya Nachya lebih keras kepala dari Ecca. Untung saja Dean melakukan pendekatan dengan perlahan, jika tidak, aku pastikan nantinya akan jadi fatal!” timpal Akung Mario.
“Dean itu merupakan salah satu most wanted boy di kampusnya, selain cerdas tidak ada wanita yang bisa menolak pesonanya!” tutur Opa Krish dengan penuh percaya diri.
“Kau tahu bukan bagaimana saat kita muda dulu?” tanya Opa Krish mengingatkan masa muda mereka berdua.
“Nah, sekarang Dean lah yang mewarisi ketenaranku, dan Nachya yang kini mewarisi ketenaranmu, Mario!” lanjutnya lagi membuat Mario terkekeh pelan.
“Benar katamu, Krish! Aku harap rencana kita bisa berjalan dengan baik tanpa halangan!” balas Akung Mario.
☘️☘️☘️
Nachya kini sampai di rumah dan langsung disambut dengan utinya. Sayangnya sambutan hangat Uti Aleya justru dibalas dengan wajah masam cucunya yang tampak terlihat kesal dan bahkan kecewa dengan Utinya.
“Nachya sayang... Kenapa wajahnya masam begitu sih?” tanya Uti Aleya sambil mengusap kepala cucunya.
“Harusnya Nachya yang tanya sama Uti, apa benar Nachya masih jadi cucu kesayangan uti?”
Pertanyaan cucunya saat ini membuat Uti Aleya sedikit terhenyak. Baru kali ini ia mendengar cucu kesayangannya berbicara ketus dengannya.
“Tentu saja, sayang. Nachya lagi ada masalah yaa?” tanya Uti Aleya dengan hati-hati.
“Nachya kecewa sama Uti!” tutur Nachya yang seketika terasa begitu sesak.
“Apa yang buat Nachya kecewa sama uti?” tanya Uti Aleya menahan dirinya agar air matanya tidak menetes di pipinya.
“Apa yang Uti dan Akung rencanakan untuk Nachya?”
Pertanyaan Nachya kali ini membuat Uti Aleya berpikir keras untuk mencerna pertanyaan Nachya barusan. Sayangnya ia benar-benar tidak tahu menahu ke mana arah pertanyaan Nachya kali ini.
“Apa maksud pertanyaan kamu sayang?” tanya Uti Aleya lagi.
“Kenapa akung dan uti tega merencanakan pertunanganku dengan Dean beberapa bulan ke depan?”
“Bukankah kalian sudah tahu jika Nachya memiliki hubungan khusus yang sangat serius dengan Boy?”
“Apa yang membuat kalian kecewa dengan Boy? Apa Boy pernah bertingkah yang buruk dan membuat kalian begitu kecewa terhadapnya?”
“Atau kekecewaan kalian hanya karena perbuatan Budhe Nuna yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Boy?”
“Kenapa kalian memandang Boy sebelah mata?”
“Apa Boy salah dilahirkan dari rahim Budhe Nuna?”
__ADS_1
Tangis Nachya kini pecah karena sudah tidak kuat lagi untuk menahannya. Sedari tadi ia sudah berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri agar tidak menangis.
Namun sekarang, pertahanannya sudah runtuh. Ternyata hidup jauh dari kedua orang tuanya tidak semudah yang ia bayangkan.
Melihat cucunya menangis, Uti Aleya pun langsung memeluk Nachya dengan erat. Sayangnya Nachya justru menolak pelukan utinya.
Penolakan Nachya kali ini begitu menyayat hatinya. Seumur hidupnya, baru kali ini Nachya seperti ini.
Tiba-tiba saja ponsel Nachya berdering dan tampak Mama Ecca melakukan video call. Cepat cepat Nachya menghapus air matanya dan menjawab panggilan dari Mamanya.
“Mamaaa!” panggil Nachya lirih.
“Nachya habis nangis yaa?” tanya Mama Ecca yang melihat wajah putri kesayangannya yang tampak sembab.
Nachya langsung memaksakan senyumannya dan menahan dirinya sekuat tenaga agar air matanya tidak kembali jatuh membasahi pipinya. Ia tidak mau mamanya melihatnya menangis.
“Nachya kangen saja sama Mama. Abis mama sibuk banget sampe jarang video call sama Nachya!” timpal Nachya.
“Maafin Mama ya sayaaang. Soalnya dari kemarin Mama bener-bener sibuk nyiapin keperluannya Boy!” jawab Mama Ecca yang tidak sadar jika seharusnya ia merahasiakan ini semua.
“Boy? Memang keperluan buat apa?” tanya Nachya membuat Mama Ecca tersadar jika ia hampir saja keceplosan.
“Oooh, ituu emm, keperluan Boy menghadapi klien di firma!” elak Mama Ecca sedikit tergagap.
“Bukannya Boy udah terbiasa menghadapi klien tanpa bantuan Mama?” balas Nachya.
“Betul sayang, tapi kali ini berbeda dari biasanya. Oh iya, Nachya sehat kan sayang?” Mama Ecca langsung mengalihkan pembicaraannya agar Nachya tidak membuatnya membocorkan rahasia.
“Uti masakin apa buat Nachya hari ini?” tanya Mama Ecca lagi.
“Nachya sehat Ma. Uti juga selalu masakin yang enak buat Nachya. Hari ini saja Uti kayaknya masak ayam bakar buat Nachya kalo dicium dari aromanya. Iya kan uti?” tanya Nachya kepada Uti Aleya seolah melupakan masalah yang baru saja terjadi.
“Tepat sekali tebakan Nachya!” timpal uti Aleya yang kemudian beranjak untuk menyiapkan makan siang untuk Nachya sambil mendengarkan percakapan antara anak dan cucunya itu.
Uti Aleya kini hanya bisa menangis dalam hati mengingat betapa kecewanya Nachya saat ia mengetahui bahwa Akungnya memiliki rencana untuk menjodohkannya dengan Dean, meski sebenarnya ia sendiri tidak ikut andil di dalamnya.
Bahkan ia juga tidak mempermasalahkan hubungan Nachya dengan Boy, karena ia juga sangat menyayangi Boy.
Yang membuat Uti Aleya sedih adalah saat mendapati Nachya yang justru tidak menceritakan sedikit pun masalah yang sedang ia alami kepada Mama Ecca dan justru menganggap seolah memang tidak ada masalah apa-apa.
‘Ecca, anakmu Nachya sudah tidak lagi manja. Dua minggu di London ternyata membuatnya bisa hidup mandiri dan tampak begitu bijak dalam menghadapi masalah yang kini sedang mendera.’ Gumam Uti Aleya dalam hati.
‘Nachya benar-benar sangat luar biasa. Maafkan uti yang belum berpihak denganmu, sayang. Tapi kali ini uti berjanji akan selalu berada di pihak kamu Nachya apa pun yang terjadi.’
__ADS_1
‘Bahkan Uti juga akan membuat Akung juga berpihak kepadamu, sayang. Karena kami tidak ingin membuatmu kecewa untuk yang kedua kalinya!’ batin Uti Aleya yang bertekad penuh dalam hatinya.