
Melihat Papa Belva dan Mama Ecca sudah siap untuk keluar dan memberi perhitungan pada Akung Mario, Nachya pun langsung menahan keinginan kedua orang tuanya itu mengingat saat ini mereka masih berada di rumah sakit.
“Papa, mama! Di sini saja saama Nachya!” pinta Nachya.
“Papa harus menemui akungmu, Nachya!” jawab Papa Belva yang kemarahannya sudah diubun-ubun kepala.
“Tapi ini masih di rumah sakit loh, paaa!” tutur Nachya mengingatkan.
“Kalau begitu, mama akan panggil Akung untuk masuk ke dalam. Mama juga tidak terima dengan sikap Akung terhadapmu sayang!” balas Mama Ecca yang tetap melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Nachya.
“Papi, masuk yuk!” ajak Ecca dengan tatapan dinginnya.
Mario sadar jika Nachya pasti sudah bercerita tentang apa yang terjadi di flat house dua minggu yang lalu. Ia pun menarik Dean masuk ke dalam untuk memberitahukan kepada semuanya jika apa yang ia lakukan semata-mata untuk membukakan mata Nachya.
Tidak hanya itu, Mario juga ingin menegaskan jika kali ini mereka berhutang nyawa dengan Dean yang telah menyelamatkan Nachya dari maut.
Dengan mantap Akung Mario pun menggandeng tangan Dean untuk masuk ke dalam. Bukan main senangnya hati Dean karena sebentar lagi keinginannya untuk bersanding dengan Nachya pun terkabul.
Sesampainya di dalam ruangan Nachya, dengan santainya Akung Mario duduk di sofa tepat di samping istrinya. Belum sampai Belva buka suara, Akung Mario langsung meminta maaf atas apa yang ia lakukan terhadap Nachya.
“Nachya, Akung minta maaf atas apa yang akung perbuat. Akung hanya ingin mendidikmu dengan baik, sayang. Akung keras karena Akung sayang sama Nachya!” tutur Akung Mario membuat darah papa Belva semakin mendidih.
“Apa Papi pikir selama ini Belva salah dalam mendidik Nachya sampai papi menamparnya?” sarkas Papa Belva tidak terima.
“Lagi pula didikan semacam apa yang papi beri ke Nachya? Didikan kebohongan?” tanya Belva yang mulai berani merendahkan mertuanya. “Atau bahkan didikan kebodohan?”
“Tidak mungkin papi mendidik Nachya semacam itu. Buktinya anak hasil didikan papi juga kamu nikahi bukan?” balas Papi Mario tidak terima dilecehkan oleh menantunya.
“Sayangnya sejak kecil yang paling banyak memberikan didikan terbaik adalah Mami Aleya!” timpal Ecca yang sama sekali tidak membela Papinya sedikit pun.
“Apa papi lupa jika setiap hari disibukkan oleh berbagai kerjaan di kantor papi?” lanjut Ecca membuat Papi Mario semakin naik pitam.
Ia tidak mengira jika kini semuanya menyerangnya hanya demi membela Nachya yang menurutnya sudah banyak terpengaruh oleh Boy. Papi Mario pun berdiri dan mulai melayangkan tangannya hendak menampar Ecca.
Namun, dengan cepat Belva melindungi istrinya dan menangkis tangan papi mertuanya.
“Awh!” pekik Mario kesakitan saat tangannya ditangkis dengan kasar oleh Belva.
__ADS_1
“Kurang ajar kalian! Jika papi tahu akan seperti ini jadinya lebih baik kalian berdua bercerai!” gertak Papi Mario sambil membelalakkan matanya ke arah Belva.
Ia sadar diri jika Belva bukanlah tandingannya, namun kali ini ia harus memisahkan pernikahan anaknya sendiri dengan harapan Belva bertekuk lutut di kakinya dan meminta maaf.
Dean yang melihat keributan tersebut tanpa malu masih saja berada di dalam ruangan dan tidak berinisiatif untuk beranjak dari sana.
“Ecca! Papi perintahkan sama kamu untuk menggugat cerai suamimu!” titah Papi Mario.
Semuanya langsung terdiam sejenak mendengar titah dari Papi Mario. Namun tak lama kemudian Nachya kini mulai angkat bicara.
“Setahu Nachya, Akung sama sekali tidak bisa memberi perintah seperti itu!” tegas Nachya.
“Dan Mama Ecca tidak perlu menuruti perintah gila Akung. Karena seharusnya mama Ecca patuh sepenuhnya terhadap Papaku.”
“Kecuali jika orang tua dari Papa yang meminta seperti itu. Lagi pula bercerai tidak semudah mulut busuk Akung dalam berbicara!”
Keberanian Nachya kali ini benar-benar sangat mengejutkan. Meski Papa Belva dan Mama Ecca sangat paham mengenai hal ini, namun penjelasan Nachya sudah mewakili semuanya.
“Dan kini, aku lah yang akan menuntut perceraian ke pengadilan. Sepertinya semakin hari aku semakin tidak mengenal suamiku sendiri!” timpal Uti Aleya membuat Akung Mario sangat terkejut.
“Aku akan segera kembali ke Indonesia dan mengurus perceraian kita!” tegas Uti Aleya lagi membuat Mario langsung memegang dada kirinya dan terjatuh di lantai.
Melihat Mario tidak sadarkan diri membuat yang lainnya tidak begitu peduli. Akhirnya Dean lah yang berlari ke ruang perawat jaga untuk memberi pertolongan pada Akung Mario.
“Papa, kok hidung akung Mario gak di toel biar tahu Akung Mario beneran shock atau pura-pura?” celetuk Nachya saat Dean keluar dari ruangan.
“Tidak perlu, bagi Papa menjaga hatimu adalah yang paling penting princess Nachya!” jawab Belva yang terlihat begitu acuh.
‘Sial, mereka benar-benar sudah tidak peduli lagi denganku!’ rutuk Mario dalam hati.
Bagaimana lagi ia mendapatkan simpati jika saat ini matanya terlihat jelas sedikit bergetar memperlihatkan jika ia hanya pura-pura. Bahkan istrinya sendiri sudah sangat enggan memberi perhatian kepada suaminya.
Niat Mami Aleya untuk menceraikan suaminya yang begitu egois sudah bulat. Baginya lebih baik kehilangan satu orang dari pada ia harus kehilangan anak dan cucu kesayangannya.
Tim perawat pun langsung mengangkat tubuh Akung Mario menuju ke ruangan yang lain untuk diperiksa. Sedangkan Dean bukannya mengikuti ke mana Akung Mario dibawa, melainkan masih tetap tinggal di tempat untuk menjelaskan kepada Nachya jika ia adalah orang yang menyelamatkan Nachya.
“Kamu kenapa masih di sini?!” tanya Papa Belva tidak suka.
“Mau bicara sedikit sama Nachya, uncle!” jawab Dean dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Bicaralah 5 menit setelah itu pergilah Dean! Tapi jika ucapanmu kali ini tentang kebohongan, maka aku akan menuntutmu di pengadilan!” ancam Nachya membuat Dean bergidik ngeri.
“Emmm, maafkan aku, Nachya!” ucap Dean yang tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Dean! Karena bagiku, kau adalah orang yang sudah menghancurkan keluargaku!”
“Keluarlah! Aku benar-benar muak denganmu!” titah Nachya.
Dean pun akhirnya keluar dari ruangan Nachya dan segera pulang menuju rumahnya. Tidak melihat keadaan Akung Mario sedikit pun. Setelah kepergian Dean, kini gantian Nachya memandangi Papa Belva, Mama Ecca dan Uti Aleya satu per satu secara bergantian.
“Apa tidak ada lagi yang kalian ingin sampaikan kepada Nachya?” tanya Nachya.
“Tentang apa sayang?” tanya Mama Ecca sambil mengusap kepala putrinya.
“Boy!” jawab Nachya to the point membuat Mama Ecca menelan ludahnya kasar.
“Emmm, memangnya ada apa dengan Boy?” tanya Mama Ecca sedikit memancing putrinya.
“Apa Mama Ecca juga masih mau berbohong sama Nachya?”
“Bukannya Mama yang terus saja menekankan Nachya untuk bicara jujur?”
Mama Ecca pun langsung terkekeh mendengar pertanyaan putrinya. Ia pun langsung memeluk Nachya dengan sangat lembut.
“Mana mungkin Mama ingin membohongi putri kesayangan Mama. Mama kan justru mau kasih surprise sama kamu, sayang!” timpal Mama Ecca.
“Oh yaaa? Bukan karena Papa sama Mama lebih menuruti perintah Akung Dion dan Akung Mario untuk tidak memberi tahu Nachya jika Boy ada di London?” tembak Nachya to the point.
“Tenang saja, Boy sama sekali tidak membocorkan ini dengan Nachya. Hanya saja, Nachya terlalu sulit untuk kalian bohongi!”
Papa Belva pun akhirnya mengakui kesalahannya yang menuruti keinginan papa dan juga papi mertuanya. Mereka pun akhirnya bercerita tentang bagaimana Boy berjuang mati-matian untuk mengejar Nachya ke London.
Mulai dari tawaran Mr Kevin untuk menjadi konsultan hukum di perusahaannya sampai kesuksesan Boy di Oxford University.
“Nachya mau Boy datang ke sini Pa!” pinta Nachya yang sudah sangat merindukan Boy.
“As you wish, sayang. Mama Ecca sudah meminta Boy untuk datang ke mari!” balas Mama Ecca.
__ADS_1