Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Adit Kritis


__ADS_3

Tepat saat motor Ruby keluar dari gerbang rumah Nachya, ada mobil yang berhenti tepat di depan rumah Nachya. Nachya yang saat itu masih ada di depan teras pun menunggu dan memastikan siap yang datang ke rumahnya kali ini.


“Miss Adel!” sapa Nachya yang langsung menyambut kedatangan Kakak perempuan Boy yang kini sudah mulai aktif mengurus sekolah Nachya menggantikan Pak Adit yang sudah kembali ke rutinitasnya di Carl Hotel.


“Nachya, kebetulan sekali aku langsung bertemu denganmu. Apa kau bisa ikut denganku ke rumah sakit?” tanya Miss Adel yang tampak sangat gusar.


“Memangnya siapa yang sakit?” tanya Nachya.


“Abangku sangat kritis dan kali ini aku benar-benar membutuhkan kedatanganmu, Nachya. Aku akan bercerita semuanya di jalan nanti!” jawab Miss Adel sambil menarik tangan Nachya untuk ikut dengannya.


“Tapi, Miss... Aku belum ijin sama Papa Mama!” ucap Nachya yang tangannya terus saja ditarik oleh Miss Adel.


“Aku akan menelefon Boy nanti. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi Nachya!” balas Miss Adel.


Mau tidak mau Nachya pun kini masuk ke dalam mobil Miss Adel. Ternyata di dalam mobil sudah ada Papa Hendy yang langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Sesuai janjinya, Miss Adel langsung menghubungi Boy dan mengatakan jika saat ini ia sedang membawa Nachya bersamanya. Miss Adel pun juga mengabarkan jika saat ini Adit sedang kritis di ruang ICU.


“Sebenarnya ada apa dengan Pak Adit, Miss?” tanya Nachya.


Miss Adel pun langsung menceritakan tentang keadaan Abangnya yang sudah satu bulan terakhir ini sangat kacau. Setiap akhir pekan selalu menghabiskan waktunya di bar sampai pagi. Hingga terakhir ini ia harus di larikan ke rumah sakit karena minum terlalu banyak dan terus saja muntah-muntah.


Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata lambung Adit bermasalah. Terdapat luka yang cukup serius di lambungnya yang menyebabkan ia selalu muntah setiap ada makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya.


“Dan Bang Adit selalu saja memanggil namamu sejak ia sadar kemarin, Nachya!” ucap Miss Adel di akhir ceritanya.


“Miss Adel sangat faham kamu sedang sibuk mengurus segala persiapan ke London, tapi aku sangat tidak tega melihat keadaan Bang Adit yang sedang kritis!”


Nachya kini hanya diam karena tidak tahu harus menimpali apa. Ia memang sangat tidak tega mendengar keadaan Pak Adit saat ini, namun menurutnya hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengannya.


“Nachya!” Miss Adel menggenggam tangan Nachya.


“Kamu tahu kan kalo Bang Adit benar-benar sangat mencintaimu?” tanya Miss Adel.

__ADS_1


“Tapi kan itu udah lama, Miss. Dan aku gak bisa balas jatuh cinta sama Pak Adit!” jawab Nachya to the point.


Jawaban telak dari Nachya kali ini membuat Adel dan Papanya langsung merasa sangat kecewa.


“Tapi kalo boleh om minta sama Nachya, kasih semangat sedikit saja buat putra Om. Kali ini Om mohon sama Nachya untuk temani Adit sampai dia sembuh!” pinta Papa Hendy sendu.


“Nachya akan bantu sebisa Nachya ya Om!” balas Nachya.


Sesampainya di rumah sakit, Nachya langsung dibawa ke ruang ICU untuk bertemu dengan Adit. Karena pengunjung Ruang ICU sangat dibatasi, Nachya pun masuk ke dalam menemui Pak Adit seorang diri.


Benar dengan apa yang diceritakan oleh Miss Adel tadi, keadaan Pak Adit benar-benar sangat mengkhawatirkan. Namun senyumnya langsung merekah saat melihat Nachya datang mendekat ke arahnya.


“Nach-ya!” panggilnya terbata bata sambil menggerakkan tangannya.


Nachya pun mendekat dan memberanikan dirinya menggenggam tangan Pak Adit.


“Emmm, jangan banyak bergerak dan bicara dulu ya Pak! Kalau mau bicara, Bapak harus sembuh dulu!” ucap Nachya membuat Adit mengeratkan tangannya membalas genggaman Nachya.


Pak Hendy dan Miss Adel yang melihat Adit mulai tersenyum karena kedatangan Nachya pun merasa sedikit tenang. Tak lama kemudian Boy tiba dan berdiri di samping papanya yang sedang melihat Adit dari kaca.  


“Bang Adit sakit apa?” tanya Boy sambil menahan rasa geramnya.


“Lambungnya bermasalah akut karena beberapa minggu terakhir ini keadaannya sangat kacau!” jawab Papa Hendy.


“Duduklah, Boy! Ada yang ingin papa bicarakan denganmu!” ajak Papa Hendy yang langsung mengamit lengan Boy dan duduk di depan ruang ICU.


“Papa ingin minta tolong sama kamu kali ini!” ucap Papa Hendy.


Boy langsung menghela nafasnya panjang. Ia sudah menduga apa yang kira kira ingin di sampaikan oleh papanya. Tentunya ini menyangkut tentang Nachya dan juga Abangnya.


“Adit benar-benar sangat menginginkan Nachya untuk menjadi kekasihnya. Sayangnya Nachya tidak bisa membalas perasaan Adit.”


“Pa, perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan. Terlebih masa depan Nachya masih sangat panjang!” balas Boy.

__ADS_1


“Papa yakin, Adit tidak akan merusak masa depan Nachya. Dia juga pasti akan mengizinkan Nachya melanjutkan studinya ke London. Papa hanya ingin keduanya terikat dalam sebuah ikatan agar Adit bisa kembali menjalankan bisnis papa dengan baik tanpa terus memikirkan Nachya yang tak kunjung membalas perasaan cintanya!”


“Kali ini papa hanya memintamu membujuk Nachya untuk menerima lamaran Adit selepas keluar dari rumah sakit.”


“Maaf, Pa. Kali ini Boy tidak bisa bantu!” balas Boy dengan tegas.


“Boy tidak bisa memaksa perasaan Nachya untuk membalas cinta Bang Adit atau pun menerima lamarannya. Papa tahu sendiri kan, Boy selama ini banyak berhutang budi dengan keluarga Nachya. Seharusnya, Boy memberikan balasan yang baik dan bukan malah sebaliknya!” jelas Boy membuat Papa Hendy kembali merasa kecewa.


Jawaban Nachya di mobil tadi sudah membuatnya sangat kecewa dan kini ia harus menelan pil kekecewaan yang kedua kalinya dari jawaban Boy barusan.


“Tapi Boy, kali ini saudara kandungmu yang butuh bantuan. Apa kau benar-benar tidak ingin membantu abangmu sendiri?” tanya Papa Hendy membuat Boy kini terdiam.


Adel pun langsung mendekati Boy dan merayu adik bungsunya agar mau membantu mereka saat ini untuk membuat Nachya mau menerima lamaran Adit nanti.


Sedangkan di dalam ruangan, Nachya mulai melepaskan genggaman Pak Adit saat ia melihat Mata Adit sudah terpejam. Pengaruh obat yang sedang dikonsumsi oleh Adit saat ini memang membuatnya banyak tertidur agar kondisinya lekas membaik.


Setelah berhasil melepaskan tangannya, Nachya pun langsung keluar dari ruang ICU dan duduk di samping Miss Adel.


“Pak Adit sudah tertidur, Miss. Apa Nachya sudah boleh pulang?” tanya Nachya yang memang merasa tidak nyaman jika harus berlama-lama di sana. Terlebih saat ini ia tidak membawa ponselnya.


“Di sini dulu ya, Nachya!” pinta Miss Adel.


“Setidaknya sampai sore. Kalau Nachya lapar, Miss Adel akan ajak Nachya makan di kantin. Kalau Nachya bosan, kita bisa berkeliling sejenak untuk menghilangkan rasa bosan. Masih ada hal lain yang Miss Adel sampaikan dengan Nachya!” lanjut Miss Adel.


Nachya langsung memandang ke arah Boy yang duduk terdiam di samping papa kandungnya.


“Kamu bawain ponsel aku gak Boy?” tanya Nachya yang langsung diangguki oleh Boy.


“Bawa kok, ini mama juga tadi nyiapin baju ganti buat kamu! Kata mama takut nanti kalo ada apa-apa!” jawab Boy sambil menyerahkan goodie bag yang ia bawa dari rumah.


Nachya pun langsung meraih ponselnya yang ada di dalam goodie bag dan duduk di samping Miss Adel. Dengan cepat Nachya langsung mengetikkan pesan untuk Boy.


✉️ Nachya

__ADS_1


Boy, pulang yuuuk. Ajakin aku pacaran. Aku bosan. 🥺


__ADS_2