Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Dua Minggu Kemudian


__ADS_3


Dua minggu Nachya berada di London dan menjalani harinya tanpa papa mamanya bukanlah hal yang mudah untuknya. Untung saja kesibukannya di awal kuliah membuatnya sedikit melupakan rasa rindunya terhadap papa dan juga mamanya.


Nachya tidak lagi merasa terusik dengan kehadiran Dean yang tidak setiap waktu menemuinya seperti yang sebelumnya. Namun, Dean selalu saja ada tepat saat ia benar-benar membutuhkan pertolongan dan tentunya Nachya tidak bisa menolak bantuan dari Dean.


Seperti halnya pagi ini, Nachya terlambat bangun dari tidurnya karena semalaman melepaskan kerinduannya dengan menghubungi Boy. Untung saja saat ia keluar dari pintu rumahnya, ia berpapasan dengan Dean yang juga hendak pergi ke kampus.


"Nachya, bareng yuk!" tawar Dean yang langsung diangguki oleh Nachya.


Tanpa menunggu lama lagi, Nachya pun segera membuka pintu mobil Dean dan masuk ke dalamnya.


"Untung aja ada tumpangan. Kalo gak hari ini aku bakal terlambat!" gumam Nachya sambil merapikan rambutnya.


"Bangun kesiangan?" tanya Dean yang langsung diangguki oleh Nachya.


"Iya!" Jawab Nachya singkat.


"Kok bisa? Biasanya kan kamu selalu bangun pagi, Nach!" timpal Dean yang sebenarnya baru saja ditelfon oleh Akung Mario untuk berkenan mengantar Nachya ke kampus.


"Emm, semalem tidurnya kemaleman!" jawab Nachya.


"Ooooh!"


Kali ini Dean hanya ber'oh' ria karena sebenarnya ia sudah mengetahui dari Akung Mario jika Nachya bangun kesiangan karena baru saja telfonan dengan Boy sepanjang malam.


Bahkan Dean juga tahu jika pagi ini Nachya sudah sempat diingatkan Akung Mario untuk tidak menghubungi Boy sementara waktu dan kembali fokus kuliah.


Seperti biasanya, Nachya hanya mengucapkan terima kasih saat tiba di kampus dan meninggalkan Dean begitu saja.


"Ck, dua minggu sudah terlewati dan aku benar-benar belum bisa menaklukkan hati Nachya sedikit pun!" gerutu Dean sambil memukul stir mobilnya.


Biasanya Dean menaklukkan hati perempuan paling lama hanya 1 minggu. Dan setelah itu ia pastikan wanita tersebut pasti akan tergila-gila dengannya.


Namun kali ini benar-benar berbeda. Nachya bahkan sering menganggapnya tidak ada dan tentunya membuat Dean sedikit frustasi.


☘️☘️☘️


Sedangkan di sisi lain, Boy kini sedang was-was menantikan pengumuman siapa yang terpilih dalam pertukaran mahasiswa ke Oxford University di London.


Dari ratusan mahasiswa yang mendaftarkan diri, hanya 4 orang yang akan terpilih kali ini. Semuanya yang mendaftar kini berkumpul di auditorium kampus.

__ADS_1


Meski pengumuman tersebut diumumkan secara online, tetap saja euforianya akan terasa jika semua menunggu bersama dalam satu gedung yang sama.


Layar yang ada di depan pun mulai menghitung mundur untuk menampilkan nama siapa saja yang lolos dalam audisi tersebut.


Jangan ditanya bagaimana berdebar nya Boy menantikan pengumuman ini. Hatinya terus berdoa agar ia masuk ke dalam 4 orang yang terpilih.


Kedua tangannya terus menggenggam erat dengan tatapan yang tidak beralih dari layar besar yang ada di depannya.


Nama pertama yang muncul bukanlah namanya, melainkan nama mahasiswa dari Fakultas Tehnik.


Nama kedua yang muncul adalah nama Mahasiswi dari Fakultas Sastra.


Kini kesempatan Boy tinggal 2 kali lagi. Jika ia tidak lolos dalam audisi ini, maka ia akan langsung menghubungi Mr. Kevin untuk menerima tawaran darinya.


Boy menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Nama yang ketiga pun muncul dan lagi-lagi bukan namanya yang terpampang di layar.


Kali ini Mahasiswa dari Fakultas Psikologi yang berhasil menduduki peringkat ketiga.


Tangan dan kaki Boy mulai terasa lemas, kini harapannya tinggal satu. Ia benar-benar sangat berharap namanya lah yang muncul di posisi nomor 4.


Jantungnya mulai berdegub kencang saat ia melihat jika yang ke empat adalah dari Fakultas Hukum. Namun lagi-lagi bukan namanya yang muncul, melainkan nama Bunga.


Sedangkan Boy hanya bisa menghela nafasnya panjang saat mengetahui tidak ada namanya di sana.


'Aku ternyata gagal!' gumam Boy dalam hati.


Kali ini ia harus menelan pahitnya pil rasa kecewa. Rektor kampus pun naik ke atas podium dan meminta untuk semuanya agar bisa tenang.


Suasana pun mulai tenang dan Rektor kampus menyampaikan selamat kepada mahasiswa dan mahasiswi yang berhasil terpilih dalam audisi kali ini.


Tatapan Boy memang ke arah depan, namun entah kenapa ia seperti tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh Bapak Rektor.


Sampai tiba-tiba Ken datang ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat sambil menepuk punggungnya berkali-kali.


"Selamat, Boy! Congratz, Bro! Aku sangat kagum dengan otak brliantmu kali ini!" ucap Ken yang tentunya membuyarkan lamunan Boy.


"Ck, apa maksud ucapanmu Ken?" tanya Boy yang sama sekali tidak paham dengan ucapan Ken barusan.


Selamat? Memangnya selamat untuk apa orang namanya juga tidak masuk ke dalam 4 mahasiswa yang terpilih.


Ken tidak menjawab pertanyaan Boy kali ini dan hanya menunjuk ke arah layar besar yang ada di depan.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Boy saat ia mendapati namanya terpampang di layar sebagai mahasiswa panggilan dari Oxford University yang bermakna ia akan menyelesaikan kuliah hukumnya di sana sampai lulus menjadi sarjana.


Tidak hanya itu, semua biaya kuliahnya free dan bahkan ia akan dibayar jika mendapatkan kantor hukum yang memintanya untuk bekerja di sana.


Berbeda dengan ke 4 orang yang terpilih dalam pertukaran mahasiswa. Mereka hanya berada di London tidak lebih dari 6 bulan saja dan setelah itu ia akan kembali ke kampus untuk berbagi kepada mahasiswa yang lainnya apa saja yang mereka dapatkan di sana.


Boy tidak bisa membendung lagi perasaan harunya. Ia langsung bersujud untuk mengungkapkan rasa syukur akan berita baik yang ia dapatkan hari ini.


"Tuhan, aku benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa tanpa anugrah besar dari-Mu."


"Aku benar-benar sangat lemah tanpa kekuatan dari-Mu. Dan aku sangat bersyukur atas semua keajaiban hari ini!"


Sikap Boy barusan yang disaksikan oleh semua mahasiswa dan juga dosen yang ada di sana. Semuanya sangat kagum dengan pribadi Boy dan tak sedikit dari mereka yang merekam kejadian ini dengan ponsel mereka.


Setelah meluahkan rasa syukurnya, Boy pun berdiri dan naik ke atas podium dengan ke 4 mahasiswa terpilih lainnya yang sudah berada di sana lebih dulu.


Papa Belva dan Mama Ecca yang sengaja hadir dalam pengumuman tersebut pun turut terharu dengan pencapaian Boy kali ini.


"Anak-anak kita hebat semua ya Bee!" ucap Mama Ecca sambil mengusap air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Papa Belva pun langsung mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya.


"Sayangnya Boy bukan lagi anak kita, sayang. Melainkan calon menantu kita!" tegas Papa Belva yang sangat bangga dengan keberhasilan Boy kali ini.


"Jadi Bee setuju jika Boy menikah dengan Nachya?" tanya Mama Ecca sambil memandang ke arah suaminya.


"Aku tidak punya alasan untuk menolaknya, sayang!" balas Papa Belva sambil mengecup kening Mama Ecca.


"Bukankah Boy dan Nachya sama-sama hebat dan selalu membuat kita bangga? Bahkan mereka berdua berhasil mengalahkan kita!" lanjut Papa Belva.


"Kata siapa mereka lebih hebat dari kita!" sangkal Mama Ecca.


"Bagiku, yang terhebat adalah Papanya. Karena jika tanpa didikan papanya yang garang ini, Boy tidak mungkin meraih keberhasilan seperti ini!" puji Mama Ecca membuat pipi papa Belva langsung merona.


"Satu lagi, Bee. Jika kita tidak menikah mana mungkin ada Nachya yang sangat hebat dan mengemaskan itu!"


"Kau benar sayang! Dan bagiku, yang paling hebat adalah mama Ecca yang sangat 5ek5i ini!" bisik Papa Belva menggoda istrinya.


"Bagaimana jika kita tunda untuk memberikan selamat pada Boy?" tanya Papa Belva membuat Mama Ecca mengerutkan dahinya.


"Aku ingin membuat anak yang hebat lagi bersamamu, sayang!" lanjutnya lagi sambil menarik Mama Ecca dengan sangat mesra menuju ke mobil.

__ADS_1


__ADS_2