
Malam harinya, Papa Belva kembali menuju ke kediaman Akung Mario bersama dengan Boy untuk mengambil barang-barang Uti Aleya. Akung Mario yang sudah tidak suka dengan Boy hanya melipat kedua tangannya di dada dan membiarkan Belva mengemasi barang barang Mami Mertuanya yang sebenarnya sudah rapi di dalam koper.
"Belva pamit, Pi. Jaga diri papi baik-baik!" ucap Papa Belva yang hanya dijawab dengan deheman oleh Akung Mario.
Kini Akung Mario hanya terduduk lemas sambil bersandar di dinding menatap kepergian Belva dan juga Boy.
"Ini benar-benar tidak adil untukku!" gerutu Akung Mario yang kemudian mencoba untuk bangkit menuju flat house milik Dean.
Namun saat langkahnya terhenti di depan pintu, terdengar dari dalam jika Opa Krish dan juga Dean sedang membicarakannya.
"Jika kau gagal untuk mendapatkan Nachya. Lebih baik kita kelabui semua saham milik Mario! Berikan saja sepersepuluhnya. Jika kita tetap memberi setengahnya, maka kita akan berada dalam kerugian besar."
"Benar Opa, ide bagus! Lagi pula menampung hidup Akung Mario yang sekarang sedang sakit justru semakin merepotkan. Apalagi sudah ditinggalkan oleh keluarganya!" timpal Dean.
Betapa marahnya Akung Mario saat mendengar semua itu. Dengan geram ia pun mendobrak pintu rumah Dean dan seketika tersungkur di lantai dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.
Opa Krish dan juga Dean yang sama-sama terkejut pun segera memanggil ambulans untuk segera membawa Akung Mario ke rumah sakit.
Mau tidak mau Opa Krish pun memberi tahu Uti Aleya jika suaminya di rumah sakit dan kini mengalami gejala stroke.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, Nachya sudah diperbolehkan pulang ke rumah dengan catatan masih harus banyak istirahat dan dilarang untuk melakukan pekerjaan yang membuatnya lelah.
Kali ini mereka langsung menuju ke kediaman Boy yang tidak jauh beda dengan flat house milik Akung Mario.
Setelah mengantarkan Nachya ke kamarnya, Papa Belva langsung menarik tangan istrinya dan mengajaknya untuk menuju kamar mereka yang sudah disiapkan oleh Boy di lantai paling atas.
"Sudah dicek sayang?" tanya Papa Belva yang langsung dijawab Mama Ecca dengan anggukan kepalanya.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya lagi tidak sabar untuk mengetahui hasil cek kehamilan Mama Ecca.
"Aku beneran hamil, Bee!" balas Mama Ecca membuat papa Belva langsung menciumi perut istrinya bertubi-tubi.
"Kita harus memeriksakan ini ke dokter, sayang. Sambil menjenguk keadaan Papi dan Mami yang masih di rumah sakit. Bagaimana?" tawar Papa Belva.
"Boleh saja, tapi besok yaa. Hari ini aku sangat lelah!"
"Istirahatlah bumilku sayang. Aku juga masih harus mengurus laporan Nachya di kantor polisi bersama Boy!" timpal Papa Belva.
__ADS_1
"Tapi bukannya kau juga belum istirahat, Bee! Istirahatlah sejenak denganku. Aku tidak mau kau nanti jatuh sakit!" ajak Mama Ecca yang memeluk lengan suaminya dengan manja.
"Baiklah sayaaang. Tapi aku harus memberi tahu Boy dulu."
Papa Belva pun langsung menemui Boy yang kini tampak sibuk di pantry.
"Sedang apa Boy?" tanya Papa Belva saat melihat Boy sedang mengaduk bubur.
"Membuatkan bubur hangat untuk Nachya, Pa. Makanan untuk papa sama mama sudah ada di meja makan ya!" jawab Boy.
"Thanks, Boy. Papa dan Mama akan beristirahat, kemungkinan nanti malam kita akan kembali bergerak."
"Tidak masalah, Pa. Papa lebih baik istirahat saja. Boy akan mengurus semuanya bersama dengan Satria. Kebetulan hari ini jadwal kuliah kita kosong!" jelas Boy membuat Papa Belva kini bisa bernafas lega.
"Okey, hati-hati ya Boy! Papa mengandalkanmu!" ucap Papa Belva sambil meninggalkan Boy kembali ke kamarnya.
Setelah selesai membuatkan bubur ayam untuk Nachya, Boy pun segera menuju ke kamar Nachya dengan membawa nampan.
Boy sengaja menempatkan Nachya di kamar yang paling bawah mengingat Nachya masih tidak boleh lelah untuk naik turun tangga.
Aroma bubur buatan Boy kali ini membuat Nachya mengerjapkan matanya.
"Iya dong. Kan kamu harus minum obat Nachya."
"Thanks a lot yaa, suami!" balas Nachya membuat Boy hampir saja menumpahkan bubur yang kini ia bawa.
"Nachya, jangan macem macem deh! Hampir tumpah kan buburnya!" gerutu Boy yang sebenarnya sangat kikuk dengan panggilan Nachya terhadapnya barusan.
"Buburnya yang hampir tumpah atau hati kamu yang hampir meleleh?" tanya Nachya sambil terus memandangi Boy.
"Dua-duanya!" jawab Boy.
"Kamu lucuuk deh Boy kalo lagi malu malu gini. Tapi inget yaa, aku masih belum kasih hukuman sama kamu karena udah bohong sama aku!" ucap Nachya membuat Boy langsung mengernyitkan dahinya.
"Hukuman?" tanya Boy.
"Hu-um!" jawab Nachya sambil menganggukkan kepalanya.
"Apapun hukuman kamu, aku bakal siap deh sayang. Yang penting sekarang buka mulut kamu, biar habis itu minum obat!" balas Boy sambil menyuapi Nachya.
"Nantangin banget nih suami aku." Nachya pun langsung membuka mulutnya menerima suapan dari Boy.
__ADS_1
"Masih calon sayang!" ralat Boy. "Gak enak kalo didengar papa sama mama!"
"Ck, kayak papa sama mama denger aja!"
"Oh iya Boy, gimana rasanya waktu kasih nafas buatan ke aku kemarin?" tanya Nachya.
"Panik lah tentunya. Gak ada yang lain selain panik."
"Berarti kamu gak menikmati ciuman pertama kamu dong!"
"Itu bukan ciuman Nachya! Kan aku lagi kasih nafas buatan ke kamu. Beda dong!" balas Boy yang memang hanya merasakan panik dan gusar saat memberikan nafas buatan untuk Nachya.
"Gimana kalo kita ulang, Boy. Biar kek reka adegan yang biasa diminta sama polisi gituh!" ajak Nachya sambil mengedipkan matanya ke arah Boy.
"Nachyaaa!" panggil Boy geram. "Jangan iseng deh!"
"Kenapa? Kamu juga sekarang lagi gusar kaaan!"
Boy sangat paham jika Nachya kini sedang berusaha untuk mengganggunya. Karena merasa tertantang, Boy pun mencoba mengikis jarak antara mereka berdua.
'Duuuh, gawat! Boy serius mau ulang reka adegan yang kemarin?' batin Nachya yang mulai bertalu-talu.
'Ck, kayaknya dia gak bakal mungkin berani deh!'
Nachya pun langsung mengalungkan tangannya di leher Boy dan menarik leher Boy agar semakin mendekat ke arahnya.
'Aduuuh, aku beneran lupa kalo Nachya gak bisa diajak main-main kayak gini. Aku harus gimana dong ini!' rutuk Boy dalam hati.
Untung aja Mama Ecca langsung datang membuka pintu kamar Nachya.
"Ya Ampuuuun kalian berdua ini yaa! Mau ngapain haaah?!" tanya Mama Ecca.
Dengan cepat Boy langsung menjauh dari Nachya sedangkan Nachya hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Tadi cuma mau latihan ciuman aja kok ma. Biar nanti pas abis nikah Boy gak kaku kayak tadi!" jawab Nachya.
"Tapi mama tenang aja! Hanya latihan kok, jadi belum nempel."
Mendengar penjelasan Nachya kalo ini membuat Mama Ecca hanya bisa tepuk jidat.
Sedangkan Boy hanya bisa menahan malu karena kejujuran Nachya di depan mamanya.
__ADS_1