
Suasana di kelas Nachya langsung ramai saat Pak Adit tampak berjalan mendekati kelas. Kasak kusuk teman perempuan Nachya yang sangat mengagumi guru math barunya itu mulai terdengar di telinga Nachya.
"Pak Adit itu cakepnya emang kelewatan. Aku siap deh lulus SMA langsung nikah, asalkan sama Pak Adit!" celetuk Arini.
"Mimpinya jangan ketinggian deh Ar," timpal Monica, teman perempuan Nachya yang lain.
"Nanti kalo jatuh bakal sakit!" lanjutnya lagi.
"Intinya, Pak Adit cuma boleh sama aku!" tukas Monica dengan penuh percaya diri.
Siswi yang sangat memperhatikan penampilannya ini tampak berambisi untuk menjadi pasangan dari guru barunya itu. Monica memang tidak secantik Nachya namun ia sangat berkuasa di sekolah karena papanya adalah ketua komite dan donatur besar di sekolah.
“Dih, Monica mah narsisnya gak ketulungan!” gerutu Ruby yang berbicara ke arah Nachya.
“Udah biarin aja! Gak usah ikutan ribet deh!” balas Nachya yang sudah melihat Pak Adit berdiri di depan kelas.
“Selamat sore semuanya!” sapa Adit sambil meletakkan buku matematikanya di atas meja.
“Sore Pak Adit!” jawab semua murid dengan serentak.
“Kali ini, saya akan memberikan soal matematika kepada kalian semua. Dimana nanti yang memperoleh nilai terbaik, akan melanjutkan kursus gratis dengan saya secara PRIVAT alias tidak les ramai-ramai seperti saat ini!” jelas Pak Adit sambil menekan kalimat terakhirnya.
Penjelasan Pak Adit kali ini membuat semua murid perempuan langsung berbinar-binar termasuk dengan Monica yang begitu tertarik dengan guru barunya kali ini.
“Interupsi Pak!” Nachya mengangkat tangannya.
“Ya silakan, Nachya!”
“Kok yang dapat privat yang dapet nilai terbaik pak?” protes Nachya. “Harusnya kan yang dapat nilai memprihatinkan. Biar makin paham.”
“Ya gak temen-temen?” tanya Nachya meminta dukungan kepada teman yang lainnya.
“Bener banget kata Nachya pak!” timpal Arini yang selalu mendapat nilai pas-pasan dalam pelajaran ini.
“Heh, itu mah modus aja karena kamu mau deket-deket kan sama Pak Adit!” balas Monica yang selama ini sering mendapat nilai tertinggi dalam bidang math di kelas dan menjadi saingan Nachya dalam meraih prestasi.
“Tapi bener kata Nachya pak,” timpal teman yang lainnya. “Kalo bapak cari yang nilai tertinggi, sudah pasti antara Nachya dan Monica yang bisa mendapat kursus gratis secara privat!”
“Gak adil dong buat kita semua!” lanjutnya lagi membuat Pak Adit mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
‘Hadeuh, susah bener ya Cuma mau deket sama Nachya aja!’ gerutu Pak Adit dalam hati. ‘Aku memang mau kasih seleksi, Cuma biar bisa deket sama Nachya!’
“Baiklah, jika memang seperti itu, maka les privat akan diadakan untuk peraih nilai tertinggi dan terrendah!” ucap Pak Adit memberikan keputusannya.
“Sedangkan untuk kursus bersama seperti ini, akan diadakan setiap 2 minggu sekali!” jelas Pak Adit yang langsung disetujui oleh semuanya.
Pak Adit pun langsung membagikan soal yang sudah ia bawa kepada siswanya dan memberi waktu untuk mengerjakan.
☘️☘️☘️
Di sisi lain, kini Boy sedang berjuang menyelesaikan persoalan sengketa tanah kliennya kali ini agar besok ia tidak perlu lembur dan bisa memenuhi undangan dari ayah kandungnya. Keberuntungan kali ini berpihak kepada Boy.
Kliennya sangat kagum dengan penyelesaian masalah yang Boy berikan. Penyampaian Boy yang lugas dan mudah dimengerti membuatnya tidak terkesan memihak salah satu dari pihak yang terkait dalam sengketa. Justru Boy membuat kedua belah pihak mendapatkan keuntungan yang seimbang.
Akhirnya, kedua belah pihak yang terkait dalam sengketa pun sepakat untuk meleraikan masalah mereka sesuai dengan arahan yang Boy berikan. Dan masalah ini pun tidak jadi masuk dalam jalur hukum di pengadilan.
“Anak muda, aku sangat kagum dengan penyelesaian masalah yang kau berikan!” puji Tuan Alex.
“Saya juga senang bisa membantu, Tuan Alex!” jawab Boy lega.
“Terima kasih banyak, nak. Karena penyampaianmu tadi saya jadi berdamai dengan putraku!” tukas Tuan Roy, ayah dari Tuan Alex.
“Datanglah ke Mansion kami, besok! Kami mengundangmu makan malam untuk merayakan perdamaian ini dengan putraku!” undang Tuan Roy.
Papa Belva yang melihat Boy dari kejauhan pun memberi kode agar Boy segera menjawab tawaran Tuan Roy. Sedangkan Boy sendiri masih bimbang karena besok ia ada janji untuk berkunjung ke rumah Adit dan bertemu dengan ayah kandungnya.
“Sebenarnya besok saya sudah ada janji, Tuan! Dan belum tahu akan selesai kapan,” balas Boy dengan sangat santun.
“Wah sayang sekali, ya!” timpal Tuan Alex. “Bagaimana jika syukurannya diundur saja pa, agar Nak Boy bisa ikut serta?”
“Yap, tidak masalah. Ide yang sangat bagus!” jawab Tuan Roy.
“Lusa, kita bertemu saat jam makan siang di sebuah pemancingan. Dan kau bisa mengajak seluruh anggota keluargamu untuk berkenalan dengan keluargaku. Bagaimana?” tanya Tuan Roy yang tampak sangat berharap Boy bisa memenuhi undangannya.
“Saya akan berusaha untuk memenuhi undangan anda, Tuan!” timpal Boy.
Akhirnya Tuan Roy dan Tuan Alex pun undur diri dari firma dan Boy langsung menemui papa Belva di ruangannya.
Papa Belva dan Mama Ecca pun langsung menyambut kedatangan putranya dengan wajah yang sangat gembira.
__ADS_1
“Papa BANGGA sama kamu Boy!” ucap papa Belva sambil memeluk putranya.
“Aku bisa kan karena didikan papa selama ini. Makasih banyak ya Pa!” balas Boy yang sedari kecil memang mengidolakan papanya dan sering ikut kemana papanya pergi.
“Mama juga bangga sama kamu, Boy!” timpal Mama Ecca sambil menepuk bahu Boy.
“Thanks, Ma. Boy juga bangga jadi anak papa dan mama!” balas Boy.
Tak lama kemudian ponsel Boy pun berdering dan tampak Adit kini sedang menghubunginya.
“Boy, angkat telfon dulu ya pa, ma!” ucap Boy yang langsung keluar dari ruangan papa Belva.
“Halo Bang. Ada apa?” tanya Boy saat panggilannya sudah tersambung.
“Nachya hari ini biar aku yang antar ya Boy, please!” pinta Adit dengan nada memohon.
“Duh, gimana ya Bang? Masalahnya Nachya tadi minta aku jemput. Takutnya nanti kalo aku gak jemput, dia ngambek lagi!” balas Boy memberi alasan.
“Soalnya kan aku lagi bawa mobil dia, Bang!” timpal Boy lagi. Padahal kali ini ia sedang membawa motornya.
“Oke deh kalo gitu. Jangan lupa ya, besok ajak dia main ke rumah!” ucap Adit yang terdengar begitu kecewa di ujung panggilan.
Setelah panggilannya terputus, Boy pun langsung menahan langkah papa dan mamanya yang hendak menuju ke lift.
“Tunggu pa, ma!” tahan Boy.
“Kenapa Boy?” tanya Papa Belva.
“Sore ini Boy bisa pinjam mobilnya gak buat jemput Nachya?” tanya Boy hati-hati.
“Soalnya kalo jemput Nachya pake motor, takut nanti dia ngantuk di jalan!” lanjut Boy lagi memberi alasan.
“Gak masalah sih Boy. Tapi kamu bawa helm 2 kan?” tanya Papa Belva dan Boy langsung menganggukkan kepalanya.
“Ya udah, ini kuncinya!” Papa Belva langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada Boy.
“Ayo sayang, kita pacaran lagi naik motor Boy. Biar kayak anak muda!” ajak Papa Belva yang langsung mengamit lengan Mama Ecca.
☘️☘️☘️
__ADS_1