
Nachya dan Boy masuk ke dalam dan memilih duduk di dekat pintu luar. Sejak acara dimulai, Adit benar-benar tidak lepas memandang ke arah Nachya dan tentunya membuat hampir semua keluarganya juga mengikuti arah pandangan Adit.
“Adit, jaga pandanganmu!” bisik Papa Hendy memperingatkan putranya.
“Hemm!” jawab Adit singkat yang langsung mengalihkan pandangannya dari Nachya.
Sedangkan beberapa keluarga besar Adit yang ikut hadir dalam acara tersebut pun mulai membicarakan Nachya yang sedari tadi menjadi bahan perhatian Adit selama acara dimulai.
“Wanita cantik yang duduk di dekat pintu itu sepertinya punya tempat khusus di hati Adit!”
“Benar! Buktinya sedari tadi Adit tidak lepas memandanginya!”
“Tetapi pria yang di sampingnya sepertinya kekasihnya. Cuma kalo dilihat-lihat kenapa mirip dengan Hendy ya?!”
“Nah, aku pun merasa begitu!” timpal Kakek Carls yang sedari tadi terus saja memperhatikan Boy dari tempat duduknya.
Adel yang mendengar kasak kusuk keluarganya pun turut menimpali. “Bukankankah kata orang kembaran kita di dunia ini ada 7 orang? Bisa jadi kan kalo kali ini Papa sudah menemukan kembarannya 1?” timpal Adel yang langsung menengahi kasak kusuk tersebut.
“Lalu, siapa perempuan cantik yang ada di sana?” tanya Kakek Carlson menunjuk ke arah Nachya.
“Itu sahabatnya Arini, calon istrinya Bang Adit. Namanya Nachya. Dia salah satu murid berprestasi di sekolah yang mendapat undangan scholarship di Universitas College London!” jelas Adel yang sangat bangga memperkenalkan Nachya kepada keluarga besarnya.
“Kenapa bukan dia yang Adit lamar? Kakek rasa Adit juga punya perasaan khusus dengan Nachya!” tanya Kakek Carl.
Adel menghela nafasnya panjang. ‘Ya, kalo disuruh milih sih semuanya pasti condong memilih Nachya. Sudah cantik, multi talenta pula. Tapi Bang Adit justru salah kamar kemarin!’ gumam Adel dalam hati.
“Emm, Nachya belum siap nikah dan masih ingin meraih cita-citanya sebagai arsitek muda!” timpal Adel.
“Ya, Adit juga kan masih bisa tunggu Nachya sampai lulus kuliah. Tidak perlu terburu-buru seperti ini!” balas Kakek Carl.
Sedangkan Nachya yang mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan beberapa keluarga Adit ke arahnya pun langsung berbisik ke arah Boy.
“Boy, aku mau keluar dulu ya cari angin!” bisik Nachya yang langsung diangguki oleh Boy.
Baru saja Nachya berdiri di depan pintu, tampak Monica yang mendatangi rumah Arini dengan tampang yang tidak terima. Untung saja Nachya langsung mendekat dan menyambut kedatangan Monica agar ia tidak berbuat keramaian di acara lamaran Arini kali ini.
“Hai Monica! Kamu dateng juga?” tanya Nachya sambil menarik tangan Monica untuk menjauh dari pintu rumah Arini.
“Ck, Lepasin aku, Nach!” pinta Monica dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku gak rela Mas Adit melamar Arini hari ini!”
__ADS_1
Tak lama kemudian Monica duduk di bangku panjang dekat pagar sambil menangis.
“Aku gak terima Nach!”
“Mas Adit nolak cinta aku buat perempuan yang tidak sebanding denganku!” tukas Monica dalam isak tangisnya.
Nachya pun langsung memeluk Monica dan menepuk punggungnya pelan.
“Aku pikir Mas Adit akan memilihmu, Nach! Karena aku pikir awalnya kamu lah wanita yang dicintai oleh Mas Adit!”
“Tapi ternyata malah justru Arini, wanita yang sama sekali bukan tandinganku!” protes Monica yang masih terisak-isak tidak terima.
“Jangan sedih ya! Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan pria yang tepat untuk bersanding denganmu, nanti!” balas Nachya yang mencoba menghibur Monica.
Meskipun awalnya mereka tidak pernah dekat, namun Nachya merasa tidak tega dengan teman sekelasnya itu.
“Jalan kita masih sangat panjang. Seharusnya kita tidak memikirkan untuk menikah terlebih dulu, Monica. Apalagi kamu adalah siswa yang cerdas!” ucap Nachya menyemangati Monica.
Namun apa yang ia ucapkan barusan sama sekali bertolak belakang dengan kata hatinya saat ini.
‘Meskipun saat ini juga aku rasanya ingin menyusul Arini untuk menikah dengan Boy. Tapi rasanya menikah tidak semudah yang aku bayangkan. Baru deketan sama Boy saja rasanya sudah gak karuan. Apalagi kalo harus ngebayangin malam pertama!’ tutur Nachya dalam hati.
“Bener juga kata kamu, Nachya!” balas Monica yang mulai mengendurkan pelukannya dengan Nachya dan menghapus air matanya.
“Tapi tunggu, Kenapa Arini dilamar sebelum pengumuman kelulusan ya?” tanya Monica yang sudah mulai curiga.
“Jangan-jangan Arini hamil duluan!” tebak Monica.
“Tentu saja tidak!” balas Nachya menutupi aib temannya. “Kakeknya Pak Adit memang sudah sangat menginginkan cucunya menikah!” lanjut Nachya yang mulai mengarang cerita.
Mendengar penjelasan Nachya barusan membuat Monica hanya bisa menghela nafasnya panjang dan pasrah.
“Jika memang seperti itu, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dan aku juga tidak ingin memberikan ucapan selamat kepada mereka!” balas Monica yang masih diselimuti rasa kecewa.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya!” pamit Monica sambil melambaikan tangannya ke arah Nachya.
“Bye Monica!” balas Nachya yang sudah siap untuk berbalik masuk ke rumah Arini.
Tapi saat berbalik, boy justru sudah berdiri di belakang Nachya.
__ADS_1
“Kita pulang sekarang, yuk!” ajak Boy sambil merangkul Nachya.
Kali ini Nachya tercenung mendapati Boy yang tiba-tiba merangkulnya. Setelah sekian lama, akhirnya Nachya bisa mendapati perlakuan mesra dari Boy lagi.
“Kamu udah gak takut kalo ketahuan sama papa?” tanya Nachya yang langsung dijawab Boy dengan gelengan kepalanya.
“Papa kamu udah kasih izin kok sama aku!” balas Boy sambil menoel hidung Nachya.
“Yang penting gag sampai ke sini!” lanjut Boy sambil mengusapkan jari telunjuknya ke bibir Nachya.
Blush!
Wajah Nachya langsung memerah dan ia pun langsung memalingkan wajahnya dari Boy.
“Aku itu paling suka kalo lihat kamu lagi malu-malu kayak gini, Nach!” bisik Boy membuat Nachya sedikit meremang.
“Makin cantik!” lanjutnya lagi membuat pipi Nachya terasa sangat panas.
“Jangan gituh dong, Boy!”
“Aku kan jadi malu!” rengek Nachya membuat dada Boy langsung bergemuruh kencang. Terlebih saat Nachya mulai melingkarkan tangannya di pinggang Boy.
“Sekarang kamu mau ngajakin aku ke mana?” tanya Nachya lagi.
“Lihat bintang di puncak yuk. Ada restonya juga. Banyak hal yang pingin aku omongin di sana!”
Nachya langsung mengangguk setuju mendengar jawaban dari Boy. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah Arini.
Sedangkan Adit yang melihat kedekatan Boy dengan Nachya pun langsung mengepalkan tangannya dengan geram.
“Aku yakin, Boy pasti tidak sekedar menganggap Nachya sebagai adiknya!” gumam Adit lirih.
Namun tiba-tiba saja Arini menghampirinya dan memegang lengan Adit dengan sangat mesra.
“Papa minta kita foto berdua!” ucap Arini membuat Adit langsung membuang nafasnya kasar.
Namun kali ini Adit benar-benar sudah tidak bisa mengelak lagi dengan apa yang sudah terjadi dengannya dan juga Arini.
__ADS_1