Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Kencan Pertama


__ADS_3

“Boy!” panggil Nachya.


“Memang aku anehnya di mana sih?”


Pertanyaan Nachya kali ini benar-benar sangat sulit untuk dijawab oleh Boy. Terlebih saat Boy melihat ke arah dada Nachya yang tentunya membuatnya menelan ludahnya kasar.


Cepat-cepat Boy memalingkan wajahnya, “Jangan kebanyakan tanya deh! Buruan yuk ke mobil!” ajak Boy mengalihkan pertanyaan Nachya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Nachya menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir.


“Boy, tunggu dong! Buru-buru amat!” teriak Nachya sambil mengejar langkah Boy.


“Emangnya kamu gak mau kencan sama aku?” tanya Boy yang seketika membuat mata Nachya berbinar.


“Mau banget dong!” balas Nachya.


“Yihaa! Akhirnya aku kencan jugaa!” ucap Nachya girang membuat Boy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


...💕💕💕...


Sedangkan di sisi lain, Adit yang mulai tersadar pun kembali mencari keberadaan Nachya.


“Nachyaaa...” panggil Adit dengan suaranya yang terdengar masih lirih.


Mendengar abangnya memanggil nama Nachya, membuat Adel langsung mendekat ke arahnya.


“Nachya sudah pulang, Bang! Kasihan dia kelihatan lelah dari tadi nungguin Abang di sini. Jadi aku suruh pulang tadi!” jawab Adel sambil menyodorkan minuman ke abangnya.


Senyum Adit langsung merekah mendengar sedari tadi Nachya menemaninya di sini.


“Meski dia masih sangat muda, dia nantinya akan jadi kakak ipar kamu loh, Del!” tukas Adit.


“Itu juga kalo abang semangat untuk sembuh. Mana mau Nachya punya suami yang sakit-sakitan kayak abang gini!” balas Adel.


“Hush, bentar lagi juga abang akan sembuh! Lihat saja, abang sudah gak muntah-muntah lagi kan kayak kemarin!” balas Adit yang memang sudah mulai membaik.


“Buktiin saja dulu bang! Kalo Abang sudah bisa kembali ke rumah, baru deh Adel percaya!” timpal Adel membuat semangat abangnya untuk sembuh semakin membara.


Saat Adel menemani abangnya, Papa Hendy memilih untuk mendatangi rumah teman Nachya yang bernama Arini untuk menanyakan tentang kebenaran cerita Nachya tadi. Kedatangan Papa Hendy pun langsung disambut dengan baik oleh keluarga Arini.


Ayah Arini tidak lagi meluap-luap seperti saat di rumah Nachya pagi tadi karena kejadian tersebut benar-benar membuatnya sangat malu. Setelah mendengarkan cerita dari Arini beserta beberapa bukti yang Arini miliki, Papa Hendy pun percaya jika yang ditiduri putranya memang benar-benar bukan Nachya, melainkan Arini.


Kali ini pun Papa Hendy langsung meminta maaf kepada kedua orang tua Arini dan mengatakan jika setelah Adit keluar dari rumah sakit, mereka akan langsung bertanggung jawab. Orang tua Arini pun langsung bernafas lega mendengar ucapan Papa Hendy kali ini. Setidaknya saat Arini hamil besar nanti, keluarganya tidak menjadi buah bibir tetangga.

__ADS_1


...💕💕💕...


Nachya yang kini sedang berkencan dengan Boy untuk pertama kalinya terus saja memanyunkan bibirnya. Padahal Boy sudah mengajak Nachya kencan di pantai untuk menikmati keindahan sunset. Siluet senja yang dipadukan dengan suara deburan ombak terasa begitu memanjakan siapa pun yang ada di sana. Sayangnya tidak untuk Boy karena sedari tadi harus melihat wajah Nachya yang sangat kusut.


“Aku beneran gak suka kencan sama kamu!” gerutu Nachya yang sedari tadi tangannya tidak lepas menggenggam tangan Boy.


“Apa enaknya pacaran kalo cuma pegangan tangan kayak gini?” tanya Nachya meluahkan rasa protesnya di mana Boy yang sejak tadi selalu menolak untuk dipeluk Nachya.


“Loh, sayang... Yang kayak gini juga kan harus dinikmati dong!” timpal Boy yang sudah menyiapkan stok sabar untuk menghadapi Nachya.


“Kamu tahu gak, yang duduk deket-deketan di sana!” Boy menunjuk ke arah sepasang kekasih yang tidak jauh dari mereka dan tampak sangat mesra. “Mereka juga pasti gak menikmati kencan mereka!”


Nachya pun melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Boy, di mana pacar yang laki-laki tampak memeluk mesra pacarnya yang perempuan.


“Ck, sok tahu kamu itu!” balas Nachya.


Tak lama kemudian dari arah yang berbeda datang seorang perempuan yang langsung menyiramkan air di wajah sepasang kekasih tersebut sambil marah-marah.


“Ternyata ini yang kamu bilang lembur ya!” teriak perempuan yang baru saja datang dan menyiramkan air.


“Bisa-bisanya kamu malah selingkuh saat anak kita lagi sakit, mas!” pekiknya lagi yang langsung membabi buta memukuli suaminya.


“Ternyata bener juga ya kata kamu, Boy!” gumam Nachya yang sudah tidak manyun lagi.


Perlahan Boy pun mengusap tangan Nachya dengan sangat lembut dan membuat hati Nachya mulai berdesir tidak karuan.


“Mesra tidak harus dari berpelukan, Nachya sayang!” ucap Boy yang terdengar begitu hangat di telinga Nachya.


“Akan ada saatnya nanti kita bisa terus berpelukan dan saling bermanja-manja satu sama lain!”


“Aku sangat mencintai kamu, dan aku akan tetap menjadikanmu permata di hati aku, Nach! Saat ini aku sedang berjuang agar nantinya bisa terus memeluk dan memanjakanmu setiap saat!” tutur Boy membuat hati Nachya meleleh.


“Kamu bisa sabar kan sampai waktu itu tiba?” tanya Boy sambil menyelipkan beberapa helai rambut Nachya ke belakang telinganya.


Nachya pun langsung menganggukkan kepalanya. “Ternyata jauh cinta seindah ini ya, Boy!” balas Nachya yang sudah tidak menuntut lagi untuk dipeluk Boy seperti tadi.


Boy langsung tersenyum mendengar ucapan Nachya barusan. Akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega karena Nachya sudah tidak lagi membuatnya kalang kabut.


“I love you so much, Boy. Emuah!” ucap Nachya mencium Boy dari jarak jauh.


Meski sama sekali tidak menempel dan Nachya juga masih dalam posisi awalnya, tetap saja membuat hati Boy kembali berdesir tidak karuan.

__ADS_1


“I love you too, Nachya!” balas Boy dengan sedikit terbata-bata.


“Ciumannya mana dong?” tanya Nachya yang tidak mendapat ciuman balasan dari Boy.


“Emm..”


Boy menelan ludahnya kasar, entah kenapa tiba-tiba lidahnya terasa begitu kelu.


“Boy...” panggil Nachya yang sedang menunggu balasan Boy.


“Emmm...”


Boy sedikit menundukkan kepalanya sambil meredam debaran jantungnya yang kembali bertalu-talu.


“Emuach!” balas Boy pelan namun terdengar begitu jelas di telinga Nachya.


Nachya pun langsung melepaskan genggaman tangan Boy dan menutup kedua wajahnya yang kini tersipu malu.


“Kenapa Nachya?” tanya Boy melihat Nachya justru menutup wajahnya malu-malu.


“Kamu nyium aku agresif banget sih, Boy?!” tukas Nachya berbunga-bunga membuat Boy langsung melongo.


“Haah?!” tukas Boy yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi di depan Nachya.


“Ciuman kayak gini saja bikin aku gak karuan tauk, Boy. Apa lagi kalo beneran ya?” tutur Nachya lagi membuat Boy langsung salah tingkah.


“Kamu bener-bener gemesin banget sih Nach!” timpal Boy sambil mengusap kepala Nachya.


“Bikin aku pingin gigit kamu, tauk!” lanjut Boy membuat Nachya langsung menepis tangan Boy dari kepalanya.


“Jangan digigit dong, sakit! Gimanaa kalo kita ciuman beneran aja?” tawar Nachya membuat jantung Boy terasa berhenti berdetak sesaat.


Melihat Boy tampak sangat terkejut dengan tawarannya, Nachya pun langsung menepuk tangan Boy sedikit keras.


“Gak lah Boy, aku Cuma gurau kali!” ucap Nachya sambil terkekeh.


Boy langsung mengepalkan tangannya geram. “Nachyaaa!” pekik Boy dengan suara tertahan.


Nachya pun kembali terkekeh sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


‘Oh My God! Bisa tidak waktunya dipercepat agar aku bisa segera mempersunting Nachya!’ teriak Boy dalam hati sambil terus menahan segala hasr4tnya yang terus membuncah setiap ada di dekat Nachya.

__ADS_1


__ADS_2