
Boy menepikan mobilnya dan menatap ke wajah Nachya secara intens.
“Aku takut kau melupakan aku karena akrab dengan Ozzie, sayang.”
“Dia adalah arsitek muda yang kau kagumi, mandiri, dan satu lagi, tampan. Bagaimana aku tidak cemburu, sayang?”
Penjelasan Boy kali ini membuat Nachya menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian kedua tangan Nachya memegang pipi suaminya dengan sangat lembut.
“Aku hanya kagum dengan karyanya sayang, tidak lebih. Bagiku kau lebih luar biasa dari pria manapun. Tampan..” Nachya mengusap wajah Boy dengan jemarinya.
“Mandiri, sudah berpenghasilan sendiri di usia yang sangat muda, dan tubuhmu juga sangat atletis yang tentunya menjadi idaman semua wanita!” tangan Nachya kini turun ke bawah mengusap bahu Boy, kemudian ke dada bidangnya dan turun ke perut Boy yang lekukan sixpacknya begitu terasa di tangan Nachya.
Boy kini menelan ludahnya kasar mendengar jawaban Nachya. Tidak hanya itu, tubuhnya juga mulai m3n3gang akibat usapan lembut Nachya yang diam-diam membuatnya semakin ber94ir4h.
“Dan satu lagi, suamiku ini sangat pintar mem ...” tangan Nachya mulai turun ke bawah membuat Boy langsung memotong penjelasan istrinya dengan mendaratkan bibirnya di bibir Nachya.
Boy pun mulai meny354p dan mengabsennya dengan sangat lembut tapi menuntut sampai Nachya sedikit kewalahan mengimbangi permainan Boy kali ini. Keduanya kini saling mem49ut sampai Nachya hampir saja kehabisan nafas.
“Aku sangat mencintaimu, sayang. Kita lanjutkan di rumah yaa?” pinta Boy sambil mengusap bekas ciumannya di bibir Nachya.
“Lanjutkan apa memangnya?” tanya Nachya dengan nada yang sedikit menggoda Boy.
“Mencetak generasi istriku yang sangat cantik ini!” jawab Boy yang mulai kembali mengemudikan mobilnya.
Kali ini Boy sedikit mempercepat laju mobilnya sedikit cepat sambil tangan kirinya menggenggam tangan Nachya.
“Sayang, bisa tidak jika kita mampir dulu ke supermarket? Barang-barang di rumah sepertinya mau habis.”
Boy langsung menggelengkan kepalanya. “Besok masih ada hari sayang, kamu bisa belanja sepuasnya!” balas Boy yang sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah.
Nachya pun akhirnya menurut dan membalas menggenggam tangan Boy, bahkan sesekali mengecupnya dengan sangat lembut.
‘Baru ngelihat aku bareng Mr Ozzie aja Boy udah cemburu kayak gini. Apa lagi kalo nanti dia tahu kalo aku terpilih sebagai mahasiswa yang menemani Mr Ozzie mendesain rancangan Mall baru di Birmingham?’ gumam Nachya dalam hati.
‘Aduh, aku harus jelasin gimana ya sama Boy nanti?’
‘Kira-kira Boy bakal izinin aku atau gak ya?’
‘Aha, aku ada ide!’
Senyum Nachya langsung merekah sempurna sambil memandang ke arah Boy yang masih fokus mengemudi.
Tak lama kemudian, mobil Boy pun sampai di depan rumah. Boy meminta Nachya untuk diam dulu di dalam mobil karena ia ingin membukakan pintu untuk Nachya.
“Aku gendong ya sayang,” tawar Boy saat pintu mobil di sebelah Nachya terbuka.
Belum sempat Nachya menjawab pertanyaan Boy, tubuhnya sudah berada dalam rengkuhan tangan Boy yang sudah siap untuk mengangkat tubuhnya.
__ADS_1
“Boy, kamu kan capek!”
“Enggak capek sayang kalo Cuma gendong kamu kayak gini!” balas Boy membuat Nachya langsung mengalungkan tangannya di leher Boy.
“Tapi aku berat Boy!”
“Lebih berat cinta aku ke kamu Nach!” balas Boy lagi.
Nachya pun semakin mengeratkan pelukannya pada Boy sambil menempelkan kepalanya di dada bidang Boy dengan manja. Keduanya benar-benar tampak dimabuk asmara. Satu sisi Nachya yang memang sangat manja dan Boy yang begitu memanjakan Nachya.
Saat masuk ke dalam rumah, Uti Aleya yang sudah tidak asing melihat kemesraan cucunya hanya tersenyum sambil menonton televisi.
“Selamat sore, Uti!” sapa Boy dan Nachya hampir bersamaan.
“Selamat sore, sayang! Makan dulu gih, pesanan Boy buat Nachya udah Uti siapin di atas meja makan!”
“Uti gak ikut makan bareng sama kita?” tanya Boy sambil membawa Nachya ke ruang makan.
“Uti sudah makan, kalian makanlah berdua biar semakin romantis!” balas Uti yang masih asik menikmati sinetron kesayangannya.
“Uti emang yang terbaik!” puji Nachya. Tiba-tiba hidung Nachya mencium aroma makanan kesukaannya yang sangat sulit dijumpai di London.
Cepat-cepat ia turun dari gendongan Boy dan bergegas membuka tudung saji. Seketika matanya berbinar melihat makanan favoritnya yang sangat dirindukan kini tersaji di depan mata.
“Sate ayaaaam!” pekik Nachya dengan mata berbinar. “Dari mana bisa dapet sate ayam di sini?” tanya Nachya sambil mengambil satu tusuk sate dan mencicipinya.
“Waaah, rasanya sama persis kayak di dekat rumah Mama. Ini enak banget Boy!”
Nachya pun langsung duduk dan membalik piringnya untuk menikmati satenya. sedangkan Boy yang hendak menemani Nachya makan, tiba-tiba ponselnya berdering dan tampak nama Mr Kevin di layar ponselnya.
“Aku angkat telfon dari Mr Kevin dulu ya!” bisik Boy yang langsung diangguki oleh Nachya.
Boy pun langsung menjauh dari Nachya dan mengangkat panggilan dari Mr Kevin.
“Halo Mr Kevin, ada yang bisa saya bantu?”
“Boy, maaf mengganggu waktu istirahatmu. Kali ini aku benar-benar sangat membutuhkan bantuanmu, Boy!”
“Kolega bisnis di perusahaan milikku sedang ada masalah. Bisakah kau datang kembali ke perusahaan?” tanya Mr Kevin di ujung panggilan.
“Oke Mr. Saya akan segera ke sana!” jawab Boy yang kemudian menutup panggilannya.
Ia pun bergegas menemui Nachya yang masih asyik menikmati makan favoritnya.
“Sayang, ada sedikit masalah di kantor dan aku harus kembali ke sana sekarang!” ucap Boy sambil duduk di samping Nachya.
“Tidak apa-apa kan jika aku pergi?” tanya Boy meminta izin.
“Makanlah dulu sayang! Sedikit saja!” balas Nachya sambil menyuapi Boy.
__ADS_1
“Pergilah dengan hati-hati sayang. Jangan ngebut dan gak boleh capek-capek!” celoteh Nachya sambil menyuapi Boy.
“Jangan lupa do’a juga biar semua masalah kamu cepet selesai dan cepat pulang ke rumah. Aku akan menunggumu!” lanjut Nachya lagi membuat Boy sedikit berat meninggalkan Nachya.
“Siap istriku sayang! Terima kasih banyak sudah selalu mendukung pekerjaanku!” Boy pun berdiri sambil mengecup kepala istrinya.
“Aku akan segera pulang. I love you, Nachya!”
“I love you too, Boy. Hati hati yaaa!” Nachya berdiri untuk mengantarkan Boy sampai pintu rumah dan kembali lagi ke ruang makan untuk menikmati kembali makanannya.
“Boy, ke mana lagi sayang?” tanya Uti Aleya mendekat.
“Ada panggilan dari kantor, Uti!”
“Oh iya, Uti tahu gak dari mana Boy dapat sate ayam selezat ini?” tanya Nachya kemudian.
Uti Aleya langsung membuka pintu kulkas dan memperlihatkan beberapa tusuk sate yang masih mentah.
“Dari kemarin Boy latihan terus buat bikin sate ayam buat kamu Nachya. Dia sampai bela-belain belajar sama tukang sate yang ada di dekat rumah Mama.”
“Awal bikin, masih hambar saat Uti cobain, yang kedua kalinya terlalu asin,” Uti Aleya bercerita sambil terkekeh pelan.
“Yang ketiga kalinya hampir sempurna, hanya saja takaran kecapnya terlalu banyak. Dan ini adalah hasil karya Boy yang ke empat. Bagaimana rasanya?” tanya Uti Aleya.
“Ini sempurna Uti!” jawab Nachya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak mengira jika Boy berusaha penuh untuk membuatkan makanan favorit untuknya yang sudah lama ia rindukan.
“Uti sangat bahagia dan bersyukur atas pernikahan kalian berdua. Boy benar-benar lelaki terbaik untukmu, sayang!”
“Nachya pun merasa begitu Uti. Boy benar-benar sangat memanjakan Nachya!”
“Oh iya Uti, Nachya minta jamu racikan Uti yang dulu lagi dong!”
Mata Uti Aleya langsung terbelalak sempurna mendengar permintaan cucunya.
“Nachya tahu kalo itu ...”
“Tahu dong Uti. Nanti tolong buatin yaaa!” pinta Nachya sambil mengedipkan matanya.
“Siap sayang! Uti juga masih simpan kok racikannya!”
“Sekarang Nachya mandi dulu gih, biar Uti siapkan dulu pesanan kamu!”
Nachya pun langsung memeluk Utinya dengan sangat erat, “Thanks a lot, Uti!”
Ia langsung mengecup pipi Utinya berkali-kali. “Habis cuci piring, Nachya akan mandi!”
Kini Nachya langsung membawa piring kotornya ke tempat cucian piring. Setelah mencuci piringnya, ia pun bergegas menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1