Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Jangan Kalah Mesra!


__ADS_3

“Gak bisa!” tolak Papa Belva.


“Kali ini keputusan tidak bisa lagi diganggu gugat!” lanjut Papa Belva dengan tegas.


Mama Ecca yang melihat suaminya sudah mode serius langsung menghampiri putrinya dan memberi kode Nachya untuk cepat-cepat menyetujui peraturan yang sudah dibuat.


“Buruan tanda tangan sebelum taring Papa keluar!” bisik Mama Ecca dan Nachya pun langsung menandatangani peraturan konyol tersebut.


Setelah semuanya tanda tangan dan sepakat dengan peraturan tersebut, mereka pun segera bersiap untuk menuju ke rumah uti dan akung.


“Boy, kamu yang bawa mobil ya!” titah Papa Belva sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Boy.


“Nachya duduk di depan saja deket Boy, soalnya papa mau duduk sama mama di belakang!” ucap Papa Belva yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


Nachya langsung meraih tangan Boy dan menggenggamnya erat.


“Ayo Boy sayang, kita jangan kalah mesra sama papa mama!” ajak Nachya sambil menarik tangan Boy dan melewati kedua orang tuanya.


“Eh!” Boy tergagap dengan tetap mengikuti langkah Nachya yang sudah mengajaknya menuju mobil.


‘Aduh, Nachya! Bisa gak sih kamu biasa saja di depan papa sama mama. Aku kan kikuk kalo terus kek gini! Apalagi sebentar lagi kita mau ke rumah uti!’ gumam Boy dalam hati.


Bukan tidak senang dengan sikap Nachya yang sudah mulai terang-terangan membalas cintanya. Namun Boy benar-benar tidak enak jika memperlihatkan kemesraan mereka di depan kedua orang tuanya.


Meskipun sebelumnya mereka berdua memang selalu berdekatan, tetapi saat itu keduanya sama-sama belum mengetahui perasaan mereka satu sama lain. Terlebih Papa Belva dan Mama Ecca juga menganggap mereka seperti abang adik. Dan sekarang keadaannya sudah tidak sama lagi.


Sesampainya di depan pintu mobil papanya, Nachya langsung memberi kode kepada Boy untuk membukakan pintu mobil untuknya dengan menaik turunkan alisnya.


“Minta dibukain pintu?” tanya Boy dan Nachya langsung memutar bola matanya malas.


“Ya iya dong, Boy. Kamu kan sekarang pacar aku. 9imana sih!” gerutu Nachya mendapati Boy yang sedikit tidak peka.


“Ya kan biasanya juga buka pintu sendiri Nach!” timpal Boy sambil membukakan pintu untuk Nachya.


“Tapi kan sekarang beda, Boy. Kita harus lebih mesra dari mereka!” ucap Nachya pelan sambil menunjuk ke arah papa dan mamanya yang sedang berjalan ke arah mobil.


Boy menghela nafasnya panjang mendengar ucapan Nachya barusan. Bagaimana bisa lebih mesra jika peraturan pacaran untuk mereka saja seketat itu.


“Terus 9imana caranya Nachya sayang?” tanya Boy sedikit menekan kalimatnya. “Jangan mengada-ngada deh. Kita mau ke rumah Uti dan aku belum siap untuk buka kartu kita di depan mereka!” lanjut Boy.


“Ehemmm!” Papa Belva berdehem kencang saat melihat Nachya dan Boy masih saja mengobrol di depan pintu mobil yang terbuka.

__ADS_1


Boy pun cepat-cepat meninggalkan Nachya dan menuju ke arah pintu kemudi.


“Huft, papa ini gak asyik banget sih!” gerutu Nachya yang langsung masuk ke dalam mobil.


Kini mereka semua sudah berada di dalam mobil dan siap untuk menuju ke rumah Uti. Nachya pun langsung meminta kepada papa dan mamanya untuk tidak dulu membeberkan hubungannya dengan Boy yang baru saja pacaran. Papa Belva dan juga Mama Ecca pun setuju karena masalah ini memang masalah intern di keluarga mereka.


Selama di perjalanan, Nachya yang diam-diam melihat kemesraan papa dan mamanya mulai jengah. Sebab mereka terlihat seperti sengaja memanas-manasi Boy dan juga Nachya. Akhirnya Nachya kini sengaja memutar tubuhnya menghadap ke arah Boy sambil melipat kedua kakinya di atas kursi mobil.


“Boy!” panggil Nachya sambil meletakkan dagunya di atas kedua telapak tangannya.


“Kenapa ya setelah kamu nembak aku tuh kamu makin kelihatan cakep?!” tanya Nachya yang tentunya membuat Boy salah tingkah. Terlebih kali ini Nachya mengucapkannya di depan orang tuanya juga.


‘Aduh Nachya, kamu ini kenapa sih pakai ngomong kek begitu?!’ gerutu Boy dalam hati.


“Muka kamu merah, Boy! Jadi kelihatan imut gini sih?” lanjut Nachya lagi sambil mengulurkan tangannya yang tampak hendak mengusap pipi Boy.


“Nachya! Inget ya peraturan dari papa yang sudah kamu tanda tangani!” tegas Papa Belva.


Sayangnya kali ini sikap Nachya kembali tidak terduga oleh semuanya. Karena Nachya sama sekali tidak menyentuh pipi Boy, melainkan hanya menggerakkan tangannya mengusap pipi Boy tanpa menempel sama sekali.


“Eits, kalo ngusapnya begini kan masih boleh!” timpal Nachya dengan nada meledek papanya.


Senyum Boy langsung merekah sempurna. Kini ia langsung paham dengan apa yang kira-kira Nachya inginkan. Boy pun kini mulai berani mengikuti permainan Nachya untuk mengecoh Papa dan juga Mamanya.


“Emuah!” balas Nachya lagi sambil mengerucutkan bibirnya seperti mencium Boy tapi dari kejauhan.


“Kamu bikin aku makin gemes tauk Boy sama kamu!” lanjutnya lagi membuat Papa Belva dan Mama Ecca langsung melongo melihat Nachya kali ini.


‘Ya Ampun Nachya, ini kamu kenapa makin berani saja sih?!’ lagi-lagi Boy harus menggerutu dalam hati.


‘Seharusnya aku yang makin gemes sama kamu! Makin hari makin bikin aku kelimpungan ajaa!’ batin Boy.


“Nachya!” panggil papa dan mamanya secara bersamaan.


Nachya dengan santainya menoleh ke belakang, “Kenapa pa, ma?” tanya Nachya tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.


“Ciuman yang barusan gak dilarang kan?”


“Soalnya kata Ruby kalo ciuman yang bener-bener kan bisa bikin sampai bibir bengkak. Nah, kalo yang barusan kan enggak. Orang gak nempel juga kok.”


“Iya kan, Boy?!” tanya Nachya meminta dukungan kepada Boy.

__ADS_1


Boy yang sudah kalang kabut dengan sikap Nachya barusan hanya bisa nyengir kuda. Terlebih saat ia lihat Papa Belva sudah mulai mengeluarkan taringnya.


Belum sempat Boy menjawab pertanyaan Nachya, Papa Belva sudah mengeluarkan ultimatum untuk Boy.


“Boy! Temui saya di taman Mansion Uti nanti!” tegas Papa Belva.


“Baik, Pak!” jawab Boy yang kembali fokus mengendarai mobilnya.


“Tenang aja, Boy! Papa aku gak bakal gigit kok. Jangan takut ya!” ucap Nachya sambil menepuk bahu Boy seolah Boy sama sekali belum mengenal Papa Belva dengan baik.


Kini Papa Belva dan Mama Ecca saling melempar pandang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nachya yang semakin tidak terduga.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Boy pun memasuki gerbang rumah Uti dan Akung. Tampak Uti dan Akung Nachya telah menunggu kedatangan mereka di teras.


Setelah mobil berhenti, Nachya langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Boy membukakan pintu untuknya dan langsung menghambur memeluk utinya.


“Utiiiii!” teriak Nachya.


Uti Aleya pun langsung merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan cucunya.


“Welcome cantiknya Uti!”


“Selamat ya Nachya sayang. Uti sangat bangga dengan pencapaian Nachya kali ini!” ucap Uti Aleya sambil memeluk cucu kesayangannya.


“Makasih Uti. Uti sudah tahu ya kalo Nachya dapat panggilan dari UCL?” tanya Nachya yang langsung diangguki oleh Utinya.


“Tentu saja sudah tahu, dan Uti sangat bangga dengan kabar baik ini!” jawab Utinya membuat Nachya sangat bahagia.


“Peluk Akung juga dong!” pinta Akung dan Nachya pun langsing berbalik memeluk akungnya.


“Akung juga sangat bangga dengan kamu Nachya. Akung akan sering mengunjungi kamu di sana! Atau kalau perlu, akung dan uti akan menemanimu di sana menghabiskan masa tua kami!” jelas Akung membuat Nachya merasa sangat bahagia.


“Benarkah, Akung?” tanya Nachya yang langsung diangguki oleh Akungnya.


Kali ini Mama Ecca langsung mengerutkan dahinya mendengar kedua orang tuanya hendak menghabiskan masa tua mereka di London.


“Papi, Mami, kenapa malah mau ikut ke London sih nemenin Nachya?” tanya Mama Ecca.


🌹🌹🌹


 

__ADS_1



__ADS_2