Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Otewe Kencan


__ADS_3

“Boy, kamu bakal setia gak sama aku?” tanya Nachya yang sedari tadi memandangi Boy mengendarai mobil.


Tangan kiri Boy langsung menggenggam tangan Nachya dan mengecupnya pelan hingga membuat hati Nachya berdesir pelan.


“Harusnya aku yang tanya sama kamu, Nach!” balas Boy.


“Karena sampai kapan pun, aku akan terus mencintai dan menyayangimu!” lanjut Boy membuat hati Nachya sangat gembira mendengarnya.


“Apa yang bikin kamu cinta dan sayang sama aku, Boy?” tanya Nachya kemudian.


Boy kini menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan Nachya.


“Bukankah cinta terkadang tidak harus memiliki alasan khusus seperti yang kamu katakan kemarin?” balas Boy membuat Nachya mendengus kesal.


“Tapi aku mau alasannya, Boy!” desak Nachya membuat Boy berpikir alasan apa yang harus ia sampaikan dengan Nachya.


“Emmm, kamu serius mau tahu alasannya?” tanya Boy.


Cepat-cepat Nachya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Boy barusan.


“Yakin, mau tahu?” tanya Boy lagi memastikan.


“Iya Boy. Buruan dong jawabnya!" Tukas Nachya yang terus saja mendesak Boy.


“Ck, kamu ini ya maksa banget sih!” gerutu Boy.


“Kemarin waktu aku tanya juga aku gak desak kamu buat kasih alasan konkretnya!” protes Boy yang membuat Nachya langsung menepuk bahunya pelan.


“Udah lah Boy, tinggal jawab saja apa susahnya sih!” Lagi-lagi Nachya mendesak Boy untuk menjawab pertanyaan.


“Aku akan jawab tapi ada syaratnya!”


“Gak ada syarat apa-apa dong Boy! Pokoknya kalo kamu gak jawab, aku marah niih!” ancam Nachya membuat Boy langsung memutar bola matanya malas.


Jika sudah seperti ini, Boy tidak bisa berkutik lagi dan harus menuruti permintaan Nachya. Mana sanggup dia jika melihat Nachya marah dengannya. Apa lagi Nachya akan pergi meninggalkannya untuk melanjutkan kuliahnya di London.


“Iya deh iya!” balas Boy menyerah.


“Aku cinta dan sayang sama kamu karenaa...”


Boy sengaja memotong kalimatnya dan sengaja membuat Nachya menunggu. Tidak hanya itu, ia justru menepikan mobilnya dan berhenti tepat di bawah pohon besar di pinggir jalan.  Setelah itu Boy mengikis jaraknya dengan Nachya.


Hembusan nafas Boy yang mulai menyapu tengkuk lehernya membuat jantung Nachya mulai berdebar tidak karuan.


“Karena kamu terlihat begitu cantik dan 5ek5i di mata aku!” ucap Boy yang sengaja berbisik di telinga Nachya.


“Boy!” panggil Nachya dengan suaranya yang tercekat.


Nafasnya juga mulai terasa sesak terlebih Boy kini begitu dekat dengannya.

__ADS_1


“Aku menyukai rambutmu!” Boy mulai menyisir rambut Nachya dengan jemari tangannya.


“Tatapanmu!” telunjuk Boy mulai mengabsen wajah Nachya mulai dari pelipisnya dan turun ke bawah menyusuri pipinya.


“Hidungmu!”


“Pipimu!”


"Dan..."


“Bibirmu yang begitu sangat ingin aku nikm4ti!”


Kali ini Boy semakin memberanikan dirinya mengusap bibir Nachya dan tentunya membuat Nachya semakin tidak karuan kali ini.


“Oke, cukup Boy!” ucap Nachya sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


“Tapi aku belum selesai menjawab pertanyaanmu, Nachya sayang!”


Nachya mulai mengatur nafasnya yang sudah seperti orang yang baru saja lari maraton.


“Tidak perlu dilanjutkan, Boy!”


“Kenapa?”


“Aku sudah tidak membutuhkan jawabanmu!” jawab Nachya yang sudah mulai panas dingin saat ini.


“Kenapa tidak butuh? Bukankah tadi kau justru mendesakku untuk menjawabnya?!” balas Boy membuat Nachya menelan ludahnya kasar.


Boy langsung melebarkan senyuman di bibirnya mendengar jawaban dari Nachya barusan. Ia pun kembali menjalankan mobilnya sambil terus mencuri pandang ke arah Nachya yang asih tersipu malu.


“Baru kayak gini ajaa udah bikin kamu susah bernafas, Nachya! Apa lagi kalo aku...” Lagi-lagi Boy sengaja memotong kalimatnya.


“Apa lagi kalo kamu apa, Boy?” tanya Nachya penasaran.


“Apa lagi kalo nanti aku beneran cium bibir kamu!”


Nachya kini kembali memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Jangan ditanya bagaimana wajah Nachya kali ini yang tentunya sudah seperti kepiting rebus.


💜💜💜


Sedangkan di sisi lain, Adit yang sama sekali tidak menikmati acara lamarannya pun mulai jengah dan terus saja memainkan ponselnya tanpa mengajak bicara Arini yang kini duduk di sampingnya.


“Mas,” panggil Arini yang merasa tidak enak karena sedari tadi diacuhkan oleh Adit.


“Hemm!” jawab Adit singkat.


“Bisa gak kalo ponselnya disimpen dulu?” tanya Arini membuat Adit langsung menatap ke arahnya tajam.


“Apa hak kamu melarang aku?” tanya Adit pelan namun terdengar begitu menyayat hati Arini.

__ADS_1


“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggapmu ada, Arini. Karena kau hanyalah mimpi buruk untukku!”


“Semua ini hanyalah status sebagai tanggung jawabku dan agar kamu dan keluargamu tidak menanggung malu.”


“Satu lagi hal penting yang harus kamu ketahui, Arini!”


“Aku melakukan ini semua hanya agar sekolah yang didirikan oleh mamaku tidak jatuh bangkrut karena putra sulungnya menghamili salah satu siswi yang ada di sekolahnya!” jelas Adit dengan tegas meski dengan nada bicara yang sangat pelan.


Tanpa terasa air mata Arini jatuh membasahi pipinya. Cepat-cepat Arini menghapus air matanya dan memaksakan dirinya agar tidak menangis di depan keluarga besar Adit dan juga keluarga besarnya.


Perlahan ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


‘Kamu harus kuat, Arini! Kamu tidak boleh lemah di hadapan calon suamimu yang begitu kau cintai! Kamu harus bisa menaklukkan hati Mas Adit, meski kau sangat jauh jika dibandingkan dengan Nachya, wanita yang begitu dicintai oleh Mas Adit!’ gumam Arini dalam hatinya menguatkan dirinya yang sangat rapuh kali ini.


“Terima kasih, Mas!” ucap Arini.


Adit kembali memainkan ponselnya dan tidak peduli dengan Arini sama sekali. Sampai acara selesai, Adit benar-benar tampak begitu mengacuhkan Arini.


Pemandangan ini pun tidak luput dari perhatian Kakek Carl. Hingga saat akan kembali ke rumah Adit, ia memilih pulang bersama Adit, Papa Hendy, dan juga Adel.


“Apa yang sebenarnya sudah kalian rahasiakan?!” tanya Kakek Carl.


Hendy Carlson yang kini duduk di samping papanya pun langsung mengerutkan dahinya dan balik bertanya. “Memangnya apa yang membuat papa bertanya seperti itu?” tanya Hendy yang belum faham ke mana arah pertanyaan papanya itu.


“Apa yang membuat Adit melamar Arini?” tanya Kakek Carl membuat suasana di mobil langsung hening seketika tidak ada yang buka suara untuk menjawab pertanyaannya.


“Aku tidak yakin cucuku mencintai Arini karena sedari awal acara matanya terus saja memandang ke arah gadis lain!” lanjutnya lagi.


“Aku memang tidak pernah mencintai Arini sedikit pun, Kek! Tetapi aku melamarnya untuk bertanggung jawab dengan bayi yang saat ini ada di dalam kandungannya!” jawab Adit yang memang tidak mau lagi menutupi apa pun dari kakeknya.


“Bagaimana bisa kau membuatnya hamil sedangkan kau tidak mencintainya sedikit pun?” tanya Kakek Carl yang tidak habis dengan jawaban cucunya kali ini.


Akhirnya Adit pun menceritakan semuanya kepada Kakek Carl apa yang terjadi malam itu. Kakek Carl yang mendengar cerita dari Adit pun turut prihatin dengan apa yang menimpa cucunya saat ini.


“Bertanggung jawab bukan berarti terus hidup bersama Arini selamanya. Kau bisa menceraikan Arini setelah anaknya lahir!” ucap Kakek Carl yang langsung disanggah oleh Adel.


“Tidak bisa seperti itu Kakek!”


“Abang harus bertanggung jawab dengan menjadi suami yang baik untuk Arini!” balas Adel dengan tegas.


“Untuk apa menjadi suami bagi orang yang sama sekali tidak dicintainya?” tanya Kakek Carl.


“Lebih baik ia mengejar cintanya dan menikah dengan wanita yang tentunya lebih baik dari Arini!”


Adel menghela nafasnya panjang. Ia sama sekali tidak menyangka dengan ucapan kakeknya kali ini.


“Lalu bagaimana dengan perasaan Arini? Bagaimana jika kesalahan yang abang lakukan justru karmanya akan jatuh kepadaku? Apa kakek lupa jika aku juga seorang wanita?” tanya Adel yang terang-terangan tidak setuju dengan ucapan kakeknya.


“Sudah, sudah! Tidak perlu diperpanjang lagi! Lebih baik kita fokus untuk membahas pernikahan Adit dengan Arini!” ucap Papa Hendy menengahi keributan di dalam mobil.

__ADS_1



__ADS_2