
Saat Papa Belva dan juga Mama Ecca keluar dari kamar untuk makan malam yang terlewat lama, lagi-lagi mereka berdua dikejutkan dengan Boy dan juga Nachya yang sama sama tertidur di sofa.
Meski tidak seperti tadi siang yang memergoki mereka hampir berciuman, tetap saja Mama Ecca menghela nafasnya panjang saat melihat Nachya yang tampak tertidur pulas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Boy.
“Ck, melihat mereka seperti ini bikin aku makin bingung harus 9imana lagi, Bee?” gumam Mama Ecca yang begitu mengkhawatirkan Nachya dan juga Boy ke depannya.
“Kita omongin sambil makan yuk!” ajak Papa Belva sambil merangkul istrinya menuruni anak tangga.
Mau tidak mau Mama Ecca membiarkan keduanya tertidur di sofa dan turun ke bawah untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
“Hubungan Boy dan juga Nachya memang bukan hubungan terlarang, sayang!” ucap Papa Belva sambil mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Suara Papa Belva yang cukup menggema di ruang makan membuat Boy mengerjapkan mata dan terbangun dari tidurnya.
“Dan aku pribadi sama sekali gak keberatan sama hubungan mereka berdua!” lanjut Papa Belva yang terdengar cukup jelas di telinga Boy.
Boy langsung bernafas sangat lega mendengar ucapan papanya barusan. Kali ini ia benar-benar tidak menyangka jika Papanya justru tidak melarang hubungannya dengan Nachya yang nota benenya adalah anak kesayangannya.
“Aku juga gak keberatan sayang. Tapi permasalahannya, masih ada keluarga besar kita yang tentunya belum semuanya setuju!” timpal Mama Ecca.
Kali ini Papa Belva pun turut mengiyakan ucapan istrinya. Terutama Papi Mario (papi Ecca) dan juga Papa Dion (papanya Belva) yang tampak memperlakukan Boy dengan Nachya dengan perlakuan yang berbeda.
Nachya teramat mereka sayangi karena alasannya cukup jelas. Nachya adalah keturunan dari Belva dan juga Nachya tulen. Sedangkan Boy tidak. Terlebih Papa Dion sangat muak dengan ibu kandung Boy, meskipun Boy sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan itu.
“Jalan keluar satu-satunya hanya satu, Queen Ca, sayang!” timpal Papa Belva membuat Boy semakin menajamkan pendengarannya.
“Apa?” tanya Mama Ecca.
“Mau tidak mau kita harus memberi kesempatan kepada Nachya untuk menerima panggilan dari University College London! Biarkan dia meraih cita-citanya dengan jalan yang sudah ia pilih!” jawab papa Belva membuat hati Boy terasa begitu tercubit.
Boy langsung memandang ke arah Nachya yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Boy.
‘Aku benar-benar tidak sanggup melepasmu pergi, Princess Nachyaku sayang!’ gumam Boy dalam hati sambil memainkan helai rambut Nachya.
__ADS_1
‘Bagaimana jika nanti kau menghadapi kesulitan tanpaku?’
‘Bagaimana jika nanti tidak ada yang membantumu mengerjakan tugasmu yang menumpuk?’
‘Bagaimana jika nanti aku sangat merindukanmu bersikap manja terhadapku, Nachya?’ batin Boy pilu.
Tiba-tiba terdengar Mama Ecca menyampaikan kalimat protesnya terhadap keputusan Papa Belva.
“TAPI AKU SAMA SEKALI TIDAK SETUJU NACHYA PERGI JAUH DARI SINI!” ucap Mama Ecca kencang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku sama sekali tidak sanggup melihatnya jauh dariku, Bee. Aku benar-benar tidak akan pernah melepaskan Nachya ku melanjutkan kuliahnya di London!” tegas Mama Ecca.
Nachya yang sudah tersadar dari tidurnya pun langsung menitikkan air matanya mendengarkan ucapan Mama Ecca barusan.
Boy yang merasakan bahunya sedikit basah pun langsung tersadar jika Nachya telah mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Mama Ecca.
“Jangan menangis, Nachya!” pinta Boy yang langsung mengusap air mata Nachya yang jatuh di pipinya.
“Kamu tahu sendiri kan, sayang... 9imana Nachya selama ini? Ke sekolah saja masih harus diantar jemput sama Boy!”
“Segala macam keperluannya masih harus disiapin sama Bik Surti!”
“Dan aku sama sekali tidak tega jika nantinya ia harus melakukan segala sesuatu sendirian di sana!” tukas Mama Ecca dengan tegas.
“Bagaimana jika nantinya dia sakit?”
“Siapa yang nantinya akan menjaga Nachya?”
“Apa Bee mau bertanggung jawab jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi dengan anak kita?”
Pertanyaan Mama Ecca yang dilontarkan bertubi-tubi membuat pipi Nachya semakin basah. Akhirnya Boy pun langsung memeluk Nachya dengan erat sambil mengusap punggungnya.
“Boy!” panggil Nachya dengan suaranya yang lirih.
__ADS_1
“Iya, Nach!”
“Apa kamu juga keberatan jika aku pergi?” tanya Nachya.
“Entahlah...” jawab Boy yang tidak ingin membuat Nachya kecewa.
Jauh di dalam lubuk hatinya ia memang sungguh sangat keberatan melepas Nachya pergi. Tapi dia sama sekali tidak memiliki hak untuk melarang Nachya pergi.
Nachya mulai mengendurkan pelukannya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Boy sambil menatapnya tajam.
“Jawab aku dengan jujur, Boy! Apa kamu juga keberatan seperti Mama?” tanya Nachya lagi mengulangi pertanyaannya.
“Aku sayang sama kamu, Nachya! Tapi aku tidak mau karena rasa sayang dan cintaku ini mengekangmu dalam meraih cita-cita.”
“Apa pun yang kamu inginkan! Apa pun yang kamu ingin raih saat ini, dan apa pun keputusanmu, aku akan tetap mendukungmu dengan sepenuh hatiku!” ucap Boy membuat mata Nachya berbinar.
“Really, Boy?” tanya Nachya.
Boy pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tentu saja!” jawab Boy sambil mengacak rambut Nachya.
“Thanks Boy! Kamu benar-benar pacar terbaik aku!” tukas Nachya sambil kembali memeluk Boy dengan erat.
Boy pun membalas pelukan Nachya sambil bergumam dalam hati, ‘Maafkan aku Nachya! Kali ini aku harus berbohong demi melihat senyummu!’
“Aku janji akan terus menghubungimu dan menceritakan keadaanku di sana!” ucap Nachya bahagia.
“Terima kasih karena tidak ada niatan untuk membalas dendam denganku, Nachya sayang!” balas Boy mengingat saat di Ausie dulu sama sekali tidak bertukar kabar dengan Nachya.
“Sekarang masuklah ke dalam kamar, dan tidurlah!” lanjut Boy.
Nachya yang sudah sangat mengantuk pun akhirnya menuruti ucapan Boy. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar dan naik ke atas ranjang.
Sedangkan Boy bukannya masuk ke dalam kamar, tapi ia justru turun ke bawah untuk bergabung dengan papa dan juga mamanya.
__ADS_1