
Boy benar-benar bergerak cepat untuk mempersiapkan dirinya untuk mengikuti audisi pertukaran pelajar ke Oxford University. Kali ini ia bertekad penuh untuk bisa lolos dan menyusul Nachya ke London. Ia pun langsung menghubungi Mr Kevin untuk membicarakan hal ini.
Jika seandainya ia tidak lolos dalam audisi di kampusnya, ia masih bisa ke London dengan memenuhi tawaran dari Mr. Kevin. Sedangkan mendengar kabar dari Boy pun Mr. Kevin turut gembira dan memberikan dukungan kepadanya secara totalitas.
Selepas mengurus beberapa berkas di firma, Boy bergegas menuju ke rumah Papa Belva untuk memberi kabar tentang hal ini. Kebetulan di rumah Belva juga sedang ada akung Dion dan juga istrinya.
Akung Dion sedikit tidak suka mendengar kabar dari Boy. Berbeda dengan Papa Belva dan juga Mama Ecca yang justru mendukung Boy agar bisa menyusul Nachya ke London.
“Lalu jika Boy nanti pergi ke London, siapa yang akan membantu pekerjaan di firma?” tanya Akung Dion.
“Belva kan masih ada beberapa karyawan yang bisa bantu menggantikan pekerjaan Boy, paaah!” jawab papa Belva.
“Lagi pula Boy bisa mengembangkan firma Quiero di sana juka ia juga menjadi konsulat hukum di perusahaan Mr Kevin!” lanjutnya lagi.
Kini Akung Dion berpikir keras mengenai masalah ini. Keuntungannya memang sangat terlihat untuk Firma Quiero, namun jika Boy berhasil ke London, tentu saja usahanya untuk menjauhkan Nachya dengan Boy akan gagal total.
Meskipun antara Oxford University dan University College London cukup jauh, tetap saja kedua kampus tersebut sama-sama berada di London dan tidak menutup kemungkinan untuk membuat mereka berdua bertemu.
“Jika Boy tetap ke London, aku takut kehadirannya justru mengganggu konsentrasi Nachya menuntut ilmu. Terlebih Mario dan juga Aleya tidak bisa terus mengawasi Nachya!” timpal Akung Dion.
“Tapi Boy bisa kok jaga Nachya dengan baik!” bela Mama Ecca yang sedikit merasa lega jika Nachya berada dalam pengawasan Boy.
“Tapi aku sangat tidak suka, menantu!” tegas Akung Dion membuat Mama Ecca langsung bungkam.
“Kalau memang Boy tetap ke London, dia hanya diperbolehkan mengawasi Nachya dari jauh tanoa menemuinya meski sebentar. Dan Nachya tidak boleh mengetahui keberadaan Boy di sana!” tegas Akung Dion yang terdengar tidak menerima bantahan sedikit pun.
“Deal! Aku setuju dengan papa!” ucap Papa Belva yang langsung setuju dengan ucapan Akung Dion.
Akung Dion menghela nafasnya panjang, ‘Aku harus segera menghubungi Mario untuk tetap menjaga cucuku agar tidak bertemu dengan Boy!’ gumamnya dalam hati.
“Ingat Boy, sampai kapan pun akung tidak akan pernah setuju kau menjadi kekasih Nachya!” tegas Akung Dion sambil bersiap untuk pulang bersama istrinya.
Boy tidak ambil pusing dengan sikap akungnya. Karena menurutnya sangat wajar jika akungnya begitu tidak menyukainya. Meski ia belum tahu detail apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Ibu kandungnya dulu.
__ADS_1
Bahkan Boy juga tetap menghormati akung dan utinya sebagaimana ia menghormati Papa Belva dan juga Mama Ecca.
Setelah Akung Dion dan istrinya meninggalkan rumah, Papa Belva langsung menepuk bahu Boy.
“Emm, Boy. Seperti yang pernah papa katakan padamu, berjuanglah sendiri di atas kedua kakimu untuk mendapatkan anak kesayangan papa!” ucap Belva yang tentunya mengobarkan semangat Boy untuk bisa mendapatkan Nachya.
“Siap Pa!” jawab Boy.
“Ikuti saja kemauan akung dan lakukan dengan caramu sendiri bagaimana kau menjaga Nachya di sana nanti! Yang jelas Papa dan Mama mendukungmu penuh untuk bisa sampai di London!” jelas Papa Belva membuat Boy sangat terharu.
Ia benar-benar merasakan ketulusan kasih sayang papa dan juga mamanya yang begitu besar dengannya.
...💕💕💕...
Di belahan dunia yang lainnya, Nachya mulai mengerjapkan matanya setelah tidur sepanjang sore. Perutnya mulai terasa lapar dan membuatnya mau tidak mau bangun dari tempat tidurnya untuk mencari makanan.
Ia melihat ke arah jam di dinding kamarnya dan tampak waktu menunjukkan pukul 8 malam.
Tak lama kemudian utinya datang dan masuk ke dalam kamar Nachya dengan membawakan susu hangat untuk cucu kesayangannya.
“Uti kira masih tidur loh!” ucap Uti Aleya sambil menyodorkan gelas susu ke arah Nachya
“Makan yuk, Opa Krish bawain roast meat sama mash potato di bawah!” ajak Uti Aleya.
“Nasi goreng gak ada ya uti?” tanya Nachya yang biasanya dibuatkan nasi goreng seafood oleh Mama Ecca.
“Ya kalo malam ini belum ada dong, Nachya sayang. Besok kita belanja ya, nanti uti belikan beras dan buatkan nasi goreng untuk Nachya.”
Nachya langsung merekahkan senyumannya dan memeluk utinya dengan sangat erat.
“Baru juga sampe di London sudah kangen saja sama Mama!” ucap Nachya dengan mata yang berkaca-kaca.
Namun sekuat tenaga Nachya menahan dirinya agar tidak menangis. Ia sudah bertekad untuk tidak manja lagi dan bisa hidup mandiri. Meski ternyata kenyataannya sangat berat untuk dijalani.
Padahal kali ini Nachya ditemani oleh akung dan juga utinya. Bagaimana jika kemarin ia benar-benar terbang ke London seorang diri?
__ADS_1
Uti Aleya langsung mengusap punggung cucunya dengan sangat lembut. “Besok kita telfon mama Ecca yaa!” ucap Uti Aleya yang paham betul bagaimana perasaan Nachya saat ini.
Nachya pun langsung mengangguk setuju. Mereka pun keluar dari kamar Nachya dan turun ke bawah untuk menikmati makan malam.
Ternyata Opa Krish tidak sendiri, ia mengajak cucu laki-lakinya yang tampak akrab mengobrol dengan Akung Mario. Nachya yang sudah sangat lapar pun langsung menuju ke meja makan tanpa menyapa Opa Krish dan juga Dean yang duduk di ruang tamu.
“Bagaimana keadaanmu, Nachya? Apa masih jet lag?” tanya Opa Krish.
“Sudah lebih baik, Opa! Terima kasih untuk makan malamnya!” balas Nachya.
Dean yang sedari diam-diam mengamati Nachya pun tiba-tiba mengulum senyumnya.
‘Ternyata cucu Akung Mario ini cantik juga. Padahal ia baru bangun tidur!’ gumam Dean dalam hati yang mulai mengagumi kecantikan Nachya.
Opa Krish dan Akung Mario yang melihat Dean diam-diam mengamati Nachya pun langsung saling melempar kode dengan memainkan kedua alis mereka.
“Gimanaa cucu akung Mario? Cantik kan?” tanya Akung Mario yang langsung diangguki oleh Dean.
“Sangat cantik, akung!” ucap Dean tanpa ia sadari.
Opa Krish pun langsung terkekeh pelan sambil menepuk bahu cucunya membuyarkan lamunan Dean yang sedari tadi tidak lepas memandangi Nachya yang sedang menikmati makan malamnya.
“Kamu ini ternyata memang suka jual mahal ya!” tutur Opa Krish membuat Dean tergagap.
“Eh, Opa ini apaan sih!” balas Dean yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Nachya.
Sedangkan Nachya yang baru selesai makan malam langsung bersiap untuk kembali ke kamarnya.
“Nachya!” panggil Akung Mario.
“Masa’ baru selesai makan langsung balik ke kamar sih. Sini dulu dong ngobrol bareng sama Dean. Kan nanti kalian bakal satu kampus!”
“Nachya capek Kung, ngobrolnya kapan-kapan aja ya!” balas Nachya yang memang masih ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Nachya istirahat dulu ya Opa Krish, Good Night!” sapa Nachya yang kemudian menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Sikap Nachya yang benar-benar cuek kali ini justru membuat Dean sangat tertantang untuk mendekati Nachya.
‘Sepertinya ini tantangan baru yang mengasyikkan untuk mendapatkan hati seorang Nachya!’ gumam Dean dalam hati.