
“Wah, ini tawaran yang sangat sulit saya tolak, Mr! Namun saya benar-benar tidak ingin merepotkan Anda!” ucap Boy yang tidak ingin berhutang budi dengan Mr Kevin.
“Ayolah Boy, aku juga tidak menuntut balas budi denganmu!” tukas Mr Kevin sambil menepuk bahu Boy.
“Kau tahu kan, hampir 15 tahun pernikahanku tidak dikaruniai anak. Dan sebab itu lah aku dan istriku tidak pernah memiliki hubungan yang harmonis. Begitu juga hubunganku dengan keluarga besarku.”
“Namun setelah hari itu kami bertemu denganmu dan berusaha untuk mengikuti semua solusi penyelesaian masalah darimu. Kehidupan kami berubah dan sekarang istriku sedang mengandung.”
Kabar dari Mr Kevin kali ini pun membuat Boy merasa sangat gembira.
“Selamat atas kehamilan istri Anda, Mr!” ucap Boy sambil mengulurkan tangannya.
“Terima kasih, Boy. Dan aku mohon kau bisa menerima tawaran dariku kali ini. Anggap saja ini tip besar dariku atas segala usaha kerasmu.” desak Mr Kevin membuat Boy menghela nafasnya panjang.
‘Andai Mr Kevin memberikan tawaran untukku berkuliah di London, tentunya aku akan langsung menerimanya tanpa berpikir panjang lagi. Dengan begitu aku bisa memenuhi janjiku dengan Nachya!’ gumam Boy dalam hati.
Gumaman Boy di dalam hati barusan seperti terdengar oleh Mr Kevin. Bak gayung yang bersambut, Mr Kevin pun memberi tawaran yang kali ini tidak bisa Boy tolak sama sekali.
“Atau kau ingin berkuliah di negara yang lain mungkin selain Amerika?” tanya Mr Kevin.
“Ya, seperti ke Jerman, London, atau bahkan kau ingin ke Jepang. Aku akan membiayaimu seluruhnya, Boy! Anggap saja ini sebagai awal hubungan kekerabatan kita!” ucap Mr. Kevin membuat hati Boy seperti melompat lompat karena begitu gembira.
“Apa ini serius, Mr?” tanya Boy yang sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Tentu saja sangat serius, bahkan jika kau memilih ke London, kau juga bisa membantuku di Perusahaan sebagai konsultan hukum di sana!” lanjut Mr. Kevin.
“Bagaimana? Kau bisa membicarakan hal ini dengan Papa dan juga Mamamu!”
“Setelah itu hubungi aku untuk membicarakan mana yang kau pilih. Jadi, bulan depan kau sudah bisa pergi ke negara yang ingin kau tuju!” jelas Mr. Kevin yang terdengar bagaikan embun yang begitu menyejukkan hati.
“Siap, Mr. secepat mungkin saya akan memberi kabar kepada Anda!” balas Boy.
Jika tadi ia merasa semangatnya hilang bersama dengan kepergian Nachya, kali ini justru semangatnya kembali berkali lipat. Setelah Mr. Kevin meninggalkannya, Boy langsung kembali ke firma dengan semangat 45. Bayangan pertemuannya dengan Nachya kini mulai menari-nari di pelupuk matanya.
“One month! Just one month kita tidak bertemu, Nach!” gumam Boy sambil menapak dengan mantap meninggalkan bandara.
__ADS_1
Dalam waktu yang bersamaan, ponsel Boy bergetar dan memperlihatkan informasi terbaru dari kampus. Di mana dibuka pendaftaran audisi untuk pertukaran mahasiswa ke Oxford University. Peluang kali ini tidak disia-siakan oleh Boy. Ia pun langsung bergegas menuju ke kampus untuk segera mendaftar dan mengantongi persyaratan yang harus ia penuhi sebelum kembali ke firma.
☘️☘️☘️
Nachya, akung dan utinya kini sudah tiba di bandara London Heathrow setelah menempuh penerbangan selama 17 jam. Kedatangan mereka langsung disambut oleh rekan bisnis Akung Mario dan juga cucunya.
“Mario!” sapa rekan bisnisnya yang jika ditaksir oleh Nachya usianya tidak jauh dari akungnya.
“Krish!” balas Mario menyapa sahabat lamanya.
Keduanya pun langsung berpelukan meluahkan kerinduan mereka.
“Mana cucu kesayangan yang kau banggakan itu, Mario?” tanya Krish mengendurkan pelukannya.
“Nachya!” panggil Akungnya dan Nachya pun langsung mendekat.
“Nah, ini cucu kesayanganku!” dengan bangga Akung Mario memperkenalkan Nachya kepada sahabat sekaligus rekan bisnisnya.
“Nachya, ini sahabat akung sejak kecil dan rekan bisnis akung yang ada di Birmingham. Panggil saja Opa Krish!”
“Cucumu sangat cantik, Mario!” puji Opa Krish yang kemudian memanggil cucu laki-lakinya.
“Nah, kenalkan ini cucu Opa, namanya Dean!”
“Kebetulan dia mengambil kuliah yang sama denganmu di UCL. Jadi selama di London nanti, Opa percayakan Dean untuk menjagamu!” jelas Opa Krish.
Nachya dan Dean pun berkenalan singkat. Setelah itu mereka segera menuju ke private-owned flat yang nantinya akan ditempati oleh Nachya selama belajar di UCL. Flat House yang akan dihuni oleh Nachya tidak jauh dengan flat house Dean.
Rata-rata mahasiswa yang belajar di UCL juga tinggal di sana. Selain jaraknya dekat dengan kampus, fasilitas di sana juga sangat lengkap dan tidak membuat Nachya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-harinya nanti.
Selama perjalanan dari bandara menuju ke Flat House, Nachya memilih diam sambil memejamkan matanya karena masih mengalami jet lag. Begitu juga dengan Uti Aleya. Sedangkan Akung Mario dan juga Opa Krish terus saja bercerita sepanjang jalan mengingat masa muda mereka berdua.
“Flat House yang akan dihuni Nachya nanti ada tiga lantai. Setiap lantai hanya ada satu kamar seperti yang kamu minta. Jadi kau bisa tinggal di sana saat weekend untuk melihat keadaan cucumu!” tutur Opa Krish.
“Terima kasih banyak atas bantuanmu, Krish. Oh iya, apa cucumu sudah memiliki kekasih?” tanya Akung Mario menggunakan bahasa percakapan yang tentunya tidak dimengerti oleh Dean.
“Tentu saja belum!” jawab Opa Krish antusias. “Bahkan saat melihat Nachya untuk pertama kalinya, aku ingin mendekatkan mereka berdua!”
__ADS_1
“Kalo begitu kita satu pemikiran dong!” balas Akung Mario yang terdengar begitu bersemangat.
Tujuannya kali ini tentu saja agar Nachya benar-benar memutuskan hubungannya dengan Boy. Dengan mendekatkan Dean selama di London, pasti lama kelamaan Nachya akan melupakan Boy dengan sendirinya. Begitulah yang dipikirkan oleh Akung Mario.
Sesampainya di Flat House, Nachya langsung membawa barang-barangnya masuk ke dalam dibantu oleh Dean. Namun tidak ada percakapan berarti antara mereka berdua selain ucapan terima kasih dari Nachya.
Dan setelah itu Dean dan opanya pun langsung kembali ke Flat House Dean untuk memberikan waktu kepada Nachya dan keluarganya beristirahat.
“Dean, Opa rasa Nachya sangat cocok untuk menjadi kekasihmu! Cantik, cerdas dan juga energik!” tutur Opa Krish membuat Dean membuang nafasnya kasar.
“Tapi Opa sudah tahu kan kalo aku saat ini menjalin hubungan dengan Louryn. Dan aku bukan tipe yang menjalin hubungan dengan 2 wanita sekaligus!” tegas Dean yang secara terang-terangan tidak setuju dengan opanya.
“Louryn yang terus menerus menghabiskan uangmu untung clubbing itu, hah?!” sarkas Opa Krish yang memang sudah tidak menyukai kekasih cucunya dengan gaya hidup hedonisnya.
“This is London, Opa! Not Nusantara yang selalu Opa banggakan!” tegas Dean.
“Kalau begitu kamu juga tidak perlu hidup dengan segala fasilitas yang opa miliki saat ini! Silakan cari kehidupanmu di luaran sana sendiri!” ancam Opa Krish membuat Dean mengusap wajahnya kasar.
“Opa tidak mau tahu, kau harus memutuskan hubunganmu dengan Louryn dan menjalin hubungan dengan Nachya!”
“Tapi Opa, Nachya juga belum tentu mau menjalin hubungan denganku. Opa tidak melihat bagaimana sikap dinginnya tadi yang hanya mengucapkan dua kata saat bersamaku. Just ‘thank you’ no more!” balas Dean.
“Itu namanya wanita yang benar! Dia sangat fokus dengan cita-citanya, tidak seperti Louryn yang lebih banyak menghabiskan waktunya di bar!” timpal Opa Krish membuat Dean semakin jengah mendengar kekasihnya selalu saja dipandang sebelah mata.
“Dan ingat! Budaya timur yang Nachya pegang teguh tidak seperti di sini. Dia masih virgin dan hanya menyerahkan ke perawanannya dengan suaminya kelak! Jangan pernah menyamakan dia dengan wanita di sini apalagi dengan Louryn!” jelas Opa Krish membuat Dean berdecih untuk ke sekian kalinya.
“Cih, Sungguh membosankan!” gerutu Dean.
“Mana bisa aku menjalin hubungan seperti itu!” lanjutnya lagi sambil meninggalkan opanya begitu saja.
Dean
Louryn
__ADS_1