
Keesokan paginya, Nachya yang bangun terlebih dahulu langsung menyunggingkan senyumannya saat melihat suaminya yang masih terlelap memeluknya.
“Aku gak nyangka akan hidup bahagia seperti ini bersamamu, Boy!” Tangan Nachya mulai menyentuh wajah Boy yang terlihat sangat tampan saat sedang tertidur.
“Kamu benar-benar seperti pangeran impianku sejak kecil. Tampan, perhatian, romantis, emmh semuanya ada padamu!”
“Tapi tunggu dulu, satu lagi yang aku sangat suka darimu, dada bidang dan tubuh atletis!” tangan Nachya mulai turun menyentuh tubuh suaminya.
“Perasaan waktu aku liat kamu telanjang dada di kamar belum sekekar ini deh!”
Celotehan Nachya yang tentunya membangunkan Boy membuatnya tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Kecupan Boy pun mendarat di kening Nachya dengan sangat mesra.
“Bukankah sejak kecil aku sudah menjadi pangeran tampanmu?” tanya Boy membuat Nachya langsung mengerutkan dahinya.
“Dulu kan kamu abang aku, Boy.”
“Terus kalo sekarang?” tanya Boy sambil memandangi wajah istrinya.
“Emmm, suami nakal aku!”
“Tapi kamu cinta kan sama aku?” tanya Boy dan Nachya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Kamu nyangka gak sih Boy, bakal punya istri manja dan gak bisa apa-apa kayak aku?” tanya Nachya.
“Kata siapa kamu gak bisa apa-apa? Jangan ngaco deh sayang!” bantah Boy yang terdengar tidak setuju dengan ucapan Nachya barusan.
“Bagi aku, kamu adalah segalanya di dunia ini. Udah cantik, pinter, perhatian banget sama suami, apa kamu gak sadar dengan segala kelebihan kamu?”
“Dan aku sangat suka dengan sikap manja kamu dari dulu, Nachya. Itu bukti kalau kamu butuh aku!” jelas Boy membuat Nachya berbunga-bunga.
“Boy, makasih ya udah buatin sate ayam buat aku. Enak banget loh itu. Pagi ini masakin lagi yaa!” pinta Nachya sambil memperlihatkan puppy eyesnya.
Permintaan Nachya kali ini membuat Boy tersenyum smirk. Ide nakalnya muncul lagi untuk kembali mengulang permainannya semalam dengan Nachya. Sayangnya senyuman Boy kali ini langsung ditangkap oleh Nachya.
“Boy, gak ada kikuk-kikuk lagi yaaa. Aku beneran capek meskipun semalam udah minum racikan dari Uti. Kita mainnya nanti malam aja yaa!” pinta Nachya lagi.
“Yaah, kamu tahu aja sih aku mau minta apaan!” Boy menoel hidung Nachya dan mengecup bibirnya sekilas.
__ADS_1
“Yaudah, gak main deh, tapi mandi bareng yuk!” ajak Boy yang kemudian bangun dari tidurnya dan mengangkat tubuh Nachya ala bridal style.
“Mandi aja yaa, jangan pake macem-macem!”
“Iya sayang! Kan aku bentar lagi mau masakin kamu sate ayam!” balas Boy.
Kali ini gantian Nachya yang mencium bibir suaminya sekilas. “Kamu bener-bener suami idaman Boy!”
Sayangnya janji tinggallah janji yang sama sekali tidak bisa mereka tepati. Bagaimana mungkin mereka bisa menahan diri jika saat keduanya sama-sama berada di dalam satu bathtub yang sama, kulit mereka saling ber93s3kan dan menimbulkan sensasi yang sangat berbeda.
“Aku jadi gak t4h4n nih sayang!” bisik Boy sambil menyabuni tubuh Nachya dari belakang.
“Aku juga gak nyuruh kamu buat n4h4n h4sr4t kamu kok!” balas Nachya.
“Jadi aku boleeeh ...”
Belum selesai Boy meminta izin kepada Nachya, Nachya sudah langsung memotong ucapan suaminya.
“Boleh aja, Boy! Kan kita udah suami istri! Yang gak boleh itu kalo kita belum nikah!”
Jawaban Nachya kali ini membuat Boy membuang nafasnya kasar. Akhirnya permainan mereka yang kelima pagi ini 5en5asinya sangat berbeda karena mereka bermain di tempat yang berbeda.
Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar lewat dari jam sarapan yang biasanya. Sedangkan di pantry, tampak Uti Aleya sedang membuatkan sate ayam untuk Nachya pagi ini. Boy yang melihat utinya membakar sate di atas kompor pun langsung mendekatinya.
“Tidak masalah Boy. Hanya saja Uti ragu Nachya mau memakannya atau tidak nanti!” balas Uti Aleya.
Nachya yang mendengar hal itu pun langsung memeluk Utinya dari belakang. “Tentu saja Nachya tidak akan menolak. Apalagi masakan Uti Aleya sangat lezat sekali!” balas Nachya sambil mencium pipi Utinya.
“Sini Uti, biar Nachya gantiin bakar satenya.”
Uti Aleya pun langsung memberikan Nachya ruang untuk membantunya membakar sate ayam. Tak lama kemudian terdengan bel rumah mereka berbunyi.
“Biar aku yang buka pintunya.” Boy langsung bergegas keluar dari pantry dan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang.
“Mr. Ozzie!” Boy sedikit terkejut atas kedatangan arsitek muda yang kabarnya akan bekerja sama dengan Nachya.
“Apa yang membuat anda sampai repot-repot datang kemari?” tanya Boy sambil membuka pintu rumahnya untuk mempersilakannya masuk ke dalam. “Silakan masuk Mr!”
“Terima kasih, bro! Aku mencoba menghubungi ponsel Nachya dari pagi, sayangnya tidak aktif sama sekali. Maka dari itu saya akhirnya datang kemari!” jelas Mr Ozzie.
__ADS_1
“Oh, iya. Nachya memang tidak mengaktifkan ponselnya saat hari libur seperti ini!” balas Boy.
“Mr, mau teh atau kopi?” tawar Boy kemudian.
“Emmm, teh saja!” jawab Mr Ozzie.
“Okey, tunggu sebentar yaa. Saya akan segera kembali bersama istri saya!” ucap Boy yang kembali lagi menju ke pantry.
Sepeninggalan Boy, Mr Ozzie pun memutar pandangannya ke sekeliling sambil mengamati foto pernikahan Nachya dan juga Boy yang tertempel di dinding ruang tamu.
“Benar-benar sangat beruntung menjadi Boy! Dia bisa mempersunting wanita yang begitu mempesona seperti Nachya. Andai saja aku yang lebih dulu bertemu dengannya, maka aku akan menjadi pria yang paling beruntung di atas muka bumi ini karena bersanding dengan perempuan seperti Nachya!” gumam Ozzie pelan sambil memandangi foto pernikahan Nachya dengan Boy.
Ozzie sedikit terkejut saat melihat tanggal pernikahan Nachya dengan Boy. “Jadi mereka penganti baru?” gumam Boy yang kini tengah berdiri tepat di depan foto pernikahan mereka.
“Benar, Mr. Ozzie. Kami baru saja menikah!” jawab Boy yang baru saja datang dari pantry bersama Nachya yang kini membawakan minuman untuknya.
“Ohh, kalau begitu selamat atas pernikahan kalian berdua!” Mr Ozzie langsung mengulurkan tangannya ke arah Boy dan juga Nachya secara bergantian.
“Terima kasih Mr, silakan dinikmati minumannya!” ucap Nachya sambil mempersilakan tamunya untuk duduk.
“Oh iya, Mr. Kebetulan kami berdua sedang akan menikmati sarapan. Apa anda mau bergabung bersama kami?” tawar Boy karena tidak ingin menunda waktu sarapan Nachya untuk kesekian kalinya.
Mr Ozzie pun akhirnya menermia tawaran Boy untuk menikmati sarapan bersama. Sesampainya di ruang makan, ia langsung memicingkan matanya saat melihat ada beberapa tusuk sate ayam di meja makan dengan aroma yang begitu menggugah selera.
“What is this?” tanya Mr Ozzie sambil menarik kursi makannya.
“Sate ayam khas negara kami yang menjadi makanan favorit istri saya!” jawab Boy.
“Wow, jika dari aromanya ini sangat menggugah selera!” Mr Ozzie pun langsung mengambil beberapa tusuk sate dan meletakkan di atas piringnya.
Tanpa menunggu lama, ia pun mencicipi makanan kesukaan Nachya yang baru kali ini ia tahu. Matanya langsung membulat sempurna sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Ini benar-benar sangat nikmat!” puji Mr Ozzie.
Akhirnya mereka bertiga pun menikmati sarapan bersama. Namun ada pemandangan yang sedikit mencubit hati Ozzie kali ini, yaitu saat melihat kemesraan Nachya yang melayani Boy.
“Sayang, nasinya seberapa?” tanya Nachya yang terdengar begitu lembut di telinga Ozzie.
“Emm, itu sudah cukup, sayang. Makasih yaa!” balas Boy yang tak kalah mesranya dengan Nachya.
__ADS_1
Kehangatan sepasang suami istri yang ada di hadapan Ozzie membuatnya tersadar bahwa mendapatkan Nachya adalah keinginan yang sia-sia belaka. ‘Sepertinya aku harus mundur untuk mengejar cinta Nachya!’ gumam Ozzie dalam hati. ‘Biarlah ia menjalani pernikahannya dengan lelaki yang sangat serasi dengannya.’
‘Ck, aku benar-benar sangat iri dengan kemesraan mereka berdua!’ batin Ozzie sambil menikmati sarapannya.