Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Bad or Good News?


__ADS_3

“Terus status kita sekarang apa dong?” tanya Nachya sambil menikmati makanan yang dipesan oleh Boy.


Boy yang sedari tadi menikmati makanannya sambil terus memandangi Nachya pun langsung mendekati Nachya dan berbisik. “Kamu maunya apa... sayang?”


Nachya langsung tersipu mendengar panggilan sayang dari mulut Boy barusan.


“Kamu nih kek setan di siang bolong tau gak!” gerutu Nachya sambil mengerutkan dahinya.


“Setan?” tanya Boy yang tidak paham dengan arah pembicaraan Nachya.


“Iyalah setan!” balas Nachya.


“Kok bisa?” tanya Boy.


“Ya abisnya kamu terus-terusan bikin bulu kuduk aku berdiri!” balas Nachya membuat Boy langsung terkekeh pelan.


“Nachya...!”


“Kamu kayaknya makin lama makin gemesin yaa?!”


“Mau aku cium lagi?” ancam Boy yang sudah mengikis jarak antara mereka berdua.


“Iiih, Boy! Kenapa jadi me5um gini sih? Aku masih makan loh!” gerutu Nachya.


Lagi-lagi Boy hanya tersenyum mendapati sikap Nachya yang menurutnya semakin lucu dan menggemaskan di matanya.


“Ya udah, habisin dulu makannya! Habis itu kita jalan lagi ke tempat lain. Gimana?” tawar Boy.


Sayangnya kali ini Nachya justru berbeda dengan biasanya. Jika biasanya ia sangat senang diajak jalan-jalan oleh Boy, kali ini Nachya justru menggelengkan kepalanya menolak ajakan Boy.


“Enggak deh Boy. Aku minta di anter ke kantor papa aja!” jawab Nachya.


“Ada yang pingin aku sampaikan sama papa mama. Tapi untuk pertama kalinya aku mau bilangnya sama kamu!” lanjut Nachya lagi.


“Jangan bilang kalo kamu mau ngomongin masalah ini ke papa sama mama!” tebak Boy yang mulai tampak was was.


Meskipun Boy sudah mengutarakan perasaannya kepada Nachya, bukan berarti saat itu juga ia siap untuk memberitahukan papa dan juga mamanya tentang perasaan mereka berdua.


Boy masih ingin hubungannya dengan Nachya terjalin secara backstreet sampai nantinya ia siap untuk mengungkapkan semuanya kepada kedua orang tua mereka.


“Ya gak lah Boy. Yang ada ntar papa sama mama malah mencak-mencak lagi!” balas Nachya sambil mengelap mulutnya dengan tisue.


“Emang sebenernya kamu mau ngomongin apa sih Nach?” tanya Boy yang mulai diselimuti rasa penasaran.

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Boy, Nachya justru balik bertanya. “Jawab dulu dong status kita sekarang apa?”


“Emm, yang jelas saat ini kita berdua sama-sama mencintai, bukan?” balas Boy yang langsung diangguki oleh Nachya.


“Kita pacaran, Nach! Gimana?” tanya Boy.


“Oke! Tapi diem-diem kan?”


Pertanyaan Nachya kali ini pun langsung diangguki oleh Boy, “Good girl!” timpal Boy sambil mengusap kepala Nachya.


Nachya pun berbalik mengambil sesuatu di dalam tasnya dan kemudian menyerahkan kepada Boy.


“Apa ini Nachya?” tanya Boy yang langsung membuka map tebal yang baru saja disodorkan oleh Nachya.


“Aku lolos tes beasiswa di The Bartlett School of Architecture University College London, Boy!” jawab Nachya membuat tangan Boy terasa lemas seketika.


Entah kenapa kabar baik yang disampaikan Nachya membuat hatinya begitu teriris. Baru saja ia hendak merasakan manisnya jatuh cinta, kali ini ia harus kembali mengalah demi cita-cita Nachya.


“Emm, aku emang diem-diem sih ikut tes audisi itu! Karena awalnya aku gak yakin kalo aku bakal lulus tes dari beberapa tahap yang aku lewati!”


“Selain tesnya menurut aku susah, saingan aku juga datang dari seluruh penjuru dunia!”


“Eh, gak taunya tadi pagi Miss Adel panggil aku ke ruangannya dan menyampaikan surat panggilan dari University College London yang baru sampai kemarin siang!” tukas Nachya yang terdengar begitu antusias.


“Dan kamu adalah orang pertama yang aku kasih tau soal ini!” lanjut Nachya lagi membuat lidah Boy kelu harus menimpali apa.


“Boy!” panggil Nachya sambil menggoyangkan tubuh Boy.


“Kok kamu malah diem sih! Emang kamu gak bangga ya sama pencapaian aku kali ini?!” tanya Nachya yang mulai terdengar kesal.


Boy kini langsung memaksakan senyumnya dan memandang ke arah Nachya. Ia pun meletakkan map yang ia pegang di meja dan menangkupkan tangannya di pipi Nachya.


“Aku sangat teramat bangga denganmu, Nachyaku sayang!” ucap Boy dengan mata yang berkaca-kaca.


Kali ini Boy merasa begitu berat dari sebelumnya. Ia pun langsung memeluk Nachya dengan sangat erat dengan perasaan yang begitu takut kehilangan Nachya.


“Aku sangat bangga, Nachya! Tapi aku benar-benar takut kehilanganmu!” ucap Boy dengan suaranya yang mulai parau.


Nachya pun membalas pelukan Boy sambil mengusap punggungnya.


“Aku hanya ingin jadi perempuan yang hebat agar nantinya aku pantas bersanding denganmu, Boy! Aku tidak ingin terus menerus menjadi wanita yang kekanak-kanakkan, manja, dan terus saja menyusahkanmu!”


“Tapi aku tidak pernah merasa susah sedikit pun karenamu, Nachya!” sanggah Boy sambil mengendurkan pelukannya.

__ADS_1


“Bahkan seharusnya akulah yang seharusnya memantaskan diri untuk bersanding denganmu!” tukas Boy yang kini memegang erat kedua lengan Nachya.


“Tapi Boy, kau tahu sendiri bukan? Papa terus menerus membanggakanmu! Sedangkan aku, hanya dibanggakan karena prestasi di sekolah aja!”


“Terlebih aku gak pernah dapet penghasilan besar kayak kamu! Dan justru sebaliknya, aku selalu saja menghamburkan uang papa!” gumam Nachya.


“Dan kali ini, aku lakuin semuanya biar papa, mama dan juga kamu bangga sama aku!” lanjut Nachya lagi membuat Boy mengusap wajahnya kasar.


“Kamu cemburu sama perlakuan papa terhadap aku?” tanya Boy. “Kalo memang kamu cemburu? Aku akan pergi Nach!”


“Bukan seperti itu Boy!” kali ini Nachya menghela nafasnya panjang.


“Kamu tahu kan kalo aku sangat ingin menjadi arsitek muda ternama?! Dan menurut aku inilah pintu gerbangnya!” lanjut Nachya lagi.


Kini Boy tidak bisa berkata apa-apa lagi terlebih ia sama sekali tidak memiliki hak untuk melarang keinginan Nachya menggapai cita-citanya.


“Okey, kalo begitu kita lebih baik ke kantor papa sekarang untuk memberikan kabar ini, Nachya!” ajak Boy yang mulai mengemasi berkas Nachya dan memasukkannya ke dalam tas Nachya.


“Are you okay, Boy?” tanya Nachya sambil mengusap lengan Boy.


Mana mungkin Boy baik-baik saja saat mendapatkan kabar mencengangkan baginya. Bahkan kabar ini sama sekali tidak terduga dan terbayangkan sebelumnya.


“Don’t worry me, Nach! I will be okay!” balas Boy sambil mengecup kening Nachya.


“Aku akan mendukung apapun yang kamu inginkan, Nachya!” ucap Boy sambil menguatkan dirinya sendiri yang sebenarnya tidak sanggup jauh dari Nachya. Terlebih setelah mengungkapkan perasaannya.


“Kamu memang terbaik, Boy. I do love you!” ucap Nachya sambil memeluk lengan Boy dengan sangat erat.


Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan restoran menuju ke parkiran motor. Sesampainya di parkiran, Nachya langsung naik ke atas motor Boy dan memeluk Boy dengan sangat erat tanpa diperintah oleh Boy.


Sepanjang perjalanan menuju ke firma, Boy sengaja memelankan laju motornya.


‘Aku sungguh tidak ingin kemesraan kita berlalu begitu saja Nachya! Tapi kali ini aku tidak mampu berbuat apa-apa untuk menahanmu tetap berada disisiku!’


‘Harusnya hari ini menjadi hari yang sangat bahagia bagiku! Tapi aku merasakan patah hati karena aku harus mengalahkan egoku demi kebahagiaanmu, Nachya!’


‘Berat dan sangat berat untuk melepasmu pergi! Tapi aku tidak punya alasan untuk menahan kepergianmu!’


 💕💕💕



 

__ADS_1


__ADS_2