Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Kedatangan Boy


__ADS_3


Tengah malam saat Nachya sedang terlelap dalam tidurnya, tiba tiba ia merasakan ada yang memeluknya dengan sangat erat. Tidak hanya itu, ia pun menghirup aroma yang sangat ia kenal.


Namun karena tubuhnya sangat lelah, Nachya pun sangat berat untuk membuka matanya. Meskipun begitu tangannya membalas pelukan orang yang saat ini memeluknya.


“Aku sangat merindukanmu, sayang!” bisik Boy yang baru saja tiba.


Beberapa jam yang lalu saat Boy mendapatkan pesan dari istrinya, tiba-tiba Mr Kevin menghubunginya dan memberi kabar jika istrinya akan segera melahirkan. Akhirnya meeting yang akan dihelat dalam akhir pekan ini pun diundur secara mendadak karena memang yang dibutuhkan saat meeting adalah kehadiran Mr Kevin selaku pemilik perusahaan.


Kabar baik ini pun tidak disia-siakan oleh Boy. Rasa lelahnya seketika sirna begitu saja saat mendengar kabar jika meetingnya diundur. Akhirnya Boy pun langsung bersiap-siap untuk menyusul Nachya ke London.


Perjalanan selama tiga jam tidak terasa melelahkan untuk Boy yang akan bertemu dengan pujaan hatinya. Padahal mereka berpisah hanya dalam hitungan jam saja.


Bisikan Boy di telinga istrinya sama sekali tidak membuat Nachya terbangun. Ia hanya menggeliat pelan dan kembali tenggelam dalam mimpinya. Boy pun tidak ingin mengganggu tidur istrinya sama sekali. Ia pun hanya memeluknya erat dan menyusul Nachya ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Nachya sangat terkejut saat mendapati Boy tengah memeluknya dengan erat. Ia pun mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan pria yang kini sedang tidur bersamanya.


“Oh My God, kenapa mimpiku kali ini tampak seperti nyata?” gumam Nachya sambil mengucek matanya.


Suara Nachya barusan membuat Boy terbangun dari tidurnya. Tanpa menunggu lama lagi ia mengungkung tubuh Nachya di bawahnya.


“Ini memang nyata sayang!” bisik Boy yang mulai menciumi tengkuk leher istrinya dengan gemas.


“My Boo! Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini?” tanya Nachya yang masih belum percaya jika suaminya sudah berada bersamanya sepagi ini. Padahal semalam mereka baru saja berpisah.


“Tentu saja karena aku sangat merindukan istriku yang sangat 5ek5i!” balas Boy yang mulai membuka kancing piama yang kini dikenakan oleh Nachya.


“Katakan padaku, apa yang kau mimpikan semalam sayang!” pinta Boy sambil memandangi istrinya secara intens.


“Entahlah sayang, yang jelas tidurku sangat nyenyak semalam. Bagaimana dengan meetingnya?” tanya Nachya sambil mengalungkan tangannya di leher Boy.


Sayangnya Boy tidak dijawab pertanyaan istrinya melainkan ia justru membungkam bibir istrinya dengan pa9utan mesra.


“Sebentar lagi aku akan meeting bersamamu, sayang!” tutur Boy lagi sambil kembali mema9ut bibir istrinya.


Kali ini Nachya pun tidak ingin bertanya lagi bagaimana suaminya bisa ada bersamanya sepagi ini. Ia pun membalas permainan suaminya yang sebenarnya juga sangat ia rindukan. Nachya dengan sedikit 94n45 membalas pagutan Boy dan membuat pagi mereka sedikit mem4n4s.


Sayangnya baru saja mereka hendak meluahkan kerinduan mereka berdua, terdengar pintu kamar mereka diketuk berkali-kali dan memanggil nama Boy. Hal ini membuat Nachya sedikit mendorong tubuh Boy untuk menghentikan pa9utannya.

__ADS_1


“Sayang, Uti Aleya ...”


“Sssttt.. Aku yakin itu bukan Uti Aleya!” balas Boy.


Benar saja dugaan Boy kali ini, tak lama kemudian terdengar suara keributan di luar kamar Boy dan Nachya.


“Hei, jangan ganggu cucu-cucu Uti Aleya. Kalau kalian mau membicarakan proyek kalian, bicarakan saja di ruang tamu!”


“Tapi Uti, kami kan sangat rindu dengan Boy! Masa’ sudah jam segini belum juga bangun!”


“Benar, Uti. Setidaknya Boy harus pengertian dong sama kita yang masih belum menikah!”


“Sudah, sudah! Tunggu saja di bawah! Kalau kalian masih ganggu cucu Uti, besok Uti gak akan jadi tampil dalam acara kalian!” ancam Uti Aleya.


Setelah Uti Aleya mengeluarkan ancamannya, tidak lagi terdengar keributan di luar kamar Boy dan Nachya.


“Apa mereka teman-teman kamu sayang?” tanya Nachya yang langsung diangguki oleh Boy.


“Jangan hiraukan mereka! Kita luahkan saja kerinduan kita saat ini!” balas Boy.


Kali ini Boy pun mulai mengabsen tubuh istrinya mulai dari leher dan turun ke bawah berhenti tepat di d4d4 istrinya yang kini menjadi tempat favoritnya.


“Emmh, Boy!” d354h Nachya saat Boy mulai memainkan ujun9 n!ppl3 Nachya dengan mulutnya.


“Saat awal menikah, ukurannya tidak 5ebe5ar ini sayang. Sekarang bahkan tanganku saja tidak cukup untuk menangkupnya!” tutur Boy sambil memainkan ujun9nya dengan jemarinya dan tentunya membuat Nachya m3n993linj4ng hebat.


“Ini juga kan gara-gara kamu My Boo!” balas Nachya yang sudah mulai tidak karuan.


“Tapi kamu sukaaa kaaan?” tanya Boy tanpa menghentikan jarinya yang terus membuat istrinya kalang kabut tidak karuan.


“I-iyaa sayaaaang. Tapi jangan siksa aku kayak gini dooong!” pinta Nachya yang mulai merengek manja.


“Terus kamu maunya apaa cintaaa?” balas Boy yang sengaja membuat istrinya sekali kali memohon kepadanya.


Tangan Nachya pun langsung masuk ke dalam b0xer milik suaminya dan langsung menurunkannya dengan kakinya.


“Mau inii!” rengek Nachya lagi sambil memegang senjata milik suaminya dan tentunya membuat Boy semakin gemas.


“Aku pingin merasakan tanpa pengaman boleh gak?” tanya Boy lagi yang langsung dijawab Nachya dengan gelengan kepalanya.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Nanti kalo aku hamil dan punya anak, jatah yang dua ini buat anak kita sayang.”


Jawaban Nachya kali ini membuat Boy langsung mengurungkan niatnya untuk mencoba melakukannya tanpa menggunakan pengaman. Bukan berarti ia belum siap memiliki anak bersama Nachya, tetapi ia belum pu4s menikmati yang dua milik istrinya itu dan tidak ingin berbagi dalam waktu dekat ini.


Ia pun langsung mengambil stok yang sengaja ia bawa, akhirnya pagi ini Boy dengan istrinya berhasil meeting khusus di dalam kamar mereka.


Tepat pukul 10 pagi, Boy baru saja keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk mengambil sarapan untuk mereka berdua.


Teman-teman Boy yang kini sedang berkumpul bersama Uti Aleya di ruang tamu pun langsung memandang ke arah Boy yang tampak sangat segar karena baru selesai mandi.


“Ehemm! Sepertinya olahraga Boy kali ini lebih menyegarkan dari pada saat kita berolahraga bersama ya!” celetuk Bara.


“Benar! Aku jadi tidak sabar untuk menyusul Boy menikah!” timpal Satria.


“Sebenarnya tidak perlu menikah juga bisa kali, Sat!” balas Bara lagi yang kepalanya langsung ditoyor oleh Uti Aleya.


“Hush! Ngawur saja ini bocah kalo ngomong!”


Sedangkan Gitta hanya geleng-geleng kepala mendengar celotehan kedua temannya. Berbeda dengan Bunga yang memandang sendu ke arah Boy yang sedang menuruni anak tangga.


“Udah deh, mendingan kita fokus dulu bahas yang ini!” pinta Bunga mengingatkan teman-temannya.


“Nah, bener itu kata Bunga! Mendingan kalian fokus dulu, baru nanti ngomongin masalah nikah!” balas Uti Aleya membela Bunga.


“Alaaah, bilang aja kalo cemburu!” tutur Bara sambil menunjuk ke arah Bunga.


Bunga pun langsung mendelikkan matanya ke arah Bara dan memberi kode kepadanya untuk tidak berbicara macam-macam. Sayangnya Uti Aleya dengan cepat menangkap ucapan Bara barusan.


“Cemburu? Cemburu sama siapa?” tanya Uti Aleya.


Cepat-cepat tangan Bunga langsung membungkam mulut Bara agar tidak mengatakan kepada Uti Aleya jika ia pernah menyukai Boy.


“Diem kamu Bara! Rese’ banget sih jadi temen!”


Namun Satria justru yang menjawab pertanyaan Uti Aleya kali ini.


“Bunga kan pernah jatuh cinta sama Boy, Uti!” tutur Satria.

__ADS_1


“Apaaaa?!” pekik Uti Aleya terkejut.


 


__ADS_2