Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Tertimpa Durian


__ADS_3

Nachya mengerutkan dahinya sambil memandang ke arah Boy. Tangan Nachya kali ini memegang dagu Boy dan memandanginya secara intens.


Boy yang kali ini mendapat tatapan dari Nachya pun mulai salah tingkah. Jauh dalam lubuk hatinya kini menunggu Nachya mengungkapkan perasaannya secara langsung.


Dan dia akan langsung membalasnya dengan mengatakan jika Boy juga sudah sangat lama mencintai Nachya.


“Lumayan suka laah sama kamu. Asal gak ngeselin aja kayak biasanya!” balas Nachya sambil melepaskan tangannya dari dagu Boy.


“Yaah, kirain suka banget!” balas Boy yang kemudian langsung menuju ke antrian di depan kasir untuk memesan tiket.


Nachya hanya mengulum senyumnya melihat sikap abangnya kali ini sambil mencari tempat duduk.


‘Kenapa makin hari Boy makin perhatian yaa sama aku? Bahkan hari ini juga meski dia tiba-tiba dateng dan ngajakin pulang, ujung-ujungnya juga tetap bolehin aku nonton film kesukaan aku.’


‘Kalo dibilang suka banget, ya pasti aku suka lah! Cinta malah sama dia! Tapi, kalo aku bilang cinta, terus ternyata Boy gak cinta sama aku kan jadi tengsin!’


‘Jadi biarin aja deh kayak gini dulu, yang penting aku nyaman!’ gumam Nachya dalam hati sambil terus memandangi Boy.


Tak lama kemudian Boy pun mendekat dengan membawa 2 tiket premier, nachos, minuman, dan juga potato strikes buat Nachya.


“Minumannya cuma satu?” tanya Nachya.


“Aku susah bawanya tadi. Lagi pula aku gak haus kok. Jadi buat kamu aja!” balas Boy.


Nachya tersenyum sambil memandangi Boy.


“Kamu kenapa sih Boy jadi semanis ini sama aku?” tanya Nachya.


“Emm, yaa karena aku..”


“Amm, karena aku...”


“Eh, pintu teaternya sudah dibuka itu. Kita masuk yuk!” ajak Nachya sambil menarik tangan Boy.


‘Karena aku cinta sama kamu, Nachya!’ gumam Boy dalam hati sambil mengikuti langkah Nachya memasuki teater.


Nachya langsung duduk manis dikursi teater dan menantikan filmnya tayang sambil melihat iklan yang kini sedang ditampilkan. Sedangkan Boy terus saja memandangi Nachya yang menikmati tayangan layar lebar yang ada di hadapannya.


‘Hari ini aku bahagia banget, Nach!’


‘Aku gak nyangka bisa denger sendiri dari mulut kamu kalo ternyata kamu juga punya perasaan yang sama aku. Meski kamu nyebutnya cinta monyet.’


‘Tapi bener sih, ini cinta monyet. Karena aku memang cinta sama kamu dari kecil, Nach. Bahkan mungkin dari kamu masih bayi.’

__ADS_1


‘Dan kini, aku benar-benar bersyukur. Aku benar-benar memiliki hatimu seutuhnya!’


Boy terus saja bergumam dalam hati sampai ia tidak sadar jika posisinya kini begitu dekat dengan Nachya. Nachya yang merasakan deru nafas Boy yang menyapu pipinya langsung menoleh ke arah Boy dan tanpa sengaja bibirnya mendarat tepat di bibir Boy.


Cup!


Keduanya sama sama membeliakkan matanya terkejut, namun keduanya tidak langsung menjauhkan wajah mereka dan justru hanyut dalam gelenyar aneh yang menjalar di masing tubuh mereka.


“Ups!” Nachya yang lebih dulu tersadar langsung sedikit menjauh dari Boy.


“So-so-sorry Boy. A-aku beneran gak sengaja!” ucap Nachya sambil memalingkan wajahnya.


“Gak papa, Nach! A ku ju ga tahu kok!” balas Boy yang kini hatinya berdebar-debar tidak karuan.


Film yang Nachya tunggu pun kini sudah mulai. Sayangnya Nachya justru masih belum bisa fokus menikmati tayangan film yang ada di hadapannya. Tangannya terus saja mer4b4 bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Boy.


‘Yaa Ampuuun, mamaaaa!’ teriak Nachya dalam hati.


‘Ternyata gini ya rasanya berciuman!’


‘Jantung aku jadi berdebar gak karuan, nafas aku jadi sesak banget, tubuh aku juga rasanya kayak kesetrum.’


‘Bener kata Ruby. Ciuman itu bikn dag dig dug der aja. Tapi tunggu!’


‘Oooh, mungkin karena habis ciuman terus Ruby usapin bibirnya berkali-kali pakai tangannya. Makanya bibirnya jadi bengkak banget!’ gumam Nachya dalam hati.


Sedangkan Boy yang diam-diam masih memperhatikan Nachya pun semakin yakin jika Nachya benar-benar mencintainya.


‘Apa sesenang itu ya Nachya cium bibir aku?’ tanya Boy dalam hati.


‘Tapi gak Cuma Nachya sih. Aku juga seneng banget. Dan hari ini akan terus aku kenang dalam hati dan memori aku. Sampai kapan pun, Nach.’


Keduanya kini hanyut dalam perasaan gembira mereka masing-masing. Sampai film selesai, Boy masih saja mengingat kecelakaan yang terjadi padanya barusan.


“Boy!” Panggil Nachya membuyarkan lamunan Boy.


“Teaternya sudah sepi tuh! Yang lain udah pada keluar. Kamu malah ngelamun saja sih!” ucap Nachya yang mulai berjalan menuruni anak tangga.


“Nach, tungguin dong!” Boy langsung berdiri dan menyusul langkah Nachya.


“Buruan atuh Boy! Kamu sih pakai acara melamun segala!”


‘Nachya... Nachya... Apa dia masih gak sadar ya sudah mengobrak abrik hati aku yang bikin aku jadi terus ngelamunin dia?!’

__ADS_1


‘Bisa-bisanya ya anak itu masih sesantai itu!’ gerutu Boy dalam hati.


Setelah keluar dari teater, mereka berdua pun berjalan berdampingan. Boy langsung menggenggam tangan Nachya dengan erat seolah takut kehilangan.


💕💕💕


Sesampainya di rumah, Boy menghela nafasnya panjang saat melihat Tristan sudah menunggu kedatangan Nachya di teras rumahnya sambil menemani Papa Belva bermain catur. Nachya yang melihat taring Boy sudah hampir keluar pun langsung memegang lengan Boy.


“Boy, please deh jangan bikin kerusuhan di rumah! Jangan kibarin bendera perang di depan papa sama mama!” pinta Nachya.


“Ck, siapa juga yang mau perang sama Tristan?!” balas Boy sambil menoel hidung Nachya.


“Ngapain aku perang sama Tristan, kalo kali ini aku sudah menang?” tanya Boy lagi membuat Nachya mengedikkan bahunya.


“Ya aku mana tahu kalo kamu sudah menang!” balas Nachya.


“Harus tahu dong, Nachya. Yuk turun!” ajak Boy yang mulai membuka pintu mobilnya.


Nachya tidak langsung turun dari mobilnya, melainkan melihat dulu apa yang terjadi saat Boy akan memasuki rumahnya dan berpapasan dengan Tristan.


“Hai Boy!” sapa Tristan yang langsung berdiri dan menyambut kedatangan Boy dengan memeluknya.


“Gak usah modus deh, cari perhatian papa sama mama!” bisik Boy sambil membalas pelukan Tristan.


“Ternyata beneran dateng ke rumah kamu, ya!” balas Boy sambil menepuk bahu Tristan cukup keras.


“Awh!” pekik Tristan sedikit meringis. “Harus dong, Boy!”


Nachya yang melihat sikap Boy dan Tristan yang berbeda 180 derajat dari tadi saat di Mall pun langsung bernafas lega.


“Aku pikir mereka akan kembali angkat senjata dan saling menyerang seperti tadi. Ternyata aku sudah salah menduga!” gumam Nachya.


“Nachya mana?” tanya Tristan yang belum melihat Nachya turun dari mobil.


“Hai Tristan!” sapa Nachya yang baru saja keluar dari mobil. “Sudah lama?”


“Yaah, baru 15 menitan lah!” balas Tristan. “Aku kangen tahu, Nach ngobrol sama kamu!”


“Tapi aku mandi dulu ya!” balas Nachya lagi.


“Nah, iya. Nachya biar mandi dulu tuh. Tristan temenin om main catur lagi yuk sambil tunggu Nachya selesai mandi!” ucap Papa Belva.


“Siap Om!”

__ADS_1


__ADS_2