Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Tawaran Pak Adit


__ADS_3

Nachya memasuki gerbang sekolahnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Tampak teman-teman sekolahnya pada bergerombol saling mengobrol, ada juga adik kelasnya yang masuk dalam jajaran OSIS sedang mempersiapkan bahan masa orientasi siswa baru, dan juga beberapa siswa baru yang masih mengenakan seragam OSIS SMP yang berkumpul di tepi lapangan basket.


Saat Nachya mengalihkan pandangannya ke depan ruangan Pak Adit, tampak dari kejauhan Pak Adit juga memandang ke arahnya. Senyum Pak Adit pun langsung merekah sempurna dan melambaikan tangannya memanggil Nachya untuk segera ke ruangannya.


Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, Nachya pun segera memenuhi panggilan guru barunya itu. Namun, langkahnya langsung tertahan oleh Ruby yang tiba-tiba mengamit lengan Nachya.


“Mau ke mana Nach?” tanya Ruby.


“Pak Adit barusan manggil aku itu!” Nachya memberikan kode dengan kepalanya untuk menunjuk ke arah di mana Pak Adit sedang berdiri.


“Ehemm. Kayaknya bentar lagi sahabat aku sudah gak jomblo ini!” ledek Ruby dengan memainkan kedua alisnya.


“Ruby, dugaan kamu itu salah besar!” sanggah Nachya. “Nanti deh aku ceritain siapa Pak Adit sebenarnya!”


“Okey, aku juga mau cerita gebetan baru aku sama kamu nanti!” balas Ruby dan Nachya pun langsung berjalan menuju ke ruangan Pak Adit.


Sesampainya di ruangan Pak Adit, Nachya melihat seorang perempuan yang ditaksir usianya beberapa tahun di bawah Pak Adit.


“Silakan masuk Nachya!” ucap Pak Adit saat Nachya membuka pintu ruangannya.


“Oh, jadi ini yang namanya Nachya. Cantik banget kamu, Nach!” ucap perempuan tadi yang sangat mirip dengan almarhumah pemilik yayasan.


“Kenalin, saya Adel adiknya Bang Adit.” Adel mengulurkan tangannya ke arah Nachya. “Saya nanti yang akan menggantikan Bu Juwita di sini tahun depan.”


Nachya pun membalas uluran tangan Adel dan mencium tangannya. “Saya Nachya.”


“Miss Adel sangat mirip dengan mendiang Bu Juwita!” tukas Nachya.


“Tentu saja! Oh iya, kamu pasti bertanya-tanya kan kenapa dipanggil ke ruangan Pak Adit?” tanya Adel yang tampak mencoba untuk mendekatkan dirinya kepada Nachya.


Nachya pun langsung menganggukkan kepalanya, “Benar Miss!”

__ADS_1


“Ya udah kamu ke meja Pak Adit dulu, Nach! Saya tadi hanya penasaran bagaimana cantiknya anak Om Belva!” balas Miss Adel yang bersiap untuk ke luar ruangan Pak Adit.


“Loh, Miss Adel kenal sama papa saya?” tanya Nachya yang masih pura-pura tidak tahu jika mereka berdua adalah kakak tiri Boy.


“Tentu kenal dong! Papa kamu kan sering bantu masalah keluarga kita.” Adel menepuk bahu Nachya. “Itu udah ditunggu sama Pak Adit!”


Nachya pun berdiri dari sofa dan mendekat ke meja Pak Adit. Sedangkan Adel pun langsung ke luar dari ruangan untuk memberikan waktu Pak Adit berbicara kepada Nachya.


“Emm, begini Nachya. Kebetulan saya akan ada meeting dengan para guru pagi ini. Jadi saya ingin meminta tolong untuk membagikan soal ini di kelas.”


“Jangan lupa nanti dikumpulkan sama kamu dan bawa ke ruangan saya saat jam istirahat!” jelas Pak Adit sambil menyerahkan tumpukan lembar soal kepada Nachya.


“Siap pak!”


“Oh iya, pak. Yang tadi malam terima kasih banyak bantuannya ya!” ucap Nachya.


“Gak gratis loh itu, Nach!” balas Pak Adit membuat benak Nachya langsung menghitung sisa uang jajannya.


‘Duh, Pak Adit minta bayaran berapa ya? Kalo satu soal lima ribu, dikalikan 30 soal berarti 150.000 dong!’ gumam Nachya dalam hati.


‘Duuuh, Nachya! Semalem gak mikir dulu sih kalo mau minta tolong!’ rutuk Nachya dalam hati.


“Kira-kira satu soalnya berapa ya pak?” tanya Nachya dengan hati-hati. “Kalo misalnya saya cicil bayarnya gak papa kan, pak?”


Pertanyaan Nachya kali ini langsung membuat Adit tertawa.


“Saya gak sejahat itu sama kamu, Nachya!” balas Adit memandang gemas ke arah Nachya.


“Kamu cukup bayar dengan menemani saya makan siang di sini! Nanti ada Miss Adel juga kok, Gimana?” tawar Pak Adit.


“Makan siang? Ini sih bukan gratis lagi dong, Pak! Saya malah kayak sedang merampok bapak!” tukas Nachya.

__ADS_1


“Saya pikir bapak mau minta bayaran sama saya! Otak saya sampai pusing ini itung berapa banyak saya harus bayar bapak!” celetuk Nachya.


Adit kembali tersenyum melihat kepolosan Nachya kali ini.


“Jadi gimana, nanti siang bisa kan?” tanya Pak Adit lagi memastikan.


Nachya langsung menganggukkan kepalanya, “Bisa pak! Kalau begitu saya kembali ke kelas dulu ya pak!” ucap Nachya yang langsung berbalik dan keluar dari ruangan Pak Adit.


Setelah Nachya sudah tidak terlihat, Adit langsung mengusap wajahnya dan menggigit bibir bawahnya dengan gemas.


“Ck, aku benar-benar sangat gemas dengan gadis itu! Kenapa dia tampak semakin cantik dan menggemaskan seperti ini?” gumam Adit yang benar-benar sangat terpesona dengan Nachya.


Tak lama kemudian, Adel pun kembali masuk ke dalam ruangan Adit.


“Bang, Nachya itu masih kecil loh buat abang cintai!” protes Adel. “Memang abang gak bisa ya cari yang lebih dewasa dari Nachya? Cantik sih cantik, tapi dia masih sekolah, Bang!”


“Masa depan Nachya juga masih panjang.”


Adit menghela nafasnya panjang.


“Aku gak buru-buru nikah kok!” balas Adit sambil mempersiapkan berkas untuk meeting pagi ini dengan para guru.


“Yuk langsung ke meeting room. Guru-guru sudah pada kumpul kayaknya!” ajak Adit mengalihkan pembicaraannya dengan Adel.


☘️☘️☘️


Cerita selanjutnya akan diupdate sore yaaa.


Sambil menunggu update selanjutnya, mampir dulu yuk ke Novel bestie aku. Dijamin ceritanya menarik dan seru banget.


Judulnya : Bidadari Yang Diabaikan

__ADS_1


Author : Santi Suki



__ADS_2