Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Shock!


__ADS_3

Sesampainya di firma, Papa Belva dan juga Mama Ecca langsung bengong saat menerima surat panggilan untuk Nachya dari University College London. Keduanya saling melempar pandang dengan tatapan yang sama-sama sulit untuk diartikan.


Sedangkan Nachya yang mendapati orang tuanya terdiam cukup lama pun mulai bertanya-tanya dalam hati.


‘Papa sama Mama kenapa malah diem aja ya? Mereka paham gak sih sebenarnya dengan isi surat yang ada di dalam map itu?’ gumam Nachya dalam hati mengingat keseluruhan isi suratnya menggunakan bahasa Inggris.


“Papa... Mama...!” panggil Nachya membuyarkan lamunan kedua orang tuanya.


“Kok malah diem sih?! Apa isi suratnya perlu Nachya translate nih?” tanya Nachya kemudian.


“Emangnya kamu pikir papa gak bisa translate sendiri apa?” gerutu Papa Belva sambil memasukkan surat panggilan Nachya ke dalam map.


Perlahan Papa Belva menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


“Nachya sejak kapan daftar tes ini?” tanya Papa menyelidik.


“Awal semester 2 pa!” jawab Nachya yang memang sejak awal semester 2 ia benar-benar fokus belajar.


Boy yang memang sudah mulai disibukkan dengan berbagai tugas kuliah hanya sesekali menyempatkan diri menemani Nachya belajar. Sedangkan papa dan mama Nachya juga beberapa bulan terakhir ini sering menangani kasus di luar kota.


Jadi wajar jika mereka semua tidak tahu menahu sepak terjang Nachya yang berhasil mendaftarkan dirinya sampai di UCL (University College London).


“Kenapa tidak sampaikan dari awal kamu daftar, Nachya?” tanya Papa Belva lagi yang terdengar begitu kecewa. “Kenapa kamu justru menyampaikan ketika kamu baru lolos seperti ini kepada papa?”


Pertanyaan papanya kali ini justru membuat Nachya sedikit tersinggung. Matanya mulai berkaca-kaca sambil menatap papanya yang sebenarnya masih sangat terkejut dengan kabar yang Nachya bawa.


“Kenapa papa justru terdengar kecewa dengan pencapaian Nachya kali ini?” tanya Nachya yang tanpa terasa air matanya sudah mulai jatuh membasahi pipinya.


“Apa memang hanya Boy saja anak yang selalu membuat papa bangga?”


“Apa Nachya tidak bisa masuk ke dalam daftar anak yang papa banggakan?”


Tangis Nachya pun pecah seketika membuat Mama Ecca langsung berpindah ke samping Nachya dan memeluk putrinya.


“Lihat Ma! Papa Belva sangat jahat sama Nachya! Papa gak pernah bisa bangga sama Nachya!”


“Nachya Cuma bisa jadi anak yang bikin papa sama mama kecewa!”


Kali ini penilaian Nachya terhadap papanya terdengar begitu mencubit hati Belva. Bukan hanya Belva, bahkan Mama Ecca pun tercengang mendengar penilaian Nachya kali ini terhadap suaminya.

__ADS_1


“Gak mungkin dong sayang kalo papa gak bangga sama kamu!” sanggah mama Ecca sambil mengusap kepala Nachya.


“Papa juga gak mungkin berbuat jahat dengan anak kesayangannya!” lanjut Mama Ecca lagi.


“Tapi Maa.. Papa gak sayang sama Nachya, papa sayangnya sama Boy aja!” timpal Nachya.


Mendengar namanya terucap dibibir Nachya membuat Boy merasa tidak enak berada di ruangan tersebut. Boy pun keluar dari ruangan papanya dan menuju ke ruang kerjanya sendiri yang sudah disiapkan oleh papanya.


Papa Belva pun beranjak dari tempat duduknya dan kini ia duduk di samping Nachya yang masih memeluk mama Ecca.


“Maafkan Papa yang sudah membuat Nachya sampai memberi penilaian seperti pada papa!” ucap papa Belva sambil mengusap punggung putrinya.


“Selama ini papa selalu merasa bangga dengan Nachya dan sama sekali tidak pernah merasa kecewa sedikitpun, sayang!”


“Kali ini papa hanya sangat terkejut mendapat pencapaian Nachya yang sangat luar biasa dan tentunya jauh dari bayangan Papa! Bahkan papa dan mama belum pernah mencapai seperti yang Nachya capai saat ini!”


“Mana mungkin papa tidak bangga sayang!”


“Papa justru teramat sangat bangga sama Nachya kali ini!” ucap papa Belva.


Kali ini Nachya mengendurkan pelukannya dengan mama Ecca dan berbalik memandang ke arah papanya.


Nachya pun kali ini langsung menghambur memeluk papanya dengan erat. “Akhirnya papa bisa bangga sama aku!” teriak Nachya bahagia.


Papa Belva hanya tersenyum mendengar kegembiraan putrinya kali ini. “Bukankah papa memang selalu bangga sama kamu sayang?” timpal papa Belva.


“Tapi kan Nachya gak kayak Boy, pa. Yang udah punya pundi pundi uang karena bantu papa kerja!” lanjut Nachya lagi membuat Papa Belva kini sadar dimana letak kecemburuan Nachya terhadap Boy.


“Nachya sayang, kamu tau gak sih? Boy kalo dapet uang juga yang diinget itu pasti kamu loh!” timpal papa Belva yang sering menanyakan dengan Boy uang tip yang dia dapatkan untuk apa.


Boy selalu saja menjawab untuk mengajak Nachya nonton dan shopping. Sayangnya Papa Belva tidak pernah curiga dengan jawaban Boy.


Karena menurutnya, Boy memang menyayangi Nachya seperti adiknya sendiri.


“Nah, itu dia. Papa. Nachya juga pingin berubah biar tidak terus menerus menyusahkan papa, mama, dan juga Boy untuk memenuhi keinginan Nachya!”


“Tapi sayang, kita semua tidak pernah merasa begitu!” sanggah Mama Ecca. Jauh dalam lubuk hati Mama Ecca sangat keberatan jika Nachya harus berada jauh darinya.


Nachya yang manja, polos, dan semuanya serba dibantu oleh bik Surti, kini justru memutuskan untuk mengambil kuliah di tempat yang sangat jauh.

__ADS_1


“London itu bukannya deket loh, Nach! Perjalanan juga hampir 17 jam! Dan kita gak punya saudara di sana, Nachya!”


“Jujur, mama khawatir kalo harus melepas Nachya belajar di sana!” jelas Mama Ecca.


“Tapi kan Nachya udah besar, Mama! Boy juga tamat SMP langsung belajar di Ausie!” sanggah Nachya.


“Ausie tidak sejauh London, Nachya!” timpal Mama Ecca lagi yang kemudian mendapat tatapan protes dari suaminya.


“Pa...” panggil Nachya yang tentunya kali ini meminta dukungan papanya.


“Papa setuju kan Nachya memenuhi undangan ini?” tanya Nachya memohon dengan puppy eyesnya.


Mama Ecca langsung memberi kode kepada suaminya dengan menggelengkan kepalanya. Kini Papa Belva berada di ambang dilema. Jika nantinya iya menjawab setuju, sudah pasti istrinya akan protes habis-habisan.


Tapi jika Papa Belva tidak setuju, ia takut Nachya akan semakin menganggapnya tidak menyayanginya.


“Emmm, Nachya sayang... Nanti kita diskusikan hal ini bersama di rumah ya!” pinta Papa Belva membuat Nachya mengangguk lemas.


Semua tidak seperti apa yang ia duga sebelumnya. Nachya pikir berita yang ia bawa kali ini akan membuat orang tuanya sangat bangga terhadapnya. Namun ternyata mereka justru tampak sangat keberatan.


“Boy mana, pa?” tanya Nachya saat tidak menemukan Boy di ruang kerja papanya.


“Biasanya di ruang kerja Boy, Nach! Ada di lantai 2. Nachya mau kesana?” tanya papa Belva.


“Iya, mau ngajakin Boy pulang!”


Nachya pun berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruang kerja papanya.


“Nach, jangan lemes  gitu dong sayang! Mama janji akan bicarakan baik-baik di rumah dan tidak akan buat kamu kecewa!” tukas Mama Ecca.


Nachya hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


“Oke Ma, Nachya tunggu di rumah ya!” ucap Nachya sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan.


💕💕💕


 


 

__ADS_1


__ADS_2