Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Mengidolakan Pak Adit


__ADS_3

Melihat Boy berdiri di pintu ruangan Pak Adit, Nachya langsung melambaikan tangannya ke arah Boy.


"Sini Boy, masuk dulu!" panggil Nachya. "Aku barusan dibeliin jajan nih sama Pak Adit!" lanjutnya lagi.


Boy pun langsung masuk ke dalam dan duduk tepat di samping Nachya. Kini Nachya pun berada di antara Boy dan juga guru matematikanya itu.


"Enak banget kayaknya, Nach!" tukas Boy yang langsung meraih tangan Nachya dan menggigit waffle yang masih dipegang Nachya.


"Jelas enak dong!" balas Nachya yang merasa biasa saja dengan tingkah Boy barusan.


Padahal Boy sengaja menggigit waffle di bekas gigitan Nachya.


"Cobain juga nih minumannya!" Nachya langsing mengambil coklat bubble gumnya dan menyodorkan ke bibir Boy.


Sikap Nachya kali ini membuat Boy sedikit terhenyak. Bagaimana tidak? Nachya justru menyodorkan minuman yang tentunya mereka berdua akan saling menikmati di sedotan yang sama.


"Gak papa nih aku minum?" tanya Boy sambil melirik ke arah Abangnya yang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Gak papa, minum aja!" jawab Nachya.


Namun saat Boy hendak mencicipi coklat bubble gum milik Nachya, cepat cepat Adit merebutnya dari tangan Nachya,


"Jangan dong Nach! Saya kan belikan ini khusus buat kamu!" ucap Pak Adit membuat Nachya sedikit terkejut.


"Emm, buat Boy udah saya pesankan sendiri tadi di kantin!" lanjutnya lagi.


"Boy, coba kamu buka kulkas yang ada di situ!" Adit menunjukkan kulkas yang ada di sudut ruangannya.


"Aku simpan minuman buat kamu di dalam kulkas biar dinginnya awet!"


Boy pun langsung berdiri dan berjalan menuju ke kulkas tersebut untuk mengambil minuman.


"Waaah, Pak Adit perhatian banget ya! Kalo gitu besok jangan sungkan untuk minta tolong sama saya lagi pak!" tukas Nachya yang kemudian menikmati minumannya.


Deg! Ucapan Nachya kali ini membuat dada Boy berdenyut nyeri.


'Ck, kalo cuma coklat bubble gum sama waffle juga aku bisa beliin buat kamu, Nach!' gerutu Boy dalam hati.


Ia pun cepat-cepat mengambil minumannya dan kembali duduk di samping Nachya.


"Harus perhatian dong, apalagi sama adek sendiri!" balas Pas Adit yang tiba-tiba mengusap kepala Nachya.


Sikap Pak Adit yang semakin berani kali ini membuat Boy semakin gusar. Terlebih ia sangat paham sikap Nachya yang sangat manja jika diberi perhatian lebih.


Namun ternyata dugaan Boy kali ini salah. Nachya justru langsung menjaga jaraknya dari Pak Adit dan lebih mendekat ke arah Boy.

__ADS_1


"Pak, jangan gitu dong tangannya!" tukas Nachya.


"Loh, kenapa memangnya?!" tanya Pak Adit yang sedikit tidak terima dengan penolakan Nachya.


"Nanti kalo ketahuan sama yang lain berabe pak! Apalagi kalo tiba-tiba tangan bapak refleks mengusap kepala saya saat di kelas."


"Saya gak mau punya masalah sama cewek-cewek yang mengidolakan bapak!" lanjut Nachya lagi membuat Boy tersenyum mendengar alasan Nachya kali ini.


"Memangnya siapa yang mengidolakan saya di sini?" tanya Pak Adit lagi yang mulai berbunga-bunga saat mendengar dirinya menjadi idola dari mulut Nachya.


"Waaah, banyak paaak! Gak bisa atuh disebutin satu per satu. Nanti yang ada saya makin haus lagi!" jawab Nachya sambil menggoyangkan cup minumannya yang udah tinggal setengah.


Lagi-lagi Pak Adit terkekeh mendengar jawaban dari Nachya.


"Termasuk kamu juga gak Nach?!" tanya Pak Adit.


Kini suasana seketika menjadi hening menunggu jawaban yang keluar dari mulut Nachya.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Boy kali ini yang carut marut menunggu Nachya menjawab pertanyaan Abangnya.


Begitu juga dengan Adit yang sudah berharap penuh jika Nachya juga termasuk dalam daftar siswi yang mengidolakannya.


"Emm, termasuk saya sih pak!" jawab Nachya.


Deg!


'Jadi Nachya bener-bener mengidolakan Bang Adit?' gumam Boy dalam hati.


Berbeda dengan perasaan Pak Adit yang langsung begitu bahagia mendengar jawaban Nachya.


'Pucuk di cinta, ulam pun tiba! Sepertinya beberapa langkah lagi aku akan bisa mendapatkan hatimu, Nachya!' gumam Pak Adit dalam hati.


"Tapi saya gak se heboh yang lainnya pak. Kalo temen-temen yang lainnya kan mengidolakan ketampanan bapak..."


"Kalo saya sih lebih suka dengan cara bapak yang bisa memberikan rumus mudah dan jitu dalam mengerjakan soal matematika!" jelas Nachya.


"Kalo di sekolah, guru idola saya pak Adit, tapi kalo di rumah, guru idola saya Boy dong!"


"Dia juga jago loh matematika nya. Sama kayak bapak!"


Ucapan Nachya kali ini membuat senyum Boy langsung terlukis di wajahnya. Ia fikir Nachya benar-benar mengagumi Abangnya, ternyata kali ini ia salah lagi dalam menduga tentang Nachya.


'Sepertinya aku harus belajar lagi untuk benar-benar memahami sikapmu, Nachya!'


'Jika tidak, aku bisa terkena serangan jantung secara mendadak karena tidak pernah paham dengan alur pembicaraan!' gumam Boy dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Pak Adit kini harus menelan pil kekecewaan karena jawaban Nachya sama sekali tidak sesuai dengan harapannya.


Padahal besok Adit sudah sangat ingin mengenalkan Nachya kepada Papanya sebagai wanita yang dicintai Adit saat ini.


"Oooh gitu ya?" tanya Adit sambil memegang dagu nya dan berfikir keras untuk menghadapi murid nya yang satu ini.


Nachya pun menganggukkan kepalanya. "Ya udah pak, kalo gitu saya pulang dulu ya!" pamit Nachya.


"Ayo Boy!" ajak Nachya sambil meraih tangan Boy.


"Tunggu dulu Nachya!" cegah Pak Adit.


"Saya sedikit ada perlu dengan Boy. Bisa saya berbicara dengannya sebentar saja?" tanya Pak Adit dan Nachya pun langsung melepaskan tangan Boy.


"Bisa pak! Ya udah saya permisi dulu ya!" jawab Nachya.


Boy pun langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada Nachya dan meminta Nachya menunggu sebentar di mobil.


Sepeninggalan Nachya, Pak Adit pun langsung mengusap wajahnya kasar.


"Ya Ampun Boy! Nachya itu bener-bener tantangan berat untuk ditaklukin! Susah banget loh buat deket sama dia!" keluh Pak Adit.


"Nachya emang gitu anaknya, Bang! Ya saran aku sih jangan dipaksain!" timpal Boy yang sangat ingin membuat Abangnya menyerah untuk mendapatkan Nachya.


"Nachya kan masih kelas 12 SMA, toh dia juga harus fokus untuk kelulusan dan tes masuk ke perguruan tinggi!" lanjut Boy lagi.


Kali ini Adit membenarkan ucapan adiknya, terlebih ia tidak ingin menjadi penghalang dalam kesuksesan Nachya.


Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, perasaannya begitu menggebu untuk memiliki Nachya.


"Terus sekarang baiknya gimana Boy?!" tanya Pak Adit mencari solusi.


Kali ini Boy mulai bimbang menjawab pertanyaan Abangnya. Jika ia membeberkan apa kesukaan Nachya, berarti dia justru membantu rivalnya dalam mendapatkan hati Nachya.


Boy menghela nafasnya panjang, "Sabar aja Bang!" jawab Boy sambil menepuk bahu abangnya.


"Tunggu Nachya lulus SMA dulu!" lanjutnya lagi.


"Yaaah, sambil abang liat-liat cewek yang lain. Barangkali ada yang cocok di hati abang,"


"Gak bisa gituh dong Boy! Aku bener-bener klik banget sama Nachya!" balas Adit gusar saat Boy menyarankan agar dia bersabar.


"Yah, aku akan tunggu Nachya lulus SMA deh sambil pendekatan. Tolong bantu aku ya Boy!" pinta Adit sambil menepuk bahu adiknya.


Kali ini Adit hanya tersenyum tanpa meng-iyakan permintaan Abangnya.

__ADS_1


"Ya udah bang, aku pamit dulu ya. See you, tomorrow!" pamit Boy yang bergegas keluar dari ruangan Adit.


☘️☘️☘️


__ADS_2