
“Queen caa sayaaang!” panggil Papa Belva memanggil istrinya sambil mendorong stroller si kembar. “Lihatlaaah siapa yang datang!”
Mama Ecca yang sedang memasak di dapur pun langsung keluar untuk memenuhi panggilan suaminya. Langkahnya seketika terhenti saat melihat Boy dan Nachya berdiri mengapit suaminya. Matanya seketika berkaca-kaca dan tanpa menunggu lama air matanya langsung jatuh membasahi pipinya.
Perasaan rindunya kembali membuncah sampai Mama Ecca tidak sadar menjatuhkan sendok yang kini ia pegang. Nachya pun melihat mama Ecca yang sangat ia rindukan pun langsung berlari dan memeluk Mamanya dengan sangat erat.
“Mamaaaaa!” panggil Nachya yang terdengar begitu memilukan.
“Nachya sayaaang!” panggil Mama Ecca dengan suaranya yang tercekat. “Akhirnya kamu pulang sayaaaang!”
“Mama bener-bener sangat merindukan kamu, sayang! Mama gak kuat nahan rindu selama ini. Mama gak bisa lama-lama jauh sama Nachya! Ini sangat menyakitkaaaaan!” rintih Mama Ecca sambil memeluk putri kesayangannya.
Putri yang sedari dulu selalu ia manjakan dan sama sekali tidak lepas dari pandangan matanya sedikit pun, kini benar-benar sudah berubah menjadi perempuan yang sangat dewasa dan juga mandiri.
“Mama masih pingin manjain kamu lagi, sayaaaaang!” ucap Mama Ecca yang mebuat hati Nachya terasa tercubit.
Nachya pun sangat merindukan dimanjakan oleh mama dan juga papanya. Tapi kerasnya hidup di London benar-benar mengubah keseharian Nachya yang dituntut untuk struggle berdiri di atas kakinya sendiri bersama dengan Boy.
Kehidupan yang sangat berat dan mengharuskan Nachya kuliah sambil bekerja membuatnya tampak sangat menikmati kesibukannya selama ini. Jika ditanya apa yang membuat Nachya menikmati kesibukannya yang begitu padat, jawabannya adalah perhatian Boy yang sangat luar biasa dan jarang membuat Nachya marah bahkan kecewa meski hanya sedikit saja.
“Nachya juga sangaaat merindukan mama! Tapi andai mama tahu, Boy selama ini juga selalu memanjakan Nachya setiap hari!”
Ucapan Nachya kali ini membuat Mama Ecca semakin merasa bersyukur mempercayakan Nachya kepada Boy, anak yang sudah ia didik bersama Papa Belva sejak kecil.
“Terima kasih Boy, sudah menjaga istrimu dengan sangat baik!” ucap Mama Ecca.
“Bahkan Mama kini menemukan Nachya yang sangat luar biasa. Princess kecil Mama benar-benar tumbuh menjadi bidadari yang mandiri dan sangat tangguh!”
Nachya semakin mengeratkan pelukannya terhadapa Mama Eccaaa.
“Emmmmmh, Mama terlalu memuji Nachya. Bagi Nachya wanita yang paling hebat adalah Mama!” ba;as Nachya sambil mencium pipi mamanya berkali-kali.
Papa Belva dan Boy pun hanya melihat Mama dan Anak perempuan yang saling melepas kerinduan mereka seperti kakak beradik. Begitu juga teman teman Boy yang sedari tadi berdiri di depan pintu dan turut terharu melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
Mama Ecca yang mulai tersadar dengan kedatangan teman-teman Boy pun akhirnya mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam. Sedangkan Nachya dan Boy pun kini kembali menemui adik kembar mereka yang tampak sangat menggemaskan.
Boy dan Nachya pun masing masing menggendong kedua adiknya.
“Papa, bagaimana caranya membedakan mereka berdua?” tanya Nachya.
Meski ini pertama kalinya Nachya menggendong bayi, tangannya tidak terlihat kaku sedikit pun. Begitu juga dengan Boy.
“Biantara Quiero memiliki tanda lahir di belakang telinga kanannya.”
“Sedangkan Brianda Quiero tidak ada.”
Penjelasan papa Belva kali ini membuat Boy dan Nachya sama-sama mengecek ke belakang telinga adik mereka.
“Ini Bian!” ucap Boy sambil mencium pipi gembul adiknya.
“Oooh, berarti yang Nachya gendong dedek Brian dong. Iiiih lucunyaaa.”
“Besok kalau sudah gede mau jadi apa sayaaang?” tanya Nachya sambil mengusap pipi adiknya.
“Waaaah, Pak Belva sepertinya sebentar lagi akan punya cucu ini!” celetuk Bara.
“Bener banget, Bar. Kita aja dari kemarin masih kaku banget gendongin si kembar. Lah ini dua duanya sudah cocok banget jadi Daddy Boy sama Mommy Nachya!” timpal Satria.
“Yaa pasti kaku laaah, soalnya kan kalian berdua belum pernah merasakan surga yang ada di dunia!” timpal Boy yang lagi-lagi meledek temannya.
“Yaelaaah, gak ada hubungannya lagi!” balas Bara tidak terima dengan argumen Boy kali ini.
__ADS_1
“Jelas ada hubungannya dong Kak Bara, kalo belum merasakan surga, berarti selama ini kakak masih di neraka!” balas Nachya membuat Boy terkekeh mendengarnya.
“Haduuuuh, susah deh kalo ngomong sama kedua makhluk bucin ini. Sukanya bikin panas dingin!” balas Satria.
Kehangatan di rumah Papa Belva pun kini terasa kembali lagi saat kedatangan Boy dan Nachya. Bahkan Mama Ecca dan Papa Belva terus saja menyunggingkan senyuman mereka mendengarkan keramaian yang tercipta dari Boy, Nachya, dan juga teman-temannya.
Sedangkan di sisi lain, Adit yang mendengar kepulangan Boy dan Nachya ke Indonesia langsung bergegas menuju ke rumah Papa Belva. Begitu juga dengan Ruby, Ken, Tristan, Monica dan beberapa teman Nachya yang lainnya.
Kabar kepulangan mereka berdua setelah satu tahun berada di London langsung merebak di kalangan teman-teman Nachya dan juga Boy. Sudah bisa dipastikan jika besok rumah Papa Belva pasti akan ramai dengan kedatangan teman-teman Nachya dan juga Boy.
“Besok pasti rumah Pak Belva akan diserbu dengan teman-teman Boy dan Nachya yang sudah mendengar kepulangan mereka!” tutur Satria yang masih berada di rumah Papa Belva bersama Bara sampai malam.
“Tidak masalah, Satria. Saya akan menyiapkan ruang tamu, taman samping, dan juga teras rumah untuk menampung teman-teman Boy dan Nachya. Mamanya Nachya juga sudah memesan makanan untuk menjamu mereka besok!” jawab Papa Belva yang memang sudah menyiapkan semuanya.
“Kalau begitu besok kita siap bantu untuk mempersiapkan semuanya, Pak!” tutur Bara. “Iya kan, Satria!”
“Benar, Pak. Kami akan bantu mempersiapkan semuanya. Kasihan Boy dan Nachya pasti sangat lelah!”
“Waah, dengan senang hati! Terima kasih banyak ya sudah membantu Boy dan juga Nachya. Kalau begitu kalian tidak usah pulang, menginap saja di kamar tamu!” titah Papa Belva.
“Saat kami di London juga kami selalu dibantu dengan Uti Aleya, Boy, dan juga Nachya. Tanpa mereka bertiga kita bukanlah apa-apa pak!” timpal Satria.
Boy yang baru saja membersihkan badannya dan keluar dari kamarnya begitu terharu mendengar kesediaan Satria dan juga Bara yang ingin membantunya dalam menjamu kedatangan teman-temannya besok. Ia tidak menyangka jika kedua temannya ini benar-benar tulus berteman dengannya.
Tak lama kemudian terdengar bel rumah berbunyi dan Bik Surti langsung membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, tampak Ruby, Ken dan Monica sudah berdiri di depan sana.
“Selamat malam Om Belva, kami berdua boleh menginap di sini?” tanya Ruby meminta izin.
“Kami sudah sangat rindu dengan Nachya!” lanjut Monica yang sudah membawa tas punggung yang tentunya berisi dengan pakaiannya.
“Masuklah dulu, Ruby, Monica! Nachya masih ada di kamar, mungkin akan beristirahat.”
“Nah, kalau masalah menginap, boleh boleh saja. Tapi mungkin tidak satu kamar dengan Nachya. Nanti suaminya bisa gak tidur semalaman!” jawab Papa Belva dengan nada meledek Boy.
“Eh, gak kok Om. Cuma anterin mereka berdua saja!” jawab Ken yang memang tidak membawa persiapan apa-apa untuk menginap.
“Nginep aja Ken, ada Satria sama Bara juga kok!” ucap Boy menimpali.
Ken pun langsung mengangguk setuju dan menghambur memeluk Boy untuk meluahkan kerinduannya. Sedangkan kedua teman Nachya langsung naik menuju ke kamar Nachya.
“Nachyaaa, ini aku, Ruby sama Monica!” teriak Ruby sambil mengetuk pintu kamar Nachya.
Mendengar suara sahabatnya, Nachya yang kini sedang mengenakan pakaian dinasnya saat bersama dengan Boy pun langsung membuka lemarinya dan mengambil piama panjang miliknya. Setelah itu baru Nachya membukakan pintu untuk kedua sahabatnya.
“Nachyaaaa, I miss you so much!” Ruby dan Monica langsung menghambur memeluk Nachya.
“I miss you too sayaaaang!” balas Nachya membalas pelukan sahabatnya.
Keduanya pun langsung masuk ke kamar Nachya dan meluahkan kerinduan mereka.
“Kalian malam ini nginep kaaan?” tanya Nachya yang sudah melihat tas yang dibawa oleh Ruby dan juga Monica.
Kedua sahabat Nachya langsung menganggukkan kepalanya.
“Iya Nach, tapi sama Om Belva gak dibolehin bobok sama kamu karena kamu sudah nikah sekarang!” timpal Monica.
“Yaaah kalo suami aku bolehin kalian tidur di sini sih gak papa sebenernya!” balas Nachya.
“Cieee, sekarang bahasanya sudah beda euy! Manggilnya pakai sebutan suami aku. So sweet banget sih kamu Nach!” tukas Ruby.
“Harus so sweet dong. Biar hidup kita makin berwarna!” balas Nachya dengan penuh percaya diri.
“Berarti sekarang sudah tahu dong gimanaa ciuman yang bisa bikin bibir bengkak?” tanya Ruby mengingat kepolosan Nachya setahun yang lalu yang belum mengetahui apa-apa yang berkaitan dengan pacaran.
__ADS_1
“Ya sudah pinter dong pastinya, kalian gak menyusul nikah kayak aku?”
“Enak looh, nyesel deh kalo gak buru-buru nikah!” tutur Nachya mengiming-imingi kedua sahabatnya.
“Diiih, Nachya sekarang sudah dewasa banget euy ngomongnya. Kalah kita mah, By!” timpal Monica.
Mereka bertiga pun saling bertukar cerita sampai tak terasa waktu telah menunjukkan jam 12 malam. Tak lama kemudian Boy pun masuk ke dalam kamar Nachya.
“Boy, kita boleh tidur bareng istri kamu kan?” tanya Ruby meminta izin.
Sayangnya Boy langsung menggelengkan kepalanya. “Enak saja tidur di sini! Gak bisa!” jawab Boy dengan tegas.
“Itu, bik Surti sudah siapin kamar tamu di bawah buat kalian berdua. Gih buruan tidur! Ngobrolnya udahan, lanjut besok pagi lagi! Istri aku kan harus istirahat!” lanjut Boy yang terdengar begitu garang di telinga Ruby dan Monica.
“Nach, suami kamu galak banget ternyata. Perasaan dulu diem ajaa kalo ketemu!” gerutu Ruby sambil membawa tasnya dan siap menuju ke kamar tamu yang sudah disiapkan Bik Surti.
“Iya, suaminya Nachya ngeri ih. Yaudah kita ke bawah dulu yaaa. Met istirahat Nachya!” Monica pun bergegas meninggalkan kamar Nachya sambil melambaikan tangannya.
Nachya hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan ke arah kedua sahabatnya. Setelah kedua teman Nachya keluar dari kamar, Boy pun cepat-cepat mengunci pintu kamar Nachya.
“Sayaaaang, kamu galak banget tauuu sama mereka barusan!” protes Nachya saat Boy mulai mendekati istrinya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Nachya.
“Abisnya kalo gak diusir gituh, mereka gak tahu waktu, sayaaaang. Aku juga kan kangen pingin manja-manjaan sama kamu!” balas Boy sambil menggerutu.
Tangan Nachya langsung bergerak mengusap kepala suaminya dengan mesra dan kemudian mengecup kening Boy cukup lama.
“Namanya juga temu kangen sayang, apalagi udah setahun gak ketemu!” tutur Nachya membuat Boy langsung bangun dari pangkuan istrinya.
“Tapi aku lebih kangen sama kamu, istriku sayang. 3 jam loh nungguin kalian ngobrol berasa kayak 3 tahun. Lebih lama siapa coba yang menahan rindu?” tanya Boy yang sudah mulai mengungkung tubuh istrinya.
“Makin lama makin pinter ngegombal deh suami aku ini!”
Tanpa aba-aba Boy langsung men!nd!h tubuh istrinya dan mencium bibirnya dengan sangat lembut.
“Aku gak akan nakal malam ini, istriku pasti sudah capek banget. Apalagi besok akan banyak yang datang!” bisik Boy sambil merebahkan tubuhnya di samping Nachya.
“Makasih suamiku sayaaang, kamu perhatian banget sih!” puji Nachya sambil meletakkan kepalanya di atas dada bidang Boy dan Boy langsung merengkuh tubuh istrinya memeluknya dengan sangat mesra.
“Dulu kita sebelahan yaa kamarnya. Kamu tahu gak Nach, aku diem-diem suka ngintip kamu dari pintu kaca balkon loh Cuma pingin tahu cewek yang aku cintai itu lagi apa!”
“Kenapa mengintip sih gak langsung masuk ajah!” balas Nachya manja.
“Kalo langsung masuk, yang ada nanti kamu ngomel-ngomel lagi sama aku. Dan satu lagi, papa Belva sama Mama Ecca pasti langsung gantung aku di pohon!” timpal Boy sambil terkekeh mengingat nostalgia mereka saat masih menjadi tetangga kamar.
“Iya juga yaaa. Tapi kebayang gak sih kalo kita bakal jadi suami istri kayak gini?”
“Gak berani ngebayangin aku itu. Aku takut bagai pungguk merindukan bulan!”
“Kenapa gituh?”
“Karena kamu teramat istimewa, sayang. Dan sulit banget buat ngedapetin cewek secantik kamu. Gimanaa aku gak minder coba. Apalagi waktu aku tahu kalo ternyata aku Cuma anak seorang ...”
Belum selesai Boy melanjutkan ucapannya, Nachya langsung membungkam mulut Boy dengan lum4t4n bibirnya.
“Bagiku, kamu adalah lelaki idaman, sayang. Dan satu lagi, kamu adalah lelaki pilihan yang Tuhan kirimkan untuk aku!”
Nachya kembali mendaratkan bibirnya ke bibir suaminya, “Aku lelah, tapi aku mau. Sekali saja!” bisik Nachya membuat Boy yang tadinya sudah didera rasa kantuk langsung membelalakkan matanya dengan sempurna.
“Aku juga mau, sayang!” balas Boy membalas pa9utan istrinya.
“Kita buat yang kayak Bian sama Brian yuk. Lucu banget kan kalo kita punya mainan baru!” pinta Boy sambil memainkan rambut istrinya.
“Memang kamu sudah siap jadi Daddy?” tanya Nachya.
__ADS_1