Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Boy Pamit


__ADS_3


Akung Mario dan Uti Aleya kini masih saling berdiam diri semenjak Nachya pergi dari kediaman mereka. Terlebih saat Nachya selalu saja tidak bisa ditemui setiap mereka berkunjung ke asrama membuat Uti Aleya semakin malas mengajak suaminya bicara.


Untuk apa keberadaannya di London jika Nachya kini tidak bersamanya? Kedatangannya di sini sedari awal juga untuk menemani Nachya. Namun rasa kecewa Nachya yang sudah begitu dalam terhadap suaminya membuat Uti Aleya bingung harus bagaimana.


Pulang ke Indonesia? Tentu saja bukan penyelesaian yang tepat. Apa yang ia sampaikan kepada anak dan juga menantunya jika baru satu bulan di London, mereka sudah membuat masalah dengan Nachya yang nota benenya selalu dijaga benar-benar dengan Belva dan juga Ecca.


Bahkan mereka berdua akan memastikan putrinya selalu dalam keadaan yang baik-baik saja. Kulit Nachya juga tidak mereka biarkan tergores sedikit pun, apalagi hati Nachya.


Belva memang sangat keras dalam mendidik Nachya. Tak jarang juga ia memarahi Nachya yang terkadang tidak menuruti perintahnya. Namun setelahnya, Belva selalu minta maaf dan menjelaskan alasannya kenapa ia harus memarahi putrinya.


Jadi mana mungkin Nachya bisa sakit hati terhadap kedua orang tuanya, jika didikan Belva yang seperti ini justru membuat Nachya tumbuh menjadi anak yang jujur dan bertanggung jawab.


Untuk masalah sikap Nachya yang manja, tentu saja Ecca lah yang tampak begitu memanjakan putrinya. Meski begitu, Ecca juga memiliki aturan tersendiri yang harus Nachya patuhi meski pun tidak sekeras aturan dari Belva.


“Sore ini kita coba ke asrama Nachya lagi yuk, sayang!” ajak Akung Mario sambil menikmati masakan istrinya yang sedikit hambar semenjak Nachya angkat kaki dari rumah.


“Bukan kita, kau atau aku yang akan ke sana?” balas Uti Aleya dengan ketus.


“Nachya lebih tidak mungkin menemui aku, sayang!”


“Kalau begitu biar aku saja yang akan pergi ke sana!” tegas Uti Aleya yang sudah begitu merindukan Nachya.


“Baiklah, sampaikan salamku kepada Nachya. Aku benar-benar sangat menyesal dengan apa yang aku ucapkan dan aku perbuat. Sampaikan juga maaf ku untuknya!”


Uti Aleya hanya berdehem pelan menanggapi ucapan suaminya kali ini. Ia pun kemudian meninggalkan meja makan dan bersiap untuk menuju ke asrama Nachya.


💕💕💕


Sedangkan di rumah sakit, Boy kini mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Nachya. Wajah Nachya yang tadinya begitu pucat dan hampir menyerupai mayat, kini sudah tampak lebih segar dari sebelumnya.


Perlahan Boy mendekat ke brankar Nachya dan duduk di sampingnya. Tangan Boy terulur untuk menggenggam tangan Nachya dan mengecupnya perlahan. Suhu tubuh Nachya juga sudah mulai normal, hanya saja Nachya memang belum sadarkan diri.


12 jam terlewati dan Boy masih setia menunggu Nachya sambil bolak balik masuk ke dalam ruangannya setiap satu jam sekali. Dokter juga sudah mengabarkan jika kondisi Nachya sudah semakin membaik.


“Kami sudah memberikan kabar kepada pihak kampus jika salah satu mahasiswanya ada yang dirawat di sini. Ternyata kakek dan neneknya juga tinggal tidak jauh dari kampus. Jadi kemungkinan mereka akan segera ke rumah sakit.”


Penjelasan dokter kali ini membuat Boy sangat terkejut. Ia tidak mungkin lagi berada di sini karena sebentar lagi Akung Mario dan Uti Aleya akan segera sampai. Meski kini waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.


“Baik dokter, tolong rahasiakan siapa yang sudah membawa Nachya kemari!” pinta Boy yang tentunya langsung disetujui oleh dokter tersebut.


“Kau benar-benar anak muda yang berjiwa besar, Nak. Aku doakan kau bisa meraih cita-citamu dengan baik!” tutur dokter tadi yang sangat kagum dengan Boy karena dia berhasil memberikan pertolongan pertama pada Nachya.

__ADS_1


“Terima kasih banyak atas doanya dokter, semoga Tuhan mendengarkan doa dari Anda!” balas Boy.


“Satu lagi dokter, sebenarnya saya tadi menemukan Nachya terikat di sebuah pohon di tengah Epping Forest!” Boy kali ini harus menceritakan apa yang Nachya alami kepada dokter untuk mengantisipasi jika Dean datang menjenguknya.


Dokter Erika sangat terkejut mendengarkan cerita dari Boy kali ini, memang saat memeriksa Nachya tadi terdapat guratan bekas ikatan yang cukup kuat. Hanya saja ia belum sempat untuk menanyakan hal tersebut dengan Boy.


“Tolong dengan sangat agar 2 orang yang ada di dalam foto ini tidak diperbolehkan untuk menjenguk Nachya. Saya tidak ingin ia kembali dalam bahaya!” pinta Boy yang tentunya langsung disetujui oleh Dokter Erika.


“Baiklah jika memang seperti itu. Saya akan memberikan informasi semua ini kepada suster jaga. Jangan khawatir, Naak. Pihak rumah sakit pasti akan menjaga keamanan pasien dengan baik!” tutur Dokter Erika membuat Boy kini bisa bernafas lega.


Sebelum meninggalkan rumah sakit, Boy kembali lagi untuk masuk ke dalam ruangan Nachya. Ritual yang sama kembali ia lakukan. Duduk di dekat Nachya, menggenggam tangannya dan mengecupnya berkali-kali.


“Aku benar-benar minta maaf, Nachyaku sayang. Kali ini aku harus kembali pulang.”


“Sebenarnya aku sangat ingin menunggumu membuka mata dan kemudian meminta maaf kepadamu karena sudah membohongimu tentang keberadaanku di London. Namun ternyata waktu dan kesempatan belum berpihak sepenuhnya terhadap kita!”


Boy terdiam dan mengecup tangan Nachya dengan sangat lembut.


“Awalnya aku sangat bahagia saat ada audisi pertukaran mahasiswa ke London. Tentunya bisa membawaku bertemu denganmu dan meluahkan kerinduan kita.”


“Sayangnya kabar ini langsung didengar oleh Akung Dion dan juga Akung Mario. Mereka berdua langsung melarangku untuk menemuimu, Nachya. Bahkan mereka juga mengancamku yang membuatku benar-benar tidak bisa berkutik lagi, Nachya!”


Boy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Terima kasih sudah bertahan sampai detik ini. Kau benar-benar wanita luar biasa yang aku kenal. Aku sangat mencintaimu Nachya.”


“Ponselmu tadi kehabisan daya dan kini sudah aku penuhi dayanya. Aku akan menelefonmu jika kau sudah sadar dan membaik nanti.”


Boy kini berdiri dan mencium kening Nachya cukup lama. Setelah itu dengan berat hati ia melangkah keluar dari ruangan dan meninggalkan Nachya.


Kepergian Boy kali ini membuat satu bulir air mata Nachya jatuh membasahi pipinya. Perlahan ia mulai membuka matanya karena sedari tadi dokter memeriksa keadaannya, ia sudah sadarkan diri.


Hanya saja Nachya meminta dokter untuk tidak memberi tahukan jika ia sudah siuman. Ia hanya ingin tahu siapa yang telah menjadi perantara Tuhan untuk menyelamatkannya.


Kini ia hanya bisa menangis saat mengetahui Boy lah yang sudah menyelamatkannya. Sedih, haru, bahagia, lega, semua rasa kini bercampur aduk menjadi satu.


‘Terima kasih Tuhan, sudah mengirimkan lelaki terbaik pilihanMu untuk menyelamatkanku.’


‘Aku pikir hidupku sudah usai, ternyata Tuhan masih mengizinkan aku untuk hidup!’


Senyum Nachya merekah seiring dengan deraian air matanya yang terus saja mengalir.


Tak lama kemudian pintu ruangan Nachya terbuka, cepat-cepat Nachya mengusap air matanya dan kembali memejamkan mata.

__ADS_1


“Nachya sayang!” terdengar suara Uti Aleya mendekat ke arahnya dengan suaranya yang sendu.


Terasa tangannya menggenggam tangan Nachya dan mengecupnya perlahan seperti apa yang dilakukan oleh Boy dengannya tadi.


Suara yang sebenarnya begitu Nachya rindukan 2 minggu terakhir ini. Sayangnya Nachya tidak langsung membuka matanya sebelum memastikan akungnya tidak bersama dengan Utinya.


“Maafkan Uti, Nachya sayang. Uti sudah berlaku jahat dengan Nachya! Uti mohon maafkan Uti, sayang!” pinta Uti Aleya membuat hati Nachya teriris.


Ia sangat tidak tega mendengar Utinya sepilu ini.


“Jika melihatmu seperti ini, lebih baik Uti saja yang mati. Uti benar-benar tidak kuat melihatmu seperti ini, Nachya sayang!”


Tangan Nachya pun langsung tergerak membalas genggaman tangan Utinya. Perlahan Nacya membuka matanya dan menarik bibirnya untuk tersenyum.


Senyuman dan genggaman Nachya kali ini membuat  hati Uti Aleya seperti disiram air dari surga, terasa begitu dingin dan menyejukkan.


“Nachya baik-baik saja, Uti!” ucap Nachya membuat tangis Uti Aleya pecah seketika.


“Jangan nangis dong, Uti!”


“Uti sangat merindukanmu, sayang. Uti benar-benar gusar 2 minggu tidak bertemu denganmu!”


“Nachya juga rindu, Uti. Tapi Nachya tidak mau bertemu dengan Akung!” tegas Nachya yang sama sekali tidak ingin bertemu dengan akungnya.


Tamparan Akung di pipi Nachya masih sangat melekat di pipi Nachya, belum lagi saat Akung Mario membentaknya dan mengatakannya lebih buruk dari Nuna.


“Uti pastikan akungmu tidak akan masuk ke dalam untuk menemuimu!” jelas Uti Aleya.


“Nachya laper, Uti!” Nachya mengusap perutnya yang memang belum terisi sejak siang. “Uti masak apa hari ini? Nachya kangen loh masakan Uti!”


“Emmm, sebenarnya tadi sore Uti mengunjungimu seorang diri sambil membawakan nasi goreng seafood kesukaan Nachya.”


“Terus, nasi gorengnya sekarang mana, Uti?” tanya Nachya yang tidak sadar jika saat ini sudah hampir pagi lagi.


Untung saja perawat masuk untuk mengantarkan makanan untuk Nachya dan memberitahukan jika Nachya masih belum diperbolehkan makan nasi goreng.


“Mohon maaf Nona Nachya, Anda belum diperbolehkan untuk makan nasi goreng. Kali ini saya akan menyuapi Anda bubur ayam, Nona,” tutur perawat tersebut.


“Biar saya saja yang menyuapi cucu saya, suster!” pinta Uti Aleya yang langsung ditolak dengan halus oleh perawat Nachya.


“Mohon maaf Nyonya, tuan penyelamat Non Nachya tidak memperbolehkan siapa pun menyuapinya!” balas perawat tersebut sambil mulai mengarahkan sendok yang berisikan bubur ayam ke mulut Nachya.


“Siapa dia?” tanya Uti Aleya penasaran.

__ADS_1


 


__ADS_2